Cara Menghitung Harga Pokok Produksi dengan Metode Variable Costing

Variabel Costing adalah metode perhitungan harga pokok produksi yang hanya memperhitungkan biaya produksi variabel.

Untuk keperluan perencanaan laba dan pengambilan keputusan jangka pendek, manajemen perusahaan memerlukan informasi biaya menurut perilakunya.

Oleh karena itu timbul konsep variabel costing yang tidak memperhitungkan semua biaya produksi sebagai komponen harga pokok produksi.

Apa manfaat informasi akuntansi yang dihasilkan oleh metode variabel costing ini?

Yuks ikuti pembahasannya berikut ini…

 

01: Pengumpulan Biaya Metode Variabel Costing

Menurut perilaku dalam hubungannya dengan pembahasan aktivitas, biaya dapat dibagi menjadi 3 (tiga) golongan, yaitu:

  1. Biaya Tetap
  2. Biaya Variabel
  3. Biaya Semi Variabel

Biaya tetap adalah biaya yang dalam kisar perubahan aktivitas tertentu tidak berubah dengan adanya perubahan volume aktivitas.

Biaya variabel adalah biaya yang berubah sebanding dengan perubahan volume aktivitas.

Sedangkan Biaya semi variabel adalah biaya yang mengandung unsur tetap dan unsur variabel, yang berubah tidak sebanding dengan perubahan volume aktivitas.

Jika perusahaan menggunakan variabel costing dalam akuntansi biaya produksinya.

Maka biaya produksi dan biaya non produksi perlu dipisahkan menurut perilakunya dalam hubungannya dengan perubahan volume aktivitas.

Dalam rekening buku besar perlu disediakan rekening-rekening kontrol untuk menampung dan memisahkan biaya tetap dan biaya variabel.

Oleh karena itu, jika metode variabel costing diterapkan dalam akuntansi biaya, dalam buku besar perlu disediakan rekening-rekening kontrol berikut ini:

  • Biaya Overhead Pabrik Variabel yang Dibebankan
  • Biaya Overhead Pabrik sesungguhnya
  • Biaya Overhead Pabrik sesungguhnya Variabel
  • Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Tetap
  • Biaya Administrasi & Umum
  • Biaya Administrasi & Umum Variabel
  • Biaya Administrasi & Umum Tetap
  • Biaya Pemasaran
  • Biaya Pemasaran Variabel
  • Biaya Pemasaran Tetap

Rekening Biaya Overhead Pabrik Variabel yang Dibebankan untuk mencatat biaya overhead pabrik variabel yang dibebankan kepada produk atas dasar tarif yang ditentukan di muka.

Jurnal untuk mencatat biaya overhead pabrik yang dibebankan pada produk atas dasar tarif yang ditentukan di muka adalah sebagai berikut:

[Debit] Barang Dalam Proses – Biaya Overhead Pabrik Rp xxx
[Kredit] Biaya Overhead Pabrik Variabel yang Dibebankan Rp xxx

Biaya Overhead Pabrik yang sesungguhnya terjadi dicatat pertama kali dalam rekening Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya.

Jurnal variabel costing untuk mencatat Biaya Overhead Pabrik yang sesungguhnya terjadi adalah sebagai berikut:

[Debit] Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya  Rp xxx
[Kredit] Berbagai Rekening yang Dikredit  Rp xxx

 Pada akhir periode akuntansi, biaya overhead pabrik dianalisis perilakunya, misalnya dengan menggunakan metode regresi.

Tujuannya adalah untuk memisahkan ke dalam biaya overhead pabrik tetap dan biaya overhead pabrik variabel.

 

Berdasarkan analisis tersebut:

Biaya overhead pabrik sesungguhnya kemudian dipindahkan dari rekening biaya overhead pabrik sesungguhnya ke dalam rekening biaya overhead pabrik variabel sesungguhnya, dan biaya overhead pabrik tetap sesungguhnya.

Jurnal variabel costing untuk mencatat biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi adalah sebagai berikut:

[Debit] Biaya Overhead Pabrik Variabel Sesungguhnya  Rp xxx
[Debit] Biaya Overhead Pabrik Tetap Sesungguhnya  Rp xxx
[Kredit] Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya  Rp xxx

 Pencatatan biaya pemasaran dan biaya administrasi & umum dianalisis perilakunya untuk dipisahkan ke dalam biaya yang berperilaku tetap dan biaya yang berperilaku variabel.

Berdasarkan analisis tersebut, biaya pemasaran kemudian dipindahkan dari rekening Biaya Pemasaran ke dalam rekening Biaya Pemasaran Variabel dan Biaya Pemasaran Tetap.

Begitu juga dengan biaya administrasi dan umum.

