3 Perubahan Metode Akuntansi yang Mempengaruhi Tujuan Laporan Keuangan

3 perubahan metode akuntansi yang mempengaruhi tujuan laporan keuangan

3 perubahan metode akuntansi yang mempengaruhi tujuan laporan keuangan

 

Tujuan laporan keuangan adalah memberikan informasi kepada pihak-pihak yang membutuhkan yang akan digunakan untuk membuat perbandingan, memprediksikan dan menilai kemampuan suatu perusahaan.

Agar tujuan-tujuan tersebut bisa terpenuhi maka Laporan Keuangan harus bisa DIPERBANDINGKAN.

Perbandingan-perbandingan ini dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara, yaitu horizontal dan vertikal.

Perbandingan horizontal adalah perbandingan laporan keuangan suatu perusahaan dengan perusahaan lain untuk periode yang sama.

Perbandingan vetikal adalah perbandingan laporan keuangan dari suatu perusahaan dengan laporan keuangan yang sama untuk periode-periode sebelumnya.

Contohnya sebagai berikut :

Neraca

contoh perbandingan vertikal - neraca
sumber : Laporan Tahunan Bank Mandiri

 

Laporan Laba Rugi :

contoh perbandingan vertikal - laporan laba rugi
sumber : Laporan tahunan Bank Mandiri

 

Dari gambar di atas kita bisa membandingkan laporan keuangan baik neraca maupun laporan laba rugi dalam lima tahun yaitu sejak tahun 2011 hingga 2015.

Perbandingan antar perusahaan harus memenuhi prinsip comparability, sedangkan perbandingan antar periode harus memenuhi prinsip konsistensi.  

Untuk menjaga agar prinsip comparability dan konsistensi ini dapat terlaksana, perubahan-perubahan yang terjadi dipisahkan menjadi 2 (dua) yaitu perubahan metode-metode akuntansi dan perubahan-perubahan yang timbul karena koreksi kesalahan-kesalahan dalam periode-periode yang lalu.

Perubahan dalam metode akuntansi dipisahkan menjadi 3 (tiga) yaitu :

  1. Perubahan dalam prinsip akuntansi
  2. Perubahan dalam taksiran-taksiran akuntansi
  3. Perubahan dalam kesatuan usaha

Koreksi kesalahan tahun-tahun lalu dapat terjadi karena berbagai macam sebab, seperti kesalahan-kesalahan perhitungan, kesalahan-kesalahan penggunaan rekening, kesalahan-kesalahan dalam penerapan prinsip akuntansi.

Tidak ada pedoman khusus untuk mengoreksi kesalahan-kesalahan ini karena koreksinya tergantung pada jenis kesalahannya.

Dan kabar baiknya, pembahasan mengenai cara melakukan koreksi kesalahan laporan keuangan bisa di baca di : Cara Melakukan Koreksi Kesalahan Laporan Keuangan

 

Mari kita bahas satu per satu perubahan dalam metode akuntansi tersebut :

#1. Perubahan dalam prinsip Akuntansi

Perubahan dalam prinsip akuntansi adalah penggunaan suatu prinsip akuntansi yang lazim yang berbeda dengan prinsip akuntansi yang lazim yang digunakan dalam periode sebelumnya.

Istilah prinsip akuntansi di sini mencakup juga metode-metode yang digunakan.

Perubahan dalam prinsip akuntansi ini dapat terjadi karena perusahaan mempunyai beberapa alternatif metode untuk penerapan suatu prinsip.

Istilah perubahan dalam prinsip akuntansi ini tidak termasuk :

  • Pemakaian pertama suatu prinsip akuntansi untuk mencatat transaksi yang baru pertama kali terjadi dalam perusahaan.
  • Penggunaan atau perubahan suatu prinsip akuntansi yang perlu dilakukan karena adanya perubahan sifat transaksi.
  • Perubahan dari prinsip akumulasi yang tidak lazim ke prinsip yang lazim.

Contoh dari perubahan prinsip akuntansi antara lain :

  • Perubahan dalam metode pembebanan harga pokok persediaan, seperti dari LIFO ke FIFO atau ke rata-rata tertimbang.
  • Perubahan dalam metode depresiasi aktiva tetap, seperti dari double delining balance method ke straight line method.
  • Perubahan dalam metode akuntansi untuk kontrak jangka panjang, seperti dari metode kontrak selesai ke metode persentase penyelesaian.
  • Perubahan dalam perhitungan biaya produksi, seperti dari full costing ke direct costing.

Perubahan dalam penggunaan prinsip akuntansi ini bisa diklasifikasikan menjadi 3 (tiga), yaitu :

#1. Perubahan prinsip akuntansi yang mempunyai akibat kumulatif

Akibat kumulatif dari perubahan prinsip akuntansi diperlakukan sebagai berikut :

  • Jumlah akibat kumulatif dari perubahan prinsip dilaporkan dalam laporan laba rugi di antara elemen-elemen luar biasa dan laba bersih. Pelaporannya dengan jumlah sesudah dikurangi pajak penghasilan.
  • Laporan keuangan periode-periode sebelumnya tidak perlu dikoreksi.
  • Laba sebelum elemen luar biasa dan laba bersih periode-periode sebelumnya ditunjukkan dalam laporan laba rugi tahun sekarang dengan jumlah yang udah dikoreksi.

