Inilah 3 Cara Mudah Membuat dan Menyajikan Laporan Laba Ditahan

Laporan Laba Ditahan adalah laporan yang menyajikan akumulasi laba periode tertentu dan sebagai indikator kemampuan perusahaan menciptakan laba.

Sebuah perseroan dapat menyajikan Laporan Laba Ditahan dengan cara:

  • Meyiapkan laporan laba ditahan yang terpisah,
  • Kombinasi Laporan Laba Rugi dan laba ditahan,
  • Di  laporan ekuitas pemegang saham.

Sebenarnya apa itu laba ditahan dan bagaimana cara menyajikan laporan laba ditahan?

yuk ikuti pembahasannya satu per satu berikut ini…

 

01: Pengertian Laba Ditahan

Sedikit me-review kembali pengertian saldo laba ditahan adalah menunjukkan akumulasi hasil usaha periodik setelah memperhitungkan pembagian dividen dan koreksi laba rugi periode lalu.

Akun ini dinyatakan terpisah dari akun modal saham.

Seluruh saldo laba dianggap bebas untuk dibagikan sebagai diividen, kecuali jika diberikan indikasi mengenai pembatasan terhadap saldo laba.

Misalnya dicadangkan untuk perluasan pabrik atau untuk memenuhi ketentuan regulasi maupun ikatan tertentu.

Saldo laba yang tidak tersedia untuk dibagikan sebagai dividen karena pembatasan-pembatasan tersebut, dilaporkan dalam akun tersendiri.

Yang menggambarkan tujuan pencadangan termaksud: pembatasan-pembatasan yang diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.

Saldo laba tidak boleh dibebani atau dikreditkan dengan pos-pos yang seharusnya diperhitungkan pada laporan laba rugi periode berjalan.

Pengungkapan saldo laba meliputi berikut ini:

  1. Pengungkapan penjatahan (apropriasi) dan pemisahan saldo laba, menjelaskan jenis penjatahan dan pemisahan, tujuan penjatahan dan pemisah saldo laba, serta jumlahnya. Perubahan akun-akun penjatahan dan pemisahan saldo laba, juga diungkapkan.
  2. Peraturan, perikatan, batasan dan jumlah batasan di sekitar saldo laba, diungkapkan. Misalnya, selama perjanjian kredit berlangsung, perusahaan tidak diizinkan membagi saldo laba tanpa seizin kreditur.
  3. Koreksi masa lalu, baik bruto maupun neto setelah pajak.
  4. Pengungkapan jumlah dividen dan dividen per lembar saham, pengungkapan, keterbatasan, saldo laba tersedia bagi dividen.
  5. Tunggakan dividen, jumlah maupun tunggakan per lembar saham.
  6. Pengungkapan deklarasi dividen setelah tanggal laporan posisi keuangan (neraca) sebelum tanggal penyelesaian Laporan Keuangan.

 

02: Komponen Laba Ditahan

bentuk laporan laba ditahan

Ada dua metode untuk menyajikan komponen Laba Ditahan, yaitu:

A: Penyajian Komponen Laba Ditahan Atas Dasar Sumber (by sources)

Dengan metode ini, laba ditahan dirinci menjadi 2 yaitu:

  1. Laba ditahan yang berasal dari operasi normal atau rutin
  2. Laba ditahan yang berasal dari laba luar biasa.

Dapat saja pembedaan antara kedua sumber laba ditahan tersebut dipertajam.

Namun, sebenarnya tidak cukup beralasan untuk memecah kembali jumlah rupiah bersih laba periodik atas dasar klasifikasi sumber.

Bilamana Laporan Laba Rugi telah memuat semua faktor yang menentukan laba bersih (pendekatan laba komprehensif).

Dan laba komprehensif ini telah ditransfer ke laba ditahan menjadi bagian dari ekuitas pemegang saham.

Jadi, bila perusahaan akibat transaksi operasi dipisahkan secara tegas dengan transaksi modal, laporan laba rugi telah merefleksikan sumber laba ditahan sehingga perincian laba ditahan akan percuma.

