Departementalisasi Biaya Overhead Pabrik

Departementalisasi biaya overhead pabrik adalah pembagian pabrik ke dalam bagian-bagian yang disebut departemen atau pusat biaya (cost center) yang dibebani dengan biaya overhead pabrik.

Fungsi departementalisasi biaya overhead pabrik digunakan untuk menentukan tarif biaya overhead dalam perusahaan yang mengolah produknya melalui beberapa departemen produksi.

Tarif biaya overhead dihitung untuk setiap departemen produksi tersebut.

Bagaimana persisnya, mari ikuti pembahasannya berikut ini…

 

01: Penentuan Tarif Biaya Overhead Pabrik Per Departemen

departementalisasi adalah

Dalam departementalisasi BOP, tarif biaya overhead dihitung untuk setiap departemen produksi dengan dasar pembebanan yang mungkin berbeda di antara departemen-departemen produksi yang ada.

Oleh karena itu, departementalisasi BOP memerlukan pembagian pembagian perusahaan ke dalam departemen-departemen untuk memudahkan pengumpulan biaya overhead pabrik yang terjadi.

Departemen-departemen inilah yang merupakan pusat-pusat biaya.

Departemen-departemen ini adalah tempat diperbandingkankanya biaya dengan prestasi yang dicapai oleh departemen tersebut.

***

Departementalisasi BOP bermanfaat untuk pengendalian biaya dan ketelitian penentuan harga pokok produk.

Pengendalian BOP dapat lebih mudah dilakukan dengan cara menghubungkan biaya dengan pusat terjadinya.

Sehingga akan memperjelas tanggungjawab setiap biaya yang terjadi dalam departemen tertentu.

Dengan digunakannya tarif-tarif BOP yang berbeda-beda untuk tiap departemen.

Maka pesanan atau produk yang melewati suatu departemen produksi akan dibebani dengan biaya OHP sesuai dengan tarif departemen yang bersangkutan.

Hal ini mempunyai akibat terhadap ketelitian penentuan harga pokok produk.

***

Pada dasarnya langkah-langkah penentuan tarif biaya overhead pabrik per departemen sebagai berikut:

  1. Penyusunan anggaran biaya overhead pabrik (BOP) per departemen.
  2. Alokasi biaya overhead departemen pembantu ke departemen produksi.
    Ada 2 macam metode alokasi biaya overhead departemen pembantu.

    1. Alokasi biaya overhead pabrik metode langsung.
    2. Metode alokasi bertahap, yang terdiri dari
      • Metode alokasi kontinu
      • Alokasi biaya metode aljabar
      • Metode urutan alokasi yang diatur.
    3. Perhitungan tarif pembebanan biaya overhead per departemen.

Sekarang mari dibahas satu-per-satu…

A: Penyusunan Anggaran BOP per Departemen

Biaya Overhead

Jika produk diolah melalui beberapa tahap proses produksi, biasanya perusahaan membentuk lebih dari satu departemen produksi.

Di samping departemen produksi tersebut, perusahaan biasanya membentuk beberapa departemen pembantu untuk melayani berbagai kebutuhan departemen produksi.

Sebagai contoh, dalam perusahaan percetakan, produk diolah melalui tiga tahap proses produksi:

  • tahap pengesetan (setting department)
  • tahap pencetakan (printing department)
  • tahap penjilidan (binding department).

Oleh karena itu, perusahaan percetakan biasanya membentuk 3 departemen itu.

Di samping tiga departemen itu, perusahaan percetakan biasanya membentuk departemen-departemen pembantu.

Misalnya, departemen reparasi dan pemeliharaan, departemen pembangkit listrik, dan departemen gudang.

***

Dalam hal ini biaya overhead pabrik tidak hanya terdiri dari biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung yang terjadi di berbagai departemen produksi tersebut.

Melainkan meliputi juga biaya-biaya yang terjadi diberbagai departemen pembantu yang menyediakan jasa untuk kepentingan departemen produksi.

Dalam memperhitungkan tarif biaya OHP per departemen produksi, di samping harus diperhitungkan biaya OHP departemen produksi.

Harus diperhitungkan juga biaya yang terjadi di departmen pembantu.

Caranya dengan mengalokasikan biaya overhead departemen pembantu ke departemen produksi yang menikmati manfaatnya.

