Audit Laporan Keuangan – 10 Tujuan Audit Liabilitas Jangka Pendek

Audit Laporan Keuangan – 10 Tujuan Audit Liabilitas Jangka Pendek

Tujuan audit liabilitas jangka pendek adalah agar nilai dan penggunaan dari liabilitas perusahaan sesuai dengan peruntukannya dan memang benar-benar terjadi.

Liabilitas, utang, atau kewajiban timbul sebagai akibat dari aktivitas bisnis perusahaan. Pengadaan raw material, pembelian barang atau jasa akan memunculkan utang usaha. Penambahan modal melalui pinjaman dari bank, perpajakan, pengadaan aset tetap, seringkali juga akan menimbulkan liabilitas.

Liabilitas jangka pendek (current liability) adalah liabilitas perusahaan yang penyelesaiannya dalam jangka waktu siklus normal operasi perusahaan. Atau liabilitas perusahaan yang jatuh temponya dalam waktu satu tahun.

Baca juga : Siklus Akuntansi Lengkap dari A sampai Z

Yang termasuk dalam liabilitas jangka pendek antara lain :

  • Utang Usaha ( Accounts Payable)
  • Pinjaman dari bank (short term loan)
  • Bagian dari kredit jangka panjang yang jatuh tempo dalam waktu kurang atau sama dengan satu tahun (current portion of long term loan)
  • Utang pajak (taxes payable)
  • Biaya yang masih harus dibayar (accrued expenses)
  • Voucher payable
  • Utang Dividen (Dividend Payable)
  • Pendapatan yang diterima dimuka (unearned revenue)
  • Uang muka penjualan
  • Utang pemegang saham
  • Utang leasing (kewajiban sewa) yang jatuh tempo satu tahun yang akan datang
  • Utang bunga
  • Utang perusahaan afiliasi (utang dalam rangka hubungan khusus)

 

Dan berikut ini 10 tujuan audit liabilitas jangka pendek :

#1. Memeriksa apakah terdapat internal control yang baik atas liabilitas jangka pendek.

Jika internal control atas liabilitas jangka pendek disimpulkan oleh auditor cukup baik maka ruang lingkup pemeriksaan atas liabilitas jangka pendek dapat dipersempit, dan sebaliknya jika disimpulkan lemah, maka ruang lingkup pemeriksaan harus diperluas.

Ada beberapa ciri internal control yang baik atas liabilitas jangka pendek, antara lain :

  • Adanya pemisahan tugas antara bagian pembelian, bagian penerimaan barang, bagian gudang, bagian akuntansi, dan bagian keuangan.
  • Digunakannya formulir-formulir yang bernomor urut tercetak untuk permintaan pembelian, order pembelian, dan laporan penerimaan barang.
  • Adanya sistem otorisasi untuk pembelian maupun pelunasan utang.
  • Digunakan sistem tender untuk pembelian dalam jumlah yang besar.
  • Dibuat buku tambahan untuk utang usaha dan setiap akhir bulan jumlah saldo utang usaha menurut buka tambahan harus dibandingkan dengan saldo utang usaha menurut jurnal umum.
  • Jumlah barang yang dicantumkan dalam faktur pembelian harus dibandingkan dengan jumlah yang dilaporkan dalam penerimaan dan order pembelian.
  • Faktur pembelian dan dokumen pembelian lainnya harus dicap lunas.

Baca juga : Sistem Akuntansi Pembelian Kredit Perusahaan Distribusi Minuman Ringan

 

#2. Memeriksa apakah liabilitas jangka pendek yang tercantum di laporan posisi keuangan (neraca) didukung oleh bukti-bukti yang lengkap dan berasal dari transaksi yang betul-betul terjadi.

Jika liabilitas jangka pendek merupakan utang usaha, yang berasal dari pembelian secara kredit, maka utang tersebut harus didukung oleh bukti-bukti yang lengkap, seperti : purchase requisition, purchase order, supplier invoice, dan receiving report.

Selain itu pembelian tersebut harus diotorisasi oleh pejabat perusahaan yang berwenang, misalnya manajer pembelian, dan manajer akuntansi keuangan.

Jika liabilitas jangka pendek berupa utang dividen, maka harus didukung oleh notulen rapat umum pemegang saham yang memberikan otorisasi untuk pembagian dividen.

Jika berupa kredit bank, harus didukung oleh perjanjian kredit dan notulen rapat direksi yang memberikan otorisasi untuk peminjaman uang dari bank.

Begitu juga jika berupa utang pemegang saham, harus didukung oleh perjanjian kredit. Jika ada utang pemegang saham, maka tidak boleh ada setoran modal yang belum dilunasi oleh pemegang saham.

Baca juga : Laporan NERACA Perusahaan : Pengertian, Komposisi dan Contoh Analisis

 

#3. Memeriksa apakah semua liabilitas jangka pendek perusahaan telah tercatat pada tanggal laporan posisi keuangan (neraca)

Auditor harus menyakinkan diri bahwa tidak ada unrecorded liabilities.

Untuk itu auditor harus memeriksa semua perjanjian yang dibuat perusahaan dengan pihak ketiga, memeriksa notulen rapat direksi dan pemegang saham serta  mengiirim konfirmasi ke penasehat hukum (legal consultant/lawyer) perusahaan.

 

#4. Memeriksa apakah accrued expenses jumlahnya reasonable, dalam arti tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil.

