10 Cara Menghitung Harga Pokok Penjualan

HPP atau Harga Pokok Penjualan adalah jumlah semua pengeluaran-pengeluaran langsung atau tidak langsung yang berhubungan dengan perolehan, penyiapan dan penempatan barang agar dapat dijual.

Dengan istilah lain dapat didefinisikan bahwa Harga Pokok Penjualan adalah harga yang harus dibayar untuk memperoleh suatu barang.

Dalam prakteknya harga pokok penjualan terdiri dari harga faktur ditambah biaya angkut.

Sedangkan biaya-biaya yang lain diperlakukan sebagai biaya waktu (period cost) yang dibebankan pada periode yang bersangkutan.

Bagaimana cara menghitung Harga Pokok Penjualan?

Ikuti pembahasan lengkapnya berikut ini….

 

A: Teknik Menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP)

pasar modal adalah

Pengertian Harga Pokok Penjualan (cost of goods sold – harga pokok penjualan in english) atau HPP sudah disinggung pada paragarf awal artikel ini.

Dan sekarang kita bahas dengan tuntang cara menghitung harga pokok penjualan perusahaan manufaktur, perusahaan dagang, dan perusahaan jasa.

Bagaimana cara menghitung Harga Pokok Penjualan?

Apa manfaat dari perhitungan harga pokok produksi dalam perdagangan?

Secara umum ada 10 teknik yang dapat digunakan untuk menentukan dan menghitung harga pokok penjualan (HPP).

Anda tidak perlu menggunakan semua metode itu.

Cukup pilih salah satu yang cocok dengan kebutuhan, jenis dan karakteristik usaha dan bisnis anda.

***

Inilah 10 teknik atau cara menghitung harga pokok penjualan (HPP):

01: Cara Menghitung Harga Pokok Penjualan – Metode Identifikasi Khusus

Cara menghitung HPP dengan teknik identifikasi khusus didasarkan pada anggapan bahwa arus barang harus sama dengann arus biaya.

Untuk itu perlu dipisahkan masing-masing jenis barang berdasarkan pada harga pokoknya.

Dan untuk tiap-tiap kelompok dibuatkan kartu persediaan sendiri, sehingga masing-masing harga pokok bisa diketahui.

HPP atau Harga pokok penjualan adalah terdiri dari harga pokok barang-barang yang dijual dan sisanya merupakan persediaan akhir.

Teknik menghitung HPP ini dapat digunakan untuk perusahaan-perusahaan yang menggunakan prosedur pencatatan persediaan dengan metode fisik maupun perpetual.

Kekurangan cara perhitungan harga pokok penjualan dengan teknik identifikasi khusus adalah menimbulkan banyak pekerjaan tambahan dan membutuhkan gudang yang luas.

Sehingga cara ini jarang digunakan oleh perusahaan.

 

02: Metode FIFO (First In First Out – Masuk Pertama Keluar Pertama)

harga pokok penjualan adalah

Ada 3 cara menghitung harga pokok penjualan (HPP) yang dasarnya adalah arus biaya.

Cara  ini digunakan di mana arus barang tidak harus sama dengan arus biayanya yaitu

  • FIFO (Masuk Pertama Keluar Pertama)
  • LIFO (Masuk Terakhir Keluar Pertama dan
  • Rata-rata Tertimbang.

Untuk menjelaskan penggunaan masing-masing teknik tersebut, perhatika ilustrasi contoh data sebagai berikut :

cara menghitung hpp dengan metode fifo

Bila cara menghitung harga pokok penjualan perusahaan dagang dengan metode FIFO (Masuk Pertama Keluar Pertama).

Maka harga pokok persediaan akan dibebankan sesuai dengan urutan terjadinya.

Apabila ada penjualan atau pemakaian barang-barang maka harga pokok yang dibebankan adalah harga pokok yang paling terdahulu, disusul dengan yang masuk berikutnya.

Persediaan akhir dibebani harga pokok terakhir.

