Chart of Account (COA) atau daftar kode akun akuntansi perusahaan dagang harus mencerminkan elemen-elemen dari Laporan keuangan; Laporan Laba Rugi, Laporan Ekuitas Pemilik, Neraca, dan Laporan Arus Kas (cash flow)
Transaksi-transaksi yang terjadi pada perusahaan dagang meliputi penjualan, pembelian, ongkos kirim, dan pajak penjualan, selain itu ada juga diskon pembelian, diskon penjualan. Dan sebagai dasar untuk mencatat transaksi-transaksi tersebut, dimulai dengan menyusun bagan atau daftar kode akun untuk perusahaan dagang. Bagaimana cara membuat chart of account (COA) perusahaan dagang? Ikuti langkah-langkah beserta contohnya berikut ini.
1. Karakteristik Perusahaan Dagang
A: Sistem Akuntansi Perusahaan Dagang
Disadari atau tidak kita sering berinteraksi dan melakukan transaksi usaha dengan perusahaan dagang. Misalnya, dengan perusahaan jaringan ritel yang ada di sekitar kita.
Seperti Indomaret, Alfamart, Alfamidi dan outlet lain yang dikelola oleh perusahaan perorangan atau perusahaan Tbk. Saat kita berbelanja, kita akan mendapat struk belanja. Apa yang tercantum pada struk tersebut?
Coba amati, pada struk tersebut dicantumkan:
- tanggal transaksi,
- jumlah transaksi,
- harga produk,
- PPN (Pajak Pertambahan Nilai)
- lokasi outlet,
- nama petugasnya.
Dari struk belanja tersebut kita bisa tahu bahwa sistem akuntansi untuk perusahaan dagang lebih rumit daripada perusahaan jasa.
Bagaimana sistem akuntansi perusahaan dagang?
Sebagai contoh, sistem dan standar operasional prosedur akuntansi untuk perusahaan dagang harus dirancang untuk:
- mencatat penerimaan barang untuk dijual kembali,
- memberikan informasi barang yang tersedia untuk dijual, serta
- mencatat penjualan dan harga pokok barang yang dijual.

B: Perbedaan Antara Perusahaan Dagang dan Jasa
Beberapa perbedaan antara perusahaan jasa dengan dagang dengan menitikberatkan pada pendapatan dan beban dalam laporan keuangan.
Perhatikan tabel berikut ini:

Aktivitas pendapatan perusahaan jasa melibatkan pemberian jasa ke pelanggan. Dalam laporan laba rugi untuk perusahaan jasa, pendapatan atau jasa dilaporkan sebagai pendapatan fee. Beban operasi yang muncul dalam penyediaan jasa dikurangkan dari pendapatan fee, menghasilkan laba rugi.
Kebalikannya, aktivitas pendapatan perusahaan dagang melibatkan pembelian dan penjualan barang dagang.
Awalnya perusahaan dagang harus membeli barang untuk dijual ke pelanggan. Ketika barang tersebut terjual, pendapatan dilaporkan sebagai penjualan dan biayanya diiakui sebagai beban yang disebut harga pokok penjualan (cost of merchandise sold).
Biaya barang terjual dikurangkan dari penjualan dan menghasilkan laba kotor (gross profit). Jumlah ini disebut laba kotor karena masih harus dikurangi dengan beban operasi.
Bila disajikan dalam sebuah persamaan seperti berikut ini:

Sisa barang dagang (belum terjual) di akhir periode akuntansi disebut persediaan barang (merchandise inventory), yang dilaporkan sebagai aset lancar di NERACA.
2. Siklus Operasi Perusahaan Dagang

A: Aktivitas Perusahaan Dagang
Bagaimana siklus kegiatan perusahaan dagang?
Kegiatan operasional perusahaan dagang meliputi :
- pembelian barang untuk dijual (aktivitas pembelian),
- penjualan dan distribusi barang ke pelanggan (aktivitas penjualan) serta
- penerimaan kas dari pelanggan (aktivitas penagihan).
Keseluruhan proses mengacu pada siklus operasi, oleh karena itu, siklus operasi perusahaan dagang berawal dari mengeluarkan uang dan berakhir dengan menerima uang dari pelanggan.
B: Flowchart Siklus Aktivitas Perusahaan Dagang
Siklus operasi untuk perusahaan dagang ditunjukkan seperti berikut ini:

Siklus operasi berbeda-beda tergantung dari karakteristik usaha dan operasinya, sebagai contoh siklus operasi untuk industri rokok, penyulingan minyak, dan pengolahan kayu lebih panjang daripada siklus operasi untuk industri mobil, perangkat elektronik dan perabotan rumah.
Begitu pula dengan siklus operasi untuk peritel biasanya lebih pendek daripada perusahaan manufaktur karena peritel membeli barang dalam bentuk yang sudah siap untuk dijual ke pelanggan.
Tentu saja beberapa peritel akan mempunyai siklus operasi yang lebih pendek dari peritel lainnya karena karakteristik produknya.
Sebagai contoh, toko perhiasan atau diler mobil biasanya memiliki siklus operasi lebih panjang daripada toko perangkat elektronik atau toko bahan kebutuhan sehari-hari.
Apakah pengaruh siklus operasi terhadap laba perusahaan?
Perusahaan dengan siklus operasi lebih panjang biasanya memiliki margin laba yang lebih besar dibandingkan perusahaan dengan siklus operasi lebih pendek. Sebagai contoh, biasanya toko perhiasan memberi harga 30%-50% di atas biayanya.
Kebalikannya, toko barang kebutuhan sehari-hari beroperasi dengan margin lebih kecil, sering di bawah 5%. Toko-toko ini mengkompensasi kecilnya margin tersebut dengan menjual produk mereka lebih cepat demi meningkatkan jumlah laba.