Pengertian Depresiasi Aset Tetap, Metode Perhitungan, dan Contoh

Aktiva tetap yang sudah dinilai kembali akan menghasilkan dua macam data, yaitu data harga perolehan dan data penilaian kembali. Bagaimana metode penyusutan nya?

Dua data tersebut dapat digunakan untuk menghitung nilai depresiasi atau penyusutan.

Bagaimana cara perhitungannya?

Ikuti pembahasannya berikut ini…

 

01: Pengertian Penyusutan/ Depresiasi Aset/ Aktiva Tetap

A: Pengertian Depresiasi Aset Tetap

Depresiasi adalah biaya nyata bukan hipotesis.

Depresiasi atau penyusutan untuk suatu periode harus diperhitungkan dan diakui sebagai biaya.

Karena jasa yang diberikan oleh aset tetap tidak terjadi sekaligus pada saat perolehan atau pemberhentian aset tersebut.

Seluruh potensi jasa aset tetap (depresiasi total yang direpresentasikan oleh cost aset) jelas akan dimanfaatkan.

Atau dipakai dengan cara tertentu, sampai jasa yang terkandung di dalamnya habis.

jadi, depresiasi/ penyusutan adalah bagian dari cost aset yang telah diperhitungkan sebagai biaya.

Sebagai  upaya penentua besarnya penyusutan tidak tergantung pada besarnya laba periodik.

Dengan kata lain, besarnya laba perusahaan tidak boleh mempengaruhi besarnya penyusutan.

Karena laba adalah hasil akhir akibat penyerahan barang yang didalamnya melekat berbagai macam jasa termasuk jasa aset tetap.

Laba ditentukan dengan mengurangkan semua biaya termasuk depresiasi terhadap jumlah rupiah pendapatan.

Dengan konsep upaya dan hasil, maka biaya akan terhimpun seluruhnya lebih dahulu dan barulah kemudian pendapatan timbul dan akhirnya Laba atau Rugi akan muncul.

Metode depresiasi/ penyusutan sendiri bukan merupakan masalah penting sepanjang tidak bertentangan dengan konsep-konsep jasa di balik cost, daya ikat cost serta upayadan hasil.

Juga tidak menjadi masalah yang prinsip bagi akuntansi, bahwa metode depresiasi yang digunakan tidak sejalan dengan proses ke-ausan fisik aset tetap tersebut.

Atau tidak menunjukkan adanya fluktuasi nilai aset yang serupa.

Berkaitan hal ini dengan asas akrual, depresiasi bukan merupakan proses penilaian dan bukan sarana untuk menutup harga pengganti aset tetap dari konsumen.

Melainkan suatu langkah atau prosedur dalam proses penandingan (matching) yang tepat antara biaya dan pendapatan.

 

B: Kapasitas Menganggur Aset Tetap

Biaya penyusutan/ depresiasi yang telah dihitung dengan metode tertentu harus tetap merupakan biaya untuk menghasilkan pendapatan.

Walaupun perhitungan tersebut menimbulkan atau bahkan menambah rugi operasi.

Sebagai contoh:

Suatu perusahaan membeli alat pengangkutan (truk) dengan kapasitas angkut  5 (lima) ton dan menentukan nilai penyusutan berdasarkan atas metode garis lurus.

Masalahnya adalah kalau truk tersebut tidak selalu dipakai atau mengangkut barang kurang dari lima ton, apakah biaya penyusutan/ depresiasi dikurangi?

Penyusutan/ depresiasi total truk tersebut dapat disamakan dengan biaya sewa truk tersebut dengan tarif sewa atas dasar waktu.

Misalnya tahun dan seluruh biaya sewa telah dibayar di muka.

Walaupun truk tersebut tidak dipakai atau dipakai dibawah kapasitas, biaya sewa tiap tahun tetap terjadi sebsar tarif biaya per tahun yang telah disepakati .

Dan berapapun besarnya biaya ini akan tetap merupakan pengurang pendapatan.

Meskipun demikian, tidak tertutup kemungkinan untuk memisahkan dalam laporan laba rugi bagian penyusutan/ depresiasi tahun berjalan yang merepresentasikan kapasitas menganggur.

 

02: Metode Penyusutan Aset/ Aktiva Tetap

A: Metode Penyusutan Dihitung dari Jumlah Harga Perolehan

Cara ini akan menunjukkan hasil dan biaya-biaya atas dasar harga perolehan nampak di Laporan Laba Rugi.

Sedangkan nilai-nilai penilaian kembali akan nampak di neraca.

Cara menghitung jumlah harga perolehan telah penulis bahas di artikel : Beginilah Cara Menghitung Harga Perolehan 8 Jenis Aktiva Tetap

Pencatatan penyusutan dilakukan dengan mendebit akun Penyusutan dan kreditnya akun Akumulasi Penyusutan.

Modal Penilaian Kembali setiap tahunnya diturunkan jumlahnya dan di-kreditkan di akun Akumulasi Penyusutan Penilaian Kembali.

