Analisis Risiko Investasi Dengan 4 Metode Pengukuran Ketidak-pastian Arus Kas

Selalu ada unsur ketidakpastian, selalu ada risiko investasi. Tidak ada jaminan bahwa arus kas yang kita harapkan benar-benar akan terealisir sesuai dengan harapan tersebut.

Bahkan dalam teori manajemen keuangan disebutkan bahwa seseorang bisa menjadi lebih kaya dibandingkan dengan yang lain adalah karena ia bersedia menanggung risiko yang lebih besar.

Mereka yang bersedia menanggung risiko yang lebih besar mempunyai peluang yang lebih besar untuk menjadi lebih kaya (dan juga untuk menjadi lebih miskin).

Masalahnya adalah bagaimana kita merumuskan risiko dalam investasi modal.

Dan pada kesempatan ini kita akan membahas risiko investasi dalam bentuk ketidak-pastian arus kas.

Mari dimulai…

 

01: Risiko Investasi dalam Artian Ketidak-pastian Arus Kas

risiko investasi adalah

Metode ini adalah mengukur risiko dalam bentuk ketidak-pastian arus kas.

Pendekatan ini menggunakan dasar pemikiran bahwa semakin tidak pasti arus kas suatu investasi, semakin berisiko investasi tersebut.

Dengan demikian analisis akan dipusatkan pada arus kas.

Dengan memperkirakan distribusi arus kas tersebut, bagaimana probabilitas suatu proyek akan menghasilkan NPV negatif?

Bagaimana kita bisa memperkirakan ketidak-pastian arus kas?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan-pertanyaan yang dicoba dijawab oleh metode ini.

 

Metode #1. Ketidakpastian Arus Kas

Bila kita pasti akan menerima sejumlah uang tertentu di masa yang akan datang, kita akan mengatakan bahwa penerimaan tersebut mempunyai sifat pasti (certainty).

Karena itu, investasi yang mempunyai karakteristik seperti itu dikatakan bersifat bebas risiko.

Sayangnya sebagian besar (kalau tidak seluruhnya) investasi pada aktiva riil, antara lain:

  • membangun pabrik,
  • meluncurkan produk baru,
  • membuka usaha dagang baru, dsb

Tiga contoh investasi riil itu merupakan investasi yang mempunyai unsur ketidakpastian atau mempunyai unsur risiko.

Jika kita berbicara tentang masa yang akan datang, dan ada unsur ketidakpastian, maka kita hanya bisa mengatakan tentang nilai yang diharapkan (expected value).

***

Sedangkan kemungkinan menyimpang dari nilai yang diharapkan diukur dengan deviasi standar. Secara formal kedua parameter tersebut bisa dinyatakan sebagai berikut:

risiko investasi dengan ukuran standar deviasi

Keterangan:

  • E(V) adalah nilai yang diharapkan
  • V = nilai pada distribusi ke –i (i=1… n)
  • P = Probabilitas ke i

 

rumus deviasi standar hitung investasi

Keterangan:

σ =  Deviasi standar niai tersebut

Perhatikan contoh penerapan rumus deviasi di atas untuk menilai risiko bisnis:

Misalkan ada dua proyek, A dan B yang mempunyai usia ekonomis hanya tahun.

Karakterisitik arus kas untuk kedua proyek tersebut adalah sebagai berikut:

ketidakpastian arus kas
Tabel: ketidakpastian arus kas

***

Dengan menggunakan rumus deviasi di atas, maka dapat dihitung:

E(VA) = Rp 5.000

E(VB) = Rp 5.000

Sedangkan:

σA = 1.095

σB = 894

Dengan demikian investasi A dinilai lebih berisiko dibandingkan investasi B.

Bila E(V) dari kedua investasi tersebut tidak sama, maka penggunaan  sebagai indikator risiko menjadi sulit dilakukan.

Untuk itu kemudian digunakan coefficient of variation, yang merupakan perbandingan antara /E(V).

