Penalaran Deduktif dan Induktif dalam Akuntansi

Penalaran induktif dalam akuntansi pada umumnya digunakan untuk menghasilkan pernyataan umum yang menjadi penjelasan (teori) terhadap gejala akuntansi tertentu.

Pernyataan-pernyataan umum tersebut biasanya berasal dari hipotesis yang diajukan dan diuji dalam suatu penelitian empiris.

Contoh pernyataan umum sebagai hasil penalaran induktif adalah “ Perusahaan besar memilih metode akuntansi yang menurunkan laba.”

Sebenarnya apa penalaran induktif dan bagaimana penerapannya dalam akuntansi?

Ikuti pembahasannya berikut ini….

 

01: Penalaran Induktif

penalaran induktif dan deduktif

Penalaran induktif berawal dari suatu pernyataan atau keadaan yang khusus dan berakhir dengan pernyataan umum.

Pernyataan umum tersebut merupakan generalisasi dari keadaan khusus tersebut.

Berbeda dengan penalaran deduktif yang merupakan argumen logis (logical argument).

Argumen deduktif lebih bersifat sebagai argumen ada benarnya (plausible argument).

Dalam penalaran logis, konklusi adalah implikasi dari premis.

Dalam argumen ada benarnya (plausible), konklusi merupakan generalisasi dari premis.

Sehingga tujuan argumen adalah untuk menyakinkan bahwa probabilitas atau kebolehjadian (likelihood) kebenaran konklusi cukup tinggi.

Atau sebaliknya, ketidakbenaran konklusi cukup rendah kebolehjadiannya (unlikely).

Perhatikan penalaran induktif dan contohnya berikut ini:

Contoh 01:

  • Premis: Satu jeruk dari karung A manis rasanya
  • Premis : Satu jeruk berikutnya manis rasanya
  • Konklusi: Semua jeruk dalam karung A manis rasanya.

 

Contoh 02:

  • Premis: Sekelompok penderita kanker semuanya perokok
  • Konklusi: Merokok menyebabkan kanker

Dalam penalaran induktif dan contohnya di atas, argumen mengalir dari informasi atas pengamatan khusus.

Atau tertentu (sampel) menuju ke konklusi yang diterapkan untuk seluruh pengamatan yang mungkin dilakukan (popilasi).

Konklusi melewati (mencakup lebih dari) apa yang dapat ditunjukkan oleh fakta atau bukti empiris, yaitu ‘manisnya beberapa jeruk yang telah dicicipi’.

Atau meliputi pula apa yang tidak diamati, yaitu ‘seluruh jeruk dalam karung’.

Dengan demikian, konklusi atau generalisasi akan bersifat prediktif.

Misalnya dalam contoh 01, jika sebuah jeruk diambil dari karung A, dapat diprediksi bahwa jeruk tersebut akan manis.

Demikian juga dalam contoh 02, jika konklusi benar maka dapat diprediksi seorang perokok kemungkinan besar terkena kanker.

Karena konklusi (generalisasi) didasarkan pada pengamatan atau pengalaman yang nyatanya terjadi.

Penalaran induktif disebut juga sebagai generalisasi empiris (empirical generalization).

***

Akibat generalisasi, hubungan antara premis dan konklusi dalam penalaran induktif tidak langsung dan tidak sekuat hubungan dalam penalaran deduktif.

Dalam penalaran deduktif, kebenaran premis menjamin sepenuhnya kebenaran konklusi asal penalarannya LOGIS.

Artinya, jika semua premis benar dan penalarannya logis, maka konklusi harus benar (disebut necessary implication dan oleh karenanya necessarily true).

Dalam penalaran induktif, kebenaran premis tidak selalu menjamin sepenuhnya kebenaran konklusi.

Kebenaran konklusi hanya dijamin dengan tingkat keyakinan (probabilitas) tertentu.

Artinya, jika premis benar, maka konklusi tidak selalu benar (not necessarily true).

