Begini Metode Pencatatan Persediaan Barang Dagang di Laporan Keuangan

metode pencatatan persediaan barang dagang di laporan keuangan

Biaya merupakan dasar utama dalam penilaian persediaan barang dagang. Seperti dituliskan dalam artikel Metode Pencatatan Persediaan dalam Sistem Perpetual. Namun, dalam beberapa kasus persediaan dinilai berdasarkan pertimbangan lain selain biaya.

Dan kasus semacam ini timbul saat:

  1. Biaya penggantian barang dalam persediaan berada di bawah biaya yang dicatat.
  2. Persediaan tidak dapat dijual pada harga penjualan normal. Hal ini dapat terjadi karena kondisi barang cacat, rusak karena terlalu lama di outlet, perubahan mode atau sebab lainnya.

***

01. Penilaian Persediaan Barang Dagang Pada Nilai Pasar atau Biaya yang Lebih Rendah

Jika biaya penggantian barang dalam persediaan lebih rendah daripada biaya pembelian awal, metode mana yang lebih rendah antara nilai pasar atau biaya pemerolehan (lower of cost or market – LCM atau cost or market, whichever is lower – COMWIL) digunakan untuk menilai persediaan.

Nilai pasar, yang dimaksud adalah harga penggantian untuk mendapatkan barang sejenis pada tanggal persediaan.

Nilai pasar ini dibuat berdasarkan kuantitas yang biasanya dibeli dari sumber pemasok yang biasa.

Dalam bisnis di mana inflasi menjadi standar, harga pasar jarang menurun. Dalam bisnis di mana teknologi berubah sangat cepat, penurunan harga pasar adalah biasa.

Keuntungan dari metode nilai pasar atau biaya yang lebih rendah adalah LABA kotor dan laba bersih berkurang dalam periode yang sama dengan penurunan harga pasar terjadi.

Dalam menerapkan metode nilai pasar atau biaya yang lebih rendah, biaya dan biaya penggantian dapat ditentukan dengan satu dari tiga cara berikut:

  1. Setiap barang dalam persediaan.
  2. Kelas atau kategori utama dalam persediaan.
  3. Persediaan secara keseluruhan.

Pada praktiknya, biaya dan biaya penggantian setiap barang biasanya ditentukan oleh manajemen.

metode pencatatan persediaan barang dagang - studi kasus pencatatan persediaan
krakatausteel.com

Sebagai ilustrasi, diasumsikan terdapat 400 unit identik barang A dalam persediaan, yang diperoleh dengan biaya Rp 10.250 per unit.

Jika pada tanggal persediaan barang yang diganti akan bernilai Rp 10.500, maka biaya Rp 10.250 akan dikalikan dengan 400 unit untuk menghitung nilai persediaan.

Di sisi lain, jika barang dapat diganti dengan nilai Rp 9.500 per unit, maka biaya penggantian Rp 9.500 akan digunakan untuk keperluan penilaian.

Perhatikan tabel berikut ini:

metode pencatatan persediaan barang dagang - harga pasar

Pada tabel di atas menggambarkan metode pengaturan dan persediaan serta penerapan metode nilai pasar atau biaya yang lebih rendah untuk setiap barang persediaan.

Jumlah nilai pasar yang turun, yaitu Rp 450.000 (Rp 15.520.000 – Rp 15.070.000) dapat dilaporkan sebagai POS TERPISAH dalam laporan laba rugi atau dimasukkan dalam harga pokok penjualan.

Tanpa memperhatikan, laba bersih akan dikurangi dengan jumlah penurunan nilai pasar.

Agar lebih jelas lagi pemahaman kita, berikut ini kami sajikan satu contoh lagi:

Perhatikan data berikut:

metode pencatatan persediaan barang dagang - contoh soal persediaan

Dari data-data di atas, kita dapat menghitung nilai persediaan pada nilai pasar atau biaya yang lebih rendah seperti berikut ini:

metode pencatatan persediaan barang dagang - penyelesaian sola persediaan

 

02. Penilaian Persediaan Barang Dagang Pada Nilai Realisasi Bersih

Kita paham bahwa barang yang sudah kadaluwarsa atau rusak  hanya dapat dijual pada harga di bawah biaya harus diturunkan nilainya.

metode pencatatan persediaan barang dagang - metode realisasi harga bersih

Barang semacam ini harus dinilai pada nilai realisasi bersih. Nilai realisasi bersih (net realizable value) adalah perkiraan harga jual dikurangi seluruh biaya yang berkaitan langsung dengan penjualan, seperti komisi penjualan.