Langkah pertama dalam perhitungan tarif BOP per departemen produksi adalah dengan menyusun anggaran BOP departemen produksi dan departemen pembantu.

Penyusunan anggaran biaya overhead per departemen dibagi menjadi 4 (empat() tahap berikut ini:

Tahap Penyusunan Anggaran #1:

Penaksiran biaya overhead langsung departemen atas dasar kapasitas yang direncanakan untuk tahun anggaran.

Dalam menyusun anggaran BOP dibagi manjadi 2 golongan, yaitu:

  • Biaya langsung departemen
  • Biaya tidak langsung departemen

Biaya langsung departemen adalah jenis biaya overhead pabrik yang terjadi atau dapat langsung dibebankan pada departemen tertentu.

Contoh biaya overhead pabrik langsung adalah upah tenaga  kerja tidak langsung di departemen cetak adalah BOP langsung bagi departemen tersebut.

Biaya overhead pabrik tidak langsung departemen adalah jenis BOP yang manfaatnya dinikmati oleh lebih dari satu departemen.

Contoh biaya overhead pabrik tidak langsung adalah biaya penyusutan gedung percetakan yang manfaat gedungnya dinikmati oleh bagian lain.

Misalnya departemen setting, departemen cetak, dan departemen penjilidan yang berada dibawah atap gedung tersebut.

Dalam hal ini biaya penyusutan gedung pabrik adalah BOP tidak langsung, baik bagi departemen setting, departemen cetak, dan departemen penjilidan.

Begitu juga mengenai biaya asuransi, biaya pemeliharaan dan reparasi gedung percetakan tersebut.

Dalam perhitungan tarif BOP per departemen produksi , biaya overhead tidak langsung departemen ini harus didistribusikan lebih dahulu kepada departemen-departemen yang menikmati manfaatnya.

Dalam penyusunan anggaran BOP per departemen, langkah pertama yang dilaksanakan adalah dengan melakukan taksiran biaya overhead langsung departemen pada tingkat kapasitas yang direncanakan.

 

Tahap Penyusunan Anggaran #2:

Penaksiran BOP tidak langsung departemen.

Setelah biaya overhead langsung ditaksir untuk setiap departemen, langkah berikutnya adalah menaksir biaya overhead tidak langsung departemen yang akan dikeluarkan dalam tahun anggaran.

Biaya tidak langsung departemen ini kemudian didistribusikan kepada departemen-departemen yang menikmati manfaatnya atas distribusi tertentu berikut ini:

contoh soal alokasi biaya overhead pabrik

Tahap Penyusunan Anggaran #3:

Distribusi biaya overhead tidak langsung departemen ke departemen-departemen yang menikmati manfaatnya.

Dalam rangka penentuan tarif, biaya-biaya overhead tidak langsung departemen harus didistribusikan kepada departemen-departemen yang menikmati manfaatnya atas salah satu dasar distribusi tersebut di atas.

 

Tahap Penyusunan Anggaran #4:

Menjumlah BOP per departemen baik BOP langsung maupun tidak langsung untuk mendapatkan anggaran BOP per departemen, baik departemen produksi maupun departemen pembantu.

Setelah selesai dilakukan distribusi biaya overhead tidak langsung departemen ke departemen-departemen yang menikmati manfaatnya.

Langkah selanjutnya dalam penyusunanan anggaran BOP per departemen adalah menjumlah taksiran biaya overhead langsung dan tidak langsung dalam tiap-tiap departemen.

Biaya overhead pabrik per departemen ini kemudian dipisahkan menurut perilakunya dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan ke dalam BOP tetap dan biaya overhead variabel.

 

B: Alokasi BOP Departemen Pembantu ke Departemen Produksi

biaya produksi

Setelah anggaran BOP per departemen disusun.

Langkah selanjutnya dalam penentuan tarif biaya OHP per departemen adalah mengalokasikan BOP departemen pembantu ke departemen produksi yang menikmati jasa departemen pembantu.

Pada umumnya tarif BOP hanya dihitung untuk departemen-departemen produksi saja, karena pengolahan bahan baku menjadi produk biasanya terjadi di departemen produksi.

Oleh karena biaya OHP yang akan dibebankan kepada produk tidak hanya terdiri dari biaya terjadi departemen produksi saja, tapi juga di departemen pembantu.

