Inilah 3 Masalah Penjualan yang Perlu Dicarikan Solusinya agar Omset Meningkat Pesat

strategi penjualan untuk menaikkan omset

Semua orang memiliki bakat untuk menjual. Saat di sekolah, kita berusaha mempengaruhi sesama rekan untuk menerima kita.

Dan kadang berusaha mempengaruhi guru agar memberikan nilai yang baik.

Kita juga berusaha mempengaruhi orang tua kita agar menuruti permintaan kita.

Secara tidak sadar kita telah menggunakan banyak aspek penjualan, antara lain : kemampuan membujuk, seni berunding dan taktik para remaja atau tidak akan menerima begitu saja sebuah penolakan.

Pada saat kita beranjak ke dunia luar, kita telah belajar menempatkan diri untuk memperoleh hal-hal yang kita inginkan, bagaimana memasarkan kemampuan, dan bagaimana membawa diri pada saat mencari pekerjaan.

Pekerjaan favorit apa saja yang cocok untuk lulusan akuntansi keuangan? ada di artikel ini : Untukmu yang Kuliah Akuntansi, Inilah 10 Profesi Bidang Akuntansi yang sangat Menjanjikan Bagi Masa Depanmu.

Kemudian terjadi sesuatu. Kita lupa bagaimana cara menjual. Kita mempertanyakan kemampuan kita dalam menjual.

Tiba-tiba teknik yang pernah dan sedang dijalankan saat ini selama umur kita  menjadi misterius dan asing bagi kita, seolah-olah kita harus mempelajarinya lagi sejak awal.

Namun seni menjual adalah penerapan banyak hal secara sadar maupun tidak sadar sudah kita ketahui dan mungkin kita telah lakukan dalam sebagian besar hidup kita.

Masalahnya adalah sekali kita telah memasuki dunia bisnis yang nyata timbullah faktor-faktor baru.

Untuk pertama kali kemampuan kita untuk membujuk dan kemampuan kita menjual dinilai.

Hal ini dapat bersifat mengintimidasi, sehingga kita menanggapinya dengan menyakinkan diri bahwa kita tidak mampu menjual, kita tidak mengetahui bagaimana menjual, atau kita tidak ingin menjual.

Kemudian kita menggunakan halangan mental ini untuk membenarkan kekurangmampuan kita dalam menjual.

Namun persoalan dalam menjual yang sesungguhnya sedikit sekali hubungannya dengan kemampuan atau bakat menjual dan banyak sekali kaitannya dengan cara kita melihat proses penjualan itu sendiri.

Ada orang yang menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak penting, dan yang lain menganggapnya mengganggu orang, dan yang ketiga adalah ketakutan untuk menjual.

Yuk kita analisis satu persatu ya…

#1. Penjualan tampaknya tidak cukup penting

menganggap tidak penting

Salah satu masalah terbesar dalam penjualan saat ini adalah menganggap kurang pentingnya pekerjaan yang saat ini sedang anda lakukan.

Secara historis, salah satu jalan tercepat mencapai puncak karir adalah melalui penjualan.

Namun saat ini slogan itu sudah tidak sesakti dan seampuh dulu lagi. Ada cara lain untuk mencapai puncak karir, yaitu melalui pelatihan manajemen.

Memang ada benarnya, namun beranggapan bahwa keterampilan manajemen akan menghilangkan kebutuhan keterampilan menjual merupakan bentuk penipuan diri yang perlu diwaspadai.

Kemampuan menjual tidak diajarkan kepada para lulusan perguruan tinggi.

Banyak lembaga pendidikan bisnis mengakui bahwa tujuan mereka adalah melatih para manajer, yang karenanya mereka hampir seluruhnya mengabaikan kenyataan bahwa jika tidak ada penjualan, tidak ada yang harus dikelola.

Hal ini tidak disadari oleh mereka yang baru lulus kuliah. Kebanyakan dari mereka kurang tertarik di dunia penjualan.

Mungkin mereka menganggap penjualan dengan berbagai tekniknya sebagai sesuatu yang tidak pantas dilakukan.

“masa lulusan perguruan tinggi ternama kok cuma untuk dodolan, nggak keren

#2. Menjual adalah gangguan

menjual dianggap gangguan

Orang tidak suka atau membuat onar. Pernahkah anda mengalami bahwa anda mengangguk setuju atas sesuatu yang sama sekali tidak anda setujui?