Jurnal untuk mencatat biaya pemasaran dan biaya administrasi & umum menurut perilakunya adalah sebagai berikut:

[Debit] Biaya Pemasaran Variabel  Rp xxx
[Debit] Biaya Pemasaran Tetap Rp xxx
[Debit] Biaya Administrasi & Umum Variabel Rp xxx
[Debit] Biaya Administrasi & Umum Tetap Rp xxx

[Kredit] Biaya Pemasaran Rp xxx
[Kredit] Biaya Administrasi & Umum Rp xxx

Berikut ini gambar yang melukiskan pencatatan biaya overhead pabrik yang dibebankan dan biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi dalam metode variabel costing.

Jurnal Variable Costing
Pencatatan biaya overhead pabrik dalam metode variabel costing.

Berikut ini diberikan contoh pengumpulan dan penyajian biaya dalam perusahaan yang menggunakan metode variabel costing.

Dan yang menggunakan metode harga pokok pesanan dalam pengumpulan biaya produksinya.

 

Contoh variabel costing #1:

PT Bening Fahima Jaya memproduksi berdasarkan pesanan.

Akuntansi biaya produksinya menggunakan metode harga pokok pesanan dan penentuan harga pokok produknya menggunakan metode variabel costing.

Persediaan awal produk dalam proses dapat dilihat berikut ini:

Persediaan Barang
Tabel: Harga Pokok Persediaan Produk dalam Proses Awal

Transaksi biaya dalam Januari 2020 adalah sebagai berikut:

Transaksi biaya #1:

Pemakaian bahan baku bulan Januari adalah sebagai berikut:

  • Pesanan #132 = Rp 2.000
  • Pesanan #133 = Rp 4.000
  • Pesanan #134 = Rp 6.000
  • Jumlah = Rp 12.000

Jurnal untuk mencatat pemakaian bahan baku tersebut adalah sebagai berikut:

Jurnal variabel costing #1:

[Debit] Barang Dalam Proses – Biaya Bahan Baku  Rp 12.000
[Kredit] Persediaan Bahan Baku   Rp 12.000

 

Transaksi Biaya #2:

Biaya tenaga kerja bulan Januari 2020:

  • Biaya tenaga kerja variabel:
    • Pesanan #102 = Rp 1.400
    • Pesanan #106 = Rp 2.000
    • Pesanan #132 = Rp 10.000
    • Pesanan #133 = Rp 5.000
    • Pesanan #134 = Rp 6.000
    • Total biaya tenaga kerja variabel = Rp 25.000
    • Biaya tenaga kerja tidak langsung produksi variabel = Rp 15.000
  • Biaya tenaga kerja tetap:
    • Biaya tenaga kerja produksi tetap = Rp 20.000
    • Biaya tenaga kerja pemasaran tetap = Rp 15.000
    • Biaya tenaga kerja adm & umum tetap = Rp 10.000
    • Total biaya tenaga kerja = Rp 25.000 + Rp 15.000 + Rp 20.000 + Rp 15.000 + Rp 10.000 = Rp 85.000

Jurnal untuk mencatat biaya tenaga kerja tersebut adalah sebagai berikut:

Jurnal variabel costing #2:

[Debit] Barang Dalam Proses – Biaya TK  Rp 25.000
[Debit] Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Rp 35.000
[Debit] Biaya Pemasaran Rp 15.000
[Debit] Biaya Adm & Umum Rp 15.000
[Kredit] Gaji dan Upah  Rp 85.000

 

Transaksi Biaya #3:

Biaya overhead pabrik variabel dibebankan kepada produk dengan tarif yang dihitung sebagai berikut:

Taksiran biaya overhead pabrik variabel setahun = Rp 500.000
Taksiran biaya tenaga kerja langsung setahun = Rp 250.000

Tarif biaya overhead pabrik variabel :

= 500.000/250.000
= 200% dari biaya tenaga kerja langsung.

Biaya overhead pabrik variabel yang dibebankan pada produksi bulan Januari 2020 adalah sebagai berikut:

Biaya overhead pabrik
Tabel: Biaya overhead pabrik yang dibebankan pada produk

Jurnal untuk mencatat biaya overhead pabrik yang dibebankan pada produk tersebut adalah sebagai berikut:

Jurnal variabel costing #3:

[Debit] Barang Dalam Proses – Biaya Overhead Pabrik  Rp 50.000
[Kredit] Biaya Overhead Pabrik yang Dibebankan  Rp 50.000

 

Transaksi Biaya #4:

Biaya overhead pabrik sesungguhnya selain biaya tenaga kerja tidak langsung yang terjadi dalam bulan Januari 2020.

