Pengertian Akuntansi Dari Teori Hingga Praktik dan Contoh

Praktik akuntansi adalah bersifat dinamik dan selalu menghadapi masalah-masalah praktis dan profesional.

Bila ingin mencapai praktik yang baik dan sehat, pemecahan masalah atas dasar pengalaman saja tidak cukup.

Pemecahan masalah praktik akuntansi harus juga dilandasi oleh teori yang baik dan sehat.

Bagaimana cara sederhana untuk memahami teori akuntansi dan pengertian akuntansi dalam praktik?

Mari ikuti pembahasan lengkapnya berikut ini…

 

01: Teori Akuntansi

teori akuntansi

Teori akuntansi adalah bagian penting dari praktik.

Pemahamannya oleh praktisi dan penyusun standar akan sangat mendorong pengembangan serta menuju praktik yang sehat.

Teori akuntansi menjadi landasan untuk memecahkan masalah-masalah akuntansi secara beralasan atau bernalar yang secara etis dan ilmiah dapat dipertanggungjawabkan.

Pengetahuan tentang teori akan mengimbangi keterbatasan pengalaman dan kepentingan praktis.

Dengan teori, orang akan melihat masalah dengan perspektif yang lebih luas dan bebas dari hal-hal yang teknis atau rinci.

 

A: Tujuan Teori Akuntansi Menurut Para Ahli

Allan W. Wright dalam “Theory and Practice” mengibaratkan makna teori sebagaimana makna melihat dari atas dalam suatu teater.

Melihat dari atas bertujuan untuk menemukan pola, hubungan, konsep, atau prinsip yang melandasi suatu sistem atau keadaan yang kompleks tanpa terbawa atau terkecoh oleh kompleksitas itu sendiri.

Sebagai ilustrasi, kalau orang melihat suatu kota dari sebuah helikopter, orang akan kehilangan pandangan terhadap hal-hal yang kecil.

Tetapi dia akan mampu melihat prinsip kerja (teori) tentang tata kota itu.

Mulai dari batas-batasnya, pengkawasannya (zoning), jaringan jalan lalu-lintasnya, pusat-pusat kegiatan, dan keterkaitan antar unsur-unsur tersebut.

Pemecahan masalah akuntansi dengan taktik cerdik atas dasar pengalaman saja dapat disamakan dengan pemecahan masalah dengan coba-coba atau coba dan ralat (trial and error).

Orang membatasi diri dengan menerapkan hasil pengalamannya sampai suatu saat menemukan cara terbaik yang sebenarnya cara tersebut dapat ditemukan secara lebih efisien jika ia menggunakan teori.

Dengan kata lain, kemajuan profesi akan menjadi terhambat jika praktisi dan profesi akuntansi sudah merasa cukup puas dengan pengalaman prakteknya.

Lebih-lebih jika praktisi tersebut mempunyai kekuasaan untuk memutuskan sesuatu (standar akuntansi) yang berimplikasi luas.

Praktik akuntansi yang baik dan maju tidak akan dapat dicapai tanpa suatu teori baik yang melandasinya.

Praktik dan profesi harus dikembangkan atas dasar penalaran (causes and reason).

Dari argumen-argumen tersebut, dapat dikatakan bahwa teori merupakan unsur yang penting dalam mengembangkan dan memajukan praktik akuntansi.

Selanjutnya dikatakan bahwa teori akuntansi adalah OBOR yang menerangi praktik dengan prinsip-prinsip yang masuk akal.

 

B: Perspektif Teori Akuntansi

teori akuntansi adalah

Bila akuntansi diperlakukan sebagai sains, maka teori akuntansi adalah penjelasan ilmiahnya.

Bila akuntansi diperlakukan sebagai teknologi, maka teori akuntansi diartikan sebagai penalaran logis.

Manapun perlakuan yang dianut, teori akuntansi akan berisi pernyataan-pernyataan yang berupa baik penjelasan atau pembenaran (justifikasi) tentang suatu fenomena atau perlakuan akuntansi.

Contoh fenomena atau perlakuan akuntansi antara lain adalah:

  • adanya bermacam metode akuntansi
  • penggunaan sistem berpasangan (debit-kredit)
  • keharusan menyusun statemen aliran kas
  • pernyataan bahwa akuntansi biaya sekarang lebih relevan dari akuntansi biaya historis
  • adanya reaksi pasar modal terhadap penerbitan informasi laba.

Selain perspektif (aspek) taksonomi yang membagi teori akuntansi menjadi penjelasan ilmiah dan justifikasi.

Teori akuntansi juga sering dikelompokkan atas dasar perspektif lain menurut tujuan atau penekanan pembahasan.

Sekarang mari dibahas secara lebih rinci satu per satu…

1: Atas Dasar Sasaran yang Ingin Dicapai

teori akuntansi positif adalah

Atas dasar sasaran yang ingin dicapai, teori akuntansi dibedakan menjadi teori akuntansi positif dan normatif.

Klasifikasi ini sebenarnya adalah konsekuensi logis dari pendefinisian akuntansi sebagai sains atau teknologi.

Pandangan sains akan menghasilkan teori akuntansi positif.

Dan pandangan teknologi akan menghasilkan teori akuntansi normatif.

Klasifikasi ini terjadi karena sasaran berbeda yang ingin dicapai atau dihasilkan oleh teori akuntansi.

#1: Teori Akuntansi Positif

Teori akuntansi positif adalah adalah teori yang menjelaskan fenomena akuntansi seperti apa adanya atas dasar pengamatan empiris.

Penjelasan positif diarahkan untuk memberi jawaban apakah sesuatu pernyataan itu benar atau salah (true or false) atas dasar kriteria ilmiah.

Perhatikan contoh teori akuntansi positif berikut ini:

Teori akuntansi positif berusaha untuk menjelaskan fakta bahwa sekelompok perusahaan memilih metode MPKP (FIFO).

Sementara kelompok yang lain memilih MTKP (LIFO).

Teori akuntansi positif mengajukan preposisi atau hipotesis bahwa perusahaan manufaktur cenderung memlilih MPKP, sedangkan perusahaan dagang cenderung memilih MTKP.

Teori akuntansi positif berusaha menentukan apakah apakah hipotesis tersebut benar atau salah dengan menggunakan metode ilmiah (science) atas dasar pengamatan data yang nyatanya terjadi (objective).