Penurunan Modal Penilaian Kembali ini dilakukan dengan tujuan untuk memindahkan saldo akun ini.

Tidak di-kreditkan langsung ke akun Laba Tidak Dibagi.

Melainkan melalui beban penyusutan yang dasarnya harga perolehan, sehingga labanya lebih besar.

Contoh pembuatan jurnal untuk mencatat penyusutan atas dasar harga perolehan adalah sebagai berikut :

PT Manajemen Keuangan Network membeli mesin produksi pada tanggal 1 Januari 2010 dengan harga Rp. 100.000 (dalam ribu).

Umur pemakaian ditaksir 8 tahun.

Akumulasi penyusutan pada tanggal 31 Desember 2013 sebesar Rp. 50.000 (dalam ribu).

Pada tanggal 1 Januari 2014 aset tetap mesin produksi tersebut dinilai kembali menjadi Rp. 150.000 (dalam ribu), dengan persentase keadaan 60%.

Jurnal yang dibuat untuk mencatat penilaian kembali dan penyusutan sesudah adanya penilaian kembali sebagai berikut :

penyusutan dan harga perolehan

 

B: Metode Penyusutan Dihitung atas dasar nilai baru yang berasal dari Penilaian Kembali

Perhitungan nilai penyusutan sesudah aktiva tetap dinilai kembali dapat didasarkan pada nilai sesudah penilaian kembali.

Perhitungan penyusutan dengan dasar penilaian kembali akan mengakibatkan Neraca dan Laporan Laba Rugi  disusun dengan dasar yang sama.

Pencatatan penyusutan dilakukan dengan men-debit akun Penyusutan dan meng-kredit akun Akumulasi Penyusutan dengan jumlah penilaian kembali.

Jurnal yang kedua adalah menurunkan Modal Penilaian Kembali dan ditransfer ke akun Laba Tidak Dibagi.

Dengan cara ini akan dapat menunjukkan jumlah yang sama besar akun Laba Tidak Dibagi .

Dengan menggunakan perhitungan nilai penyusutan yang didasarkan pada harga perolehan.

Agar penjelasan mengenai pembuatan jurnal untuk mencatat penyusutan yang berdasarkan pada penilaian kembali, maka perhatikan contoh penerapannya berikut ini:

Data diambil dari contoh #1.

penyusutan dan penilaian kembali

 

Transfer dari akun modal penilaian kembali dapat juga dibuat ke satu akun khusus yang akan digabungkan dengan rekening Laba Rugi yang lain.

Rekening Laba Rugi ini selanjutnya ditutup ke akun Laba Tidak Dibagi.

Demikian penjelasan dan contoh dua perhitungan penyusutan untuk aktiva yang telah dinilai kembali.

Kedua metode tersebut di setiap tahunnya dilakukan pengurangan terhadap modal penilaian kembali.

Tujuannya adalah agar pada saat aktiva tetap sudah habis penyusutannya, maka jumlah modal penilaian kembali juga habis dan BERUBAH dalam bentuk LABA TIDAK DIBAGI.

 

Penjualan Aktiva Tetap yang sudah dinilai kembali

Bagaimana jika aktiva tetap yang sudah dinilai kembali seperti di atas DIJUAL?

Penjualan aktiva tetap yang sudah dinilai kembali akan dihitung laba atau rugi yang didasarkan pada perbandingan nilai buku aktiva tetap dengan harga jualnya.

Pencatatan penjualan ini dilakukan dengan menghapuskan semua rekening yang berhubungan dengan aktiva tetap.

Baik yang berasal dari harga perolehan ataupun penilaian kembali.

 

Perhatikan contoh penerapan metode penyusutan aktiva tetap berikut ini:

Misalnya diketahui data harga perolehan dan penilaian kembali aset tetap mesin produksi pada tanggal 1 Januari 2016 sebagai berikut:

 

harga perolehan dan penilaian kembali aktiva tetap

 

Mesin produksi tersebut akhirnya dijual pada tanggal 1 Januari 2016.

Harga penjualan Rp. 150.000 (dalam ribu).

Laba yang diperoleh dari penjualan mesin ini sebesar Rp. 30.000. yaitu Rp. 150.000 dikurangi Rp. 120.000.

Jurnal untuk mencatat penjualan mesin ini adalah sebagai berikut:

 

pencatatan penjualan aktiva setelah dinilai kembali

 

Dan untuk memperluas pemahaman tentang perhitungan nilai aset tetap ini, berikut saya sajikan video pendek yang menjelaskan salah satu topik penyusutan/ depresiasi:

Bagaimana? cukup jelas kan?

Demikian artikel yang membahas mengenai metode penyusutan dan penjualan aktiva tetap yang sudah dinilai kembali.

Semoga bermanfaat.

Terima kasih.

manajemen keuangan dan SOP

Satu pemikiran pada “Pengertian Depresiasi Aset Tetap, Metode Perhitungan, dan Contoh”

Komentar ditutup.