 

#2. Perubahan prinsip akuntansi yang mempunyai akibat retroaktif

Perubahan prinsip akuntansi tertentu diperlakukan secara retroaktif. Dengan cara ini laporan keuangan periode-periode sebelumnya (yang dilaporkan) disusun kembali sesuai dengan prinsip yang baru.

Bila masih terdapat sisa akibat kumulatif (sesudah laporan keuangan periode-period sebelumnya yang dilaporkan, direvisi) maka sisa tersebut dikoreksikan ke saldo awal rekening laba tidak dibagi dari periode terawal yang dikoreksi.

Perubahan prinsip akuntansi yang memerlukan retroaktif adjustment adalah :

  • Perubahan metode penentuan harga pokok persediaan dari LIFO ke metode lain.
  • Perubahan dalam metode akuntansi untuk kontrak jangka panjang.
  • Perubahan dari atau ke full cost method yang digunakan dalam industri extractive.

 

#3. Perubahan metode penentuan penentuan harga pokok persediaan ke LIFO

Perubahan ke LIFO ini merupakan suatu pengecualian dari dua perlakuan di atas (kumulatif dan retroactive).

Bila suatu perusahaan mengganti metode penentuan harga pokoknya ke LIFO maka persediaan awal dalam periode pergantian metode itu merupakan dasar perhitungan untuk periode tersebut dan periode-periode berikutnya.

Pergantian metode ke LIFO ini tidak memerlukan koreksi baik kumulatif maupun retroaktif.

Demikianlah 3 (tiga) klasifikasi perlakuan dari perubahan dalam penggunaan prinsip akuntansi.

 

#2. Perubahan dalam Taksiran-taksiran Akuntansi

Banyak alokasi atau pembebanan biaya didasarkan pada taksiran-taksiran di mana taksiran ini dibuat dengan suatu kebijaksanaan, misalnya pembebanan kerugian piutang, taksiran umur dalam perhitungan depresiasi, dan taksiran jumlah garansi yang akan dibayar.

Pada periode-periode berikutnya mungkin dapat diketahui bahwa taksiran-taksiran yang sudah dibuat adalah tidak benar sehingga perlu direvisi.

Bila taksiran sudah dibuat dengan sebai-baiknya tapi ternyata tidak tepat, maka perubahan-perubahan yang dibuat sebaiknya dibebankan pada periode berjalan dan periode-periode yang akan datang.

Periode-periode yang lalu sudah tidak perlu diubah karena perubahan taksiran ini baru diketahui pada periode berjalan.

Contoh :

Mesin harga perolehannya Rp. 1.000.000,- umurnya ditaksir 8 tahun. Setelah dipakai selama 5 tahun diketahui bahwa seharusnya mesin tadi umurnya 10 tahun.

Depresiasi yang sudah dibebankan selama 5 tahun berjumlah 5 x Rp. 125.000 = Rp. 625.000.

Nilai buku mesin pada awal tahun ke-enam sebesar Rp. 375.000.

Karena taksiran umurnya berubah menjadi 10 tahun maka nilai buku sebesar Rp. 375.000 akan dibebankan dalam waktu lima tahun, yaitu tahun ke-enam sampai dengan tahun ke-sepuluh.

Beban depresiasi tiap tahun selama sisa umur mesin sebesar Rp. 375.000 : 5 = Rp. 75.000.

Dalam hal ini tidak perlu dibuat jurnal untuk membetulkan saldo rekening yang berhubungan.

Perubahan dalam taksiran akuntansi yang timbul sebagian atau seluruhnya dari perubahan prinsip akuntansi harus dilaporkan sebagai perubahan taksiran akuntansi.

Perubahan metode depresiasi, akibatnya dapat dipisahkan dari perubahan taksiran-taksiran akuntansi (seperti umur dan residu).

Oleh karena itu perubahan metode depresiasi atau penyusutan harus diperlakukan sebagai perubahan prinsip akuntansi dan perubahan taksiran umur, nilai residu dan lain-lain diperlakukan sebagai perubahan taksiran akuntansi.

 

#3. Perubahan Kesatuan Usaha

Laporan keuangan bisa berubah karena adanya perubahan kesatuan usaha.

Perubahan kesatuan usaha ini terjadi dalam hal disusunnya laporan keuangan konsolidasi sebagai ganti laporan keuangan masing-masing perusahaan, perubahan-perubahan dalam anak perusahaan yang laporan-laporannya dikonsoidasikan, atau terjadinya penggabungan-penggabungan baru.

Bila trejadi perubahan kesatuan usaha maka laporan keuangan tahun berjalan harus menjelaskan sifat-sifat dan sebab-sebab perubahan itu.

Di samping itu akibat-akibat perubahan terhadap laba rugi juga harus dicantumkan dalam laporan laba rugi sebelum elemen-elemen luar biasa, begitu juga laba bersih dan jumlah pendapatan per lembar saham (EPS).

Laporan keuangan tahun berikutnya tidak perlu lagi mencantumkan penjelasan seperti laporan tahun berjalan.

Agar laporan keuangan tahun berjalan dapat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, laporan keuangan tahun sebelumnya harus disusun dengan anggapan jika seandainya sudah terjadi perubahan kesatuan usaha.

 

***