Perbedaan struktural antara penalaran deduktif dan induktif dapat ditujukan dalam contoh berikut ini:

A: Argumen Deduktif

  • Premis (1): Semua burung mempunyai bulu
  • Premis (2): Bebek adalah burung
  • Konklusi (pasti): Bebek mempunyai bulu

 

B: Argumen Induktif

  • Premis (1): Kebanyak burung dapat terbang
  • Premis (2): Bebek adalah burung
  • Konklusi (boleh jadi): Bebek dapat terbang

 

***

Contoh di atas menunjukkan bahwa dalam penalaran deduktif bila semua premis benar, maka konklusi pasti atau harus benar.

Akan tetapi dalam penalaran induktif, konklusi tidak selalu benar, meskipun kedua premis benar.

Perbedaan tersebut menjadi dasar untuk untuk menilai perbedaan keefektifan atau keberhasilan kedua jenis penalaran.

Penalaran deduktif dengan  premis benar dapat dikatakan berhasil jika kebenaran premis menjadikan konklusi tidak mungkin (impossible) tidak benar.

Di lain pihak, penalaran induktif dengan premis benar dapat dikatakan berhasil jika kebenaran premis menjadikan konklusi, kecil kemungkinan atau kecil kebolehjadian tak benarnya.

Karena ada kebolehjadian tak benar, asersi ilmiah yang bersandar pada penalaran induktif diperlakukan sebagai HIPOTESIS bukan pernyataan fakta.

 

02: Penalaran Induktif Dalam Akuntansi

penalaran induktif dalam debat

Hipotesis adalah generalisasi yang dituju oleh penelitian akuntansi.

Bila bukti empiris konsisten dengan (mendukung) generalisasi tersebut, maka generalisasi tersebut menjadi teori yang valid dan mempunyai daya prediksi yang tinggi.

Satu contoh hasil penalaran induktif sudah di sampaikan di awal artikel ini, dan berikut ini contoh-contoh lain hasil penalaran induktif dalam akuntansi:

  • Tingkat likuiditas perusahaan perdagangan lebih tinggi daripada tingkat likuiditas perusahaan manufaktur.
  • Tingkat solvensi berasosiasi positif dengan probabilitas kebangkrutan perusahaan.
  • Partisipasi manajer divisi dalam penyusunan anggaran mempunyai pengaruh positif terhadap kinerja divisi.
  • Ambang persepsi etis wanita lebih tinggi dibanding ambang persepsi etis pria dalam menilai kasus pelanggaran etika atau hukum.
  • Ukuran atau besar kecilnya (size) perusahaan berasosiasi positif dengan tingkat pengungkapan sukarela (voluntary disclosures) dalam Laporan Keuangan.

Secara statistik, generalisasi adalah menyimpulkan karakteristik populasi atas dasar karkateristik sampel melalui pengujian statistik.

Misalnya, suatu teori harus diajukan untuk menjelaskan mengapa terjadi perbedaan luas atau banyaknya pengungkapan dalam Laporan Keuangan antar perusahaan.

Teori tersebut misalnya dinyatakan dalam pernyataan umum (proposisi) terakhir dalam daftar di atas, yaitu ukuran perusahaan berasosiasi positif dengan tingkat pengungkapan sukarela.

Proses penalaran induktif dalam contoh ini dapat dilukiskan dalam gambar berikut ini:

 

Proses Penalaran Induktif
Gambar: Proses Penalaran Induktif

 

Untuk sampai pada proposisi dalam contoh tersebut, tentu saja diperlukan argumen dalam bentuk kerangka atau landasan teoritis.

Dalam proposisi ini. “ukuran perusahaan” dan “tingkatan pengungkapan sukarela (voluntary disclosures)” merupakan konsep, sedangkan “ berasosiasi positif” merupakan hubungan yang diteorikan.

Agar proposisi dapat diuji, konsep dalam proposisi harus didefinisi secara operasional menjadi suatu variabel yang dapat diamati dalam dunia nyata, sehingga konsep abstrak dapat diukur.

Dalam contoh ini, aset (dapat juga penjualan) dijadikan definisi operasional ukuran perusahaan.

Sedangkan banyaknya butir pengungkapan yang tidak diatur oleh standar akuntansi adalah definisi pengungkapan sukarela.

Dalam pengujian statistik, hubungan teoritis antar variabel sering dinyatakan dalam bentuk hipotesis.

Proposisi sering disebut hipotesis.

Istilah proposisi biasanya digunakan dalam tataran empiris teoritis atau abstrak.