***

Perhatikan contoh berikut:

Misalkan kita mempunyai informasi sebagai berikut:

menghitung risiko investasi
Tabel: Penggunaan coefficient of variation sebagai pengukur risiko investasi

Mereka yang menggunakan coefficient of variation mengatakan bahwa proyek C lebih berisiko dibandingkan dengan D, karena coefficient of variation lebih besar.

 

Metode #2. Operating Risk dan Ketidakpastian Arus Kas

identifikasi risiko investasi

Apa yang menyebabkan suatu perusahaan mempunyai ketidakpastian arus kas yang lebih besar dari perusahaan lain?

Bila faktor pendanaan kita pegang konstan, artinya perusahaan menggunakan struktur pendanaan yang sama, atau menggunakan modal sendiri seluruhnya.

Perusahaan yang mempunyai operating risk (risiko operasi) yang tinggi berarti bahwa laba operasi (yang menjadi sumber kas masuk) sangat peka terhadap perubahan penjualan.

Dengan kata lain, perubahan penjualan yang kecil akan mempengaruhi laba operasi cukup besar. Mengapa bisa demikian?

Penyebabnya adalah faktor operating leverage. Operating leverage menunjukkan penggunaan aktiva yang menimbulkan biaya tetap (fixed cost).

***

Biaya tetap adalah biaya yang tidak berubah meskipun aktivitas perusahaan berubah.

Untuk memudahkan analisis, seringkali perubahan biaya variabel ini dianggap proporsional.

Contoh biaya tetap adalah gaji para pimpinan, dan beban penyusutan.

Sedangkan contoh biaya variabel adalah biaya bahan baku, biaya bahan pembantu, dan komisi penjualan.

Pemikiran yang digunakan adalah bahwa biaya-biaya yang ditanggung oleh perusahaan bisa dibagi menjadi biaya tetap dan biaya variabel.

Dengan menggunakan 3 asumsi berikut:

  1. Biaya variabel per unit konstan
  2. Harga jual per unit konstan
  3. Biaya tetap total konstan sepanjang kapasitas produksi
Maka keadaan tersebut bisa digambarkan sebagai berikut:
investasi biaya tetap
Analisa biaya tetap, variabel dalam risiko investasi

Kita bisa lihat bahwa pada suatu titik tertentu akan terdapat situasi di mana penghasilan sama dengan total biaya (di sini biaya-biaya adalah biaya operasi, tidak termasuk biaya karena menggunakan utang).

***

Pada jumlah produksi dan penjualan itulah dikatakan bahwa perusahaan berada dalam keadaan impas (break event point).

Bagaimana cara memperoleh/menghitung titik impas (break event point) tersebut?

Bila:

V   = Biaya variabel per unit
FC = Biaya tetap total (artinya bukan per unit)
P   =  Harga jual per unit
Q  = Unit yang dihasilkan dan dijual
R   =  Penghasilan yang diterima dari penjualan
TC = Biaya total, yaitu biaya tetap total plus biaya variabel total.

Maka titik impas tercapai pada saat R = TC, ini berarti bahwa:

PQ = FC + VQ
FC = PQ – VQ
FC = Q (P-V)
Q  = FC : (P-V)

***

Untuk menjelaskan konsep break event point tersebut, perhatikan contoh berikut:

Misalkan PT ANNI mempunyai karakteristik biaya dan penghasilan sebagai berikut:

  • Penjualan diperkirakan bisa mencapai 1.000 unit dalam satu tahun
  • Harga jual Rp 1.000 per unit
  • Biaya tetap selama satu tahun sebesar Rp 300.000
  • Biaya variabel Rp 500 per unit

Berapa laba operasi yang diharapkan pada penjualan sebesar 1.000 unit?

“Laba operasi = Penghasilan – Total Biaya”

= (1.000 X Rp 1.000) – [Rp 300.000 + (1.000 X Rp 500)]
= Rp 1.000.000 – Rp 800.000
= Rp 200.000

Perusahaan yang lain, PT Parakan Canggah, juga mengharapkan:

  • Mampu menjual 1.000 unit dalam satu tahun
  • Harga jual Rp 1.000 per unit
  • Biaya tetap perusahaan Rp 500.000 per tahun
  • Biaya variabel Rp 300 per unit.