 

B: Penyajian Komponen Laba Ditahan Atas Dasar Tujuan Penggunaan

#1: Penyajian Komponen Laba Ditahan

Dalam praktik, perincian ini ditunjukkan dengan adanya pos cadangan jaminan sosial, laba ditahan terbatas (restricted retained earnings), dan cadangan umum.

Perincian semacam ini sebenarnya sama saja dengan mengaitkan laba ditahan dengan aset tertentu (asset imputation).

Artinya, dalam aset apa saja laba ditahan terikat.

Klasifikasi ini mendasarkan pada tujuan penggunaan laba ditahan sebagaimana ditunjukkan oleh komponen aset yang terkait.

Dalam hal tertentu mungkin ada petunjuk untuk mengatakan bahwa laba ditahan terikat dalam aset lancar.

Misalnya saja, dalam suatu periode telah terjadi kenaikan modal kerja neto dan tidak terjadi transaksi lain kecuali transaksi operasi yang menimbulkan laba dalam periode tersebut.

Dalam hal ini, terdapat cukup alasan untuk mengatakan bahwa laba ditahan pada saat itu tertanam dalam tambahan modal kerja.

Dalam kasus lain, mungkin dapat dibuktikan bahwa jumlah rupiah laba ditahan terikat dalam kas atau pos aset lancar lain.

Sejalan dengan pikiran tersebut, jika terjadi tambahan fasilitas fisik tanpa diimbangi dengan:

  • terjadinya pinjaman baru,
  • modal baru, atau
  • berkurangnya modal kerja.

Terdapat cukup alasan untuk menyatakan bahwa laba ditahan telah tertanam dalam aset tetap.

Perincian semacam itu, sebenarnya tidak perlu dan tidak mempunyai manfaat informasional karena Laporan Arus Kas telah mengandung informasi tersebut.

Jadi, penyertaan statemen laporan aliran kas lebih memenuhi tujuan pelaporan daripada perincian resmi dalam laba ditahan dengan sebutan misalnya “cadangan ekspansi”.

Ada kalanya, dalam rangka kebijakan dividen, perusahaan yang mempunyai rencana membagi dividen menyisihkan laba ditahan menjadi:

“cadangan pembagian dividen” sebelum mengumumkan pembagian dividen.

Meskipun demikian, perlu dicatat bahwa dividen dari laba ditahan tersebut harus dibayar dengan kas.

Penyisihan tersebut sebenarnya tidak menjamin bahwa kas tersedia untuk keperluan tersebut.

Contoh yang sangat populer adalah banyaknya perseroan USA yang mampu membayar dividen selama periode depresi pada awal-awal tahun tigapuluhan.

Karena adanya akumulasi laba selama periode ledakan (boom) aktivitas ekonomi pada tahun-tahun duapuluhan.

Jadi, sebenarnya tidak benar untuk beranggapan bahwa dividen yang dibayar pada periode berjalan adalah berasal dari laba yang diperoleh pada periode tersebut.

 

#2: Laba Ditahan Menurut Para Ahli

laba ditahan di laporan keuangan

Beberapa ahli seperti Paton dan Littleton menegaskan bahwa penyisihan laba ditahan sebenarnya kurang bermakna.

Selanjutnya disampaikan bahwa penyisihan hanya akan bermakna bila di sisi aset disisihkan benar-benar sejumlah rupiah untuk tujuan penyisihan tersebut.

Misalnya, disisihkannya laba ditahan untuk jaminan sosial mungkin akan bermanfaat jika sejumlah kas disisihkan untuk keperluan tersebut.

Akan tetapi, penyisihan kas itu sendiri sebenarnya sudah cukup untuk menunjukkan bahwa aset tidak dapat digunakan untuk keperluan selain yang telah ditetapkan.

Sehingga laba ditahan tidak perlu disisihkan.

Penyisihan laba ditahan akan berlebihan secara informasional.

Penyisihan laba ditahan sebagai cadangan khusus akan cenderung memberi gambaran yang menyesatkan kepada para pembaca laporan keuangan.

Istilah “cadangan” memberi kesan sebagai dana kas atau semacamnya yang disisihkan, dihimpun untuk tujuan khusus.