Biaya overhead pabrik sesungguhnya
Tabel: Biaya overhead pabrik sesungguhnya selain biaya tenaga kerja tidak langsung

Biaya komersial tetap yang terjadi dalam bulan Januari 2020 terdiri dari:

  • Biaya bahan habis pakai kantor (office supplies) = Rp 10.000
  • Biaya iklan = Rp 16.000

Total biaya komersial tetap = Rp 10.000 + Rp 16.000 = Rp 26.000

Jurnal untuk mencatat unsur biaya overhead pabrik selain biaya tenaga kerja tidak langsung yang sesungguhnyaterjadi dalam bulan Januari 2020 adalah sebagai berikut:

Jurnal variabel costing #4:

[Debit] Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya  Rp 60.000
[Debit] Biaya Administrasi dan Umum  Rp 10.000
[Debit] Biaya Pemasaran Rp 16.000

[Kredit] Persediaan Bahan Penolong Rp 18.000
[Kredit] Persediaan Bahan Habis Pakai Kantor Rp 10.000
[Kredit] Akumulasi Penyusutan Rp 15.000
[Kredit] Pembayaran Asuransi  Rp 14.000
[Kredit] Kas Rp 29.000

 

Transaksi Biaya #5:

Kartu harga pokok tiap pesanan yang diproses dalam bulan Januari 2020 yang diisi berdasarkan data yang telah diuraikan di atas, dilaporkan sebagai berikut:

A: Kartu Harga Pokok Pesanan #102:

Pesanan 102 telah diserahkan kepada pemesan dengan harga jual Rp 32.400

Kartu Harga Pokok Pesanan
Persediaan Produk Jadi

 

B: Kartu Harga Pokok Pesanan #106:

Pesanan #106 sudah diserahkan kepada pemesan dengan harga jual Rp 40.000

variabel costing dengan metode harga pokok pesanan
Kartu Harga Pokok Pesanan

 

C: Kartu Harga Pokok Pesanan #132:

Pesanan #132 telah selesai diproduksi dan diserahkan kepada pemesan dengan harga jual 128.000

Manfaat variabel costing
Kartu Harga Pokok Pesanan

 

D: Kartu Harga Pokok Pesanan #133:

Pesanan #133 telah selesai diproduksi, tapi belum diserahkan kepada pemesan.

contoh kasus variabel costing
Kartu Harga Pokok Pesanan

 

E: Kartu Harga Pokok Pesanan #134:

Pesanan #134 masih dalam proses pada akhir bulan Januari 2020.

contoh soal dan jawaban variabel Costing
Kartu Harga Pokok Pesanan

Jurnal untuk mencatat produk yang selesai diproduksi dalam bulan Januari 2020 adalah sebagai berikut:

Jurnal variabel costing #5:

[Debit] Persediaan Produk Jadi  Rp 69.100
[Kredit] Barang Dalam Proses – Biaya Baku Rp 8.800
[Kredit] Barang Dalam Proses – Biaya Tenaga Kerja Rp 20.100
[Kredit] Barang Dalam Proses – Biaya Overhead Pabrik Rp 40.200

Harga pokok produk jadi dihitung sebagai berikut:

Harga pokok produk jadi
Tabel: Harga pokok produk jadi

Jurnal untuk mencatat penyerahan produk kepada pemesan adalah sebagai berikut:

Jurnal variabel costing #6:

[Debit] Piutang Dagang Rp 200.400
[Kredit] Hasil Penjualan Rp 200.400

[Debit] Harga Pokok Penjualan Rp 50.100
[Kredit] Persediaan Produk Jasi Rp 50.100

Note:

Hasil penjualan bulan Januari 2020 dihitung sebagai berikut:

Pesanan #102 = Rp 32.400
Pesanan #105 = Rp 40.000
Pesanan #132 = Rp 128.000

Total hasil penjualan = Rp 200.400

Harga pokok produk yang dijual dihitung sebagai berikut:

Pesanan #102 = Rp 8.100
Pesanan #105 = Rp 10.000
Pesanan #132 = Rp 32.000

Total harga pokok produk yang dijual = Rp 50.100

 

Jurnal untuk mencatat produk dalam proses pada akhir bulan Januari 2020 adalah sebagai berikut:

Jurnal variabel costing #7:

[Debit] Persediaan Produk Dalam Proses  Rp 25.800
[Kredit] Barang Dalam Proses – Biaya Bahan Baku Rp 6.000
[Kredit] Barang Dalam Proses – Biaya Tenaga Kerja Rp 6.600
[Kredit] Barang Dalam Proses – Biaya Overhead Pabrik Rp 13.200

 

Transaksi #6:

Jurnal untuk memisahkan unsur biaya variabel dan biaya tetap dalam biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi, biaya pemasaran, dan biaya administrasi & umum adalah sebagai berikut:

Jurnal variabel costing #8:

[Debit] Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Variabel  Rp 46.000
[Debit]  Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Tetap Rp 49.000
[Kredit] Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya  Rp 95.000

Note:

Variabel:

