Metode Pencatatan Persediaan Barang Dagang dalam Sistem Perpetual

Metode Pencatatan Persediaan Barang dagang dalam sistem perpetual

Metode pencatatan persediaan barang dagang dalam sistem persediaan perpetual, seluruh kenaikan dan penurunan dalam persediaan dicatat dengan cara yang sama dengan pencatatan kenaikan dan penurunan dalam kas.

Akun persediaan pada awal periode akuntansi menunjukkan persediaan tersedia pada tanggal tersebut.

Pembelian dicatat dengan mendebit persediaan dan menkredit kas atau utang usaha. Pada tanggal terjadinya penjualan, harga pokok penjualan dicatat dengan mendebit Harga Pokok Penjualan dan mengkredit Persediaan.

Seperti diilustrasikan dalam bagian sebelumnya, saat unit yang identik dari suatu barang dibeli dengan biaya per unit yang berbeda dalam periode tertentu, maka perlu dibuat asumsi arus biaya.

Dalam hal ini, metode FIFO, LIFO atau biaya rata-rata digunakan.

Kita akan menyajikan ilustrasi untuk setiap metode menggunakan data untuk Produk 123X, seperti ditunjukkan berikut ini:

Metode Pencatatan Persediaan Barang Dagang - 1

***

Metode FIFO

Kebanyakan perusahaan menjual barang berdasarkan urutan yang sama dengan saat barang dibeli. Hal ini terutama dilakukan untuk barang yang tidak tahan lama dan barang yang mode dan modelnya sering berubah.

Sebagai contoh, toko bahan makanan mengatur rak produk susu berdasarkan tanggal kadaluwarsa. Begitu pula dengan toko pakaian pria dan wanita memajang pakaianya sesuai musim.

Pada akhir musim, mereka sering menjual barang untuk menyingkirkan pakaian yang sudah tidak sesuai dengan musim atau mode yang akan datang.

Oleh karena itu, metode FIFO sering konsisten dengan arus fisik atau pergerakan barang.

Dalam kasus ini, metode FIFO memberikan hasil yang kurang lebih sama dengan hasil yang diperoleh dari metode identifikasi biaya spesifik untuk setiap unit terjual dan yang masih berada dalam persediaan.

Saat metode FIFO dari biaya persediaan digunakan, biaya dimasukkan dalam harga pokok penjualan dengan urutan yang sama saat biaya tersebut terjadi.

Sebagai penjelasan, perhatikan ilustrasi berikut ini:

Metode Pencatatan Persediaan Barang Dagang -2

Pencatatan jurnal persediaan:

Metode Pencatatan Persediaan Barang Dagang -3

 

Metode Pencatatan Persediaan Barang Dagang - 4

(Baca juga cara membuat prosedur jurnal akuntansi yang akurat dengan menggunakan accounting tools yang powerful)

Pada ilustrasi di atas, menunjukkan ayat jurnal untuk pembelian dan penjualan serta akun buku besar pembantu persediaan untuk produk 123X.

Jumlah unit dalam persediaan setelah terjadinya setiap transaksi, bersama dengan jumlah biaya dan biaya per unit, ditunjukkan dalam akun.

Kita asumsikan unit-unit terjual secara kredit sebesar Rp 30.000 per unit.

Perhatikan bahwa setelah 70 unit terjual pada tanggal 4 Juni 2018, terdapat sisa persediaan sebanyak 30 unit sebesar Rp 20.000 per unit.

Sebanyak 80 unit yang dibeli tanggal 10 Juni 2018 diperoleh dengan biaya Rp 21.000 per unit, bukan Rp 20.000.

Oleh karena itu, persediaan setelah pembelian tanggal 10 Juni 2018 dilaporkan dalam dua baris, 30 unit seharga Rp 20.000 per unit dan 80 unit seharga Rp 21.000 per unit.

Berikutnya, perlu dicatat bahwa biaya sebesar Rp 810.000 untuk penjualan 40 unit tanggal 22 Juni 2018 berasal dari 30 unit seharga Rp 20.000 per unit dan 10 unit seharga Rp 21.000 per unit.

Pada saat ini, 70 unit yang terdapat dalam persediaan memiliki biaya Rp 21.000 per unit. Sisa ilustrasi ini dijelaskan dengan cara yang sama.

Perhatikan contoh berikut:

Persediaan awal, pembelian, dan penjualan Produk MK47 adalah sebagai berikut:

Metode Pencatatan Persediaan Barang Dagang - 5

Dengan menggunakan metode FIFO, dapat dihitung harga pokok penjualan pada tanggal 21 Mei 2018, dan persediaan tanggal 31 Mei 2018.

Harga Pokok Penjualan:

Metode Pencatatan Persediaan Barang Dagang - 6

 

Persediaan:

= 23 unit x Rp 7.000 = Rp 161.000

Metode Pencatatan Persediaan Barang Dagang - 14

Metode LIFO

Saat metode LIFO digunakan dalam sistem persediaan perpetual, biaya unit yang terjual merupakan biaya dari pembelian yang terakhir.

Untuk memudahkan pemahaman, perhatikan ilustrasi berikut ini:

Metode Pencatatan Persediaan Barang Dagang - 7

Pencatatan jurnal persediaan:

Metode Pencatatan Persediaan Barang Dagang - 8

Metode Pencatatan Persediaan Barang Dagang - 9

Dari ilustrasi di atas, menunjukkan ayat jurnal untuk pembelian dan penjualan serta akun buku besar pembantu persediaan untuk produk 123X yang disiapkan dengan dasar LIFO.