Pada kenyataannya, biasanya tidak ada dana (kas dan aset lainnya) yang benar-benar dipisahkan.

Yang jumlahnya sama dengan jumlah “cadangan” laba ditahan yang dibentuk bahkan kadang-kadang tidak pernah.

Atau akan terjadi investasi atau pengeluaran dana seperti yang disebut dengan nama cadangan laba ditahan.

Jadi, pencadangan semacam itu akan percuma saja.

Paton dan Littleton berargumen bahwa tidak diperlukannya perincian laba ditahan.

Menurut mereka laba ditahan pada dasarnya tidak lebih daripada sebagai bagian hak pemegang saham atas dana yang tertanam dalam seluruh aset sebagai kesatuan.

Jumlah rupiah laba ditahan tidak dapat diidentifikasi atas dasar ke jenis aset apa jumlah rupiah tersebut terikat.

Seperti juga modal setoran, laba ditahan terikat dalam aset sebagai satu kesatuan.

Ini berarti bahwa setiap bentuk klasifikasi laba ditahan atas dasar untuk apa jumlah rupiah laba ditahan digunakan dalam perusahaan adalah bersifat hipotesis belaka dan sama sekali tidak bermakna.

Bentuk lain penyisihan adalah untuk tujuan penyerapan kemungkinan rugi atau ketidakpastian lainnya.

Penyisihan ini juga tidak bermakna karena pada dasarnya total jumlah rupiah laba ditahan dapat dipandang sebagai penyangga atau cadangan umum (general purpose buffer).

Kalau memang terdapat suatu tuntutan ganti rugi atau klaim yang suatu saat memang harus dipenuhi maka jumlah rupiahnya (bila perlu ditaksir) harus ditunjukkan sebagai kewajiban.

Kalau ketidakpastian tersebut tidak lebih dari sekadar kemungkinan dan khususnya apabila jumlah rupiah kerugiannya tidak dapat ditentukan.

Maka suatu catatan kaki akan cenderung lebih informatif daripada penyisihan laba ditahan.

Proses penyisihan laba ditahan hendaknya tidak dikacaukan dengan proses akuntansi untuk pengukuran laba.

Dengan demikian masalah cadangan laba ditahan harus dibedakan secara tegas dengan masalah teoritis yang berkaitan dengan akun-akun “cadangan” utang.

Misalnya:

  • Diskon utang obligasi,
  • Cadangan aset,
  • Cadangan kerugian piutang

Dan akun-akun cadangan lainnya sebagai kontra akun aset atau kewajiban.

 

03: Pembatasan Laba Ditahan

jenis laporan laba ditahan

Laba ditahan yang tersedia untuk digunakan sebagai dividen dapat dibatasi pada tindakan dewan direksi perseroan.

Jumlah tersebut, dinamakan pembatasan atau appropriation, tetap menjadi bagian dari laba ditahan.

Akan tetapi jumlah tersebut harus diungkapkan, biasanya dalam catatan laporan keuangan.

Pembatasan dapat diatur oleh aturan hukum, kontrak, maupun kebijakan direksi.

Sebagai contoh, beberapa ketentuan mengharuskan laba ditahan dibatasi sejumlah saham treasury (treasury stock) yang dibeli agar modal perusahaan tidak akan digunakan untuk membayar.

Dewan direksi juga dapat diminta untuk membatasi laba ditahan karena ketentuan dalam kontrak.

Sebagai contoh, syarat untuk pinjaman bank dapat mencakup pembatasan, agar uang yang dialokasikan untuk membayar pinjaman tidak digunakan sebagai dividen.

Dewan direksi juga dapat membatasi laba ditahan secara sukarela.

Sebagai contoh, dewan direksi dapat membatasi pembagian dividen agar tersedia lebih banyak uang yang dapat digunakan untuk pengembangan bisnis.

 

04: Perubahan Laba Ditahan

fungsi laba ditahan

Paling tidak ada 4 transaksi yang menyebabkan perubahan laba ditahan, yaitu:

A: Penyesuaian Periode Lalu

Penyesuaian periode lalu adalah perlakuan terhadap suatu jumlah rupiah yang mempengaruhi operasi periode masa lalu yang baru ditemukan atau baru dapat diakui dalam periode sekarang.