***

Bila menggunakan contoh data di atas, persediaan akhir dan harga pokok penjualan (HPP) dapat dihitung dengan metode FIFO adalah sebagai berikut:

A: Cara Menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP) dengan Metode FIFO – Fisik

Perhatikan contoh soal FIFO dan jawabannya berikut ini:

Misalnya perhitungan fisik atas barang-barang dalam gudang pada tanggal 28 Februari 2015 menunjukkan jumlah 300 kg, terdiri dari:

  • Pembelian  24 Februari    100 kg @Rp. 126  =  Rp. 12.600
  • Pembelian 15 Februari     200 kg @Rp. 116  =  Rp. 23.200
  • J u m l a h   300 kg = Rp. 35.800

Sesudah diketahui jumlah persediaan akhir maka harga pokok penjualan dapat dihitung sebagai berikut :

= Rp. 112.000 – Rp. 35.800
= Rp 76.200

 

B: Cara Menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP) dengan Metode FIFO Perpetual (Buku)

Apabila digunakan metode perpetual maka setiap jenis persediaan akan dibuatkan kartu persediaan.

Kartu persediaan barang tersebut terdiri dari beberapa kolom yang digunakan untuk mencatat mutasi persediaan.

Perhatikan contoh soal persediaan metode perpetual berikut ini:

Dengan menggunakan contoh data di atas, kartu piutang bisa dibuat jurnal harga pokok penjualan seperti berikut ini :

jurnal harga pokok penjualan
Tabel menghitung hpp dengan metode fifo perpetual

Dari kartu persediaan barang di atas.

Kita dapat melihat bahwa jumlah persediaan barang tanggal 28 Februari 2015 sebesar 300 kg dengan harga pokok penjualan sebesar Rp. 35.800.

Jumlah persediaan barang yang dihitung dengan metode FIFO dengan metode fisik menunjukkan hasil yang sama dengan metode FIFO perpetual (buku).

 

03: Cara Menghitung HPP – Metode Rata-rata Tertimbang (Weighted Average)

rumus hpp

Cara menghitung harga pokok penjualan dengan metode rata-rata tertimbang ini barang-barang yang dipakai untuk produksi atau dijual akan dibebani harga pokok rata-rata.

Perhitungan harga pokok rata-rata dilakukan dengan rumus HPP sebagai berikut:

= Jumlah Harga Perolehan : Kuantitas (jumlah)

***

Ada 2 metode yang digunakan untuk menghitung persediaan akhir dan harga pokok penjualan atau HPP adalah sebagai berikut :

A: Cara Menghitung Harga Pokok Produksi dengan Metode Rata-rata Tertimbang – Fisik

Perhatikan contoh soal harga pokok penjualan berikut ini:

Misalnya barang-barang yang ada di gudang pada tanggal 28 Februari 2015 dihitung berjumlah 300 kg. Persediaan akhir dihitung sebagai berikut :

contoh soal harga pokok penjualan

 

B: Cara Menghitung Harga Pokok Produksi dengan Metode Rata-rata Tertimbang – Perpetual

Teknik perhitungan HPP dengan metode rata-rata tertimbang perpetual adalah dengan barang-barang yang dikeluarkan akan dibebani harga pokok pada akhir periode.

Karena harga pokok rata-rata baru dihitung pada akhir periode akibatnya jurnal untuk mencatat berkurangnya persediaan barang juga dibuat pada akhir periode.

Apabila harga pokok rata-rata dicatat setiap ada pengeluaran barang maka diperlukan untuk menghitung harga pokok rata-rata setiap kali terjadi pembelian barang.

Sehingga dalam satu periode akan terdapat beberapa beberapa harga pokok rata-rata.

Cara seperti ini disebut rata-rata bergerak (moving average).

Bila menggunakan metode perhitungan rata-rata bergerak kartu piutang-nya akan nampak seperti berikut ini :

Cara menghitung HPP - metode rata-rata tertimbang
Tabel rata-rata bergerak – metode perpetual

Harga pokok rata-rata per kg yang baru akan dihitung setiap kali ada pembelian barang.

Pengeluaran barang berikutnya dihitung dengan harga pokok rata-rata tersebut sampai ada pembelian lagi.

Dari contoh di atas, pada tanggal 9 Februari 2015 harga pokok rata-rata dihitung sebagaii berikut :

= Rp 53.000 : 500 kg
= Rp. 106.000

Harga pokok rata-rata ini digunakan untuk menghitung harga pokok pengeluara barang pada tanggal 10 Februari 2015.

Kemudian pada tanggal 15 Februari 2015 ada pembelian barang sejumlah 400 kg dengan harga Rp 116 per kg.