Bila hipotesis terbukti, penjelasan diwujudkan dalam bentuk penyataan misalnya bahwa perusahaan yang memilih MPKP adalah perusahaan manufaktur.

Karena tujuan teori positif adalah untuk mendeskripsi, teori akuntansi tidak berkepentingan untuk menilai apakah metode MPKP lebih baik atau lebih bermanfaat dari pada metode MTKP?

Bidang masalah teori akuntansi positif, antara lain:
  • Mengapa perseroan terbatas sebagai bentuk perusahaan tetap bertahan sampai saat ini?
  • Apakah Laba Akuntansi mengandung informasi sehingga ditanggapi oleh pasar modal pada saat diumumkan?
  • Mengapa perusahaan besar cenderung memilih metode akuntansi yang menurunkan laba?
  • Faktor apa saja yang mendorong perusahaan mengungkapkan informasi tambahan (disclosures) secara sukarela?
  • Dalam kondisi apa manajemen laba (earning management) terjadi dalam perusahaan?
  • Adakah hubungan antara rasio keuangan dengan harga saham?
  • Adakah infromasi aliran kas mempunyai kandungan informasi (bermanfaat)?
  • Faktor apa saja yang menentukan perusahaan minyak dan gas bumi memilih metode biaya penuh (full cost) untuk mempertanggungjelaskan biaya eksplorasi?
  • Mengapa para auditor menggunakan istilah beban untuk expense dalam laporan keuangan auditannya?
  • Apakah dampak reformasi pajak terhadap tingkat investasi dalam aset tetap produktif?

 

#2: Teori Akuntansi Normatif

teori akuntansi kerangka konseptual

Teori akuntansi normatif adalah teori akuntansi yang menjelaskan fenomena akuntansi untuk menjustifikasi atau membenarkan perlakuan (standar) akuntansi karena tujuan akuntansi tertentu harus dicapai.

Penjelasan normatif berisi pernyataan dan penalaran untuk menilai apakah sesuatu itu baik atau buruk (good or bad) atau relevan atau tidak relevan dalam kaitannya dengan kebijakan ekonomi atau sosial tertentu.

Penjelasan normatif diarahkan untuk mendukung atau menghasilkan kebijakan politik sehingga bersifat pembuatan kebijakan (policy making).

Perhatikan contoh teori akuntansi normatif berikut ini:

Teori akuntansi normatif berusaha untuk menjawab apakah akuntansi biaya historis (historical cost accounting) lebih baik daripada akuntansi biaya sekarang (current cost accounting) untuk mencapai tujuan akuntansi.

Untuk menjawab masalah ini, teori akuntansi normatif mendasarkan penjelasan atau teorinya atas dasar tujuan yang telah disepakati untuk dicapai.

Tujuan tersebut jelas memuat nilai-nilai yang harus dipertahankan.

Penentuan kesesuaian dengan tujuan akan merupakan proses subjective yang melibatkan kemampuan menimbang (art) antara manfaat dan risiko atau keuntungan dan kerugian.

Hasil akhir teori akuntansi normatif adalah suatu pernyataan atau proposal yang menganjurkan tindakan tertentu (prescriptive).

Dalam contoh ini, misalnya teori akuntansi akan menghasilkan pernyataan yang berbunyi:

Aset tetap harus dinilai dan dicantumkan dalam neraca atas dasar biaya historis”

Bidang masalah teori akuntansi normatif, antara lain:
  • Konsep entitas mana yang harus digunakan?
  • Apakah rugi selisih kurs dikapitalisasi atau dibiayakan?
  • Apakah kriteria untuk mengakui pendapatan?
  • Kapan suatu leasing (sewaguna) harus dikapitalisasi?
  • Atas dasar apa persediaan barang harus dinilai dan dicantumkan dalam neraca?
  • Elemen-elemen apa saja yang harus dilaporkan dalam seperangkat laporan keuangan yang lengkap?
  • Bagaimana perubahan harga diperhitungkan dan disajikan dalam laporan keuangan?
  • Apakah pengertian laba untuk tujuan pelaporan keuangan?
  • Pengungkapan apa saja yang harus dimuat dalam penjelasan atau catatan atas laporan keuangan?
  • Bagaimana pengaruh perubahan akuntansi sebaiknya disajikan dalam laporan keuangan?
  • Tepatkah istilah beban untuk expense, dan biaya atau harga pokok untuk cost?
  • Dapatkah bunga utang pendanaan pembangunan gedung dikapitalisasi?

 

2: Atas Dasar Sasaran Semiotika

teori akuntansi positif dan normatif

Akuntasi berkepentingan dengan penyediaan dan penyampaian informasi sebagai sarana komunikasi bisnis sehingga akuntansi adalah bahasa bisnis (the language of busieness).

Bahasa adalah bagian penting dalam komunikasi.

Pesan atau makna yang ada dibenak pengirim disimbolkan dalam bentuk ungkapan bahasa yang tepat agar makna tersebut ditafsirkan sama persis seperti yang dimaksudkan.

Apa yang terkandung dalam simbol bahasa itulah yang menjadi informasi bagi penerima (pembaca).

Efek komunikatif menjadi sasaran penyampaian gagasan atau informasi dari pengirim kepada penerima.

Semiotika adalah bidang kajian yang membahas teori umum tentang tanda-tanda (signs) dan simbol-simbol dalam bidang linguistika.

Linguistika itu sendiri adalah bidang kajian ilmu bahasa yang membahas:
  • fonetik,
  • gramatika,
  • morfologi, dan
  • makna kata atau ungkapan.

Logika membahas masalah yang berkaitan dengan validitas penalaran dan penyimpulan.

Ketiga bidang kajian ini menjadi teori yang melandasi terjadinya komunikasi yang efektif.

Akuntansi keuangan yang dikembangkan dan dikenal luas sekarang ini direkayasa atas dasar premis bahwa investor dan kreditor adalah pihak yang dituju informasi.

Efek komunikasi yang ingin dicapai adalah agar pihak yang dituju tersebut bersedia menanamkan dana ke aktivitas ekonomi yang dibutuhkan masyarakat melalui perusahaan.