Bukan sebagai pengurang atau penambah perhitungan laba tahun sekarang (masuk dalam laporan laba rugi tahun sekarang/berjalan), tapi sebagai penyesuai terhadap laba ditahan awal periode seakrang.

Perlakuan semacam ini dimaksudkan untuk menjadikan laba ditahan awal periode sekarang menunjukkan saldo yang semestinya seandainya jumlah rupiah tersebut telah diakui dalam periode yang lalu.

 

Perhatikan contoh berikut ini:

Perusahaan pada periode lalu dituntut untuk mengganti rugi sejumlah uang karena dituduh melanggar hak paten perusahaan lain.

Sampai akhir periode yang lalu perkara tuntutan ini belum diputuskan pengadilan, karena belum dapat dipastikan apakah perusahaan bersalah.

Selain itu, tidak ada kepastian tentang jumlah yang akan dibayarkan.

Baru pada periode sekarang dapat pastikan bahwa perusahaan benar-benar dinyatakan salah dan harus membayar ganti rugi sejumlah tertentu.

Jumlah tersebut harus diakui dan merupakan rugi bagi perusahaan.

Persoalannya adalah “apakah jumlah rugi tersebut diperlakukan sebagai penyesuai periode lalu (laba ditahan awal tahun) atau sebagai pengurang pendapatan tahun sekarang?”

Dengan kata lain, apakah rugi tersebut diakui sebagai penyesuaian terhadap laba bersih periode yang lalu, yaitu saat peristiwa yang menyebabkan rugi tersebut terjadi

Atau apakah rugi tersebut diakui sebagai elemen penentuan laba periode sekarang ketika peristiwa  yang menguatkan atau memastikan terjadi?

Secara seingkat dapat dikatakan bahwa untuk dapat mengakui rugi bersyarat, maka kejadiannya harus cukup pasti dan jumlah rupiahnya dapat ditaksir dengan layak.

Dengan demikian rugi yang berkaitan dengan aktivitas periode lalu tapi baru diakui dalam periode sekarang harus tetap dimasukkan dalam laporan laba rugi.

Bukan sebagai penyesuaian periode lalu (penyesuaian terhadap laba ditahan awal).

Jika jumlahnya material, hal tersebut harus dilaporkan secara terpisah dalam laporan laba rugi atau perlu ada pengungkapan yang memadai.

Penyesuaian Laba Ditahan Periode Sebelumnya

Kesalahan material pada laba bersih periode sebelumnya dapat terjadi karena kesalahan penghitungan dan kesalahan dalam penerapan prinsip akuntansi.

Pengaruh dari kesalahan material yang tidak ditemukan dalam periode fiskal yang sama dengan waktu kesalahan tersebut terjadi.

Maka tidak boleh dimasukkan dalam menentukan laba bersih untuk periode tersebut.

Sebaliknya, perbaikan atas kesalahan material yang disebut penyesuaian periode sebelumnya (prior perioed adjustment), dilaporkan di laporan laba ditahan.

Penyesuaian ini dilaporkan sebagai penyesuaian untuk saldo laba ditahan pada awal periode di mana kesalahan tersebut ditemukan dan diperbaiki.

Perhatikan contoh berikut:

Contoh supporting schedule Laba (Rugi) Ditahan untuk mengoreksi kekurangan biaya tahun 2017 yang dibebankan ke laba ditahan.

Karena jumlahnya tidak material seharusnya dibebankan ke laba rugi tahun berjalan.

 

koreksi laba ditahan
Proses penyesuaian laba ditahan.

 

Pencatatan jurnal akuntansinya adalah sebagai berikut:

(Dr) Biaya Listrik dan Telepon   Rp 500.000
(Cr) Laba (Rugi) Ditahan             Rp 500.000

 

Contoh pembuatan laporan laba ditahan:

PT Manajemen Keuangan Network melaporkan hasil-hasil berikut ini untuk periode yang berakhir pada tanggal 31 Maret 2018.