Sedangkan istilah hipotesis biasanya digunakan dalam tataran empiris atau pengujian.

Dalam penelitian akuntansi, kedua istilah sering tidak dibedakan dan digunakan secara saling tukar.

***

Setelah definisi operasional diukur untuk sampel pengamatan, konsep-konsep yang diteorikan direpresentasikan dalam bentuk variabel  dan diberi notasi.

Misalnya X dan Y, agar analisis data muda dilakukan.

Untuk menguji hipotesis, hubungan antara variabel diuji dengan alat statistik tertentu, misalnya regresi.

Bila pengujian secara statistik menunjukkan bahwa hubungan antara variabel secara statistik signifikan, berarti ada keyakinan tinggi (misalnya tingkat keyakinan 95%).

Bahwa teori yang diajukan didukung secara empiris sehingga dapat dilakukan generalisasi.

Dari contoh di atas, generalisasi secara formal dapat dinyatakan dalam penalaran induktif sebagaimana tampak pada argumen berikut ini:

Premis:

Pengamatan (sampel) menunjukkan bahwa makin besar aset perusahaan makin banyak butir pengungkapan yang disajikan perusahaan dalam Laporan Keuangan.

Hubungan ini secara statistik signifikan pada σ = 0,05

Konklusi:

Ukuran atau besar kecilnya  (size) perusahaan berasosiasi positif dengan tingkat pengungkapan sukarela (voluntary disclosures) dalam Laporan Keuangan.

***

Dalam prakteknya, penalaran induktif tidak dapat dilaksanakan terpisah dengan penalaran deduktif atau sebaliknya.

Penalaran deduktif dan induktif keduanya saling berkaitan.

Misalnya, premis dalam penalaran deduktif dapat merupakan hasil dari penalaran induktif.

Demikian juga dengan proposisi-proposisi akuntansi yang diajukan dalam penelitian (riset) biasanya diturunkan dengan penalaran deduktif.

Bila dikaitkan dengan perspektif teori yang lain, teori akuntansi normatif biasanya berbasis penalaran deduktif.

Sedangkan teori akuntansi positif biasanya berbasis pada penalaran induktif.

Secara umum dapat dikatakan bahwa teori akuntansi sebagai penalaran logis bersifat normatif, sintaktik, semantik, dan deduktif.

Sementara teori akuntansi sebagai sains bersifat positif, pragmatik, dan induktif.

Agar pemahaman kita lebih komprehensif dan menyeluruh, saya sedikit membahas penalaran deduktif.

Yuks ikuti pembahasannya berikut ini…

 

03: Penalaran Deduktif dalam Akuntansi

penalaran deduktif contoh

A: Pengertian Penalaran Deduktif

Penalaran deduktif adalah proses penyimpulan yang berawal dari sutu pernyataan umum yang disepakati (premis) ke pernyataan khusus sebagai kesimpulan.

Penalaran deduktif disebut juga argumen logis.

Argumen logis adalah argumen yang asersi konklusinya tersirat atau dapat diturunkan dari asersi-asersi lain (premis-premis yang diajukan).

Disebut argumen logis karena kalau premis-premisnya benar, maka konklusinya harus benar (valid).

Kebenaran konklusi tidak selalu berarti bahwa konklusi merefleksikan realitas.

Hal inilah yang membedakan argumen sebagai bukti rasional dan bukti fisik/langsung/empiris berupa fakta.

Salah satu bentuk penalaran deduktif adalah suatu penalaran yang disebut penalaran deduktif silogisme.

Silogisme terdiri atas tiga komponen, yaitu:

  1. Premis major (major premise)
  2. Premis minor (minor premise)
  3. Konklusi (conclusion)

Dalam silogisme, konklusi diturunkan dari premis yang diajukan seperti penalaran deduktif dan contohnya berikut ini:

  • Premis major: Semua binatang menyusui mempunyai paru-paru
  • Premis minor: Kucing binatang menyusui
  • Konklusi: Kucing mempunyai paru-paru.

“semua binatang menyusui” dalam contoh di atas disebut anteseden (antecedent), sedangkan “mempunyai paru-paru” adalah konsekuensi.