Harga pokok rata-rata yang baru adalah sebagai berikut:

= Rp 57.000 : 500 kg
= Rp 114.

Dan begitu seterusnya…

***

Apabila terjadi pengembalian barang yang dijual.

Maka tidak ada masalah dalam mencatat barang-barang yang dikembalikan itu karena harga pokok rata-rata yang digunakan masih sama.

Tapi jika barang-barang yang diterima kembali itu terjadi sesudah adanya pembelian baru maka harga pokok rata-ratanya sudah berbeda.

Sehingga perlu dihitung harga pokok rata-rata yang baru.

Masalah lain timbul bila barang yang dibeli dikembalikan pada penjual.

Dalam hal ini harga pokok rata-rata tidak sama dengan harga beli barang-barang yang dikembalikan.

Oleh karena itu selisihnya dibebankan pada rekening Selisih Persediaan.

Ada artikel menarik yang perlu dibaca tentang pembelian, maka baca juga :

 

04: Cara Menghitung HPP – Metode LIFO (Masuk Terakhir Keluar Pertama)

beban pokok penjualan

Metode LIFO adalah cara menghitung harga pokok persediaan di mana barang-barang yang dikeluarkan dari gudang akan dibebani dengan harga pokok pembelian yang terakhir.

Selanjutnya disusul dengan yang masuk sebelumnya.

Persediaan barang akhir dihargai dengan harga pokok pembelian yang pertama dan berikutnya.

Penggunaan cara LIFO atau Masuk Terakhir Keluar Pertama akan lebih jelas jika dilihat dalam perhitungan berikut yang datanya masih diambil dari contoh di atas.

 

A: Cara Menghitung Harga Pokok Penjualan dengan Metode LIFO – Fisik

Perhatikan contoh soal HPP berikut ini:

Misalnya pada tanggal 28 Februari 2015 diadakan perhitungan fisik terhadap barang-barang dalam gudang yang hasilnya adalah jumlah persediaan sebanyak 300 kg

Harga pokok persediaan barang sebanyak 300 kg itu dihitung sebagai berikut:

  • Pembelian 01 Februari 200 kg @Rp. 100 = Rp. 20.000
  • Pembelian 09 Februari 100 kg @Rp. 110 = Rp. 11.000
  • J u m l a h     300 kg = Rp. 31.000

Harga Pokok Penjualan :

= Rp. 112.000 – Rp. 31.000
= Rp. 81.000

 

B: Cara Menghitung Harga Pokok Penjualan dengan Metode LIFO – Perpetual (Buku)

Cara Menghitung HPP dengan Metode LIFO

Dengan cara ini barang-barang yang dikeluarkan dapat dikreditkan dalam rekening persediaan dengan harga pokoknya pada waktu :

1. Akhir Periode

Setiap ada pengeluaran barang yang dicatat dalam kolom pengeluaran hanya kuantitasnya.

Sedangkan harga pokoknya baru dicatat pada akhir periode sekaligus.

Cara ini akan memberikan hasil perhitungan persediaan akhir dan harga pokok penjualan yang sama besar dengan metode fisik.

 

2. Setiap kali ada barang yang dikeluarkan

Jika harga pokok barang-barang yang dikeluarkan dicatat dalam kartu persediaan pada saat barang-barang tersebut dikeluarkan.

Maka perhitungan harga pokok persediaan dan harga pokok penjualan sebagai berikut :

metode lifo perpetual
cara menghitung hpp dengan metode lifo perpetual

Persediaan akhir bisa dilihat pada baris terakhir sebesar:persediaan akhir metode lifo - perpetual

Harga pokok penjualan dapat dilihat dalam rekening harga pokok penjualan yaitu sebesar:

Tgl 18 Februari 2015

= Rp. 33.000 + Rp 10.000 + Rp 34.800
= Rp. 77.800

***

Dari contoh di atas dapat dilihat bahwa hasil perhitungan persediaan akhir dan harga pokok penjualan tidak sama dengan hasil dari metode fisik.

Selisih harga pokok persediaan kedua metode tersebut sebesar Rp. 3.200.

Selisih sebesar itu disebabkan karena perbedaan harga pokok per kg dari barang yang dikeluarkan tanggal 10 dan 18 Februari 2015.