Maka dalam rangka penentuan tarif biaya OHP per departemen, biaya overhead departemen pembantu dialokasikan ke departemen produksi.

Alokasi biaya overhead departemen pembantu ke departemen produksi dapat dilakukan dengan salah satu dari dua cara berikut ini:

  1. Alokasi BOP metode langsung (dirrect allocation method)
  2. Metode alokasi bertahap (step method)

 

Agar lebih jelas, ikuti penjelasannya berikut ini…

#1: Metode Alokasi Langsung

Pada metode alokasi langsung , biaya overhead departemen pembantuk dialokasikan ke tiap-tiap departemen produksi yang menikmatinya.

Metode alokasi langsung digunakan bila jasa yang dihasilkan oleh departemen pembantu hanya dinikmati oleh departemen produksi.

Tidak ada departemen pembantu yang memakai jasa departemen pembantu yang lain.

 

#2: Metode Alokasi Bertahap

Metode ini digunakan bila jasa yang dihasilkan departemen pembantu tidak hanya dipakai oleh departemen produksi saja, tapi digunakan pula oleh departemen pembantu yang lain.

Sebagai contoh, departemen pembangkit tenaga listrik memberikan jasa berupa listrik kepada departemen bengkel.

Sebaliknya, departemen pembangkit tenaga listrik menerima jasa reparasi dan pemeliharaan dari departemen bengkel.

Baik departemen bengkel maupun pembangkit tenaga listrik adalah departemen pembantu.

Oleh karena itu, sebelum biaya overhead di dua departemen tersebut dialokasikan ke departemen produksi.

Perlu diadakan alokasi biaya overhead antar departemen pembantu yang saling menikmati jasa tersebut.

Dengan demikian alokasi biaya overhead dari departemen pembantu ke departemen produksi dilakukan secara bertahap.

Pertama kali mengalokasikan biaya overhead antar departemen pembantu.

Selanjutnya mengalokasikan biaya overhead  departemen pembantu ke departemen produksi.

***

Metode alokasi bertahap dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:

Metode alokasi bertahap #1:

Metode alokasi bertahap yang memperhitungkan transfer jasa timbal balik antar departemen-departemen pembantu.

Yang termasuk dalam kelompok metode ini adalah:

  • Metode alokasi kontinu (continuous allocation method)
  • Metode aljabar (algebraic method)

 

Metode alokasi bertahap #2:

Metode alokasi bertahap yang tidak memperhitungkan transfer jasa timbal balik antar departemen pembantu.

Metode alokasi yang termasuk dalam kelompok ini adalah ‘metode urutan alokasi yang diatur’  (specified order of closing).

 

02: Metode Alokasi Bertahap – Departementalisasi Biaya Overhead Pabrik

alokasi biaya overhead pabrik

Jika di antara departemen-departemen pembantu terdapat transfer jasa secara timbal balik.

Dan di dalam pembuatan tarif biaya overhead transfer jasa ini akan diperhitungkan, maka perlu dilakukan alokasi biaya overhead antar departemen pembantu.

Sebelum biaya overhead departemen pembantu akhirnya dialokasikan seluruhnya ke departemen produksi.

 

A: Distribusi Biaya Overhead – Departementalisasi Biaya Overhead Pabrik

Dalam menyusun anggaran BOP per departemen, biaya dibagi menjadi dua golongan, yaitu:

  • Biaya langsung departemen
  • Biaya tidak langsung departemen

Biaya tidak langsung harus dibagikan kepada departemen-departemen yang menikmati yang menikmati manfaatnya, baik dalam departemen produksi maupun departemen pembantu.

Instilah yang dipakai untuk menggambarkan pembagian biaya overhead tidak langsung departemen kepada departemen-departemen yang menikmati manfaatnya adalah distribusi biaya overhead.

 

B: Alokasi Biaya Overhead

Setelah biaya langsung dan tidak langsung dikelompokkan dalam masing-masing departemen.

Maka langkah selanjutnya dalam penentuan tarif biaya overhead pabrik adalah membagikan biaya overhead departemen pembantu kepada departemen produksi (dalam alokasi biaya overhead pabrik metode langsung).

Atau kepada departemen pembantu lain kepada departemen produksi (dalam metode alokasi bertahap).

