Pengertian Treasury Stock: Tujuan, Metode Pencatatan, dan Contohnya

dua metode untuk mencatat treasury stock

Treasury Stock adalah salah satu model yang digunakan perusahaan untuk mengelola modal saham-nya.

Modal pendirian perusahaan yang berbentuk perseroan terbatas (PT) diperoleh dari penjualan saham.

Modal saham dicantumkan dalam akte pendirian perusahaan. Namun demikian, walaupun sudah dicantumkan dalam akte pendirian, dalam perjalanannya, perusahaan masih bisa merubah jumlah modal saham.

Salah satu perubahan jumlah modal saham yang dapat terjadi adalah adanya pembelian kembali saham yang beredar untuk sementara waktu atau selamanya. Itulah yang dikenal dengan treasury stock!

Okay, sekarang langsung saja kita bahas mulai dari….

  1. Pengertian Treasury Stock
  2. Metode Pencatatan Transaksi Treasury Stock
  3. Pembatasan Laba Ditahan untuk Pemilikan Saham Treasury
  4. Saham Treasury Diperoleh dari Sumbangan
  5. Kesimpulan

 

01. Pengertian Treasury Stock

Treasury Stock adalah saham perusahaan yang dibeli kembali dari peredaran untuk sementara waktu.

Perbedaan antara saham yang belum beredar dengan saham yang dibeli kembali dari peredaran (treasury stock) adalah saham yang belum beredar merupakan modal saham yang belum dijual atau belum diedarkan.

Sedangkan saham yang dibeli kembali dari peredaran adalah modal saham yang beredar yang dibeli kembali.

Mengapa perusahaan membeli kembali sahamnya?

Pembelian kembali saham yang beredar sebagai treasury stock bisa terjadi karena beberapa alasan, yaitu :

  • Untuk menaikkan harga pasar saham
  • Akan dijual kembali pada karyawan perusahaan
  • Akan dibagikan sebagai dividen
  • Untuk menukar surat-surat berharga perusahaan lain

Treasury stock yang dijual kembali akan dikelompokkan kembali dalam modal saham yang beredar.

Terkadang saham treasury diperoleh dari hadiah (sumbangan) atau dari pelunasan uang.

Bagaimana cara kerja saham? Yuk sejenak simak video penjelasan berikut ini:

 

02. Metode Pencatatan Transaksi Treasury Stock

Ada dua metode untuk mencatat treasury stock atau transaksi saham yang dibeli kembali.

Dua pendekatan tersebut merupakan dasar dari metode pencatatan treasury stock sebagai berikut:

  • Pembelian kembali saham yang beredar dipandang sebagai penghentian peredaran sebagian saham yang beredar dan metode pencatatannya disebut Metode Nilai Nominal.
  • Pembelian kembali saham yang beredar dipandang sebagai tambahan terhadap elemen modal yang belum ditentukan penyelesaiannya. Metode pencatatannya disebut Metode Harga Perolehan.

Yuk kita menguliknya satu per satu dari 2 point di atas.

Metode Pencatatan Transaksi Treasury Stock

 

#1. Metode Nilai Nominal

Metode ini menganggap pembelian kembali saham yang beredar merupakan pelunasan kembali saham dari para pemegang saham.

Sehingga pemegang saham itu tidak lagi menjadi pemegang saham perusahaan.

Bila treasury stock ini dijual lagi maka penjualannya dianggap mencari pemegang saham baru.

Ada 2 cara pencatatan terhadap transasksi  treasury stock, yaitu :

  • Mendebit rekening Modal Saham
  • Mendebit rekening pembelian kembali saham beredar dan saldonya dilaporkan mengurangi modal saham beredar dalam neraca.

Debit dalam rekening Modal Saham atau saham hasil pembelian kembali dilakukan dengan jumlah sebesar nilai nominal saham-saham yang dibeli.

Selisih harga beli dengan nominal dicatat dalam rekening Agio, Disagio atau Laba Tidak Dibagi tergantung dari harga jualnya dulu dan harga belinya sekarang.

Berikut ini contoh-contoh transaksi dan jurnal untuk mencatat perubahan saham yang dibeli kembali untuk tiap-tiap cara :

Cara #1. Mendebit rekening Modal Saham dengan nilai nominal yang dibeli kembali

pencatatan jurnal treasury stock

Keterangan:

Pada tahun 2015 saham yang beredar dibeli dengan harga Rp. 1.300. jika dibandingkan dengan harga jualnya pada tahun 2014 (Rp. 1.200) maka terdapat selisih sebesar Rp. 100.

Selisih ini (Rp. 100 X 100 lembar) dianggap sebagai pembagian dividen dan dibebankan pada rekening Laba Tidak Dibagi atau Laba Ditahan.

