Inilah 7 Kualitas Informasi Akuntansi yang Harus Dipenuhi agar Laporan Keuangan yang Anda Susun Lebih Bermanfaat

kualitas informasi akuntansi

 

Kualitas informasi akuntansi harus dipenuhi agar laporan keuangan yang disusun benar-benar menjadi sebuah laporan keuangan yang bermanfaat dan bisa dijadikan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa fungsi akuntansi adalah menyajikan data kuantitatif yang akan digunakan untuk pengambilan keputusan, sehingga perlu dijaga agar data yang disajikan mempunyai kualitas tertentu.

Sebagai pihak yang menyusun laporan keuangan tentu akan merasa sedih bila hasil jerih payah kita, yaitu sebuah laporan keuangan tidak digunakan oleh pihak-pihak yang membutuhkan tapi justeru hanya menjadi seonggok tumpukkan kertas tanpa makna.

Sedih kan?

Lalu bagaimana caranya agar laporan keuangan yang disusun bisa benar-benar manfaat?

Yuk kita bahas bareng-bareng…

Ada 7 kualitas informasi akuntansi yang harus dipenuhi agar laporan keuangan benar-benar bermanfaat, yaitu :

#1. Relevan

Relevansi suatu informasi harus dihubungkan dengan maksud penggunaannya.

Bila informasi tidak relevan untuk keperluan para pengambil keputusan, informasi demikian tidak akan ada gunanya, betapa pun kualitas-kualitas lain terpenuhi.

Sehingga agar tujuan relevansi tersebut bisa diwujudkan maka sebaiknya dipilih metode-metode pengukuran dan pelaporan akuntansi keuangan yang bisa membantu para pemakai dalam pengambilan berbagai keputusan melalui penggunaan data akuntansi keuangan.

Dalam mempertimbangkan relevansi dari informasi yang bertujuan umum (general purpose information), perhatian difokuskan pada kebutuhan umum pemakai dan bukan pada kebutuhan khusus pihak-pihak tertentu.

Sehingga sebuah informasi mungkin mempunyai tingkat relevansi yang tinggi untuk kegunaan khusus tertentu, sementara kecil sekali relevansinya bagi kegunaan yang lain.

#2. Dapat Dimengerti

Informasi harus dapat dimengerti oleh pemakainya dan dinyatakan dalam bentuk dan dengan istilah yang disesuaikan dengan batas pengertian para pemakai.

Sehingga pihak pemakai dapat memiliki pengertian dan pemahaman mengenai aktivitas-aktivitas ekonomi perusahaan, proses akuntansi keuangan, serta istilah-istilah teknis yang digunakan dalam laporan keuangan.

Percuma kan, bila informasi yang telah kita buat dan susun HANYA dimengerti dan dipahami oleh kita.

Padahal tujuan penyusunan Laporan Keuangan adalah menyajikan laporan untuk mereka yang membutuhkan.

#3. Daya Uji

Pengukuran tidak dapat sepenuhnya lepas dari pertimbangan-pertimbangan dan pendapat yang efektif.

Hal ini berhubungan dengan keterlibatan manusia dalam proses pengukuran dan penyajian informasi, sehingga proses tersebut tidak lagi berlandaskan pada realita obyektif semata.

Dengan demikian untuk meningkatkan manfaatnya.

Informasi harus dapat diuji kebenarannya oleh para pengukur yang independen dengan menggunakan metode pengukuran yang sama.

Poin ke-3 ini juga akan meningkatkan kredibiltas penyusun Laporan Keuangan. Hasil uji ini akan menunjukkan bahwa kebenaran Laporan Keuangan yang disusun tidak hanya berdasarkan pada penyusun saja, namun bersifat umum.

#4. Netral

Informasi harus diarahkan pada kebutuhan umum pemakai dan tidak bergantung pada kebutuhan dan keinginan pihak-pihak tertentu.

Tidak boleh ada usaha untuk menyajikan informasi yang menguntungkan beberapa pihak sementara hal tersebut akan merugikan pihak-pihak lain yang mempunyai kepentingan yang berlawanan.