Jika Anda membandingkan akun buku besar untuk sistem perpetual FIFO dengan sistem perpetual LIFO, maka kita akan menemukan bahwa akun keduanya sama sampai dengan pembelian tanggal 10 Juni 2018.

Akan tetapi, dalam LIFO, biaya 40 unit yang terjual tanggal 22 Juni 2018 merupakan biaya dari pembelian tanggal 10 Juni 2018 (Rp 21.000 per unit).

Biaya 70 unit yang masih berada dalam persediaan setelah terjadi penjualan adalah biaya 30 unit sisa dari persediaan awal dan biaya 40 unit sisa dari pembelian tanggal 10 Juni 2018. Sisa ilustrasi penggunaan LIFO dijelaskan dengan cara yang sama.

Saat metode LIFO digunakan, buku besar pembantu kadang kala disiapkan dalam jumlah unit saja. Kemudian, jumlah unit diubah dalam satuan nominal (misalnya Rupiah) ketika laporan keuangan disiapkan pada akhir periode.

Penggunaan metode LIFO awalnya dibatasi pada situasi yang sangat jarang di mana unit yang terjual diambil dari barang yang diperoleh paling akhir.

Perhatikan contoh berikut:

Persediaan awal, pembelian, dan penjualan Produk MK47 adalah sebagai berikut:

Metode Pencatatan Persediaan Barang Dagang - 10

Dengan menggunakan metode LIFO, kita dapat mengetahui:

Harga Pokok Penjualan pada tanggal 21 Mei 2018:

= 45 unit x Rp 7.000 = Rp 315.000

Persediaan per 31 Mei 2018:

Metode Persediaan Barang Dagang - 11

Metode Pencatatan Persediaan Barang dagang - Harga Rata-rata

Biaya Rata – rata

Bila metode biaya rata-rata digunakan dalam sistem persediaan perpetual, biaya unit rata-rata untuk setiap jenis barang dihitung setiap kali terjadi pembelian.

Kemudian biaya unit ini digunakan untuk menghitung biaya setiap penjualan sampai pembelian lain dilakukan dan biaya rata-rata yang baru dihitung. Teknik rata-rata seperti ini disebut rata-rata bergerak.

Metode perhitungan biaya FIFO, LIFO dan biaya rata-rata juga digunakan di bidang bisnis yang lain. Sebagai contoh, individu dan perusahaan seringkali membeli saham yang diperdagangkan pada tingkat harga berbeda per lembarnya.

Saat investasi tersebut dijual, investor harus memilih antara mengetahui lembar saham mana yang akan dijual secara spesifik atau menggunakan asumsi arus biaya FIFO.

Komputerisasi Pencatatan Persediaan

Sistem Persediaan Perpetual dengan Komputerisasi

Catatan untuk sistem persediaan perpetual dapat dikelola secara manual.

Akan tetapi, bagi perusahaan dengan jumlah barang persediaan yang begitu besar serta transaksi pembelian dan penjualan yang banyak, sistem semacam ini membutuhkan biaya dan waktu.

Dalam kebanyakan kasus, penyimpanan catatan sistem persediaan perpetual dilakukan dengan sistem komputerisasi.

Contoh penggunaan sistem komputerisasi dalam mengelola catatan persediaan perpetual untuk toko ritel adalah sebagai berikut:

Contoh #1:

Rincian yang relevan untuk setiap barang persediaan, seperti keterangan, kuantitas, dan ukuran unit, disimpan di catatan persediaan.

Catatan persediaan individu akan menyusun catatan persediaan komputerisasi yang jumlahnya sesuai dengan saldo akun buku besar persediaan.

Contoh #2:

Setiap kali barang dibeli atau dikembalikan oleh pelanggan, data persediaan dimasukkan dalam catatan persediaan di komputer.

Contoh #3:

Setiap kali barang dijual, kasir akan memindai kode barang dengan menggunakan pemindai optik. Alat ini akan membaca kode magnetik dan mencatat penjualan di mesin kasir.

Selanjutnya, catatan persediaan akan diperbarui dengan timbulnya harga pokok penjualan. Catatan kuantitas persediaan juga berkurang secara otomatis karena adanya penjualan.

Contoh #4:

Setelah pengitungan fisik persediaan dilakukan, data penghitungan persediaan dimasukkan dalam komputer. Data ini dibandingkan dengan saldo berjalan dan sejumlah kelebihan atau kekurangan persediaan dicetak.

Saldo persediaan kemudian disesuaikan dengan kuantitas yang ditentukan oleh hasil penghitungan fisik.

***

Sistem ini dapat dilanjutkan untuk membantu manajemen dalam mengendalikan dan mengatur kuantitas persediaan.

Sebagai contoh, barang yang cepat terjual dapat dipesan ulang sebelum persediaan habis.

Pola penjualan yang lalu dapat dianalisis untuk menentukan kapan harus menyediakan barang untuk penjualan normal, dan untuk barang yang dijual musiman.

Sebagai tambahan, sistem ini dapat memberikan data bagi manajemen untuk mengembangkan dan membuat perubahan kecil untuk memberikan hasil yang baik dalam manajemen pemasaran.

Sebagai contoh, data tertentu dapat digunakan untuk meng-evaluasi keefektifan penggunaan iklan dan promosi penjualan.

Media atau sarana apa yang tepat untuk beriklan, misalnya menggunakan Google Adword, FB Ads, TV, koran, atau media lainnya.

Demikian pembahasan tentang Metode Pencatatan Persediaan Barang Dagang dalam Sistem Perpetual.

Moga bermanfaat dan terima kasih

***

sop akuntansi keuangan powerful