Biaya tenaga kerja tidak langsung = Rp 15.000
Biaya bahan penolong = Rp 18.000
Biaya Listrik dan air = Rp 13.000
Total = Rp 46.000

Tetap:

Biaya tenaga kerja tidak langsung = Rp 20.000
Biaya depresiasi aktiva tetap = Rp 15.000
Biaya asuransi pabrik = Rp 14.000
Total = Rp 49.000

 

Jurnal variabel costing #9:

[Debit] Biaya Pemasaran Tetap  Rp 31.000
[Kredit] Biaya Pemasaran Rp 31.000

Note:

Biaya pemasaran tetap tersebut terdiri dari biaya tenaga kerja Rp 15.000, dan biaya iklan Rp 16.000

 

Jurnal variabel costing #10:

[Debit] Biaya Administrasi dan Umum Tetap Rp 20.000
[Kredit] Biaya Administrasi dan Umum Rp 20.000

Note:

Biaya administrasi dan umum tetap tersebut terdiri biaya tenaga kerja Rp 10.000, dan biaya iklan Rp 10.000

 

Transaksi Biaya  #7:

Jurnal untuk menutup rekening biaya overhead pabrik variabel yang Dibebankan ke rekening Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Variabel adalah sebagai berikut:

Jurnal variabel costing #11:

[Debit] Biaya Overhead Pabrik Variabel yang Dibebankan Rp 50.000
[Kredit] Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Variabel  Rp 50.000

 

Transaksi Biaya #8:

Jurnal untuk mencatat pembebanan lebih atau kurang biaya overhead pabrik bulan Januari 2020 adalah sebagai berikut:

Jurnal variabel costing #12:

[Debit] Pembebanan Kurang/ Lebih Biaya Overhead Pabrik   Rp 4.000
[Kredit] Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Variabel  Rp 4.000

 

02: Penyajian Laporan Laba Rugi Metode Variabel Costing

Jika perusahaan menggunakan metode variabel costing dalam akuntansi biayanya.

Untuk menyajikan Laporan Laba Rugi bagi kepentingan pihak luar perlu dilakukan perubahan unsur biaya yang diperhitungkan ke dalam:

  • harga pokok persediaan produk dalam proses,
  • persediaan produk jadi, dan
  • harga pokok penjualan (HPP).

Perubahan ini tidak perlu dicatat dalam catatan akuntansi.

Tapi hanya dilakukan untuk mengubah laporan laba rugi yang disusun menurut metode variabel costing ke dalam laporan laba rugi menurut metode full costing.

Untuk mengubah laporan laba rugi metode variabel costing ke dalam laporan laba rugi full costing, diperlukan tiga langkah perubahan berikut ini:

 

Langkah Pertama:

Persediaan awal produk dalam proses dan persediaan awal produk jadi ditambah harga pokoknya dengan biaya overhead pabrik tetap.

Untuk itu perlu diketahui jumlah biaya overhead pabrik sesungguhnya yang terjadi dalam periode akuntansi sebelumnya.

Jumlah ini dibagi dengan dasar pembebanan akan diperoleh biaya overhead pabrik tetap per unit dasar pembebanan.

Biaya overhead pabrik tetap per unit ini dikalikan dengan kuantitas dasar pembebanan yang terdapat dalam persediaan awal akan diperoleh tambahan harga pokok persediaan awal.

 

Langkah kedua:

Biaya produksi menurut metode variabel costing yang semula hanya membebankan biaya produksi variabel saja perlu di-adjust dengan menambahkan biaya overhead pabrik tetap sesungguhnya.

 

Langkah ketiga:

Persediaan akhir produk dalam proses dan persediaan akhir produk jadi ditambah harga pokoknya dengan biaya overhead pabrik tetap.

Untuk itu biaya overhead pabrik tetap sesungguhnya yang terjadi dalam metode akuntansi sekarang dibagi dengan dasar pembebanan untuk menghitung biaya overhead pabrik tetap per unit dasar pembebanan.

Biaya overhead pabrik tetap per unit ini dikalikan dengan kuantitas dasar pembebanan yang terdapat dalam persediaan akhir akan diperoleh tambahan harga pokok persediaan akhir.

 

03: Manfaat Metode Variabel Costing

Dengan menyajikan informasi biaya yang dikelompokkan sesuai dengan perilakunya dalam hubungannya dengan perubahan aktivitas perusahaan.

Laporan Keuangan yang disusun berdasar metode variabel costing adalah bermanfaat bagi manajemen untuk:

  • Perencanaan laba jangka pendek
  • Pengendalian biaya
  • Pembuatan keputusan.

Yuks dijabarkan satu-per-satu…

 

Manfaat Variabel Costing #1: Perencanaan Laba Jangka Pendek

Untuk kepentingan perencanaan laba jangka pendek, manajemen perusahaan memerlukan informasi biaya yang dipisahkan.