#5. Tepat Waktu

Informasi harus disampaikan sedini mungkin untuk dapat digunakan sebagai dasar untuk membantu dalam pengambilan keputusan-keputusan ekonomi dan untuk menghindari tertundanya pengambilan keputusan tersebut.

Bila syarat ini tidak terpenuhi, informasi yang diberikan tidak akan valid lagi. Fakta dan perkembangan perekonomian bergerak cepat, sehingga Laporan Keuangan yang disusun harus tepat waktu.

#6. Daya Banding

Informasi dalam laporan keuangan akan lebih berguna bila dapat dibandingkan dengan laporan keuangan periode sebelumnya.

Baik dari perusahaan yang sama maupun dengan laporan perusahaan-perusahaan lainnya pada periode yang sama.

Adanya pelbagai alternatif praktek akuntansi dewasa ini menyulitkan tercapainya daya banding antar perusahaan.

Penekanan harus dilakukan pada tercapainya daya banding antar periode dalam satu perusahaan, yaitu dengan menerapkan metode akuntansi yang sama dari tahun ke tahun atau yang lebih dikenal dengan prinsip konsistensi.

Namun hal ini tidak berarti bahwa perusahaan tidak boleh merubah metode akuntansi yang selama ini dianutnya.

Perusahaan tetap diperkenankan melakukan perubahan atas metode atau prinsip yang dianut, bila prinsip yang baru tersebut dianggap lebih baik.

Selanjutnya, sifat dan pengaruh serta alasan dilakukannya perubahan harus diungkapkan dalam laporan keuangan periode terjadinya perubahan.

#7. Lengkap

Informasi akuntansi yang lengkap meliputi semua data akuntansi keuangan yang dapat memenuhi minimal enam tujuan kualitatif di atas.

Keenam syarat tersebut dapat juga diartikan sebagai pemenuhan standar pengungkapan yang memadai dalam pelaporan keuangan.

Standar ini tidak hanya menghendaki pengungkapan seluruh fakta keuangan yang penting, melainkan juga penyajian fakta-fakta tersebut sedemikian rupa sehingga tidak akan menyesatkan pembacanya.

Untuk itu maka harus terdapat klasifikasi, susunan dan istilah yang layak dalam laporan keuangan.

Demikian juga semua fakta atau informasi tambahan yang dapat mempengaruhi perilaku dalam pengambilan keputusan harus diungkapkan secara jelas.

Kriteria utama informasi akuntansi adalah harus berguna untuk pengambilan keputusan.

Agar dapat berguna, informasi itu harus mempunyai dua sifat utama, yaitu RELEVAN dan DAPAT DIPERCAYA (reliability).

Agar informasi itu relevan, ada tiga sifat yang harus dipenuhi yaitu mempunyai nilai prediksi, mempunyai nilai umpan balik (feedback value) dan tepat waktu.

Informasi yang dapat dipercaya mempunyai tiga sifat yaitu dapat diperiksa (verifiability), netral dan menyajikan yang seharusnya.

Di samping dua sifat utama, relevan dan dapat dipercaya, informasi akuntansi juga mempunyai dua sifat sekunder yaitu dapat dibandingkan dan konsisten.

Keseluruhan sifat ini disajikan dalam bentuk informasi yang dapat dipahami karena walaupun seluruh sifat-sifat di atas dapat terpenuhi tetapi tidak dapat dipahami, maka tidak akan mencapai sasaran yang diharapkan.

Hierarki sifat informasi ini diukur dalam dua batasan, yaitu :
1. Manfaatnya harus lebih besar dari biaya
2. Hanya diperlakukan pada informasi yang jumlahnya cukup berarti (material).

Demikianlah pembahasan tentang kualitas informasi akuntansi yang harus dipenuhi agar laporan keuangan yang disusun bermanfaat.

Sudahkah Laporan Keuangan yang Anda susun memenuhi ketujuh kualitas tersebut?

***

Downlad gratis