Dalam silogisme, konklusi akan benar bila kedua premis benar dan premis minor menegaskan anteseden, atau premis minor menyangkal konsekuen.

Konklusi di atas benar karena “kucing binatang menyusui” menegaskan “semua binatang menyusui” sebagai anteseden.

Jadi, konklusi mengikuti kedua premis secara logis.

Walaupun kedua premis benar, konklusi dapat saja salah sebagaimana contoh berikut ini:

  • Premis major: Semua burung bertelu
  • Premis minor: Kura-kura bertelur
  • Konklusi: Kura-kura adalah burung

Konklusi di atas salah, karena premis minor menegaskan konsekuen bukan menegaskan anteseden.

Bila dipandang sebagai argumen, penalaran di atas tidak dapat diterima  (tidak valid) karena tidak lengkapnya premis major.

Memang benar bahwa semua burung bertelur, tapi tidak berarti bahwa binatang lain tidak ada yang bertelur.

Konklusi akan benar kalau premis minor menyangkal konsekuen.

Dan silogisme di atas dimodifikasi seperti berikut ini:

  • Premis major: Semua burung bertelut
  • Premis minor: kelelawar tidak bertelur
  • Konklusi: Kelelawar bukan burung

***

Penalaran deduktif berlangsung dalam tiga tahap, yaitu:

  1. Penentuan pernyataan umum (premis major) yang menjadi basis penalaran.
  2. Penerapan konsep umum ke dalam situasi khusus yang dihadapi (proses deduksi).
  3. Penarikan kesimpulan secara logis yang berlaku untuk situasi khusus tersebut.

Penalaran deduktif lebih dari sekedar silogisme karena penalaran deduktif dan unsur-unsurnya akan membentuk argumen untuk mengubah suatu keyakinan.

Misalnya, keyakinan bahwa penilaian aset atas dasar cost sekarang lebih relevan daripada cost historis.

Contoh lain adalah keyakinan bahwa istilah biaya lebih tepat dari pada BEBAN sebagai padan kata expense.

 

B: Penerapan Penalaran Deduktif Dalam Akuntansi

Penalaran deduktif dalam akuntansi digunakan untuk memberi keyakinan tentang kesimpulan-kesimpulan yang diturunkan dari premis yang dianut.

Dalam teori akuntansi, premis major sering disebut sebagai postulat (postulate).

Sebagai penalaran logis, argumen-argumen yang dihasilkan dengan pendekatan deduktif dalam akuntansi akan membentuk teori akuntansi.

Berikut ini contoh penalaran deduktif dalam akuntansi:

 

penalaran induktif generalisasi
penalaran induktif generalisasi

 

Premis 1:

Investor dan kreditor merupakan pengambil keputusan dominan dalam perekonomian yang didasarkan pada mekanisme pasar.

 

Premis 2:

Agar investor dan kreditor bersedia menanamkan modal dalam suatu perusahaan, harus disediakan informasi tentang perusahaan kepada investor dan kreditor.

 

Premis 3:

Keputusan investasi dan kredit memerlukan informasi tentang kemampuan perusahaan menghasilkan laba dan membayar utang.

 

Premis 4:

Kemampuan perusahaan membayar utang dapat ditunjukkan dengan informasi tentang likuiditas, solvensi, dan profitabilitas melalui Laporan Keuangan.

Konklusi:

Laporan Keuangan harus memuat komponen-komponen:

  • Aset
  • Kewajiban
  • Ekuitas
  • Pendapatan
  • Biaya
  • Rugi
  • Untung
  • Investasi pemilik
  • Distribusi ke pemilik
  • Laba

 

Pada contoh penerapan penalaran deduktif dalam akuntansi tersebut, premis 1 adalah premis major yang berfungsi sebagai postulat dalam penalaran logis akuntansi.

Semua premis dan konklusi berbentuk suatu pernyataan atau penegasan yang semuanya merupakan asersi.

Dalam akuntansi, premis major dapat berasal dari konklusi penalaran deduktif.

Penalaran deduktif untuk suatu masalah menghasilkan menghasilkan argumen untuk masalah tersebut.

Oleh karena itu, penalaran dalam akuntansi dapat menjadi panjang dan terdiri atas beberapa argumen.