Pemisahan biaya tersebut menurut perilaku biaya dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan.

Dalam jangka pendek, biaya tetap tidak berubah dengan adanya perubahan volume aktivita.

Sehingga hanya biaya variabel yang perlu dipertimbangkan oleh manajemen dalam pengambilan keputusan.

Oleh karena itu, metode variabel costing adalah menghasilkan laporan laba rugi yang menyajikan informasi biaya variabel yang terpisah dari informasi biaya tetap, dapat memenuhi kebutuhan manajemen untuk perencanaan laba jangka pendek.

Laporan Laba Rugi variabel costing menyajikan dua ukuran penting, yaitu:

  1. Laba kontribusi
  2. Operating leverage

Cara untuk menghitung dua ukuran tersebut adalah dengan menghitung Rasio Laba Kontribusi dan Operating Leverage seperti berikut ini:

  • Hasil Penjualan = Rp 100
  • Biaya Variabel = Rp 60
  • Laba Kontribusi:
    = (a) – (b)
    = Rp 100 – Rp 60 = Rp 40
  • Biaya Tetap = Rp 30

Laba Bersih:
= (c) – (d)
= Rp 40 – Rp 30 = Rp 10

Rasio Laba Kontribusi:

= Laba Kontribusi : Hasil Penjualan
= 40 : 100

Operating Leverage:
= Laba Kontribusi : Laba Bersih
= 40 : 10

Perencanaan laba jangka pendek dilakukan oleh manajemen pada saat penyusunan anggaran.

Dalam proses penyusunan anggaran tersebut, manajemen berkepentingan untuk menguji pengaruh setiap alternatif yang akan dipilih terhadap laba perusahaan.

Karena dalam jangka pendek biaya tetap tidak berubah.

Maka informasi yang relevan dengan perencanaan laba jangka pendek adalah informasi yang berdampak terhadap hasil penjualan dan biaya variabel.

Yang keduanya merupakan komponen untuk menghitung laba kontribusi dan rasio laba kontribusi.

Misalnya dalam penyusunan anggaran, manajemen puncak mempertimbangkan rencana untuk menaikkan harga jual produk sebesar 10%.

Rencana kenaikan itu diperkirakan tidak akan mengurangi kuantitas produk yang akan dijual.

Jika biaya variabel dan biaya tetap tidak mengalami perubahan.

Maka pengaruh kenaikan harga jual tersebut terhadap laba jangka pendek dapat dengan mudah dihitung.

Untuk menghitungnya adalah dengan cara mengalikan rasio laba kontribusi dengan persentase kenaikan harga jual tersebut.

Jika rasio laba kontribusi sebesar 40%.

Maka laba bersih akan naik 4% (40% x 10%) karena adanya rencana kenaikan harga jual sebesar 10% tersebut.

Dengan rasio laba kontribusi, manajemen dapat dengan mudah mempertimbangkan alternatif yang menyangkut biaya tetap.

Misalnya rasio laba kontribusi sebesar 40%.

Dan manajemen puncak memperkirakan dengan menaikkan anggaran biaya iklan sebesar Rp 11.000.000 akan menaikkan hasil penjualan sebesar Rp 35.000.000.

 

Alternatif ini dapat diuji kelayakannya dengan perhitungan berikut ini:

  • Kenaikan laba kontribusi 40% x Rp 35.000.000 = Rp 14.000.000
  • Kenaikan biaya iklan = Rp 11.000.000
  • Pengaruh kenaikan biaya iklan terhadap laba bersih = Rp 3.000.000

Dengan adanya pemisahan biaya tetap dan biaya variabel dalam laporan laba rugi metode variabel costing.

Hal ini memungkinkan manajemen melakukan analisis hubungan antara biaya, volume, dan laba.

 

Manfaat Variabel Costing #2: Pengendalian Biaya

Variabel costing adalah menyediakan informasi yang lebih baik untuk mengendalikan period costs dibandingkan informasi yang dihasilkan oleh full costing.

Dalam metode full costing, biaya overhead pabrik tetap diperhitungkan dalam tarif biaya overhead pabrik dan dibebankan sebagai unsur biaya produksi.

Oleh karena itu, manajemen kehilangan perhatian terhadap period costs (biaya overhead pabrik tetap) tertentu yang dapat dikendalikan.

Di dalam variabel costing, period costs yang terdiri dari biaya yang berperilaku tetap yang dikumpulkan.

Dan disajikan secara terpisah dalam laporan laba rugi sebagai pengurang terhadap laba kontribusi.

Biaya tetap ini dapat dikelompokkan ke dalam 2 (dua) golongan, yaitu:

  • Discretionary fixed costs
  • Committed fixed costs

Discretionary fixed costs adalah biaya yang berperilaku tetap karena kebijakan manajemen.