Istilah yang digunakan untuk menggambarkan pembagian biaya overhead departemen pembantu ke departemen produksi.

Atau dari departemen pembantu ke departemen pembantu yang lain adalah alokasi biaya overhead.

 

C: Pembebanan Biaya Overhead – Departementalisasi Biaya Overhead

Untuk kepentingan penentuan tarif biaya overhead pabrik, jumlah biaya overhead departemen produksi setelah alokasi biaya overhead dari departemen pembantu.

Kemudian dibagi dengan dasar pembebanan yang dipakai pada masing-masing departemen produksi.

Atas dasar tarif ini BOP dibagikan kepada produk di departemen produksi.

Istilah yang digunakan untuk menggambarkan pembagian biaya overhead pabrik di departemen produksi kepada produk adalah pembebanan biaya overhead.

Dengan adanya ketiga pembebanan tersebut, maka akan menimbulkan tiga macam tarif, yaitu:

  • Tarif distribusi
  • Tarif alokasi
  • Tarif pembebanan biaya overhead.

Perbedaan istilah distribusi, alokasi, dan pembebanan biaya overhead pabrik dapat digambarkan sebagi berikut:

 

bagian bagian dalam struktur organisasi
Gambar: perbedaan distribusi, alokasi dan pembebanan BOP

 

Jika di antara dua departemen pembantu terjadi transfer jasa secara timbal balik, maka tarif alokasi biaya departemen pembantu yang satu belum dapat dihitung.

Sebelum ada alokasi biaya dari departemen pembantu yang lain, begitu juga sebaliknya.

 

Untuk memecahkan lingkaran ini dapat digunakan salah satu alat dari dua metode berikut ini:

#1: Metode Alokasi Kontinu – Departementalisasi Biaya Overhead Pabrik

Dalam metode ini, BOP departemen-departemen pembantu yang saling memberikan jasa dialokasikan secara terus-menerus.

Sehingga jumlah biaya overhead yang belum dialokasikan menjadi tidak berarti.

Misalnya departemen pembantu X  dan departemen pembantu Y saling memberikan jasa secara timbal balik.

Mula-mula biaya overhead departemen X dialokasikan ke Departemen Y sesuai dengan jasa yang dipakai oleh departemen Y.

Hal ini menyebabkan biaya overhead departemen X tersebut habis dialokasikan.

Kemudian alokasi berikutnya dilakukan terhadap biaya overhead departemen Y setelah menerima alokasi biaya dari departemen X.

Alokasi kedua ini akan menyebabkan biaya overhead departemen Y habis dialokasikan dan akan menyebabkan biaya overhead departemen X terisi kembali.

Alokasi seperti ini dilakukan kembali secara berulang-ulang sehingga jumlah biaya overhead yang belum dialokasikan menjadi tidak berarti lagi.

 

#2: Metode Aljabar – Departementalisasi Biaya Overhead

Dalam metode ini, jumlah biaya tiap-tiap departemen pembantu dinyatakan dalam persamaan aljabar

 

#3: Metode Urutan Alokasi yang Diatur –  Departementalisasi Biaya Overhead

Dalam praktik, metode alokasi kontinu dan metode aljabar seringkali menimbulkan kesulitan dalam perhitungan bila perusahaan memiliki banyak departemen pembantu.

Misalnya ada 25 departemen (dua puluh lima) pembantu yang saling memberikan jasa secara timbal balik.

Maka bila metode aljabar digunakan, harus diselesaikan 25 persamaan dengan 25 variabel yang belum diketahui.

Oleh karena itu, di dalam praktek, metode alokasi bertahap yang banyak digunakan adalah metode urutan alokasi yang diatur (specified order of closing).

Karakteristik metode urutan alokasi yang diatur adalah sebagai berikut:

  1. Biaya overhead departemen pembantu dialokasikan secara bertahap.
  2. Alokasi biaya overhead departemen pembantu diatur urutannya sedemikian rupa sehingga arus alokasi biaya menuju ke satu arah.

 

03: Analisis Selisih BOP per Departemen

contoh soal departementalisasi biaya overhead pabrik metode langsung

Jika tarif biaya overhead telah ditentukan pada awal tahun, maka selama tahun anggaran, pesanan atau produk yang diolah dalam departemen produksi, dibebani dengan biaya overhead atas dasar tarif tersebut.