Perhatikan perhitungan selisihnya adalah sebagai berikut:

perbedaan harga pokok produksi dan harga pokok penjualan

Bila terjadi adanya pengembalian terhadap barang-barang baik pembeli maupun kepada penjual

Maka barang-barang yang dikembalikan akan dicatat dengan harga pokok yang terakhir.

Selisih dengan harga belinya dicatat dalam rekening selisih persediaan.

Salah satu kekurangan dari cara perhitungan dengan LIFO adalah bila perusahaan memiliki banyak jenis persediaan maka akan memakan waktu yang lama.

 

05: Cara Menghitung HPP – Metode Persediaan Besi / Minimum

rumus hpp perusahaan dagang

Penggunaan metode persediaan besi adalah menganggap bahwa perusahaan memerlukan suatu jumlah persediaan minimum untuk menjaga kontinuitas usahanya.

Persediaan minimum ini dianggap sebagai suatu elemen yang harus selalu tetap sehingga dinilai dengan harga pokok yang tetap.

Harga pokok untuk persediaan minimum biasanya diambil dari pengalaman yang lalu di mana harga pokok itu nilainya rendah.

Pada akhir periode jumlah barang yang ada dalam gudang dihitung.

Jumlah persediaan minimum dinilai dengan harga pokok yang tetap.

Sedangkan selisih antara jumlah barang yang ada dengan jumlah persediaan minimum dinilai dengan harga pada saat tersebut.

Cara perhitungan dengan persediaan minimum dipakai anggapan bahwa jumlah persediaan minimum itu selalu tetap.

Sehingga harga pokok penjualan akan terdiri dari pembelian-pembelian baru.

Oleh karena itu hasil perhitungan nilai persediaan dengan cara ini akan mendekati jumlah persediaan yang dihitung dengan metode LIFO (Masuk Terakhir Keluar Pertama).

 

06: Cara Menghitung HPP – Metode Biaya Standar (Standard Cost)

Cara Menghitung HPP - Metode Biaya Standar

Di Perusahaan manufaktur yang menggunakan sistem biaya standar, persediaan barang dinilai dengan biaya standar, yaitu biaya-biaya yang seharusnya terjadi.

Biaya standar ini ditentukan di muka, yaitu sebelum proses produksi dimulai, untuk bahan baku, upah langsung dan biaya produksi tidak langsung.

Apabila terdapat perbedaan antara biaya-biaya yang sesungguhnya terjadi dengan biaya standarnya.

Maka perbedaan-perbedaan itu akan dicatat sebagai selisih.

Karena persediaan barang dinilai dengan biaya standar.

Maka dalam harga pokok penjualan tidak termasuk kerugian-kerugian yang timbul karena pemborosan-pemborosan dan hal-hal yang tidak biasa.

Biaya standar yang ditetapkan akan terus digunakan apabila tidak ada perubahan harga maupun metode produksi.

Apabila ternyata ada perubahan maka biaya standar harus direvisi dan disesuaikan dengan keadaan yang baru.

 

07: Metode Harga Pokok Rata-rata Sederhana (Simple Average)

harga pokok penjualan perusahaan dagang

Cara menghitung harga pokok penjualan di mana harga pokok persediaan ditentukan dengan rumus menghitung rata-ratanya tanpa memperhatikan jumlah barangnya.

 

Perhatikan contoh berikut ini:

rumus hpp perusahaan dagang

Apabila jumlah barang yang dibeli berbeda-beda maka metode ini tidak menghasilkan harga pokok yang dapat mewakili seluruh persediaan.

 

08: Cara Menghitung HPP – Metode Harga Beli Terakhir (Latest Purchase Price)

contoh harga pokok penjualan

Cara menghitung dengan cara ini persediaan barang yang ada pada akhir periode dinilai dengan rumus harga pokok pembelian terakhir.

Tanpa mempertimbangkan apakah jumlah persediaan yang ada melebihi jumlah yang dibeli terakhir.

Perhatikan, contoh penggunaan rumus harga pokok pembelian berikut ini:

Misalnya pembelian terakhir terjadi pada tanggal 24 Februari 2015 sebanyak 100 unit dengan harga Rp 126 per unit.

Persediaan barang pada tanggal 31 Desember 2015 sebanyak 300 unit.