Karena perilaku investor dan kreditur menjadi sasaran pemengaruhan, maka pesan yang ingin disampaikan mengenai perusahaan adalah misalnya likuiditas, solvensi, dan profitabilitas.

Dianggap pesan tersebut adalah masukkan dalam pengembalian keputusan investor dan kreditur.

Pesan tersebut disampaikan melalui medium LAPORAN KEUANGAN.

Atas dasar analogi tataran semiotika di atas, maka model komunikasi bisnis dengan akuntansi sebagai bahasanya dapat digambarkan sebagai berikut:

pengertian akuntansi secara umum
Gambar: Akuntansi sebagai bahasa bisnis dalam teori komunikasi.

Gambar di atas menunjukkan bahwa perekayasaan akuntansi (penyusunan laporan keuangan) termasuk didalamnya persamaan akuntansi adalah Aset = Kewajiban + Ekuitas berteori pada tiga tataran, yaitu:

  1. Semantik
  2. Sintaktik
  3. Pragmatik

Ketiga tataran tersebut dalam rangka menghasilkan suatu struktur pelaporan keuangan .

Dengan demikian atas dasar sasaran semiotika dalam teori komunikasi, teori akuntansi dibedakan menjadi 3, yaitu:

  • teori akuntansi semantik,
  • sintaktik, dan
  • pragmatik.

Mari diurai karakteristik 3 teori akuntansi tersebut satu-per-satu ya…

#1: Teori Akuntansi Semantik

Teori akuntansi Semantik adalah teori akuntansi yang memusatkan perhatian pada masalah-masalah penyimbolan, pengukuran, dan penyajian kegiatan operasi dan objek fisis perusahaan dalam bentuk Laporan Keuangan.

Teori ini memberi penalaran mengapa kegiatan perusahaan disimbolkan dengan cara tertentu.

Teori akuntansi semantik menekankan pembahasan pada masalah penyimbolan dunia nyata atau realitas (kegiatan perusahaan) ke dalam tanda-tanda bahasa akuntansi (elemen laporan keuangan).

Sehingga orang dapat membayangkan aktivitas nyata perusahaan tanpa harus secara langsung menyaksikan kegiatan tersebut.

Teori ini berusaha untuk menjawab “apakah elemen-elemen laporan keuangan benar-benar mempresentasikan apa yang memang dimaksudkan?”

Selain itu untuk menyakinkan bahwa makna yang terkandung dalam simbol pelaporan tidak disalah-artikan oleh pemakai informasi akuntansi.

Teori ini berusaha untuk menemukan dan merumuskan makna-makna penting pelaporan keuangan.

Oleh karena itu, teori ini banyak membahas pendefinisian makna elemen (objek), pengidentifikasian atribut

Atau karakteristik elemen sebagai bahan pendefinisian, dan penentuan jumlah rupiah (pengukuran) elemen sebagai salah satu atribut.

Pendefinisian adalah langkah penting dalam teori akuntansi semantik karena kesalahan pemaknaan mempunyai implikasi penting dalam pengoperasian akuntansi.

Sebagai contoh:

Dalam pendefinisian aset, penguasaan (control) bukannya pemilikan (ownership) yang dijadikan kriteria karena jika pemilikan menjadi kriteria aset, maka akan banyak objek yang tidak masuk sebagai aset.

Pendefinisian dan pemaknaan  laba bersih (net income) juga menjadi perhatian penting teori ini, karena akuntansi berusaha untuk melekatkan makna laba akuntansi agar mendekati konsep laba ekonomi.

Demikian juga teori ini menjelaskan bahwa laba (earnings) atas dasar asas akrual adalah indikator kemampuan mendatangkan kas di masa datang.

Laba bukan sekedar kenaikan kas dalam suatu periode.

Secara konseptual, sistem informasi akuntansi dalam dalam laporan keuangan terefleksi dalam tiga unsur elemen, yaitu:

  1. elemen (objek) yang menyimbolkan kegiatan
  2. jumlah rupiah sebagai pengukur (size)
  3. hubungan (relationship) antar elemen.

Objek, pengukur, dan hubungan itulah yang membentuk makna yang akhirnya menjadi informasi.

Dengan kata lain, manfaat akuntansi sebagai sistem informasi yang menghubungkan antar elemen laporan keuangan adalah informasi semantik, solvensi, profitabilitas, dan efisiensi.

Jadi, teori akuntansi semantik berkepentingan dengan pelambangan dan penafsiran objek akuntansi untuk menghasilkan informasi semantik yang bermakna dan memberi manfaat informasi akuntansi bagi pemakai laporan keuangan.

Agar komunikasi akuntansi efektif, penyampaian informasi semantik (makna suatu objek) tidak dapat dipisahkan dengan informasi sintaktik (struktur akuntansi).

 

#2: Teori Akuntansi Sintaktik

manfaat informasi akuntansi

Teori akuntansi sintaktik adalah teori yang berorientasi untuk membahas masalah-masalah tentang bagaimana kegiatan-kegiatan perusahaan yang telah disimbolkan secara semantik dalam elemen-elemen keuangan dapat diwujudkan dalam bentuk laporan keuangan.

Simbol-simbol tersebut (misalnya aset, utang, pendapatan) haru sberkaitan secara logis sehingga informasi semantik dapat dikandung dalam laporan keuangan.

Teori akuntansi sintaktik adalah teori akuntansi yang berkepentingan dengan struktur pelaporan keuangan.

Teori ini memberi penalaran mengapa data atau informasi disajikan dengan cara tertentu.

Dengan kata lain, dari segi sintaktik, teori akuntansi berusaha untuk memberi penjelasan dan penalaran tentang:

  • apa yang harus dilaporkan,
  • siapa melaporkan,
  • kapan dilaporkan dan
  • bagaimana melaporkannya.
Struktur laporan keuangan akan tergantung pada jawaban atas pertanyaan-pertanyaan sintaktik antara lain:
  • Apa tujuan menyampaikan informasi keuangan?
  • Perilaku apa yang sengaja ingin dikendalikan melalui informasi keuangan?
  • Siapa entitas yang harus menyediakan informasi?
  • Siapa yang dituju oleh informasi tersebut (pemakai laporan)?
  • Apa kepentingan pemakai laporan?
  • Objek-objek dan kegiatan fisis apa yang harus dilaporkan?
  • Bagaimana kegiatan fisis disimbolkan dalam bentuk elemen laporan keuangan?
  • Pesan-pesan apa yang harus disampaikan untuk memenuhi kepentingan pemakai laporan keuangan?
  • Bagaimana pesan-pesan tersebut harus dikandung dalam elemen-elemen pelaporan keuangan?
  • Bagaimana elemen-elemen tersebut diukur dan disajikan sehingga bermakna bagi pemakainya?