Apakah suatu argumen cukup menyakinkan?

Dengan kata lain, bersediakah orang menerima kebenaran konklusi.

Untuk menjawab ini, perlu dinilai apakah struktur penalaran logis dan premis-premisnya dapat diterima (dapat dipercaya sebagai benar).

 

C: Evaluasi Penalaran Deduktif

Tujuan utama mengevaluasi penalaran deduktif adalah untuk menentukan apakah konkluusi penalaran deduktif benar dan menyakinkan.

Untuk menilai suatu penalaran deduktif, salah satu caranya adalah dengan mengajukan 4 (empat) pertanyaan yang harus dijawab, yaitu:

  1. Apakah lengkap?
  2. Apakah artinya jelas?
  3. Apakah valid (apakah konklusi mengikuti premis?)
  4. Apakah premis dapat dipercaya (diterima)?

Keempat pertanyaan tersebut adalah kriteria evaluasi yang terdiri atas:

  • Kelengkapan
  • kejelasan
  • kesahihan (validitas)
  • kepercayaan

Apabila jawaban untuk keempat pertanyaan di atas adalah positif (“iya”), maka konklusi memberi keyakinan tentang kebenarannya.

***

#1: Kelengkapan

kriteria penalaran deduktif

Kelengkapan adalah kriteria yang penting karena validitas konklusi menjadi kurang meyakinkan bila premis-premis yang diajukan tidak lengkap.

Dalam hal tertentu, konklusi tidak dapat ditarik karena tidak lengkapnya premis .

Jika konklusi dipaksakan, penalaran menjadi tidak logis.

 

#2: Kejelasan

Kejalasan arti diperlukan karena keyakinan adalah fungsi kejelasan makna.

Kejelasan tidak hanya diterapkan untuk makna premis tapi juga untuk hubungan antar premis (inferensi dan penyimpulan).

Keterbatasan bahasa, kesalahan bahasa, dan keterbatasan pengetahuan tentang topik yang dibahas merupakan faktor yang menentukan kejelasan dan bahkan pemahaman argumen.

 

#3: Kesahihan (validitas)

Validitas adalah kriteria utama untuk menilai penalaran logis.

Validitas berkaitan dengan struktur formal argumen.

Perlu dibedakan antara validitas dan kebenaran (truth).

Validitas adalah sifat yang melekat pada argumen, sedangkan kebenaran adalah sifat yang melekat unsur.

Secara struktural, validitas argumen tidak tergantung pada kebenaran pada kebenaran unsur.

Artinya, argumen dikatakan valid jika konklusi diturunkan secara logis dari premis tanpa memperhatikan apakah premis itu sendiri benar atau salah.

Oleh karena itu, dapat saja terjadi suatu argumen yang valid dengan premis yang salah

Tentu saja jika jika premis benar dan penalarannya valid, konklusi juga benar.

 

#4: Keterpercayaan

Keterpercayaan melengkapi ketiga kriteri sebelumnya agar konklusi menyakinkan sehingga orang bersedia menerima.

Orang bersedia menerima suatu asersi kalau dia percaya pada asersi tersebut.

Orang dapat percaya pada suatu asersi, jika asersi tersebut ada benarnya.

Pengetahuan yang mendasari, seperti pengalaman biasanya diyakini kebenarannya.

Kesesuaian suatu asersi dengan pengetahuan yang mendasari akan menentukan plausibilitas asersi.

Dalam hal inilah kritria #3 berbeda dengan kriteria #4.

Kesahihan (validitas) berkaitan dengan validitas logis suatu argumen.

Sedangkan kriteria kepercayaan berkaitan dengan kebenaran empiris suatu premis.

Gabungan antara antara keduanya menentukan kebenaran konklusi.

Gabungan kriteria kelengkapan dan kejelasan sebenarnya digunakan untuk menyakinkan bahwa semua premis benar atau masuk akal secara struktural.

***

Keempat kriteria di atas dapat diringkas menjadi:

  • Semua premis benar, lepas dari apakah orang setuju atau tidak.
  • Konklusi mengikuti semua premis.
  • Semua premis dapat diterima. Artinya, orang percaya atau setuju dengan semua premis yang diajukan.