Nilai persediaan pada tanggal 28 Februari 2015 dihitung sebagai berikut :

= 300 x Rp 126
= Rp. 37.800

 

09: Cara Menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP) – Metode Nilai Penjualan Relatif

harga pokok penjualan dan harga pokok produksi

Cara ini digunakan untuk mengalokasikan biaya bersama (joint costs) untuk masing-masing produk yang dihasilkan/dibeli.

Masalah alokasi ini dapat timbul dalam usaha dagang maupun perusahaan manufaktur.

Di perusahaan dagang apabila dibeli beberapa barang yang harganya menjadi satu, akan timbul masalah berapakah harga pokok masing-masing barang tersebut.

Pembagian biaya bersama ini dilakukan berdasar nilai penjualan relatif dari masing-masing barang tersebut.

Perhatikan contoh harga pokok produksi berikut ini:

Di beberapa perusahaan manufaktur suatu proses produksi akan menghasilkan beberapa produk sekaligus. Hasil produksi seperti ini disebut produk bersama.

Biaya-biaya produksi untuk menghasilkan produk disebut biaya bersama (joint costs).

Dan dapat dialokasikan untuk masing-masing produk dengan menggunakan metode nilai penjualan relatif.

***

Perhatikan cara menghitung harga pokok produksi berikut ini:

Misalnya PT ABC menghasilkan 2 macam produk dari proses produksinya yaitu produk A dan B.

Data yang berhubungan dengan produksi dan penjualan untuk bulan Agustus 2015 sebagai berikut :

rumus harga pokok produksi

Pembagian biaya bersama untuk produk A dan B dilakukan sebagai berikut :

contoh soal harga pokok penjualan perusahaan manufaktur
pembagian biaya bersama untuk tiap produk dalam metode nilai penjualan relatif

 

Sesudah harga pokok produksi per unit diketahui maka persediaan akhir dan harga pokok penjualan bisa dihitung sebagai berikut:

 

rumus persediaan akhir

 

Dari contoh soal harga pokok produksi perusahaan manufaktur di atas, kita jadi paham apa tujuan perhitungan harga pokok produksi?.

Dan manfaat dari perhitungan harga pokok produksi dalam perdagangan.

 

10: Cara Menghitung Harga Pokok Penjualan – Metode Biaya Variabel (Direct Costing)

Dengan cara ini, harga pokok produksi dari produk yang dihasilkan oleh perusahaan hanya dibebani dengan biaya produksi yang variabel.

Biaya variabel itu antara lain:

  • bahan baku,
  • upah langsung dan
  • biaya produksi tidak langsung yang variabel.

Biaya produksi tidak langsung yang tetap akan dibebankan sebagai biaya dalam periode yang bersangkutan dan tidak ditunda dalam persediaan.

Metode perhitungan HPP ini berguna bagi pimpinan perusahaan untuk merencanakan dan mengawasi biaya-biaya-nya.

Agar cara ini bisa digunakan dengan baik maka rekening-rekening biaya harus dipisahkan menjadi biaya variabel dan tetap.

Karena yang dimasukkan dalam perhitungan harga pokok produksi hanya biaya-biaya yang variabel.

Maka metode biaya variabel ini ini tidak diterima sebagai prinsip ekonomi yang lazim.

Oleh karena itu jika digunakan cara biaya variabel maka pada akhir periode harus diadakan penyesuaian terhadap persediaan dan harga pokok penjualan (HPP).

***

Penjelasan tentang aplikasi cara menghitung HPP untuk menentukan harga jual kue dapat disaksikan pada video singkat berikut ini.

Selamat menyaksikan….

Bagaimana,  menarik dan cukup mudah kan?

 

B: Kesimpulan

Demikian pembahasan mengenai Inilah 10 Cara Praktis dan Akurat untuk Menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP).

Silahkan anda pilih yang sesuai dengan proses bisnis anda.

Setiap metode memiliki kelebihan dan kelemahan.

Satu metode yang cocok digunakan pada jenis industri tertentu dan lingkungan tertentu, belum tentu cocok digunakan untuk jenis bisnis yang lain.

so, bijaklah dalam mengimplementasikannya….

Jika Anda peduli dan ingin meningkatkan kinerja BISNIS dan usaha Anda, tidak ada salahnya untuk membaca sejenak artikel berikut ini : SOP Akuntansi Keuangan dengan dukungan accounting tools sederhana powerful.

Bila ada yang perlu dibahas kembali, silahkan masukannya.

Terima kasih.

manajemen keuangan dan SOP