Inilah Cara Penghentian Aktiva Tetap dan Pencatatan Akuntansinya

Aset tetap atau aktiva tetap (fixed assets) adalah kekayaan perusahaan yang dilaporkan pada laporan keuangan bulanan dan tahunan. Jenis laporan keuangan yang menyajikan aset tetap adalah laporan posisi keuangan atau neraca atau balance sheet atau Statements of Financial Position, termasuk saat terjadi penghentian aktiva tetap.

Assets management perlu diterapkan oleh perusahaan agar keberadaan aset tetap terjaga dengan baik dan selalu siap ketika dibutuhkan perusahaan.

Pengelolaan aset tetap dimulai sejak pencatatan harga perolehan, maintenance, sampai penghentian aset tetap.

Bagaimana cara mencatat penghentian aset tetap tetap sesuai dengan standar akuntansi keuangan yang berlaku saat ini? Mari ikuti pembahasan lengkap beserta contoh-contohnya berikut ini.

 

01: Sekilas Tentang Penghentian Aktiva Tetap

Bagaimana cara penghentian aset tetap?

Penghentian aset tetap bisa dilakukan karena alasan tertentu. Cara pemberhentian pemakaian aktiva tetap bisa dengan dijual, ditukarkan, ataupun karena aset tetap tersebut sudah rusak.

Pada waktu aktiva tetap dihentikan dari pemakaian maka semua rekening yang berhubungan dengan aktiva tetap tersebut dihapuskan.

Apabila aktiva tetap tersebut dijual maka selisih antara harga jual dan nilai buku atau nilai residu dicatat sebagai laba rugi.

 

02: Pencatatan Penghentian Aktiva Tetap

Image by Unsplash

A: Proses Pencatatan Penghentian Aset Tetap

Bagaimana cara melakukan pencatatan penghentian aktiva atau aset tetap perusahaan?

Untuk memudahkan dalam memahami proses pencatatan penghentian aset tetap, saya akan menggunakan dan sajikan contoh kasus, dan pada contoh kali ini, penghentian aktiva tetap karena aset tersebut dijual.

Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh berikut ini:

PT Karya Milenia, sebuah home industri yang bergerak pada industri pengolahan snack aneka hasil laut, pada tanggal 01 Juli 2015 menjual mesin produksi dengan harga Rp. 6.500.000,- .

Mesin produksi pengolahan aneka makanan olahan laut tersebut dibeli pada tanggal 01 Februari 2011 dengan harga Rp. 32.000.000,- .

Mesin tersebut ditaksir umurnya 5 tahun dan perhitungan nilai depresiasinya dengan menggunakan cara garis lurus (straight line method).

Bagaimana cara menghitung nilai penyusutan, saya sarankan untuk membaca artikel mengenai Metode Perhitungan Penyusutan Aktiva. Selanjutnya, taksiran nilai residu sebesar Rp. 2.000.000.

***

Perhatikan pencatatan jurnal untuk penjualan mesin pada tanggal 01 Juli 2015 adalah sebagai berikut :

 [Debit] Depresiasi Mesin …………………. Rp. 3.000.000
 [Kredit] Akumulasi Depresiasi Mesin ……… Rp. 3.000.000       

 

B: Perhitungan Nilai Depresiasi Aset Tetap

= 6/12 x 1/5 x ( Rp. 32.000.000 – Rp. 2.000.000 )
= Rp. 3.000.000

[Debit] Kas  … Rp.   6.500.000
[Debit] Akumulasi Depresiasi Mesin ……. Rp. 26.500.000
[Kredit] Mesin ………………………………..  Rp. 32.000.000
[Kredit] Laba Penjualan Mesin ……… Rp.   1.000.000  

 

C: Perhitungan Laba Penjualan Aktiva Tetap

(a). Harga jual = Rp. 6.500.000

(b). Harga perolehan = Rp. 32.000.000

(c). Akumulasi Depresiasi:

  • 2011 : 11 bulan = Rp. 5.500.000
  • 2012 : 12 bulan = Rp. 6.000.000
  • 2013 : 12 bulan = Rp. 6.000.000
  • 2014 : 12 bulan = Rp. 6.000.000
  • 2015 : 6 bulan   = Rp. 3.000.000
  • Akumulasi Penyusutan Aset Tetap = Rp. 26.500.000

(d). Nilai buku mesin produksi: (b) – (c) = Rp. 5.500.000

(e). Laba Penjualan Aktiva Tetap : (a) – (d) = Rp 1.000.000

 

03: Kesimpulan

Aset tetap atau aktiva tetap atau fixed assets harus dikelola dengan baik dan benar, sejak pengadaan hingga penghentiannya. Tujuan pengelolaan aset tetap adalah agar aset-aset yang dimiliki perusahaan benar-benar bisa memberikan kontribusi terbaik bagi perusahaan.

Dan sebaliknya, jika keberadaan aset-aset tetap tersebut dibiarkan saja, malah justeru akan merugikan dan membebani perusahaan dengan pengeluaran biaya pemeliharaan yang lebih banyak. Jika sekiranya keberadaan suatu aset tetap sudah tidak diperlukan perusahaan maka sebaiknya dijual, dihibanhkan atau ditukarkan dengan aset tetap lain yang diperlukan perusahaan..

Demikian yang bisa kami share pembahasan singkat tentang penghentian aktiva tetap dan cara pencatatan akuntansi-nya.

Ada cara praktis membuat sistem pencatatan akuntansi keuangan untuk transaksi BISNIS anda, yaitu dengan membuat standar operasional prosedur, informasi serta contoh SOP selengkapnya dapat anda lihat di SOP  dan Accounting Tools untuk BISNIS anda.

Bisnis jalan, anda pun tetap bisa jalan-jalan.

Sebagai kesimpulan adalah bahwa penghentian aktiva tetap bisa terjadi karena dijual, ditukarkan, atau rusak.

Untuk mencatat transaksi tersebut, ada 4 proses yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:

  1. Mencatat nilai perolehan aktiva tetap
  2. Mencatat nilai residu dari aktiva tetap
  3. Menghitung nilai depresiasi atau penyusutan aktiva tetap
  4. Menghitung dan mencatat dalam jurnal akuntansi dari laba atau rugi penghentian aktiva tetap.

Artikel ini sangat singkat dan harus saya tuliskan juga karena materi ini sangat penting.

Bagaimana dengan penghentian aktiva tetap usaha Anda?

Profesional lulusan ekonomi yang menekuni ERP (SAP), Accounting Software, Business Analyst dan berbagi pengalaman pekerjaan Finance & Accounting.

2 pemikiran pada “Inilah Cara Penghentian Aktiva Tetap dan Pencatatan Akuntansinya”

  1. Pak Pasaribu,
    Angka itu dari soal Pak, coba baca kembali soalnya,
    dihitung dulu depresiasi 6 bulan (dari januari – juni)
    taksiran umur aktiva 5 tahun.

    Terima kasih

Komentar ditutup.