Jawaban atas pertanyaan di atas akan membentuk aspek formal tanda bahwa akuntansi sebagai bahasa atau alat komunikasi bisnis.

Elemen laporan keuangan dan pengukurnya dianalogi dengan tata bahasa.

Struktur laporan keuangan menggambarkan hubungan fungsional pengirim, tanda bahasa, kaidah bahasa, dan penerima (pembaca laporan) sehingga terjadi komunikasi bisnis yang efektif.

Kaidah bahasa (gramatika) adalah analogi untuk prinsip akuntansi berterima umum (PABU) termasuk di dalamnya standar akuntansi (accounting standards).

Karena fokus teori akuntansi sintaktik adalah memberi penjelasan dan penalaran yang melandasi suatu struktur pelaporan keuangan.

Teori akuntansi ini kadang-kadang disebut pula dengan teori berpendekatan struktural (structural approach).

 

#3: Teori Akuntansi Pragmatik

Teori akuntansi pragmatik adalah teori akuntansi yang berkepentingan untuk mengukur pengaruh dan kebermanfaatan informasi akuntansi terhadap perilaku pemakai.

Teori ini memberi penalaran mengapa informasi berpengaruh terhadap perilaku pemakai, termasuk pasar modal.

Suatu pesan atau kejadian, misalnya pengumuman laba dikatakan mengandung informasi kalau pesan tersebut menyebabkan perubahan keyakinan penerima.

(misalnya pasar modal) dan memicu tindakan tertentu.

Misalnya terefleksi dalam perubahan harga atau volume saham di pasar modal.

Perubahan harga atau volume saham yang diamati memberi bukti adanya kebermanfaatan informasi.

Jadi, informasi akuntansi dikatakan bermanfaat bila informasi tersebut benar-benar atau seakan-akan digunakan dalam pengambilan keputusan oleh pemakai yang dituju.

Berikut ini ilustrasi teori akuntansi pragmatik dalam menguji kebermanfaatan informasi akuntansi:
manfaat akuntansi sebagai sistem informasi
Gambar: Ilustrasi Informasi Akuntansi dalam Teori Pragmatik

Pembidangan teori akuntansi atas dasar tataran atau level semiotika  sebenarnya dimaksudkan untuk menggambarkan perbedaan orientasi.

Dalam kenyataannya sering sulit untuk menentukan apakah suatu pembahasan teori akuntansi masuk dalam salah satu tataran dan pembahasan tataran yang satu tidak dapat dipisahkan dengan tataran yang lain.

Bila dikaitkan dengan pembidangan positif-normatif, maka teori sintatik dan semantik pada umumnya bersifat normatif.

Sedangkan teori pragmatik akan lebih bersifat positif.

Karena pokok pembahasan teori pragmatik pada umumnya adalah perilaku manusia dalam kaitannya dengan informasi.

Teori ini sering diklasifikasikan sebagai akuntansi perilaku (behavioral accounting).

 

#4: Aspek Pendekatan Penalaran

teori akuntansi

Telah disebutkan sebelumnya bahwa teori akuntansi adalah adalah sebagai penalaran logis yang memberikan penjelasan dan alasan tentang perlakuan akuntansi tertentu.

Penjelasan ilmiah juga memerlukan suatu penalaran logis.

Apa yang dimaksud penalaran?

Penalaran adalah proses berpikir logis dan sistematis untuk membentuk serta mengevaluasi suatu keyakinan (belief) terhadap suatu pernyataan atau penjelasan.

Peranan logika sangat penting dalam penalaran.

Pernyataan dapat berupa teori tentang suatu kejadian alam atau sosial.

Teori atau penjelasan yang disusun dengan penalaran yang baik akan mempunyai vasilitas yang tinggi

Penalaran mempunyai peran penting dalam rangka menerima atau menolak kebenaran (validitas) suatu teori.

Prose penyimpulan yang menghasilkan pernyataan atau penjelasan sebagai teori dapat bersifat:

  • Deduktif
  • Induktif

Mari dibahas penjelasannya…

1: Penalaran Deduktif
Apa yang dimaksud penalaran deduktif?

Penalaran deduktif adalah proses penyimpulan yang berawal dari suatu pernyataan umum yang disepakati (disebut premis) ke pernyataan khusus sebagai kesimpulan atau konklusi.

Contoh penggunaan penalaraan deduktif adalah akuntansi menyajikan aset sebesar biaya historis, karena akuntansi menganut konsep kontinuitas usaha.

Dengan konsep ini, peran dan fungsi akuntansi dalam hal ini neraca adalah untuk menunjukkan sisa potensi jasa.

Dan bukan menunjukan nilai jual sehingga biaya historis merupakan pengukur yang paling tepat.

Menganut konsep kontinuitas usaha adalah premis, sedangkan penilaian komponen dari laporan keuangan yaitu aset atas dasar biaya produktif.

 

2: Penalaran Induktif
Apa yang dimaksud penalaran induktif?

Penalaran Induktif adalah kebalikan dari penalaran deduktif.

Penalaran ini berawal dari suatu pernyataan atau keadaan yang khusus dan berakhir dengan pernyataan umum yang merupakan generalisasi dan keadaan khusus tersebut.

Contoh aplikasi penalaran induktif:

“pengamatan menunjukkan bahwa volume saham beberapa perusahaan yang dijual belikan beberapa hari setelah penerbitan Laporan Keuangan meningkat dengan tajam.

Oleh karena itu dapat disimpulkan dengan tingkat keyakinan tertentu bahwa informasi akuntansi bermanfaat bagi investor di pasar modal”

Pengamatan beberapa perusahaan adalah suatu keadaan khusus yang mejadi premis, sedangkan pernyataan bahwa informasi bermanfaat merupakan generalisasi.

Secara statistis, generalisasi berarti menyimpulkan karakteristik populasi atas dasar karakteristik sampel melalui pengujian statistis.