Biaya overhead yang sesungguhnya terjadi dikumpulkan dan dicatat selama tahun anggaran tersebut.

Agar pada akhir tahun dapat dilakukan pembandingan antara biaya overhead yang dibebankan berdasarkan angka taksiran dengan biaya overhead yang sesungguhnya terjadi.

Untuk dapat melakukan pembandingan antara biaya overhead yang dibebankan atas dasar tarif dengan biaya overhead yang sesungguhnya terjadi per departemen.

Langkah-langkah yang harus ditempuh selama tahun anggaran adalah sebagai berikut:
  1. Mengumpulkan jumlah tiap jenis biaya overhead yang terjadi sesungguhnya dalam masing-masing departemen selama tahun anggaran.
  2. Mengumpulkan data sesungguhnya yang berhubungan dengan dasar distribusi dan alokasi biaya overhead pabrik.
  3. Mengalokasikan biaya overhead sesungguhnya departemen pembantu dengan cara yang sama seperti yang dilakukan pada saat penentuan tarif biaya overhead pabrik.
  4. Membandingkan biaya overhead sesungguhnya tiap-tiap departemen produksi dengan yang dibebankan kepada produk berdasarkan tarif, untuk perhitungan biaya overhead yang lebih atau kurang dibebankan.
  5. Menganalisis selisih biaya overhead per departemen.

 

04: Akuntansi Biaya Overhead Pabrik

contoh soal alokasi bop metode langsung

Akuntansi biaya overhead pabrik terdiri dari pencatatan:

  1. Pembebanan biaya overhead pabrik pada produk berdasarkan tarif yang ditentukan di muka.
  2. Pengumpulan biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi .
  3. Penutupan rekening biaya overhead pabrik yang dibebankan ke rekening biaya overhead pabrik sesungguhnya.
  4. Penghitungan pembebanan lebih atau kurang biaya overhead pabrik.

 

Mari didalami satu-per-satu ya…

#1: Pembebanan biaya overhead pabrik pada produk berdasarkan tarif yang ditentukan di muka.

Apabila produk diolah melalui lebih dari satu departemen produksi, untuk menampung biaya produksi, di buku besar dibentuk rekening Barang Dalam Proses untuk tiap departemen produksi.

Biaya overhead yang dibebankan kepada produk ditampung dalam rekening Biaya Overhead Pabrik yang Dibebankan.

Rekening biaya overhead pabrik yang dibebankan perlu dibentuk untuk tiap departemen produksi.

 

#2: Pengumpulan biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi.

Untuk mengumpulkan biaya overhead yang sesungguhnya terjadi, dalam buku besar dibentuk rekening Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya.

Rekening ini dirinci lagi sesuai dengan pembagian departemen pembantu dan departemen produksi.

Pencatatan biaya overhead pabrik yang sesungguhnya mula-mula dilakukan dengan mendebit rekening Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya.

Rincian jenis biaya overhead pabrik dalam tiap-tiap departemen produksi dan departemen pembantu diselenggarakan dalam buku pembantu.

Dari data yang dikumpulkan dalam buku pembantu, secara periodik (misalnya tiap bulan) dibuat daftar biaya biaya overhead sesungguhnya tiap-tiap departemen.

Atas dasar data tersebut, kemudian dibuat jurnal pembagian biaya.

Caranya dengan memindahkan biaya overhead sesungguhnya yang terkumpul dalam rekening Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya.

Ke rekening biaya overhead pabrik yang sesungguhnya tiap-tiap departemen.

Setelah biaya overhead sesungguhnya dalam tiap-tiap departemen dikumpulkan, kemudian dibuat daftar alokasi biaya overhead sesungguhnya.

Atas dasar data dalam daftar alokasi biaya tersebut dibuat jurnal untuk mengalokasikan biaya overhead departemen pembantu ke departemen pembantu lain, dan ke departemen produksi.

Dan secara ringkas akuntansi biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi, dapat diuraikan seperti berikut ini:

Pencatatan Akuntansi Biaya #1:

Atas dasar berbagai macam bukti pembukuan, dicatat terjadinya biaya overhead pabrik sesungguhnya dalam rekening kontrol biaya overhead pabrik sesungguhnya.