Sebagai contoh, diasumsikan sebuah barang rusak yang memiliki biaya Rp 1.000.000 hanya dapat dijual seharga Rp 800.000 dan beban penjualan langsung diperkirakan sebesar Rp 150.000.

Persediaan tersebut harus dinilai sebesar Rp 650.000 ( Rp 800.000 – Rp 150.000 ) yang merupakan nilai realisasi bersihnya.

Kebanyakan peritel mencatat penyisihan untuk barang yang sudah kedaluwarsa dan ketinggalan jaman.

Sebagai contoh, Hero Supermarket yang menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari, bahan pangan, serta obat-obatan bebas tanpa resep dokter.

Di laporan keuangan tahun 2006, Hero mencatat penyisihan kerugian atas kehilangan persediaan sebesar Rp 5,9 M.

Serta penyisihan kerugian atas barang yang kedaluwarsa dan perputarannya lambat sebesar Rp 40,2 M (hampir 10% dari nilai barang tersedia untuk dijual).

Dalam catatan atas laporan keuangan tahun 2006, Hero mengungkapkan pencatatan akuntansi untuk persediaannya sebagai berikut:

“Nilai realisasi bersih adalah estimasi harga jual dalam kegiatan usaha normal dikurangi estimasi beban penjualan.

Penyisihan atas kehilangan persediaan dihitung berdasarkan estimasi kehilangan persediaan sejak tanggal penghitungan fisik persediaan yang lalu.

Penyisihan atas barang yang kedaluwarsa dan perputarannya lambat dihitung berdasarkan estimasi penjualan persediaan di masa depan”

 

03. Penyajian Persediaan Barang Dagang di Neraca

Persediaan biasanya disajikan di bagian aset lancar dari neraca, setelah akun-akun piutang.

Baik metode untuk menghitung biaya persediaan (FIFO, LIFO atau biaya rata-rata) maupun metode penilaian persediaan (biaya, atau nilai pasar atau biaya yang lebih rendah) perlu ditunjukkan.

metode pencatatan persediaan barang dagang

Merupakan hal yang biasa bagi perusahaan besar dengan berbagi aktivitas untuk menggunakan metode biaya yang berbeda untuk segmen persediaan yang berbeda.

Misalnya, PT Astra Internasional yang menghasilkan kendaraan dan komponen suku cadang menggunakan metode rata-rata tertimbang untuk menilai persediaan barang jadi dari komponen pengganti.

Beberapa anak perusahaannya menggunakan FIFO, atau identifikasi spesifik untuk mobil rakitan total yang di-impor dari luar negeri dalam kondisi utuh (dikenal dengan istilah Completely Build Up – CBU) dan peralatan berat lainnya.

Perinciannya dapat diungkapkan dengan tanda kurung di neraca atau di catatan atas laporan keuangan.

Perhatikan contoh berikut ini:

metode pencatatan persediaan barang dagang - neraca

Perusahaan dapat mengganti metode biaya persediaannya untuk alasan tertentu.

Dalam kasus tertentu, pengaruh perubahan dan alasan dari perubahan tersebut dapat diungkapkan dalam laporan keuangan untuk periode di mana perubahan terjadi.

 

04. Pengaruh Kesalahan Pencatatan Persediaan Barang Dagang pada Laporan Keuangan

Kesalahan apa pun dalam perhitungan dan pencatatan persediaan akan mempengaruhi neraca dan laporan laba rugi.

Sebagai contoh, kesalahan dalam penghitungan fisik persediaan akan menyebabkan salah saji untuk persediaan akhir, aset lancar, jumlah aset dalam neraca.

Sebagai tambahan, kesalahan dalam persediaan juga akan mempengaruhi harga pokok penjualan dan laba bruto dalam laporan laba rugi.

Sebagai ilustrasi untuk pengaruh kesalahan persediaan pada laporan keuangan, kita akan menggunakan penggalan laporan laba rugi berikut:

metode pencatatan persediaan barang dagang - realisasi nilai bersih

Kita akan membahas pengaruh kesalahan persediaan menggunakan sistem periodik karena lebih mudah untuk melihat pengaruhnya pada laporan laba rugi.

Diasumsikan dalam penghitungan fisik persediaan per 31 Desember 2017, perusahaan tidak mencatat jumlah persediaan yang sebenarnya, yaitu Rp 60.000.000 melainkan salah mencatat hasil penghitungannya menjadi Rp 57.500.000.