Pada praktiknya, penalaran induktif dalam akuntansi tidak dapat dilaksanakan secara terpisah dengan penalaran deduktif atau sebaliknya.

Kedua penalaran tersebut saling berkaitan.

Premis dalam penalaran deduktif, misalnya dapat merupakan hasil dari suatu penalaran induktif.

Demikian juga, proposisi-proposisi akuntansi yang diajukan dalam penelitian biasanya diturunkan dengan penalaran deduktif.

Bila dikaitkan dengan perspektif teori yang lain, teori akuntansi normatif biasanya berbasis penalaran dduktif.

Sedangkan teori akuntansi positif biasanya berbasis penalaran induktif.

Secara umum dapat dikatakan bahwa teori akuntansi sebagai penalaran logis bersifat normatif, sintaktik, semantik, dan deduktif.

Sementara teori akuntansi sebagai sains bersifat positif, pragmatik, dan induktif.

Dan ilustrasi berikut ini menggambarkan hubungan berbagai jenis perspektif teori akuntansi:

teori akuntansi positif
Teori akuntansi positif dan normatif

 

C: Verifikasi Teori Akuntansi

Agar menyakinkan, suatu teori harus benar (valid).

Verifikasi teori adalah prosedur untuk menentukan apakah suatu teori valid atau tidak.

Pendekatan untuk mengevaluasi validitas teori tergantung pada sasaran dan tataran teori yang diverifikasi.

Teori akuntansi normatif dievaluasi validitasnya atas dasar penalaran logis (logical reasoning) yang melandasi teori yang diajukan.

Teori normatif dikembangkan atas dasar kesepakatan terhadap asumsi atau tujuan kemudian diturunkan suatu kaidah atau prinsip akuntansi tertentu.

Validitas dapat dinilai dengan menentukan apakah asumsi-asumsi yang digunakan masuk akal.

Karena teori normatif tidak bebas nilai, maka penerimaan asumsi oleh pihak yang terlibat dalam penurunan prinsip (konklusi) juga menjadi bagian dari kriteria validitas teori.

Walaupun demikian, kriteria ini sering bersifat subjektif.

Oleh karena itu, penerimaan suatu asumsi juga harus didukung dengan penalaran logis sehingga asumsi tersebut tetap masuk akal.

Serta ketidak-setujuan terhadapnya masih tetap dapat dievaluasi atau diukur implikasinya.

Penalaran logis menjadi kriteria validitas karena teori akuntansi normatif dalam banyak hal tidak atau belum menghasilkan fakta atau observasi untuk mendukungnya.

Sering dikatakan bahwa terori akuntansi normatif tidak mempunyai muatan empiris (empirical content).

materi akuntansi kuliah

Teori akuntansi positif dinilai validitasnya biasanya atas dasar kesesuaian teori dengan fakta atau apa yang nyatanya terjadi.

Menentukan fakta melibatkan observasi secara objektif.

Pada umumnya, observasi objectif dapat dicapai melalui penelitian dengan metode ilmiah.

Oleh karena itu, validitas teori akuntansi positif banyak dilakukan degan penelitian empiris.

Penelitian empiris biasanya didasarkan atas pengamatan terbatas (sampel) untuk menguji teori secara statistis.

Karena teori akuntansi positif bebas nilai, veriifikasi dibatasi pada apa yang nyatanya dipraktikan tapi tidak diarahkan untuk menentukan:

“apakah teori tersebut baik atau tidak bila dijadikan basis untuk menentukan kebijakan?”

Perhatikan contoh berikut ini:

Teori akuntansi positif menyatakan dan memprediksi bahwa praktisi akan banyak menggunakan istilah beban karena standar akuntansi keuangan (SAK) menggunakan istilah tersebut.

Bahwa observasi impiris memverifikasi pernyataan tersebut, maka menjadikan teori tersebut valid tapi tidak dapat disimpulkan bahwa penggunaan istilah beban itu sendiri valid (benar).

Validitas istilah hanya dapat diverifikasi secara normatif.

Berkaitan dengan masalah nilai (value), perlu diingat suatu kaidah berikut:

The fact that many people do thing does not make it right

Yang artinya:

Kenyataan bahwa banyak orang melakukan sesuatu tidak menjadikannya benar.

Penelitian empiris dapat memverifikasi bahwa nyatanya banyak orang melakukan sesuatu tapi tidak memverifikasi “apakah sesuatu tersebut benar secara nilai (baik atau buruknya)?”.

Sebagai contoh:

Kenyataan bahwa relatif banyak orang melakukan korupsi tidak menjadikan korupsi itu BENAR.

Benar tidaknya (buruk tidaknya) korupsi hanya dapat diverifikasi secara normatif  atas dasar nilai-nilai etika, moral, atau akhlak.

Teori akuntansi sintaktik biasanya tidak berkaitan langsung dengan fakta (tidak mempunyai kandungan empiris) sehingga verifikasi validitasnya mengandalkan penalaran logis semata-mata.

Baru setelah teori tersebut dipraktekkan dalam bentuk kebijakan, pengujian secara empiris dapat dilakukan untuk menguji penalaran (teori) yang mendasarinya.

Teori akuntansi semantik melibatkan penyimbolan fakta/realitas sehingga mengandung unsur empiris.

Oleh karenanya, validitas teori dapat diverifikasi secara empiris dengan pengamatan.

Sebagai contoh:

Untuk menentukan apakah simbol “cost” dalam akuntansi dipahami maknanya dengan benar oleh pemakainya dapat diuji dengan melakuka penelitian empiris.

Demikian juga istilah “perlengkapan” yang banyak dipakai sebagai padan kata supplies dapat diuji validitasnya dengan menanyai pemakai tentang persepsinya terhadap istilah tersebut.

Teori akuntansi pragmatik mempunyai kandungan empiris yang besar, karena teori akuntansi ini banyak memanfaatkan fakta atau data empiris perilaku pasar/individu sebagai reaksi terhadap informasi akuntansi.

Bila data empiris belum tersedia, maka perilaku dapat diukur dengan menggunakan instrumen penelitian yang dirancang untuk keperluan tersebut.

Verifikasi teori ini dapat dilakukan dengan penelitian empiris yang didasarkan atas asumsi bahwa informasi dianggap bermanfaat bila pemakai berbuat atau bertindak seakan-akan menggunakan informasi tersebut.