Laba ditahan, 1 April 2017 = Rp 3.000.000.000

Laba bersih = Rp 250.000.000

Dividen tunai yang diumumkan = Rp 50.000.000

Dividen saham yang diumumkan = Rp 100.000.000

Dari data-data tersebut maka dapat dibuat Laporan Laba Ditahan sebagai berikut:

 

cara membuat laporan laba ditahan
Contoh Laporan Laba ditahan

 

B: Koreksi Kesalahan Dalam Laporan Keuangan Sebelumnya

(a): Koreksi Kesalahan

Sistem akuntansi biasanya sudah dirancang dengan cukup cermat.

Sehingga kesalahan dalam pencatatan akan segera dapat dideteksi, oleh karena itu dapat segera dapat dilakukan koreksi.

Dalam hal tertetnu, kesalahan tidak segera diketahui dan baru ketahuan beberapa waktu atau bahkan beberapa periode setelah laporan keuangan disusun dan diterbitkan.

Tidak seperti ‘nasi yang telah menjadi bubur’, kalau laba periode telah ditentukan atas dasar fakta yang obyektif pada waktu itu.

Maka tidak berarti bahwa laba tersebut tidak dapat diperbaiki bila terbukti ada kesalahan.

Kenyataan bahwa buku besar biaya dan pendapatan pada periode lalu telah ditutup.

Tidaklah menutup kemungkinan untuk merevisi kembali angka-angka laba yang telah dilaporkan sebelumnya.

Dan untuk melaporkan koreksi yang ternyata diperlukan dengan adanya fakta baru di kemudian hari.

 

(b): Koreksi Penyesuai Laba Ditahan

Kesalahan dalam laporan keuangan periode sebelumnya, harus diperlakukan sebagai penyesuaian periode lalu.

Laba ditahan awal periode berjalan disesuaikan dengan jumlah rupiah pengaruh kumulatif kesalahan perhitungan laba periode-periode sebelumnya.

Dan jika laporan komparatif disajikan, pengaruh retroaktif kesalahan harus ditunjukkan dalam laporan keuangan periode-periode yang terpengaruh.

Metode ini dapat diterima dari sudut pandang neraca saja dan tidak mengganggu kenormalan atau keutuhan beberapa laporan laba rugi berikutnya.

Di lain pihak, prosedur ini tidak layak karena riwayat laba yang pernah dilaporakan menjadi tidak lengkap dan besar kemungkinan angka laba dapat menyesatkan.

Pengaruh koreksi dapat ditunjukkan dalam laporan laba rugi komprehensif sebagai penambah atau pengurang angka laba bersih.

Atau angka manapun yang akhirnya akan ditambahkan atau dikurangkan terhadap Laba Ditahan.

Letak yang tepat penyesuaian koreksi tidaklah merupakan masalah yang penting, asalkan ada pengungkapan yang jelas tentang hal tersebut dalam laporan laba rugi.

Tentu saja tidak dikehendaki untuk memasukkan pengaruh koreksi dalam klasifikasi pendapatan operasi atau biaya operasi berjalan (periode sekarang).

Karena jumlah rupiah koreksi berkaitan dengan perhitungan laba dalam periode-periode sebelumnya.

Kemampuan menghasilkan laba jangka panjang adalah informasi yang sangat penting bagi investor.

Dengan demikian akan sangat membantu dalam hal ini untuk memasukkan dalam laporan laba rugi tahunan.

Tidak hanya pengukur hasil (laba) periode berjalan setepat-tepatnya, tetapi juga mengukur koreksi laba laporan laba rugi terdahulu secara valid.

 

(c): Koreksi sebagai Penyesuai Modal Setoran Lain

Koreksi yang berkaitan dengan penggunaan aset dalam periode-periode yang lalu dengan alasan apapun hendaknya dipisahkan dengan premium modal disaham.

Premium modal saham adalah komponen modal setoran dan kalau pemisahan antara modal setoran dan modal operasi (laba) harus tetap dipertahankan.

Maka tidaklah tepat untuk menggunakan modal setoran untuk menyerap koreksi atas laba yang pernah dilaporkan.

Sangatlah tidak tepat memperlakukan koreksi dengan cara menggabungkan semua penyesuaian dalam laporan keuangan laba ditahan dan terpisah dengan laporan laba rugi.