Akibatnya, persediaan, aset lancar, dan jumlah aset yang disajikan dalam neraca per 31 Desember 2017 menjadi kurang catat sebesar Rp 2.500.000 (Rp 60.000.000 – Rp 57.500.000).

Oleh karena persediaan akhir secara fisik kurang catat., harga pokok penjualan akan lebih catat sebesar Rp 2.500.000.

Oleh karena itu, laba kotor dan laba bersih untuk tahun berjalan akan kurang catat sebesar Rp 2.500.000.

Karena laba bersih ditutup ke akun modal pemilik pada akhir periode, ekuitas pemilik dalam neraca per 31 Desember 2017 juga akan kurang catat sebesar Rp 2.500.000.

Pengaruh ini pada laporan keuangan perusahaan diringkas sebagai berikut:

metode pencatatan persediaan barang dagang - salah pencatatan

Sekarang diasumsikan bahwa pada contoh sebelumnya, penghitungan fisik persediaan per 31 Desember 2017 lebih catat sebesar Rp 2.500.000, karena perusahaan salah mencatat persediaannya sebesar Rp 62.500.000.

Dalam hal ini, pengaruhnya pada neraca dan laporan keuangan akan berlawanan dengan contoh yang ditunjukkan di atas.

Kesalahan persediaan dapat timbul dari syarat pengiriman dan persediaan konsinyasi. Syarat pengiriman menentukan waktu kepemilikan barang beralih.

Saat barang dibeli atau dijual secara FOB titik pengiriman, kepemilikan beralih ke pembeli ketika barang tersebut dikirimkan.

Saat syaratnya adalah FOB tujuan, kepemilikan beralih ke pembeli ketika barang diterima.

Sebagai ilustrasi untuk kesalahan persediaan barang dagang dari syarat pengiriman, diasumsikan perusahaan memesan barang senilai Rp 8.300.000 secara FOB titik pengiriman pada tanggal 27 Desember.

Diasumsikan juga bahwa pemasok mengirimkan barang pada tanggal 30 Desember.

Saat perusahaan menghitung fisik persediaannya pada tanggal 31 Desember, barang masih dalam perjalanan.

Dalam hal ini, akan mudah bagi perusahaan untuk melewatkan barang dalam perjalanan dan tidak memasukkannya dalam penghitungan fisik persediaan per 31 Desember.

Begitu pula barang yang dijual oleh perusahaan secara FOB tujuan, bahkan masih berada dalam persediaan perusahaan jika barang sedang dalam perjalanan ke pembeli pada tanggal 31 Desember.

Kesalahan penghitungan dan pencatatan persediaan juga sering muncul dari persediaan konsinyasi.

Produsen kadang kala mengirimkan barang ke peritel yang bertindak sebagai agen produsen saat menjual barang.

Produsen, disebut juga pengirim barang (consignor), menahan kepemilikan sampai barang terjual.

Barang semacam ini disebut dikirimkan secara konsinyasi ke peritel, yang disebut penerima barang (consignee).

Barang yang belum terjual merupakan bagian dari persediaan produsen (pengirim barang), meskipun barang disimpan oleh peritel (penerima barang).

Ketika melakukan penghitungan fisik persediaan barang dagang, peritel (penerima barang) perlu berhati-hati untuk tidak memasukkan persediaan konsinyasi yang disimpannya sebagai bagian dari persediaan fisiknya.

Sama halnya, produsen (pengirim barang) harus berhati-hati untuk memasukkan persediaan konsinyasi dalam persediaan fisiknya meskipun barang tersebut tidak disimpannya.

Perhatikan satu lagi contoh berikut ini:

Toko Up To You salah menghitung persediaan per 31 Januari 2018 sebegai Rp 250.000.000. Jumlah sebenarnya adalah Rp 220.000.000.

Pengaruh salah saji pada neraca Toko Up To You per 31 Januari 2018 dan laporan laba rugi untuk periode yang berakhir pada 31 Januari 2018, ditunjukkan sebagai berikut:

metode pencatatan persediaan barang dagang - contoh soal persediaan 2

Demikian pembahasan mengenai Begini Metode Pencatatan Persediaan Barang Dagang di Laporan Keuangan beserta contoh-contohnya.

Dan bila anda ingin membuat sistem pencatatan persediaan yang baik dengan alat bantu yang sederhana namun powerful, penjelasannya ada di Accounting tools & SOP Akuntansi Keuangan.

Semoga bermanfaat dan terima kasih.

***

sop akuntansi keuangan powerful