Rekening Modal Saham di-debit sebesar Rp. 1.000 (nominal) X 100 lembar dan rekening Agio Saham dibatalkan dengan jumlah yang sebanding dengan agio yang diperoleh pada saat saham tersebut dijual tahun 2014 yaitu sebesar Rp 200 per lembar.

Penjualan kembali saham yang telah dibeli kembali pada tahun 2015 dengan harga Rp. 1.500 per lembar dicatat dengan cara biasa.

 

Metode Pencatatan Treasury Stock

Cara #2. Rekening Saham treasury stock di-debit dan saldonya dikurangkan pada modal saham 

Perhatikan pencatatan akuntansi saham berikut ini:

Jurnal Treasury Stock

Keterangan :

Cara ini hampir sama dengan cara #1,  hanya rekening yang dipakai mencatat pembelian saham sendiri yang berbeda.

Pada cara #1, saham sendiri yang dibeli di-debitkan ke rekening Modal Saham sedangkan pada cara #2 yang didebit adalah rekening Treasury Stock.

Demikian juga pada saat penjualan treasury stock pada cara #1 yang dikredit adalah rekening Modal Saham, sedangkan pada cara #2 yang dikredit adalah rekening Treasury Stock.

Ada alternatif cerdas untuk melakukan pencatatan treasury stock, yaitu dengan menyusun SOP. Teknik-nya ada di  artikel Accounting Tools & SOP Akuntansi Keuangan Super Lengkap.

Metode Pencatatan Treasury Stock - Harga Perolehan

#2. Metode Harga Perolehan

Saldo Treasury Stock ini dikurangkan pada modal perusahaan (mengurangi jumlah modal).

Modal yang berdasarkan pada anggapan ini dibuat dengan tujuan untuk menunjukkan hal-hal sebagai berikut :

Treasury stock yang dibeli dianggap sebagai elemen modal yang negatif dan tidak usah diidentifikasi dengan elemen-elemen modal yang ada seperti modal saham atau laba tidak dibagi.

Bila treasury stock tadi dihentikan peredarannya dalam arti tidak dijual lagi maka saldo rekening ini akan dialokasikan ke elemen-elemen modal seperti pada cara #1 di atas.

Bila treasury stock ini dijual lagi maka penjualan ini dianggap  sebagai penyelesaian terakhir dari saham-saham tersebut.

Jadi setelah diputuskan apakah treasury stock itu akan dihentikan peredarannya atau setelah treasury stock itu dijual kembali, barulah dapat diketahui akibat dari transaksi treasury stock ini terhadap elemen-elemen modal yang ada.

dua metode untuk mencatat treasury stock

Untuk menjelaskan penggunaan metode ini, perhatikan contoh berikut ini:

metode harga perolehan

Keterangan :

Pada cara ini saham treasuri/share yang dibeli dicatat dalam rekening Treasury Stock sebesar harga beli atau harga perolehannya.

Jika sebelum ada penjualan treasury stock dibuat neraca maka ini akan mengurangi jumlah modal sebagai berikut :

modal saham

Jika treasury stock dijual, ada 2 kemungkinan:

  • Harga jualsaham treasurilebih tinggi daripada harga perolehannya. Selisihnya dicatat dalam rekening Agio Saham atau rekening tersendiri yang akan dilaporkan menambah modal yang disetor.
  • Harga jual saham treasuri lebih rendah daripada harga perolehannya. Selisihnya didebitkan ke rekening Laba Ditahan.

Treasury Stock - Pembatasan Laba Ditahan

 

03. Pembatasan Laba Ditahan untuk Pemilikan Treasury Stock

Salah satu alasan pembatasan terhadap laba ditahan adalah untuk pembelian treasury stock.

Agar modal yang disetor tidak menjadi lebih kecil maka pembelian treasury stock harus mempertimbangkan saldo yang ada dalam rekening Laba Ditahan.

Untuk menjaga agar Laba Ditahan tidak diminta oleh pemegang saham (sebagai dividen) maka bila perusahaan membeli sahamnya sebagai treasury stock laba tidak dibagi akan dibatasi sebesar treasury stock yang dibeli.

Pembatasan laba tidak dibagi ini adalah untuk menjaga agar modal yang disetor tidak berkurang, karena modal yang disetor ini adalah jaminan bagi kreditur.

Ada beberapa prosedur yang bisa digunakan untuk melaporkan pembatasan laba tidak dibagi dalam neraca.