Biaya ini dalam jangka pendek dapat dikendalikan oleh manajemen.

Sebagai contoh:

Biaya iklan instagram yang ditetapkan sebesar Rp 3.000.000 per bulan.

Committed fixed costs adalah biaya yang timbul dari pemilikan pabrik, peralatan, dan organisasi pokok.

Perilaku Committed fixed costs ini dapat ditentukan secara jelas dengan cara mengamati biaya yang tetap terjadi jika aktivitas perusahaan dihentikan sama sekali.

Committed fixed costs adalah semua biaya yang tetap dikeluarkan, yang tidak dapat dikurangi guna mempertahankan kemampuan perusahaan dalam memenuhi tujuan jangka panjang perusahaan.

Contoh Committed fixed costs dalam biaya depresiasi, sewa, asuransi, dan gaji karyawan inti.

Dalam jangka pendek Committed fixed costs tidak dapat dikendalikan oleh manajemen perusahaan.

Dengan dipisahkannya biaya tetap dalam kelompok tersendiri dalam laporan laba rugi variabel costing.

Maka manajemen dapat memperoleh informasi dicretionary fixed costs terpisah dari committed fixed costs.

Sehingga pengendalian biaya tetap dalam jangka pendek dapat dilakukan oleh manajemen.

 

Manfaat Variabel Costing #3: Pengambilan Keputusan

Variabel costing adalah menyajikan data yang bermanfaat untuk pembuatan keputusan jangka pendek.

Dalam pembuatan keputusan jangka pendek yang menyangkut mengenai perubahan volume kegiatan.

Period costs tidak relevan karena tidak berubah dengan adanya perubahan volume kegiatan.

Variabel costing khususnya bermanfaat untuk penentuan harga jual jangka pendek.

Perhatikan contoh variabel costing berikut ini:

PT Melenia memproduksi dan menjual produk A. Biaya per satuan produk A adalah sebagai berikut:

  • Biaya bahan baku = Rp 100
  • Biaya tenaga kerja variabel = Rp 200
  • Biaya overhead pabrik variabel = Rp 300
  • Biaya pemasaran & administrasi variabel = Rp 250

Jumlah biaya variabel = (a) + (b) + (c) + (d) = Rp 850

Biaya tetap = Rp 150

Harga pokok produk A per satuan = Rp 850 + Rp 150 = Rp 1.000

PT Melenia menerima pesanan sebanyak 1.000 satuan produk A di luar penjualan rutin.

Harga yang diminta oleh pemesan adalah Rp 900 per satuan.

Menurut metode full costing, harga jual yang diminta oleh pemesan tersebut akan menghasilkan rugi bruto sebesar Rp 100 per satuan (Rp 900 – Rp 1000).

Sehingga menurut metode full costing, pesanan khusu tersebut akan ditolak.

Namun jika pabrik masih mempunyai kapasitas yang belum dipakai, menurut metode variabel costing , pesanan tersebut akan diterima.

Karena pesanan khusus tersebut masih dapat menghasilkan laba kontribusi sebesar Rp 50 per satuan (Rp 900 – Rp 850).

Jika pesanan sebanyak 1.000 satuan produk A tersebut diterima.

Menurut metode variabel costing perusahaan akan memperoleh tambahan laba konstribusi sebesar:

= 1.000 x (Rp 900 – Rp 850)
= Rp 50.000

Jika biaya tetap diharapkan konstan, berarti tambahan laba kontribusi tersebut akan menaikkan laba bersih sebesar Rp 50.000

Ditinjau dari sudut penerimaan harga, perbedaan pokok antara full costing dan variabel costing adalah terletak pada konsep penutupan biaya (concept of cost recovery).

Menurut metode full costing, harga jual harus dapat menutup total biaya, termasuk biaya tetap.

Dalam metode variabel costing, bila harga jual tersebut telah tidak menghasilkan laba kontribusi guna menutup biaya tetap adalah lebih baik.

Daripada harga jual yang tidak menghasilkan laba kontribusi sama sekali.

Perhatikan contoh variabel costing berikut ini:

Berikut ini contoh penggunaan informasi variabel costing untuk pengambilan keputusan membeli atau membuat sendiri.

Dalam contoh ini uraian lebih ditekankan pada peranan pemisahan biaya produksi ke dalam biaya tetap dan biaya variabel (metode variabel costing) dalam pengambilan keputusan membeli atau membuat sendiri.

PT Milenial Jaya selama ini memproduksi suku cadang nomor 4965 yang merupakan salah satu suku cadang produk rakitannya.