 

(d): Koreksi Sebagai Komponen Laporan Laba Rugi

Salah satu alasan yang dikemukan oleh beberapa ahli mengenai perlakuan ini adalah:

“Bahwa laporan laba rugi kumulatif yang didasarkan atas laporan-laporan terdahulu harus menunjukkan laba (rugi) komprehensif sepanjang riwayat perusahaan sampai tanggal sekarang.”

Dengan demikian, kalau koreksi langsung dilakukan dalam akun laba ditahan tanpa ada petunjuk atau penjelasan apapun dalam laporan laba rugi.

Maka beberapa laporan laba rugi yang pernah diterbitkan tidak dapat memberikan gambaran yang menyeluruh tentang kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba.

Prinsip penyesuaian langsung ke laba ditahan membuka kemungkinan untuk menimbulkan prosedur yang mengaburkan pengaruh laba rugi luar biasa dengan akibat timbulnya salah tafsir pada pihal pemagang saham.

Atau pihak-pihak yang berkepentingan.

Laporan Laba Rugi harus menyatakan laba (rugi) seperti apa adanya, termasuk rugi atau untung akibat koreksi.

 

C: Perubahan Akuntansi

penyesuaian laba ditahan

Karena alasan tertentu suatu perusahaan mungkin melakukan kebijakan yang mempunyai pengaruh terhadap konsistensi dalam proses akuntansi.

Dan pelaporan keuangan yang disebut dengan perubahan akuntansi.

Ada tiga jenis perubahan akuntansi, yaitu:

  • Perubahan prinsip atau metode akuntansi
  • Perubahan taksiran akuntansi
  • Perubahan kesatuan pelaporan

Jumlah rupiah laba dan aset berkaitan yang mula-mula dilaporkan dalam laporan keuangan periode yang lalu sebelum adanya perubahan.

Tentunya akan berbeda dengan jumlah rupiah seandainya perubahan tersebut telah dilakukan dalam periode yang lalu dan bukan dalam periode sekarang atau berjalan.

Salah satu komponen yang terpengaruh adalah laba periode yang lalu.

Ada 3 (tiga) metode untuk mengatasi perubahan tersebut, yaitu:

  • Penyesuaian retroaktif (retroactive adjustment)
  • Penyesuaian sekarang (current adjustment)
  • Penyesuaian sekarang dan prospektif (current and prospective adjustment)

 

D: Kuasi Re-organisasi

Kuasi re-organisasi adalah tindakan yang biasanya dilakukan dalam hal terjadi suatu defisit.

Kuasi reorganisasi adalah re-organisasi, tanpa melalui reorganisasi secara hukum yang dilakukan dengan menilai kembali akun-akun aktiva dan kewajiban pada nilai wajar dan mengeliminasi saldo defisit.

Kuasi re-organisasi adalah prosedur akuntansi yang mengatur perusahaan untuk me-restrukturisasi ekuitasnya dengan menghilangkan defisit.

Dan menilai kembali seluruh aset dan kewajibannya tanpa melalui reorganisasi secara hukum.

Dalam mekanisme ini, diharapkan perusahaan dapat meneruskan usahanya secara lebih baik seperti baru mulai (fresh start) dengan modal yuridis baru tanpa dibebani defisit.

Dewan Standar Akuntansi menegaskan bahwa kuasi re-organisasi bukan sekedar cara untuk menyajikan kembali posisi keuangan yang lebih baik.

Tapi juga cara untuk menyelamatkan perusahaan yang terbebani defisit yang material, padahal perusahaan tersebut memiliki prospek yang baik.

Jika prospek tidak baik, defisit adalah kegagalan perusahaan dan kepailitan adalah hal yang tidak dapat dihindari.

Oleh karena itu, Dewan Standar Akuntansi menetapkan syarat-syarat perusahaan yang dapat melakukan kuasi re-organisasi,.