Bila kita hitung laba operasi pada penjualan sebesar Rp 1.000 unit, maka kita akan memperoleh angka yang sama dengan PT ANNI, yaitu Rp 200.000.

Meskipun demikian, jika kita hitung titik impas (BEP) kedua perusahaan tersebut, kita akan memperoleh hasil yang berbeda.

***

Perhatikan perhitungan berikut:

Untuk PT ANNI:

Q = 300.000 : (1.000 – 500)
= 600 unit

Untuk PT Parakan Canggah:

Q = 500.000 : (1.000 – 300)
= 714 unit

Kita lihat bahwa titik impas PT Parakan Canggah lebih besar bila dibandaingkan dengan PT ANNI. Hal tersebut menunjukkan bahwa risiko PT Parakan Canggah lebih besar dari pada PT ANNI.

Untuk melihat ketidak-pastian arus kas, kita bisa melakukan analisis terhadap laba operasi perusahaan. Laba operasi memang tidak sama dengan arus kas.

Meskipun demikian perusahaan yang mempunyai laba operasi yang besar akan mempunyai arus kas yang besar pula.

***

Perhatikan analisis risiko investasi berikut ini:

Misalkan penjualan menurun sebesar 10%. Apa yang terjadi terhadap laba operasi kedua perusahaan tersebut.

Perhatikan tabel perhitungan berikut ini:

hubungan risiko investasi dengan ekspektasi imbal hasil
Tabel pengaruh penurunan penjualan terhadap laba operasi

Dari tabel di atas kita bisa melihat bahwa penurunan laba operasi untuk PT Parakan Canggah lebih besar dari PT ANNI.

Rasio antara penurunan laba operasi dengan penurunan penurunan penjualan disebut sebagai degree of operating leverage.

Dalam contoh ini, degree of operating leverage PT Parakan Canggah LEBIH BESAR dari pada degree of operating leverage PT Anna.

Hal ini menunjukkan bahwa arus kas PT Parakan Canggah lebih tidak pasti.

***

Secara MUDAH akan dikatakan bahwa perusahaan yang mempunyai operating leverage yang tinggi akan mempunyai risiko yang tinggi pula.

PT Parakan Canggah mempunyai operating leverage yang tinggi karena proporsi biaya tetapnya lebih besar bila dibandingkan dengan PT ANNI.

Bagaimana cara menghitung degree of operating leverage?

Untuk menghitung degree of operating leverage pada tingkat penjualan tertentu, rumus persamaan berikut ini bisa dipergunakan:

degree of operating leverage pada X unit = X (P-V) : X (P-V) – FC

***

Satu hal yang perlu disadari adalah bahwa risiko tersebut mempunyai dua sisi.

Artinya, kalau terjadi KENAIKAN penjualan, maka penambahan nilai profitabilitas PT Parakan Canggah juga lebih besar.

Kita tidak mengatakan bahwa perusahaan yang berisiko lebih besar adalah perusahaan yang lebih jelek.

Perusahaan yang berisiko lebih besar berarti bahwa arus kasnya lebih tidak pasti.

Kemungkinan menyimpang dari yang diharapkan adalah lebih besar.

Meskipun demikian perlu diingat bahwa penyimpangan tersebut bisa menjadi lebih kecil ataupun lebih besar.

 

02: Risiko Investasi dalam Artian Risiko Proyek

jenis risiko investasi dan contohnya

Bila digunakan ketidakpastian arus kas sebagai pengukur risiko, maka pemikiran ini berarti bahwa semakin tidak pasti arus kasnya, atau semakin besar nilai deviasi standar arus kas tersebut, semakin berisiko proyek tersebut.

Masalah yang timbul adalah bahwa proyek investasi mempunyai jangka waktu cukup lama.

Sementara kita menaksir arus kas setiap tahun (termasuk ketidakpastiannya), proyek tersebut mungkin diharapkan akan menghasilkan arus kas selama beberapa tahun.