Biaya standar per satuan suku cadang tersebut adalah sebagai berikut:

  • Biaya bahan baku = Rp 320
  • Biaya tenaga kerja langsung = Rp 240
  • Biaya overhead pabrik variabel = Rp 110
  • Biaya overhead pabrik tetap = Rp 140
  • Jumlah = Rp 810

Rata-rata pemakaian suku cadang tersebut per bulan adalah sebanyak 60.000 satuan.

Dalam suatu rapat penyusunan anggaran, Bagian Pembelian mengajukan usul agar perusahaan membeli saja suku cadang tersebut, dari pemasok untuk kepentingan penghematan biaya.

Bagian Pembelian menyatakan pada jumlah pembelian sebanyak rata-rata kebutuhan selama sebulan suku cadang tersebut dapat dibeli dengan harga Rp 700 per satuan.

Jika suku cadang tersebut dibeli dari pemasok luar, tidak diperlukan peralatan tambahan.

Tapi hanya menaikkan biaya administrasi dan umum sebesar Rp 100.000 per bulan.

Dan tambahan biaya pergudangan sebesar Rp 25 per satuan.

Fasilitas produksi yang semula digunakan untuk memproduksi suku cadang tersebut masih dapat digunakan untuk memproduksi suku cadang yang lain.

Kepala Bagian Produksi melaporkan bahwa, jika produksi suku cadang tersebut dihentikan tidak akan berakibat pada biaya overhead pabrik tetap.

Secara sepintas tampak  seolah-olah dengan membeli suku cadang tersebut dari pemasok luar akan menimbulkan penghematan biaya sebesar Rp 85 per satuan (Rp 810 – Rp 725).

Atau sebesar:

= 60.000 unit x Rp 85) – Rp 100.000)
= Rp 5.000.000 per bulan

Tapi dalam peristiwa ini sesungguhnya tidak ada penghematan biaya.

Sebagian dari biaya standar sebesar Rp 180 per satuan tersebut adalah biaya overhead pabrik yang berperilaku tetap.

Dengan penghentian produksi suku cadang tersebut, tidak akan mempunyai pengaruh terhadap biaya overhead pabrik tetap tersebut.

Jadi dalam pengambilan keputusan membeli atau membuat sendiri suku cadang tersebut, biaya overhead pabrik tetap tersebut adalah biaya tidak relevan.

Hanya biaya-biaya variabel saja, yaitu:
  • Biaya bahan baku
  • Tenaga kerja
  • Biaya overhead pabrik variabel

Yang relevan dalam keputusan ini.

Sehingga pengambilan keputusan membeli atau membuat sendiri suku cadang nomor 4965 sebaiknya didasarkan pada analisis berikut ini:

#1: Jika membeli:

  • Jumlah yang dikeluarkan per bulan untuk pembelian suku cadang: 60.000 x Rp 700 = Rp 42.000.000
  • Tambahan biaya pergudangan : 60.000 x Rp 25 = Rp 1.500.000
  • Tambahan biaya administrasi dan umum per bulan = Rp 100.000

Jumlah pengeluaran uang per bulan jika alternatif membeli dipilih: (a) + (b) + (c) = Rp 43.600.000

#2: Jika Tetap memproduksi sendiri:

  • Biaya produksi variabel per bulan yang dapat dihindari:
    = [(320 + 240 + 110) x 60.000]
    = Rp 40.200.000
  • Biaya tambahan per bulan, jika alternatif membeli dipilih:
    = Rp 43.600.000 – Rp 40.200.000
    = Rp 3.400.000
  • Pajak penghasilan (25% x Rp 3.400.000) = Rp 850.000

Biaya tambahan setelah pajak perseroan per bulan, jika alternatif membeli suku cadang 4965 dipilih:

=  (Rp 43.600.000 – Rp 40.200.000) – Rp 850.000
= Rp 2.550.000

Dari perhitungan di atas dapat disimpulkan bahwa alternatif tetap memproduksi sendiri suku cadang yang seharusnya dipilih.

Karena alternatif membeli dari pemasok luar akan menimbulkan biaya tambahan setelah pajak perseroan per bulan sebesar Rp 2.550.000.

Dalam informasi yang disajikan pada analisis di atas, telah diperhitungkan pajak penghasilan dikenakan atas laba perusahaan.

Jika alternatif membeli dari pemasok luar dipilih, terjadi penurunan laba sebesar Rp 3.400.000.

Sehingga alternatif tersebut akan menimbulkan penghematan pajak (tax saving) sebesar:

=  25% x Rp 3.400.000
= Rp 850.000

Dengan demikian dalam pengambilan keputusan itu, adanya penghematan pajak sebesar Rp 850.000 harus dikurangkan dari biaya tambahan sebesar Rp 3.400.000 per bulan tersebut.

 

04: Kelemahan Metode Variabel Costing

Ada 4 (empat) kelemahan metode variabel costing adalah:

Kelemahan Variabel Costing #1:

Pemisahan biaya-biaya ke dalam biaya variabel dan tetap sebenarnya sulit dilaksanakan, karena jarang sekali suatu biaya benar-benar variabel dan benar-benar tetap.