Pernahkah anda berpikir untuk mengirim kembali ayam goreng yang ada bagian yang belum  matang, tapi kemudian mengubah pendirian anda?

Perasaan bahwa menjual bersifat intrusive (mengganggu) bukanlah masalah. Hal ini adalah suatu modal.

Penjual terbaik tampaknya mempunyai indera keenam dalam hal ini. Dari suara seseorang atau suasana dalam ruangan, mereka dapat mengatakan apakah suasana atau penentuan waktunya tidak tepat.

Apakah karena mereka tidak ingin memaksakan, atau karena mereka mengetahui bahwa tidak akan menguntungkan berbuat demikian, mereka tidak akan membuat benci pelanggan dengan berusaha menjual.

Teknik-teknik menjual dengan memaksa dan menekan sudah kuno. Teknik-teknik semacam ini pun sebenarnya tidak efektif.

Di zaman komunikasi dan transportasi modern seperti saat ini, bila anda menyadari bahwa anda mengganggu, tidak ada alas an untuk tidak memilih waktu yang lebih baik dan kembali lagi pada saat yang lain.

Dan tentunya anda harus bersedia datang dan menepati janji.

Menjual secara efektif berkaitan erat dengan penentuan waktu, kesabaran, ketekunan, dan kepekaan terhadap situasi dan orang yang berhubungan dengan anda.

Suatu kesadaran tentang saat yang tepat untuk mengesankan bisa menjadi modal pribadi yang paling penting bagi seorang penjual.

Percaya ada produk anda juga dapat membantu. Bila kita merasa bahwa apa yang kita jual benar-benar cocok untuk seseorang, atau pantas sekali bagi pelanggan tertentu maka kita tidak pernah merasa bahwa kita sedang memaksa.

Kita justeru merasa bahwa kita melakukan sesuatu yang menguntungkannya.

#3. Takut ditolak, takut gagal

penolakan

Persoalan terbesar yang dialami orang dengan penjualan adalah rasa takut, takut ditolak dan takut gagal.

Bisa dikatakan bahwa menjual sebuah produk, jasa, atau apa saja, sebagian besar adalah upaya menjual diri. Dalam arti mempertaruhkan ego kita.

Lalu apa yang aneh?

Bila kita cukup baik, kemungkinan gagal kira-kira 50%. Penolakan, seperti kata mereka adalah sisi lain dari keberhasilan kita.

Penolakan dalam penjualan jarang bersifat pribadi, namun mengetahui ini saja tidak membuat lebih mudah menerimanya.Lebih baik tidak bersikap terlalu dewasa mengenai hal ini.

Belajar menerima penolakan tidak berarti harus menyukainya. Akuilah perasaan anda yang sebenarnya. Dan jika anda memang merasa jengkel, frustasi atau marah, akuilah dan jangan berpura-pura menutupi perasaan tersebut.       

Bila anda telah berusaha dan bila yang anda jual adalah sesuatu yang pantas, bukan abal-abal dan anda ditolak maka wajar bila anda akan frustasi dan marah!

Walaupun anda menyadari bahwa penolakkan itu tidak bersifat pribadi, tidak berarti bahwa anda tidak boleh berperasaan seperti itu.

Jika anda tidak menerimanya sebagai sesuatu yang bersifat pribadi itu berarti bahwa anda tidak cukup berusaha menjualnya.

Masalah penjualan yang lain adalah TAKUT GAGAL.

Hasil-hasil penjualan demikian jelas, dapat diukur hitam di atas putih, sehingga tidak ada tempat untuk bersembunyi atau melarikan diri.

Namun yang tidak disadari oleh kebanyakan orang ialah bahwa takut gagal merupakan salah satu motivator positif yang paling besar dalam bisnis.

Sekiranya anda tidak takut gagal, mungkin anda tidak cukup peduli akan nilai keberhasilan.

Ketakutan akan gagal bisa sedemikian besar karena keinginan untuk berhasil sangat kuat.

Demikian artikel mengenai 3 masalah penjualan dan solusi menyelesaikan masalah tersebut.

Ada yang mau ditambahkan?

***

Downlad gratis