Teori akuntansi pragmatik adalah fokus teori akuntansi positif.

Daya prediksi sering digunakan sebagai:

  • kriteria validitas teori,
  • asumsi,
  • premis akuntansi

Satu teori dikatakan mempunyai daya prediksi yang tinggi, bila sesuatu yang diharapkan dari kebijakan  yang didasarkan atas teori tersebut, besar kemungkinannya akan terjadi.

Sebagai contoh:

Teori yang menyatakan bahwa kriteria kapitalisasi sewa guna yang lunak akan meningkatkan investasi adalah valid bila kebijakan atas dasar teori tersebut memberi keyakinan yang tinggi bahwa investasi akan benar-benar naik.

Karena teori semantik, sintatik dan pragmatik tidak berdiri sendiri tapi saling mendukung dan melengkapi.

Semua pendekatan pengujian biasanya dilakukan untuk memverifikasi suatu teori.

JADI, sedapat-dapatnya harus diverifikasi  validitasnya, atas dasar penalaran logis, bukti empiris, daya prediksi, dan pertimbangan nilai (value judgement) yang telah disepakati.

 

02: Pengertian Akuntansi

pengertian akuntansi

A: Pengertian Akuntansi Menurut Para Ahli

Akuntansi adalah sebagai seperangkat pengetahuan karena wilayah materi akuntansi dan kegiatan cukup luas.

Dan dalam serta telah membentuk kesatuan pengetahuan yang terdokumentasi secara sitematis dalam literatur akuntansi.

Kesatuan pengetahuan tersebut dapat diajarkan dan dipelajari untuk mendapatkan kompetensi yang menjadi basis atau persyaratan suatu profesi.

Kesatuan pengetahuan akuntansi juga menantang secara intelektual sehingga akuntansi adalah jurusan yang menjadi bidang studi yang dapat diajarkan secara formal di perguruan tinggi sampai pada tingkat doktor.

Dan para ahli dari Indonesia telah manghasilkan karya yang membahasnya, seperti pembahasan mengenai pengertian akuntansi menurut Mulyadi.

Hal itu sangat bermanfaat dan melengkapi pembahasan tentang pengertian akuntansi menurut Arnold, Niswonger Fess and Warren.

Akuntansi sebagai kegiatan penyediaan jasa (service activity) mengisyaratkan bahwa akuntansi adalah yang akhirnya harus diterapkan untuk merancang dan menyediakan jasa.

Sehingga tujuan akuntansi menurut para ahli yaitu berupa informasi keuangan harus bermanfaat untuk kepentingan sosial dan ekonomi negara tempat akuntansi diterapkan (to be useful in making economic decisions).

Karena karakteristik informasi yang dihasilkan akuntansi akan sangat bergantung pada lingkungan tempat akuntansi akan diterapkan.

Akuntansi sebagai seperangkat pengetahuan tentunya akan membahas berbagai konsep dan alternatif serta implikasinya dalam berbagai kondisi lingkungan.

Konsep yang dipilih dan diaplikasikan dalam lingkungan tertentu akan menjadi suatu model akuntansi untuk mencapai tujuan sosial tertentu.

Untuk dapat memiih konsep yang relevan harus dipertimbangkan faktor lingkungan (sosial, politik dan budaya).

Tiap konsep atau alternatif tentunya dikembangkan dengan penalaran tertentu sehingga bila konsep atau alternatif tersebut dipilih maka implikasinya terhadap kehidupan nyata dapat diprediksi.

Jadi pengertian akuntansi menurut para ahli secara umum ada 2 adalah:

#1. Pengertian akuntansi sebagai seperangkat pengetahuan.

Akuntansi adalah seperangkat pengetahuan yang mempelajari perekayaan penyediaan jasa berupa informasi keuangan kuantitatif unit-unit organisasi dalam suatu lingkungan negara tertentu.

Dan cara penyampaian (pelaporan) informasi tersebut kepada pihak yang berkepentingan untuk dijadikan dasar hukum dalam pengambilan keputusan ekonomik.

#2. Pengertian Akuntansi Adalah Proses dan Fungsi

Dalam arti yang lebih sempit sebagai proses, fungsi atau praktik pengertian akuntansi adalah proses:

  • pengidentifikasian,
  • pengesahan,
  • pengukuran,
  • pengakuan,
  • pengklasifikasian,
  • penggabungan,
  • peringkasan dan
  • penyajian data keuangan dasar (bahan olah akuntansi)

Siklus akuntansi adalah peristiwa-peristiwa, transaksi-transaksi atau kegiatan operasi suatu unit organisasi dengan cara tertentu untuk menghasilkan informasi yang relevan bagi pihak yang berkepentingan.

 

B: Pengertian Akuntansi dalam Bahasa Inggris

pengertian akuntansi menurut apb

1: Pengertian Akuntansi Menurut Paul Grady, “Inventory of Generally Accepted Accounting Principles for Business EnterprisesAICPA:

Accounting is the body of knowledge and functions concerned with systematic originating, authenticating, recording, classifying, processing, summarizing, analyzing, interpreting, and supplying of dependable.

And significant information covering transactions and events which are, in part at list, of a financial character, required for the management and operation of an entity and for reports that have to be submitted thereon to meet fiduciary and other responsibilities.

2: Pengertian Akuntansi Menurut APB (Accounting Principles Board):

Accounting is a service activity. Its functions is to provide quantitative information, primarily financial in nature, about economic entities that is intended to be useful making economic decisions.

 

C: Akuntansi Adalah Seni  

akuntansi adalah seni pencatatan pengelompokan

Pada awal perkembangan sejarah akuntansi adalah seni mencatat pengelompokan (art).

Karena orang yang akan memperoleh pengetahuan dan keterampilan akuntansi harus terjun langsung dalam dunia praktik dan mengerjakan magang (apprenticeship) pada praktisi.

Dalam perkembangan selanjutnya, pengetahuan dan keterampilan akuntansi dapat diidentifikasi dengan jelas.

Sehingga membentuk seperangkat pengetahuan utuh, di mana jurusan akuntansi adalah yang dapat diajarkan melalui institusi pendidikan.

Mereka yang menguasai seperangkat pengetahuan tersebut bahkan dapat menyebut dirinya profesional.