Suatu biaya yang digolongkan sebagai biaya variabel jika memenuhi kriteria berikut ini:

  • Harga barang dan jasa tidak berubah.
    Misalkan konsumsi solar untuk genset listrik tergantung pada aktivitas pabrik.
    Maka biaya solar adalah biaya variabel dengan asumsi harga belinya tidak berubah, karena bila berubah harganya.
    Maka biaya bahan bakar tersebut tidak lagi berubah sebanding dengan perubahan aktivitas produksi.
  • Metode dan prosedur produksi tidak berubah-ubah.
  • Tingkat efisiensi tidak berfluktuasi.

 

Sedangkan biaya tetap dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:

  1. Biaya tetap yang dalam jangka pendek dapat berubah, misalnya gaji manajer produksi, pemasaran, keuangan, serta gaji manajer akuntansi.
  2. Biaya tetap yang dalam jangka panjang konstan, misalnya biaya penyusutan aktiva dan sewa kantor yang dikontrakkan untuk jangka panjang.

Namun perlu diketahui bahwa dalam jangka panjang semua biaya adalah berperilaku variabel.

 

Kelemahan Variabel Costing #2:

Metode variabel costing adalah dianggap tidak sesuai dengan prinsip akuntansi yang lazim, sehingga laporan keuangan untuk kepentingan pajak dan masyarakat umum harus dibuat atas dasar metode full costing.

Menurut pendukung full costing, jika biaya overhead pabrik tetap tidak diperhitungkan dalam harga pokok persediaan.

Dan harga pokok penjualan akan menghasilkan informasi harga pokok produk yang tidak wajar.

Biaya overhead pabrik tetap, seperti halnya dengan biaya overhead pabrik  variabel diperlukan untuk memproduksi.

Dan oleh karena itu, menurut metode full costing harus dibebankan sebagai biaya produksi.

Metode variabel costing memang lebih ditujukan untuk memenuhi informasi bagi kepentingan intern perusahaan.

Kelemahan ini dapat diatasi dengan mudah oleh metode variabel costing adalah dengan cara mengubah laporan laba rugi variabel costing ke dalam laporan laba rugi full costing.

 

Kelemahan Variabel Costing #3:

Dalam metode variabel costing, naik turunnya laba dihubungkan dengan perubahan-perubahan dalam penjualannya.

Untuk perusahaan yang aktivitas usahanya bersifat musimam, variabel costing akan menyajikan kerugihan yang berlebih-lebihan dalam periode-periode tertentu.

Sedangkan dalam periode lainnya akan menyajikan laba yang tidak normal.

Misalkan perusahaan JAS HUJAN yang menjual produknya dalam beberapa bulan menjelang atau selama musim hujan.

Untuk satu atau dua bulan menjelang atau selama musim hujan, laporan laba rugi metode variabel costing akan menunjukkan laba.

Sedangkan bulan-bulan lain akan menunjukkan kerugian, karena tidak ada biaya tetap yang ditunda pembebanannya sebagai harga pokok persediaan.

Dalam keadaan demikian, laporan laba rugi bulanan yang disajikan berdasarkan metode variabel costing adalah diragukan manfaatnya.

Bila dibandingkan dengan laporan laba rugi yang disusun atas dasar metode full costing.

 

Kelemahan Variabel Costing #4:

Tidak diperhitungkannya biaya overhead pabrik tetap dalam persediaan dan harga pokok persediaan akan mengakibatkan nilai persediaan lebih rendah.

Sehingga akan mengurangi modal kerja yang dilaporkan untuk tujuan-tujuan analisis keuangan.

 

05: Kesimpulan

Metode variabel costing adalah metode alternatif untuk menghitung harga pokok produksi di samping metode full costing.

Dengan dipisahkan informasi biaya menurut perilaku dalam hubungannya dengan perubahan volume aktivitas, metode ini mampu menghasilkan informasi yang bermanfaat bagi manajemen dalam:

  • perencanaan laba jangka pendek
  • pengendalian biaya tetap yang lebih baik, dan
  • pengambilan keputusan jangka pendek.

Hal ini dimungkinkan, karena dalam jangka pendek, biaya tetap tidak relevan, karena tidak terpengaruh oleh pengambilan keputusan yang dilakukan oleh manajemen.

Jika biaya tetap terpengaruh dalam pengambilan keputusan jangka pendek, metode variabel costing dapat menyajikan dampak keputusan tersebut terhadap biaya tetap dan laba.

Demikian yang dapat saya sampaikan mengenai materi dan makalah variable costing.

Semoga bermanfaat. Terima kasih.

***

manajemen keuangan dan SOP