Syarat-syarat itu adalah sebagai berikut:

  • Perusahaan mengalami defisit dalam jumlah yang material
  • Perusahaan harus memiliki status kelancaran usaha dan memiliki prospek yang baik pada saat kuasi re-organisasi dilakukan.
  • Perusahaan tidak sedang menghadapi permohonan kepailitan.
  • Tidak bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku.
  • Saldo ekuitas sesudah kuasi organisasi harus positif.

Kuasi re-organisasi tidak akan dilakukan kalau laba ditahan masih dapat menyerap defisit.

Bila kuasi re-organisasi dilakukan padahal masih terdapat laba ditahan, maka dapat menimbulkan distribusi aset sebagai dividen.

Padahal sebenarnya aset tersebut merupakan jaminan bagi kreditor untuk pinjaman yang ditanamkan.

Dengan kata lain, perusahaan mengumumkan dividen dengan membebankannya terhadap modal pemegang saham yang menjadi batas perlindungan kreditor.

Kuasi reorganisasi yang memenuhi syarat tidak dengan sendirinya merugikan kreditor.

Seperti juga pemegang saham, kreditor akan lebih dirugikan oleh adanya rugi daripada oleh fleksibilitas penyesuaian modal.

Yang jelas, dengan cara pengungkapan yang bagaimanapun, membiarkan laba ditahan tetap utuh, sementara rugi diserap dengan modal setoran adalah perlakuan yang menyesatkan bagi semua pihak yang berkepentingan.

 

05: Cara Menyajikan Laporan Laba Ditahan

Ada 3 cara untuk menyajikan Laporan Laba Ditahan, yaitu:

A: Menyajikan Laporan Laba Ditahan yang Terpisah

Saat laporan laba ditahan yang terpisah disiapkan, saldo awal laba ditahan dilaporkan.

Kemudian ditambahkan laba bersih atau dikurangi rugi bersih dan dikurangi dividen untuk mendapatkan saldo akhir laba ditahan pada periode tersebut.

Contoh laporan laba ditahan jenis ini adalah sebagai berikut:

contoh laporan laba ditahan

 

B: Menggabungkan Laporan Laba Ditahan dengan Laporan Laba Rugi

Format lain yang dapat digunakan untuk menyajikan laporan laba ditahan adalah dengan menggabungkannya dengan laporan laba rugi.

Kelebihannya adalah laporan tersebut menekankan laba bersih sebagai penghubung antara laporan laba rugi dengan bagian bagian laba ditahan dari ekuitas pemegang saham.

Karena bentuk kombinasi ini jarang digunakan.

 

C: Laporan Ekuitas Pemegang Saham

Penyajian laporan ditahan yang ketiga adalah di laporan ekuitas pemegang saham.

Perubahan yang signifikan dalam ekuitas pemegang saham harus dilaporkan dalam periode saat mereka terjadi.

Jika perubahan dalam ekuitas pemegang saham hanya terjadi pada laba bersih atau rugi bersih dan dividen, maka laporan laba ditahan saja sudah mencukupi.

Akan tetapi, saat perseroan juga mengalami perubahan dalam saham dan akun modal disetor lainnya, biasanya disiapkan laporan ekuitas pemegang saham.

Laporan tersebut seringkali disiapkan dalam format kolom, di mana setiap kolomnya menunjukkan klasifikasi ekuitas pemegang saham utama.

Perubahan dalam masing-masing klasifikasi kemudian dijelaskan di kolom sebelah kiri, dan berikut contoh tentang laporan ekuitas pemegang saham:

 

Laporan ekuitas pemegang saham

 

Perhatikan kolom-kolom yang menunjukkan klasifikasi ekuitas pemegang saham, antara lain:

  • saham preferen,
  • saham biasa,
  • tambahan modal disetor,
  • laba ditahan, dan
  • saham treasuri (treasury stock).

 

06: Kesimpulan – Laporan Laba Ditahan

Untuk memperkaya wawasan dan sebagai bahan perbandingantentang laporan laba ditahan, saya sajikan video singkat cara membuat laporan laba ditahan berikut:

Bagaimana, makin jelas kan?

Sampai di sini berarti cukup sudah apa yang saya sampaikan tentang cara membuat dan menyajikan laporan laba ditahan.

Moga bermanfaat dan terima kasih.

***

manajemen keuangan dan SOP