Beginilah Cara Alokasi Pajak Penghasilan di Laporan Laba Rugi Perusahaan Dagang dan Manufaktur




Alkasi pajak penghasilan di laporan laba rugi perusahaan dagang dan manufaktur

Ada beberapa orang yang menanyakan “Apakah perbedaan pajak penghasilan yang dibebankan di Laporan Rugi Laba dengan Utang Pajak yang ada di Neraca? Bagaimana perlakuannya?

Pajak penghasilan adalah pajak yang dikenakan terhadap laba yang diperoleh perusahaan.

Perhitungan pajak penghasilan ini dapat didasarkan pada laba akuntansi atau laba menurut pajak.

Pajak Penghasilan yang dikenakan atas penghasilan yang diperoleh perusahaan dilaporkan mengurangi penghasilan dalam laporan rugi laba.

Karena penghasilan dalam suatu periode itu sendiri dari dua unsur yaitu penghasilan usaha yang rutin dan penghasilan luar biasa, maka beban pajaknya juga akan dibagikan kepada elemen-elemen yang rutin dan luar biasa.

Dalam laporan rugi laba dipakai susunan all inclusive sehingga elemen-elemen tidak biasa juga dilaporakan di laporan itu.

Oleh karena itu beban Pajak Penghasilan semuanya akan dilaporkan dalam laporan keuangan perusahaan, yaitu di laporan laba rugi.

Apabila kedua jenis penghasilan tersebut (rutin dan luar biasa) keduanya positif maka beban pajaknya akan dialokasikan dengan perbandingan jumlah penghasilan.

Tapi bila salah satu penghasilan tersebut jumlahnya negatif (rugi) maka penghasilan yang positif akan dibebani dengan pajak yang lebih besar dari yang sesungguhnya dikenakan.

Kelebihan ini akan diimbangi dengan pajak kredit dari penghasilan yang negatif.

Laporan rugi laba dapat juga disusun dengan susunan current operating performance , di mana elemen-elemen tidak biasa tidak masuk didalamnya tetapi dilaporkan dalam laporan laba tidak dibagi.

Oleh karena itu beban PPH-nya dialokasikan pada kedua laporan tersebut.

Untuk mengetahui perhitungan laba tidak dibagi sebaiknya baca juga : Pengertian dan Cara Menyusun Laporan Perubahan Modal.

Baca juga artikel menarik lainnya :

Pajak untuk hasil usaha (penghasilan) yang rutin dilaporkan mengurangi penghasilan dalam laporan rugi laba. Sedangkan pajak untuk elemen tidak biasa akan diperhitungkan dalam laporan laba tidak dibagi.

Bila salah satu penghasilan rutin atau tidak biasa saldo-nya negatif, maka perlakuan pajaknya sama dengan cara yang digunakan untuk bentuk all inclusive.

Pajak penghasilan yang dibebankan ke Laporan Rugi Laba harus dipisahkan perhitungannya dengan utang pajak yang akan dilaporkan dalam neraca,.

PPH yang menjadi beban dalam laporan rugi laba itu merupakan hasil perkalian tarif dengan jumlah keuntungan.

( Baca juga : Inilah Pengertian PPN, Perhitungan dan Jurnal Pembayarannya )

Sedangkan utang pajak di dalamnya juga termasuk beban pajak untuk tahun-tahun sebelumnya di mana beban-beban tahun-tahun lalu harus dibebankan pada laporan laba tidak dibagi.



Jika laporan rugi laba disusun dengan cara all inclusive maka koreksi pajak tahun-tahun lalu dilaporkan dalam laporan rugi laba dan dimasukkan dalam kelompok elemen tidak biasa.

Cara-cara yang telah disebut seperti di atas didasarkan pada konsep bahwa pajak harus dilaporkan bersama dengan transaksi-transaksi yang menyebabkan timbulnya pajak tadi.

Sehingga pajak atas penghasilan rutin dibebankan pada penghasilan rutin dan pajak atas elemen-elemen tidak biasa.

Untuk lebih jelasnya berikut ini saya berikan contoh penerapannya dalam laporan rugi laba :

 

Alokasi Pajak Penghasilan di Laporan Rugi Laba Perusahaan Dagang dan Manufaktur

 

Dari contoh Laporan Laba Rugi di atas, kita bisa melihat bahwa PPH dan Utang dihapuskan dimasukkan dalam elemen-elemen luar biasa.

Demikian artikel dari blog manajemen keuangan yang membahas mengenai Cara Alokasi Pajak Penghasilan di Laporan Keuangan Perusahaan Dagang dan Laporan Keuangan Perusahaan Manufaktur. 

Bagaimana menurut anda?

Semoga bermanfaat.

***