Auditor harus memeriksa dasar perhitungan accrued expenses yang dibuat perusahaan, apakah masuk akal dan konsisten dengan tahun sebelumnya.

Misalnya untuk accrued traveling expenses (biaya perjalanan yang masih harus dibayar) harus diperiksa untuk perjalanan ke mana, menggunakan alat transportasi apa, berapa lama perjalanannya, menginap di mana dan lain sebagainya.

Baca juga : Bila Dana Anda Pas-pasan, 10 Cara ini Bisa Dicoba Agar Tetap Bisa Traveling

 

#5. Memeriksa apakah kewajiban leasing (sewa), jika ada, sudah dicatat sesuai dengan standar akuntansi sewa (PSAK 30 Rev. 2007 tentang sewa)

Jika ada utang leasing untuk pembelian mesin pabrik, maka harga perolehan mesin dan utang leasing harus dicatat sebesar nilai tunainya.

Selain itu bagian dari utang leasing yang jatuh tempo dalam waktu satu tahun yang akan datang harus dicatat sebagai liabilitas jangka pendek. Sedangkan yang jatuh temponya lebih dari satu tahun yang  akan datang harus dicatat sebagai liabilitas jangka panjang.

 

#6. Memeriksa apakah seandainya ada liabilitas jangka pendek dalam mata uang asing per tanggal laporan posisi keuangan (neraca), sudah dikonversikan ke dalam rupiah dengan menggunakan kurs tengah Bank Indonesia per tanggal laporan posisi keuangan (neraca) dan selisih kurs yang terjadi sudah dibebankan pada laba rugi tahun berjalan.

Baca : Inilah Informasi yang akan Anda Dapatkan dari Laporan Laba Rugi Perusahaan

Misalkan pada tanggal 30 November 2017 perusahaan membeli barang dagangan secara kredit dari luar negeri sebesar US $100,000, kurs saat itu adalah Rp 13.000 per 1 US $, sehingga utang usaha dicatat sebesar Rp. 1.300.000.000.

Per tanggal 31 Desember 2017 uang tersebut masih belum dilunasi dan kurs Bank Indonesia saat itu per 1 US $: beli Rp 13.100, jual Rp 13.050 berarti kurs tengah adalah 13.075 per 1 US$.

Jurnal penyesuaian yang harus dibuat per 31 Desember 2017 adalah :

(DR) Laba/Rugi selisih kurs     Rp 7.500.000
(CR) Utang Usaha                            Rp 7.500.000

 

#7. Memeriksa apakah biaya bunga dan bunga yang terutang dari liabilitas jangka pendek telah dicatat per tanggal laporan posisi keuangan (neraca).

Auditor harus yakin bahwa semua bunga liabilitas jangka pendek, baik dari utang bank utang pemegang saham dan lainnya, sudah dicatat sebagai beban perusahaan dan jika bunga tersebut belum dibayar, sudah dicatat sebagai utang bunga per tanggal laporan posisi keuangan (neraca).

 

#8. Memeriksa apakah biaya bunga liablitas jangka pendek yang tercatat pada tanggal laporan posisi keuangan (neraca), betul telah terjadi, dihitung secara akurat, dan merupakan beban perusahaan.

Auditor harus yakin bahwa bunga yang dibebankan dalam laporan laba rugi berasal dari pinjaman jangka pendek yang digunakan perusahaan dan didukung oleh perjanjian kredit yang sah, sehingga betul-betul merupakan beban perusahaan.

Selain itu auditor harus melakukan pengecekan apakah perhitungan bunga sudah dilakukan secara akurat, walaupun beban bunga dicatat berdasarkan nota debit dari bank (berarti dihitung oleh bank).

Baca juga : Contoh Rekonsiliasi Bank : Penjelasan dan Cara Menyeimbangkan Perbedaan Saldo Kas dan Bank

 

#9. Memeriksa apakah semua persyaratan dalam perjanjian kredit telah diikuti oeh perusahaan sehingga tidak terjadi “bank default”.

Biasanya dalam perjanjian kredit bank mencantumkan beberapa persyaratan yang harus dipatuhi nasabahnya, antara lain :

  • Perusahaan tidak boleh mengganti manajer kunci tanpa seijin bank.
  • Current ratio harus dijaga pada tingkat tertentu.
  • Tidak boleh terlambat dalam membayar bunga.

Bila persyaratan tersebut dilanggar oleh perusahaan, maka terjadi bank default dan hal tersebut harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan (notes to financial statement).

Baca juga : Beginilah Cara Menilai Kinerja Keuangan Sebuah Bank

 

#10. Memeriksa apakah penyajian liabilitas jangka pendek di dalam neraca atau laporan posisi keuangan dan catatan atas laporan keuangan sesuai dengan standar akuntansi keuangan di Indonesia.

Misalnya, jika perusahaan mempunyai kredit jangka pendek dari bank atau mempunyai utang leasing (sewa), maka dalam catatan atas laporan keuangan harus diungkapkan antara lain :

  • Plafon kredit
  • Jangka waktu kredit
  • Tingkat bunga
  • Jaminan kredit
  • Pengembalian kredit dan pembayaran bunga
  • Nilai tunai aset dalam rangka sewa guna
  • Jenis leasing
  • Jangka waktu leasing.

Demikian pembahasan tentang audit liabilitas jangka pendek (current liability). Terima kasih.

1 Komentar

Komentar ditutup.