Perhatikan contoh-contoh berikut ini:

Akun-akun modal pada PT Go Berkah adalah sebagai berikut:

Modal Saham Biasa, 1.000 lembar dengan nominal Rp 1.000 = Rp 1.000.000
Agio Saham = Rp 150.000
Laba Tidak Dibagi = Rp 250.000

Note: Dalam Ribuan Rupiah

PT Go Berkah membeli 100 lembar sahamnya dengan harga @Rp 1.200 per lembar. Jurnal untuk mencatat pembatasan laba tidak dibagi sebagai berikut:

(Debit) Laba Tidak Dibagi = Rp 120.000
(Kredit) Laba Tidak Dibagi untuk Pembelian Treasury Stock = Rp 120.000

Prosedur-prosedur yang dapat digunakan untuk melaporkan Pembatasan Laba Tidak Dibagi dalam neraca adalah sebagai berikut (digunakan metode harga perolehan untuk mencatat treasury stock):

(a) Pembatasan Laba Ditahan ditunjukkan terpisah dari Laba Ditahan yang masih bebas.

Modal:

Modal Saham Biasa (1.000 lembar @Rp 1.000, 100 lembar dibeli sebagai treasury stock) = Rp 1.000.000
Agio Saham = Rp 150.000
Laba Tidak Dibagi:

Dibatasi – pembelian treasuri stock = Rp 120.000
Bebas = Rp 130.000

Jumlah Modal + Laba Tidak Dibagi – Harga Perolehan Treasury Stock  adalah:
= Rp 1.150.000 + Rp 250.000 – Rp 120.000 = Rp 1.280.000

Pencatatan Treasury Stock - Pembatasan Laba Ditahan

(b) Pembatasan Laba Ditahan dijelaskan dengan keterangan . Cara ini tidak ada jurnal yang dibuat untuk membatasi Laba Ditahan.

Modal:

Modal Saham Biasa (1.000 lembar @Rp 1.000, 100 lembar dibeli sebagai treasury stock) = Rp 1.000.000
Agio Saham = Rp 150.000
Laba Tidak Dibagi (Rp 120.000, dibatasi untuk pembelian treasuri stock) = Rp. 250.000

Jumlah Modal + Laba Tidak Dibagi:
= Rp 1.150.000 + Rp 250.000 = Rp 1.400.000

Dikurangi Harga Perolehan Treasury Stock adalah:
= Rp 1.400.000 – Rp 120.000 = Rp 1.280.000

 

(c) Pembatasan Laba Ditahan dijelaskan dengan Footnote (catatan kaki). Melalui cara ini tidak ada jurnal yang dibuat untuk membatasai Laba Ditahan.

Modal:

Modal Saham (1.000 lembar @Rp 1.000, 100 lembar dibeli sebagai saham treasuri) = Rp 1.000.000
Agio Saham = Rp 150.000
Laba Tidak Dibagi *) = Rp. 250.000

Jumlah Modal + Laba Tidak Dibagi:
= Rp 1.150.000 + Rp 250.000 = Rp 1.400.000

Dikurangi Harga Perolehan Treasury Stock adalah:
= Rp 1.400.000 – Rp 120.000 = Rp 1.280.000

Footnote:

*)  Laba Tidak Dibagi dibatasi penggunaannya untuk pembelian saham treasuri sebesar Rp 120.000. Yang tersedia untuk pembagian dividen sebesar Rp 130.000.

Treasury Stock Diperoleh dari Sumbangan

 

04. Treasury Stock Diperoleh dari Sumbangan

Pemegang saham bisa menyumbangkan kembali saham kepada perusahaan. Sumbangan ini memiliki beberapa alasan, antara lain :

  • Untuk menambah modal kerja yang dibutuhkan yaitu dengan cara perusahaan menjual kembali saham yang disumbangkan tersebut.
  • Sebagai hadiah untuk perusahaan.
  • Menunjukkan pengembalian saham karena adanya penilaian yang terlalu tinggi terhadap aktiva yang diserahkan untuk menukar saham tersebut.

Saham yang diterima sebagai sumbangan ini dikelompokan sebagai treasury stock.

Ada 3 metode yang dapat digunakan untuk mencatat penerimaan sumbangan saham ini, yaitu :

Metode #1. Saham yang diterima dicatat dengan catatan memo (jika tidak ada biaya yang terjadi ketika menerima sumbangan ini).

Catatan memo ini menunjukkan jenis saham, jumlah lembar saham, dan penyumbangnya.

Pada saat treasury stock ini dijual, penerimaan uangnya dicatat dengan jurnal sebagai berikut :

Kas                             XX
   Modal – sumbangan        XX

 

Pencatatan Treasury Stock dari Sumbangan - harga pasar

Metode #2. Treasury stock didebit dengan harga pasar saham pada saat penerimaan dan dikreditkan ke rekening Modal – Sumbangan.