Perhatiakn contoh jurnal pencatatan transaksinya berikut ini:

[Debit] Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya  Rp xxx
[Kredit] Persediaan Bahan Penolong Rp xxx
[Kredit] Persediaan BBM Rp xxx
[Kredit] Gaji dan Upah  Rp xxx
[Kredit] Persediaan Suku Cadang Rp xxx
[Kredit] Akumulasi Penyusutan Gedung  Rp xxx
[Kredit] Asuransi Rp xxx

 

Pencatatan Akuntansi Biaya #2:

Bukti pembukuan terjadinya BOP dicatat pula dalam buku pembantu, yaitu ke dalam rekening jenis BOP tiap-tiap departemen.

Untuk memungkin pencatatan jenis biaya pada tiap-tiap departemen, bukti pembukuan harus diberi nomor kode rekening yang menunjukkan departemen dan jenis biayanya.

Misalnya, departemen pembantu dan departemen produksi diberi kode sebagai berikut:

  • 500 Departemen A
  • 501 Departemen B
  • 502 Departemen X
  • 503 Departemen Y
  • 504 Departemen Z

Sedangkan jenis biaya diberi kode dengan menambah dua angka di belakang kode rekening kontrolnya sebagai berikut:

  • 01 Biaya Bahan Penolong
  • 02 Biaya BBM
  • 03 Biaya Tenaga Kerja Tidak Langsung
  • 04 Biaya Kesejahteraan
  • 05 Biaya Reparasi dan Pemeliharaan
  • 06 Biaya Penyusutan Gedung
  • 07 Biaya Asuransi Gedung

Jika jenis biaya jumlahnya lebih dari sepuluh jenis, maka kode rekening pembantunya terdiri dari dua angka.

Dengan demikian setiap bukti pembukuan diberi kode rekening yang menunjukkan jenis biaya dan pusat terjadinya.

 

Pencatatan Akuntansi Biaya #3:

Setiap bulan, jenis biaya pada tiap-tiap departemen dijumlah dan kemudian dibuat daftar biaya overhead pabrik sesungguhnya.

 

Pencatatan Akuntansi Biaya #4:

Atas dasar daftr biaya overhead pabrik sesungguhnya, kemudian dibuat jurnal untuk memindahkan jumlah biaya overhead pabrik yang terkumpul dalam rekening biaya overhead pabrik sesungguhnya masing-masing departemen.

Perhatikan contoh jurnal pencatatannya berikut ini:

[Debit] Biaya Ov. Pabrik Sesungguhnya Departemen A  Rp xxx
[Debit]  Biaya Ov. Pabrik Sesungguhnya Departemen B  Rp xxx
[Debit] Biaya Ov. Pabrik Sesungguhnya Departemen X  Rp xxx
[Debit] Biaya Ov. Pabrik Sesungguhnya Departemen Y  Rp xxx
[Debit] Biaya Ov. Pabrik Sesungguhnya Departemen Z  Rp xxx
[Kredit] Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Rp xxx

 

Pencatatan Akuntansi Biaya #5:

Setelah daftar biaya overhead pabrik sesungguhnya selesai disusun, kemudian dibuat daftar alokasi BOP sesungguhnya.

Perhatikan contoh jurnal pencatatannya berikut ini:

#1: Jurnal alokasi BOP sesungguhnya Departemen Pembantu Z

[Debit] BOP Sesungguhnya Departemen A  Rp xxx
[Debit] BOP Sesungguhnya Departemen B  Rp xxx
[Debit] BOP Sesungguhnya Departemen X  Rp xxx
[Debit] BOP Sesungguhnya Departemen Y  Rp xxx
[Kredit] Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Departemen Z Rp xxx

 

#2: Jurnal alokasi BOP sesungguhnya Departemen Pembantu Y

[Debit] BOP Sesungguhnya Departemen A  Rp xxx
[Debit] BOP Sesungguhnya Departemen B  Rp xxx
[Debit] BOP Sesungguhnya Departemen Y  Rp xxx
[Kredit] Biaya Overhead Sesungguhnya Departemen Y Rp xxx

 

#3: Jurnal alokasi BOP sesungguhnya Departemen Pembantu X

[Debit] BOP Sesungguhnya Departemen A Rp xxx
[Debit] BOP Sesungguhnya Departemen B Rp xxx
[Kredit] Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Departemen X Rp xxx

 

#3: Penutupan rekening biaya overhead pabrik yang dibebankan ke rekening biaya overhead pabrik sesungguhnya.