Kriteria (1) dan (2) diperlukan untuk memenuhi validitas logis argumen.

Kriteria (3) diperlukan untuk memenuhi kebenaran empiris esersi untuk melengkapi argumen agar konklusi  menyakinkan kebenarannya.

Perhatikan contoh argumen yang hanya memenuhi kriteri (1) dan (2) berikut ini:

  • Premis major: Semua Aset mempunyai manfaat ekonomi bagi perusahaan.
  • Premis major: Rugi selisih kurs tidak mempunyai manfaat ekonomi bagi perusahaan.
  • Konklusi: Rugi selisih kurs tidak dapat menjadi aset.

Secara struktural konklusi di atas akan selalu benar tanpa memperhatikan makna empiris kata aset.

Kata aset dapat diganti dengan kata apapun dan konklusi akan tetap valid.

Jadi, validitas konklusi independen terhadap makna aset.

Akan tetapi, secara empiris atau observasi dunia nyata, konklusi tersebut salah sehingga tidak dapat diterima.

Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa konklusi di atas valid, tetapi tidak mempunyai makna empiris.

Dunia praktik (observasi) menunjukkan bahwa RUGI selisih kurs dapat dikapitalisasi sehingga menjadi bagian dari aset.

Melengkapi penjelasan mengenai penalaran deduktif ini, saya sajikan video berikut ini:

 

 

04: Kesimpulan

Praktik yang sehat harus dilandasi oleh teori yang sehat pula.

Teori yang sehat harus dilandasi oleh penalaran yang sehat, karena teori akuntansi menuntut kemampuan penalaran yang memadai.

Penalaran adalah proses berpikir logis dan sistematis untuk membentuk dan mengevaluasi suatu keyakinan akan asersi.

Unsur-unsur penalaran adalah:

#1: Asersi

Pengertian Asersi adalah pernyataan bahwa sesuatu adalah benar atau penegasan tentang suatu realitas.

Asersi dapat dinyatakan secara verbal atau struktural. Asumsi, hipotesis, dan pernyataan fakta merupakan jenis tingkatan asersi.

Jenis tingkatan konklusi tidak dapat melebihi jenis tingkatan asersi yang terendah.

 

#2: Keyakinan

Definisi Keyakinan adalah kebersediaan untuk menerima kebenaran suatu pernyataan.

Keyakinan merupakan hal yang dituju oleh penalaran.

Keyakinan mengandung beberapa sifat penting yaitu:

  • Ketidakbenaran
  • Bukan pendapat
  • Bertingkat
  • Mengandung biasa
  • Memuat nilai
  • Berkekuatan
  • Veridikal
  • Tertempa

 

#3: Argumen

Makna Argumen adalah proses penurunan kesimpulan atau konklusi atas dasar beberapa asersi yang berkaitan secara logis.

Argumen bertujuan untuk mengubah keyakinan jika memang keyakinan tersebut lentur untuk berubah.

Argumen terdiri atas beberapa asersi yang berfungsi sebagai premis dan konklusi.

Argumen dapat bersifat deduktif dan induktif.

Penalaran deduktif berawal dari pernyataan umum dan berakhir dengan suatu pernyataan khusus berupa konklusi.

Penalaran ini terdiri atas tiga tahap, yaitu:

  • Penentuan premis
  • Proses deduksi
  • Penarikan konklusi

Kelengkapan, kejelasan, kesahihan, dan keterpercayaan adalah kriteria validitas konklusi yang diturunkan atas dasar penalaran deduktif.

Penalaran induktif generalisasi berawal dari suatu keadaan khusus dan berakhir dengan pernyataan umum, berupa konklusi sebagai hasil generalisasi.

Berbeda dengan penalaran deduktif yang kebenaran konklusinya merupakan kosekuensi logis, penalaran induktif menghasilkan konklusi boleh jadi benar atau tak benar.

Bila premis benar, konklusi penalaran deduktif harus benar, sedangkan konklusi penawaran induktif tidak harus benar atau boleh jadi benar.

Salah nalar adalah kesalahan konklusi akibat tidak diterapkannya kaidah-kaidah penalaran yang valid.

Demikian yang dapat saya sampaikan. Semoga bermanfaat.

Terima kasih.

***

manajemen keuangan dan SOP