Bila treasury stock dijual, rekening dikredit.

Jika harga jualnya berbeda dengan harga pasar pada saat harga saham tersebut diterima maka selisihnya dibebankan atau dikreditkan ke rekening Moda – Sumbangan.

Perhatikan contoh berikut ini:

Tanggal 10 Juli 2017 diterima 100 lembar saham sendiri, harga pasar saham pada tanggal tersebut adalah Rp 1.100 per lembar.

Pada tanggal 17 Agustus 2017, saham tersebut terjual @Rp 1.050.

Pencatatan akuntansi saham yang dilakukan adalah sebagai berikut:

10 Juli 2017:

(Debit) Treasury Stock = Rp 110.000
(Kredit) Modal Sumbangan = Rp 110.000

17 Agustus 2017:

(Debit) Kas  = Rp 105.000
(Debit) Modal Sumbangan = Rp 500
(Kredit) Treasury Stock = Rp 110.000

Pencatatan Treasury Stock - Dengan nilai yang tertera

Metode #3. Rekening Treasury Stock didebit dengan jumlah nominal atau nilai yang dinyatakan.

Agio / Disagionya (sejumlah lembar yang diterima) juga dibatalkan dan kreditnya adalah rekening Modal – Sumbangan.

Jika saham dijual maka selisih harga jual dengan nominal ditambah atau dikurangi dengan agio atau disagio didebitkan atau dikreditkan ke rekening Modal – Sumbangan.

Perhatikan contoh ini:

Misalnya tanggal 15 Agustus 2017 diterima sumbangan saham sendiri 100 lembar dengan nominal Rp 1.000. Saham-saham ini dulu dijual dengan harga Rp 1.200 per lembar.

Pada tanggal 15 September 2017 saham-saham ini dijual dengan harga @Rp1.100 per lembar.

Jurnal yang dibuat untuk mencatat transaksi ini adalah sebagai berikut:

15 Agustus 2017:

(Debit) Treasury Stock = Rp 100.000
(Debit) Agio Saham = Rp 20.000
(Kredit) Modal Sumbangan = Rp 120.000

15 September 2017:

(Debit) Kas = Rp 110.000
(Kredit) Saham Treasury = Rp 100.000
(Kredit) Modal Sumbangan = Rp 10.000

Bila saham yang disumbangkan ini karena adanya penilaian terlalu tinggi terhadap aktiva yang diterima untuk menukar saham, maka sumbangan ini akan dicatat mengurangi nilai buku aktiva.

Pada saat diterima saham dibuat catatan memo dan pada saat saham itu dijual, kreditnya adalah Aktiva.

Perhatikan contoh yang ini:

Misalnya, diterima 100 lembar saham biasa sebagai sumbangan, karena pada waktu pertukaran, aktiva dinilai terlalu tinggi. Saham-saham tersebut kemudian dijual @Rp 900 per lembar.

Transaksi-transaksi tersebut dicatat sebagai berikut:

Memo:

Diterima 100 lembar saham biasa dari Pak Alex, nominal @Rp 1.000. Penjualan Saham dengan harga Rp 900 per lembar dicatat dengan jurnal sebagai berikut:

(Debit) Kas = Rp 90.000
(Kredit) Aktiva = Rp 90.000

Pengertian Treasury Stock: Tujuan, Alasan, Metode Pencatatan dan Contoh Soal

05. Kesimpulan

Penting bagi sebuah perusahaan untuk mengelola modal saham-nya dengan baik.

Saham perusahaan merupakan salah satu sumber dana yang dapat digunakan oleh perusahaan untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan bisnisnya.

Modal adalah pendukung utama bagi perusahaan untuk melakukan aktivitasnya, termasuk dalam berekspansi melebarkan sayap bisnisnya.

Semakin berkembang aktivitas bisnis, modal yang diperlukan juga semakin besar. Tidak cukup hanya mengandalkan modal sendiri.

Perusahaan yang berstatus High Growth Enterprise memerlukan dukungan dana besar untuk terus menjalankan program korporatisasinya.

Dan yang paling mungkin adalah dengan melantai di bursa efek. Menawarkan saham perusahaan kepada masyarakat luas, sehingga tercipta crowding effect yang akan melambungkan perusahaan ke level yang lebih tinggi.

Perlu diperhatikan bahwa pembahasan materi saham treasury ini adalah sangat penting bagi mereka yang berkepentingan terhadap perkembangan perusahaan dan bisnisnya.

Mudah-mudahan bermanfaat.

***

sop akuntansi keuangan powerful

2 Komentar

Komentar ditutup.