Untuk menghitung pembebanan lebih atau kurang biaya overhead pabrik, biaya OHP yang dibebankan kepada produk berdasarkan tarif yang di muka dipertemukan dengan BOP sesungguhnya terjadi.

Jurnal penutupan rekening BOP yang dibebankan ke rekening BOP sesungguhnya per departemen, contohnya adalah sebagai berikut:

[Debit] BOP yang Dibebankan Departemen A  Rp xxx
[Debit] BOP yang Dibebankan Departemen B  Rp xxx
[Kredit] BOP Sesungguhnya Departemen A  Rp xxx
[Kredit] BOP Sesungguhnya Departemen B  Rp xxx

 

#4: Penghitungan pembebanan lebih atau kurang biaya overhead pabrik.

Untuk menghitung pembebanan lebih atau kurang BOP, pada akhir periode akuntansi dihitung saldo rekening BOP sesungguhnya per departemen.

Jurnal pencatatan pembebanan lebih atau kurang BOP seperti contoh berikut ini:

[Debit] Pembebanan Lebih atau Kurang Biaya Ov Pabrik Dept A Rp xxx
[Debit] Pembebanan Lebih atau Kurang Biaya Ov Pabrik Dept B Rp xxx
[Kredit] Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Dept A Rp xxx
[Kredit] Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Dept B Rp xxx

 

05: Penentuan Tarif BOP Metode Variable Costing

A: Penentuan Tarif Biaya Overhead Pabrik

Dalam metode variable costing , produk hanya dibebani dengan biaya produksi variabel, yang terdiri dari:

  • Biaya bahan baku
  • Biaya tenaga kerja langsung
  • Biaya overhead pabrik variabel.

Oleh karena itu, dalam perusahaan yang menggunakan metode harga pokok pesanan dalam pengumpulan biaya produksinya dan menggunakan variable costing dalam penentuan harga pokok produknya.

Tarif biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada produk hanya terdiri dari tarif biaya overhead pabrik variabel.

Dalam perusahaan yang menggunakan metode harga pokok proses dalam pengumpulan biaya produksinya.

Dan menggunakan variable costing dalam penentuan harga pokok produknya.

Biaya overhead pabrik yang sesungguhnya dibebankan kepada produk hanya terdiri dari biaya overhead pabrik sesungguhnya yang berperilaku variabel.

***

Tarif biaya overhead pabrik variabel per departemen dihitung dengan langkah berikut ini:

Langkah #1:

Biaya overhead pabrik langsung departemen dipisahkan ke dalam biaya variabel dan biaya tetap.

Langkah #2:

Biaya overhead pabrik variabel departemen pembantu dialokasikan ke departemen produksi berdasarkan kuantitas jasa yang dikonsumsi oleh departemen pembantu lain dan departemen produksi.

Langkah #3:

Biaya overhead pabrik variabel departemen produksi setelah ditambah dengan biaya overhead pabrik variabel yang diterima dari alokasi biaya departemen pembantu.

Dibagi dengan dasar pembebanan untuk mendapatkan tarif biaya overhead pabrik variabel.

 

B: Akuntansi BOP Metode Variable Costing

Variable Costing

Akuntansi biaya overhead pabrik dalam metode variable costing berbeda dengan akuntansi biaya yang sama dengan metode full costing.

Perbedaan tersebut terletak pada:

Perbedaan #1:

Dalam metode variable costing biaya overhead pabrik perlu dipisahkan menurut perilaku biaya dalam hubungannya dengan perubahan volume aktivitas.

Oleh karena itu, pada saat biaya overhead pabrik terjadi, baik didepartemen pembantu maupun di departemen produksi.

Dilakukan pencatatan biaya tersebut ke dalam rekening biaya overhead pabrik sesungguhnya departemen tertentu.

Kemudian pada akhir periode akuntansi tertentu, misalnya pada akhir bulan.

Dilakukan pemisahan biaya overhead pabrik menurut perilakunya dengan memindahkan unsur biaya variabel ke dalam rekning biaya overhead pabrik variabel departemen tertentu.

Dan rekening biaya overhead pabrik tetap departemen tertentu.

