Dua Ukuran Kinerja Perusahaan ini, Salah Satunya Mungkin Cocok Untuk Anda

Laporan keuangan mencerminkan nilai historis masa lalu, bukan nilai pasar saat ini. Kita bisa mengetahui aktivitas perusahaan di masa lalu. Kondisi seperti itu mengakibatkan terjadinya perbedaan nilai yang cukup besar.

Misalnya, aset yang dilaporkan dalam laporan keuangan mencerminkan nilai masa lalu bukan nilai pasar saat ini.

Inflasi bisa menimbulkan perbedaan sama halnya seperti operasi yang sukses dan gagal. Misalnya, biaya yang dikeluarkan Microsoft untuk mengembangkan sistem operasinya yang pertama sangatlah kecil, padahal sistem tersebut ternyata memiliki nilai miliaran dollar yang tidak muncul dalam laporan neraca.

Tentu neraca harus seimbang sehingga total sisi aset neraca lebih kecil dari nilai pasar aset perusahaan, begitu juga dengan sisi kewajiban dan modalnya. Nilai utang telah ditentukan oleh kontrak sehingga terdapat perbedaan konsentrasi antara nilai buku san nilai pasar ekuitas.

Baca juga : Beginilah Cara Menghitung Harga Perolehan 8 Jenis Aktiva Tetap ini

Sebagai contoh ilustrasi, perusahaan diawali dengan aset yang nilai bukunya Rp 1 juta, di mana Rp. 500.000 dari jumlah tersebut berasal dari pemegang obligasi dan Rp. 500.000 dari pemegang saham, dengan harga per saham Rp 10 per lembar saham sebanyak 50.000 lembar saham.

Perusahaan tersebut sangat sukses dan asetnya kini menghasilkan arus kas bebas sebesar Rp 2 juta per tahun.

Investor mendiskontokan arus kas bebas tersebut pada tingkat 10% sehingga menghasilkan nilai Rp 20 juta bagi perusahaan.

Setelah mengurangi utang sebesar Rp 500.000, nilai pasar ekuitas dihitung sebesar Rp 19,5 juta versus Rp 500.000 yang telah diinvestasikan pemegang saham ke dalam perusahaan. Harga saham adalah :

= Rp 19.500.000/50.000 = Rp 390 per lembar saham

Sehingga pengelola perusahaan telah melakukan pekerjaan yang luar biasa bagi para pemegang saham.

Baca juga : Cara Menghitung Pendapatan Per Lembar Saham (Earnings Per Share/EPS)

Karena laporan keuangan kurang memadai untuk tujuan evaluasi kinerja manajer atau pengelola perusahaan, maka untuk melengkapi kekurangan ini digunakan 2 ukuran kinerja tambahan, yaitu : 1) Market Value Added (MVA), 2) Economic Value Added (EVA).

Mari kita bedah satu per satu…

#1. Market Value Added (MVA)

MVA adalah perbedaan antara nilai pasar ekuitas suatu perusahaan dengan nilai buku seperti yang disajikann dalam neraca. Nilai pasar dihitung dengan mengalikan harga saham dengan jumlah saham yang beredar.

Market Value Added

Dengan menggunakan data pada paragraef sebelumnya, maka MVA nya adalah Rp 19,5 juta – Rp 500.000 = Rp 19.000.000.

Berikut ini contoh lain perhitungan MVA :

Perusahaan memiliki 50 juta lembar saham beredar dengan harga $23 per lembar saham, nilai pasar ekuitasnya adalah $1.150 juta dengan nilai buku seperti yang tersaji dalam contoh tabel di atas sebesar $940. Jadi MVA-nya adalah :

= $1.150 – $940 = $210

Angka $210 ini mencerminkan perbedaan antara uang yang telah diinvestasikan para pemegang saham sejak perusahaan tersebut didirikan termasuk laba ditahan, dibandingkan dengan kas yang akan mereka terima  jika mereka menjual usaha tersebut.

Makin tinggi nilai MVA, makin baik pekerjaan yang telah dilakukan manajemen.

Dewan direksi sering memperhatikan MVA ketika memutuskan kompensasi yang layak diterima oleh manajemen perusahaan

Namun ada hal yang perlu dperhatikan bahwa seperti kapal yang naik seiring dengan PASANGNYA AIR, sebagian harga saham perusahaan akan naik di saat bursa saham mengalami kenaikan.

Jadi nilai market value added (MVA) yang positif mungkin tidak sepenuhnya diakibatkan oleh manajemen perusahaan.

 

#2. Economis Value Added (EVA)

Istilah lain dari EVA adalah laba ekonomi, yaitu estimasi laba ekonomi usaha yang sebenarnya untuk tahun tertentu, atau dengan kata lain kelebihan net operating profit after taxes terhadap biaya modal.

EVA

Dan bila dituliskan dalam suatu formula adalah seperti berikut ini :

= Laba operasi bersih setelah pajak (EBIT) – Biaya modal tahunan
= EBIT (1 – T ) – (Total modal yang berasal dari investor x % biaya modal setelah pajak)

EVA berbeda dari laba bersih akuntansi, di mana laba akuntansi tidak dikurangi dengan biaya ekuitas sementara dalam hitungan EVA biaya ini akan dikeluarkan.

Bila nila EVA POSITIF maka laba operasi setelah pajak melebihi biaya modal yang dibutuhkan untuk menghasilkan laba tersebut dan tindakan manajemen menambah nilai bagi pemegang saham.

Nilai EVA yang positif setiap tahunnya dapat membantu memastikan MVA yang positif. Perhatikan bahwa jika MVA berlaku bagi keseluruhan perusahaan.

EVA dapat ditentukan untuk tingkat divisi, sekaligus juga perusahaan secara keseluruhan. Jadi nilai ini berguna sebagai panduan untuk menghitung kompensasi yang wajar bagi manajer divisi sekaligus manajer puncak perusahaan.

Bagaimana dengan perusahaan Anda, sudahkah menggunakan analisa MVA dan EVA untuk mengukur kinerja manajer-manajer perusahaan?

Terima kasih