Dengan argumen tersebut dan perkembangan akuntansi dewasa ini, tidaklah tepat bila akuntansi dimasukkan sebagai bidang kerajinan apalagi jika art dikaitkan dengan masalah estetika.

Penyebutan akuntansi sebagai seni sebenarnya dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa dalam praktiknya akuntansi melibatkan banyak pertimbangan nilai (value-judgment) yang menuntut keahlian dan pengalaman untuk memilih perlakuan yang terbaik.

Rubenstein mendeskripsikan pertimbangan subyektif dalam akuntansi berikut ini:

The practitioners of our profession apply a skill acquied by long experience.

The independently observe the facts, display uncanny sense of the relevant, interpret and aplly general conventions to specific client situations and make overall judgments concerning the fairness of economic information.

Jadi, kalau akuntansi sebagai seni yang dimaksud adalah cara menerapkannya, bukan sifatnya sebagai seperangkat pengetahuan.

Sebagai seperangkat pengetahuan, akuntansi adalah lebih dari sekedar seni.

 

D: Akuntansi sebagai Ilmu/ Sains/ Science

akuntansi adalah ilmu

Bila akuntansi bukan merupakan seni, apakah akuntansi adalah ilmu atau sans (science)?

Untuk menjawab pertanyaan ini, tentu saja harus dijawab dulu apakah sains itu?

Pengertian sains/ ilmu menurut para ahli antara lain:

#1. Suriasumantri dalam “Hakikat Dasar Keilmuan”:

Sains adalah suatu pengetahuan yang mencoba menjelaskan rahasia alam agar gejala alamiah tersebut tidak lagi menjai misteri.

#2. Torgerson:

The principle objective of a science, other than the description of empirical phenomena, is to establish, through law and theories, general principles by mean of which empirical phenomena can be aexplained, accounted for, and predicted.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sains adalah salah satu cabang pengetahuan (seperangkat pengetahuan) yang bertujuan untuk mendapatkan kebenaran.

Atau validitas penjelasan tentang suatu fenomena dengan menerapkan METODE ILMIAH.

Hasil akhir sains adalah penjelasan berupa kumpulan pernyataan-pernyataan beserta argumen-argumen sebagai penjelasan yang telah tervalidasi, yang secaraa keseluruhan membentuk teori.

Teori diajukan semata-mata untuk mendapatkan penjelasan yang valid tentang suatu fenomena dan bukan untuk mencapai tujuan sosial, ekonomi, atau politik tertentu.

Atau untuk menjustifikasi suatu kebijakan (policy) atau untuk mempengaruhi perilaku.

Karena sains harus bebas nilai, kebermanfaatan (usefulness) bukan menjadi pertimbangan utama sains.

Sains tidak menghasilkan kebijakan atau preskripsi.

Bila akuntansi dipandang sebagai sains, maka akuntansi akan banyak membahas gejala akuntansi seperti:

  • Mengapa perusahaan memilih metode akuntansi tertentu
  • Faktor-faktor apa yang mendorong manajemen memanipulasi laba, dan
  • Apakah partisipasi dalam penyusunan anggaran mempengaruhi kinerja manajer divisi.
Akuntansi tidak lagi membahas:
  • Bagaimana tujuan pelaporan dicapai?
  • Bagaimana memperlakukan (mengukur, mengakui, menyajikan dan mengungkapkan) suatu objek transaksi yang baik dan efektif?

Akuntansi juga tidak lagi membahas bagaimana menciptakan teknik, metode, prinsip atau perlakuan akuntansi yang lebih baik.

Dengan pengertian di atas, seperangkat pengetahuan akuntansi sebagaimana kita pahami saat ini jelas tidak tepat kalau diklasifikasi sebagai sains.

Tujuan akuntansi adalah menghasilkan atau menemukan prinsip-prinsip umum (general priciples) untuk menjustifikasi kebijakan dalam rangka mencapai tujuan tertentu (tujuan pelaporan keuangan) bukan untuk mendapatkan kebenaran penjelasan (teori).

Prinsip-prinsip umum tersebut tersebut dicari untuk menjadi dasar penentuan standar, metode, atau teknik yang diharapkan menjadi manfaat akuntansi bagi perusahaan untuk mempengaruhi atau memperbaiki praktik.

Karena kebermanfaatan menjadi pertimbangan utama, akuntansi tidak dapat bebas nilai karena faktor lingkungan harus dipetimbangkan.

Pertimbangan dalam sains dibimbing oleh metode ilmiah, sementara pertimbangan akuntansi dibimbing oleh kebermanfaatan dalam mencapai tujuan ekonomi.

Sehingga prinsip umum dalam akuntansi (termasuk asumsi) tidak harus dapat diuji validitasnya.

Namun demikian, penurunan prinsip umum tersebut harus tetap memenuhi kriteria koherensi.

Artinya, prinsip tersebut harus diturunkan secara logis atas dasar asumsi atau premis yang disepakati sebagai basis penalaran.

Bahwa akuntansi tidak dapat diklasifikasi sebagai sains bukan berarti bahwa akuntansi tidak ilmiah.

Dalam proses pemahaman, pembelajaran, dan pengambangan akuntansi, pendekatan atau sikap ilmiah tetap dapat diterapkan.

Karena pendekatan dan sikap tersebut akan memberikan keyakinan yang tinggi terhadap apa yang dihasilkan akuntansi.

Keyakinan yang tinggi dapat diperoleh karena argumen-argumen atau pertimbangan-pertimbangan yang digunakan dalam menurunkan prinsip, metode, dan teknik dapat dipertanggungjelaskan (to be accounted for) secara ilmiah.

 

E: Akuntansi Sebagai Teknologi

Akuntansi Sebagai Teknologi

Teknologi adalah seperangkat pengetahuan untuk menghasilkan sesuatu (goods) yang bermanfaat.

Pengertian teknologi tidak terbatas pada teknologi fisis (hard technology), tapi juga teknologi lunak (soft technology).

Teknologi adalah sarana untuk memecahkan masalah nyata dalam lingkungan tertentu dan untuk mencapai tujuan tertentu.

Oleh karena itu, teknologi bermuatan budaya dan nilai tempat teknologi berkembang atau diterapkan.