 

Perbedaan #2:

Karena metode variable costing menghendaki pemisahan biaya variabel dan biaya tetap, maka alokasi biaya overhead pabrik dari departemen pembantu ke departemen pembantu lain.

Dan ke departemen produksi harus selalu memisahkan unsur biaya variabel dan biaya tetap.

Oleh karena itu, hanya biaya overhead pabrik departemen pembantu dialokasikan ke departemen pembantu lain dan ke departemen produksi dalam dua tahap, yaitu:

Tahap #1:

Biaya overhead pabrik tetap sesungguhnya departemen pembantu dialokasikan ke departemen-departemen pemakai jasa.

Yaitu departemen pembantu lain dan departemen produksi atas dasar perbandingan konsumsi minimum jasa oleh departemen pemakai jasa.

Tahap #2:

Biaya overhead pabrik variabel sesungguhnya departemen pembantu dialokasikan ke departemen pemakai jasa atas dasar proporsi konsumsi jasa di atas konsumsi minimum.

 

Perbedaaan #3:

Biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada produk atas dasar tarif yang ditentukan di muka adalah biaya overhead pabrik variabel.

Untuk mencatat biaya overhead pabrik variabel yang dibebankan kepada produk dbentuk rekening biaya overhead pabrik variabel yang dibebanan departemen produksi tertentu.

Rekening ini pada akhir bulan ditutup ke rekening biaya overhead pabrik variabel sesungguhnya departemen produksi tertentu.

Dan rekening yang terakhir inilah selisih antara biaya overhead  pabrik variabel yang dibebankan kepada produk berdasarkan tarif yang ditentukan di muka dengan biaya overhead pabrik variabel yang sesungguhnya terjadi.

Jumlah selisih yang dihitung pada akhir periode akuntansi ini dipindahkan dari rekening biaya overhead pabrik variabel sesungguhnya ke rekening Laba Rugi.

Untuk memperkaya pemahaman kita mengenai pembahasan ini, saya sajikan video dari PKN STAN berikut ini:

 

06: Kesimpulan

Untuk pengendalian biaya dan penentuan harga pokok produk secara teliti perlu di adakan departementalisasi biaya overhead pabrik.

Dan penentuan tarif biaya overhead pabrik per departemen produksi.

Penentuan tarif biaya overhead per departemen ini sangat diperlukan dalam perusahaan yang produknya berdasarkan pesanan, yang produknya diolah melalui lebih dari satu departemen produksi.

Pada dasarnya penentuan tarif biaya overhead pabrik per departemen tidak berbeda langkahnya dengan penentuan tarif tunggal untuk seluruh pabrik.

Masalah yang perlu mendapat perhatian dalam penentuan tarif biaya overhead pabrik per departemen adalah alokasi biaya overhead pabrik departemen pembantu ke departemen pembantu lainnya serta ke departemen produksi.

***

Secara garis besar alokasi biaya overhead pabrik departemen pembantu ke departemen produksi dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu:

  • metode alokasi langsung
  • metode alokasi bertahap.

Di muka telah diuraikan alokasi biaya overhead pabrik dengan memperhitungkan jasa timbal balik yang dikonsumsi oleh departemen pembantu.

Metode yang digunakan untuk memperhitungkan transfer jasa timbal balik antar departemen pembantu tersebut adalah:

  • metode alokasi kontinu dan
  • metode aljabar.

Dua metode tersebut akan menjamin perhitungan tarif alokasi biaya departemen pembantu yang lebih teliti bila dibandingkan dengan metode alokasi langsung.

Dalam metode variable costing, biaya overhead pabrik tidak seluruhnya dibebankan kepada produk.

Unsur biaya overhead pabrik tetap, tidak diperhitungkan ke dalam harga pokok produk.

Oleh karena itu, dalam penentuan tarif biaya overhead pabrik, hanya BOP variabel saya yang diperhitungkan.

Sehingga dalam penentuan tarif biaya overhead pabrik dalam metode variable costing, alokasi biaya overhead pabrik dari departemen pembantu ke departemen pembantu lain.

Dan ke departemen produksi, menghendaki cara alokasi yang berbeda, antara alokasi BOP variabel dengan alokasi BOP tetap.

Demikian yang dapat saya bagikan mengenai departementalisasi biaya overhead pabrik.

Semoga bermanfaat. Terima kasih.*****

manajemen keuangan dan SOP