Dengan mengenali karakteristik akuntansi, seperangkat pengetahuan akuntansi sebenarnya lebih merupakah suatu teknologi (paling tidak teknologi lunak).

Dan oleh karenanya harus dikembangkan sesuai dengan sifat teknologi tersebut, agar lebih bermanfaat dan mempunyai pengaruh nyata dalam kehidupan sosial tertentu.

Teknologi digunakan untuk mengendalikan variabel-variabel alam dan sosial untuk mencapai kehidupan tertentu yang lebih baik.

Karena akuntansi masuk sebagai pengetahuan teknologi, maka akuntansi dapat didefinisikan sebagai ‘rekayasa informasi dan pengendalian keuangan’.

Sebagai teknologi, akuntansi dapat memanfaatkan teori-teori dan pengetahuan yang dikembangkan dalam disiplin ilmu yang lain untuk mencapai tujuan akuntansi, tanpa harus mengembangkan terori tersendiri.

Pengertian akuntansi sebagai teknologi telah dikemukan oleh beberapa ahli, antara lain:

#1: A.C. Littleton

Littleton dalam “Structure of Accounting Theory” memberi ciri akuntansi seperti berikut ini:

Accounting as a technology, after a slow start, has finally become a much improved instrument for managerial control in the interest of efficiency and profit.

Accounting as a technology, a modified statistical technology.

The detail of a technical methodology are prescribed by and at the same time are limited by its objectives, mjor or minor.

Those who use accounting intimately and those who teach its intricacies develop a keen awareness of the service this technology can be made to render, and experience and increasing appreciation of the interrelation of objective and methode.

 

#2: M.J.R Gaffikin

Gaffikin sangat mendukung gagasan bahwa akuntansi adalah suatu teknologi yang sangat berbeda dengan sains.

Walaupun akuntansi itu sendiri tidak Harus merupakan sains tapi sains dapat dimanfaatkan dalam akuntansi untuk menciptakan sesuatu dalam rangka mencapai kemakmuran ekonomi.

Akuntansi dirancang untuk memperlancar kegiatan ekonomi dan oleh karenanya akuntansi berfungsi sebagai teknologi untuk kepentingan (kebijakan) politik.

Hal ini dikemukakannya dalam “Redefining Accounting Theory” sebagai berikut:

Science itself has become subordinated to politics.

Science has become inextricable linked to technology, technology to economic welfare.

….. accounting is designed to facilitate economic activity.

It too serves as a ‘technology” which will be used for political advantage.

 

#3: Jesse F. Dillard

Jesse F. Dillard dalam “Accounting as a Critical Social Science” menyatakan bahwa:

Technology is some system of axioms, laws, rules and/or relationship, which are applied in order to affect some transformation having practical significance.

Karakter yang melekat pada pengertian akuntansi adalah mengandung komponen teknologi yang cukup besar.

Selanjutnya Dillard menyatakan bahwa:

Accounting is a technology but it is a technology that is not ideologically sterile.

 

#4: M.H.B Perera

M.H.B Perera dalam “Towards a Framework to Analyze the Impact of Culture on Accounting” menggambarkan sifat akuntansi sebagai berikut:

Accounting is a socio-technical activity involving both human and non-human resources or techniques as well as interaction between the two.

Although the tecnical aspect of accounting is less culture dependent than the human aspect, because the two interact, accounting cannot be culture free.

Perera menyatakan bahwa sains bersifat universal dan bebas nilai tetapi akuntansi tetap dapat menggunakan teknik-teknik ilmiah (scientific know-how) untuk kepentingan pengembangannya.

Akuntansi adalah suatu aktivitas jasa yang berfungsi untuk menyediakan pedoman pengukuran dan metode untuk mengendalikan aktivitas.

Dan perilaku pengambil keputusan ekonomi yang dominan dalam lingkup perusahaan ataupun negara.

Oleh karena itu, akuntansi harus responsif terhadap kebutuhan masyarakat dan juga harus merefleksi kondisi sosial, politis, hukum, budaya dan ekonomi tempat akuntansi beroperasi atau diterapkan.

 

03: Kesimpulan

Teori akuntansi membahas berbagai masalah konseptual dan ideal yang ada dibalik praktik akuntansi.

Teori akuntansi mempunyai peran penting dalam pengembangan akuntansi yang sehat.

Teori akuntansi merupakan penalaran logis untuk mengevaluasi dan mengembangkan praktik akuntansi.

Hasil penalaran logis adalah suatu kerangka konseptual yang menjadi semacam konstitusi akuntansi.

Adanya tujuan sosial yang harus  dicapai oleh akuntansi menjadikan teori akuntansi banyak membahas pertimbangan nilai (value judgment).

Pengertian teori akuntansi sangat tergantung pada kesepakatan tentang definisi akuntansi sebagai suatu disiplin pengetahuan.

Akuntansi dapat dipandang sebagai sains dan sebagai teknologi.

Akuntansi sebagai sains adalah akuntansi bertujuan untuk mendapatkan kebenaran atau validitas penjelasan tentang suatu fenomena akuntansi dengan menerapkan metode ilmiah.

Akuntansi berkepentingan untuk menghasilkan pernyataan-pernyataan umum (yang bermula dari hipotesis) sebagai penjelasan praktik akuntansi.

Bidang-bidang akuntansi yang menjadi pusat perhatian adalah fakta sehingga harus bebas dari pertimbangan nilai.

Bila dipandang akuntansi sebagai teknologi maka akuntansi adalah teknologi perangkat lunak yang harus dipelajari dan dikembangkan untuk mencapai tujuan sosial tertentu.

Dengan demikian, akuntansi adalah suatu pengetahuan tentang perekayasaan informasi untuk pengendalian keuangan.

Hasil akhir akuntansi adalah prinsip, metode, atau teknik yang bermanfaat untuk mencapai tujuan.

Berbagai aspek teori akuntansi harus diverifikasi atau diuji validitasnya secara tepat atas dasar penalaran logis, bukti empiris, daya prediksi, dan standar nilai yang telah disepakati.

Validitas akan lebih menyakinkan bila penalaran dilandasi oleh konsep yang relevan dan moralitas yang tinggi.

Demikian yang dapat saya share mengenai pengertian akuntansi.

Semoga bermanfaat. Terima kasih

***

manajemen keuangan dan SOP