Dengan kata lain, kita perlu menaksir arus kas yang diharapkan (expected cash flow) dan deviasi standarnya pada tahun 1, tahun 2, sampai dengan tahun ke-n.

Untuk proyek secara keseluruhan, penghitungan deviasi standar  NPV perlu memperhatikan keterkaitan arus kas pada tahun 1 dengan tahun ke-2, tahun ke-2 dengan tahun ke-3, dan tahun ke –n dengan tahun ke-n.

***

Pada ekstrimnya, pola arus kas bisa dikelompokkan menjadi dua tipe, yaitu:
  1. Tidak mempunyai korelasi sama sekali (independen)
  2. Berkorelasi sempurna

Kemungkinan lainnya adalah bentuk-bentuk antara, atau dikenal sebagai berkorelasi moderat.

Masalah lain adalah pemilihan tingkat bunga yang dianggap relevan untuk menaksir NPV proyek tersebut.

Bila ketidakpastian arus kas digunakan sebagai pengukur risiko investasi, dan karenanya semakin tidak pasti arus kas, semakin besar risikonya.

Maka tingkat bunga yang dipergunakan tentunya tidak bisa mengakomodir faktor risiko tersebut.

Dengan kata lain, kita tidak bisa menggunakan tingkat bunga yang makin besar bila kita merasa bahwa ketidakpastian arus kas tersebut makin besar pula.

Mengapa?

Hal ini disebabkan oleh dua alasan, yaitu:

Pertama:

Kita belum bisa merumuskan hubungan risiko dengan tingkat bunga yang dipandang layak. Maksudnya, misalkan koefisien variasi arus kas adalah sebesar 0,4.

Angka ini lebih besar daripada proyek yang mempunyai arus kas 0,3.

Jika kita ingin memasukkan faktor risiko dalam penentuan tingkat bunga, bagaimana persamaannya? Sampai saat ini belum bisa dirumuskan persamaan yang berlaku.

Kedua:

Bila digunakan ketidakpastian arus kas sebagai indikator risiko dan kemudian arus kas tersebut di-present-value-kan dengan menggunakan tingkat bunga yang TELAH mengakomodir unsur risiko.

Berarti kita melakukan perhitungan ganda (double counting).

Kita memperlakukan risiko tersebut dua kali dalam analisis. Pertama, pada penentuan ketidakpastian arus kas. Dan kedua pada penggunaan tingkat bunga.

 

Metode #3. Mengukur Risiko Investasi untuk Arus Kas yang Independen

evaluasi risiko investasi

Arus kas yang independen berarti bahwa arus kas pada tahun n+1 tidak berkaitan dengan arus kas pada tahun n.

Artinya, bila arus kas pada waktu ke-n ternyata menurun 10% dari yang diharapkan, arus kas pada waktu n + 1 tidak mesti akan menurun sebesar 10% juga.

Bisa saja tetap sesuai dengan yang diharapkan, atau jika menyimpang tidak mesti sejalan dengan tahun ke-n.

***

Perhatikan contoh analisis risiko investasi berikut ini:

Misalkan suatu investasi sebesar Rp 11.000 pada tahun ke-0. Diharapkan usia ekonomis investasi tersebut adalah 3 tahun, dengan estimasi arus kas seperti proyek A pada tabel berikut ini:

jenis risiko investasi
Perhitungan Arus Kas Proyek

Diasumsikan bahwa pola arus kas tersebut adalah independen .

Apakah proyek tersebut MENGUNTUNGKAN?

Mari dianalisis bareng-bareng ya…

Untuk menganalisis risiko proyek tersebut kita akan menghitung:
  1. NPV yang diharapkan (expected NPV)
  2. Deviasi standar NPV tersebut

Perhitungan NPV ini dimaksudkan untuk memperkirakan RISIKO investasi proyek tersebut.

Untuk menghitung NPV yang diharapkan, formula yang digunakan adalah sebagai berikut:

rumus investasi proyek

Dalam hal ini C, adalah arus kas pada waktu ke-1, dan t=0 … n.

Perhatikan bahwa karena t dimulai dari waktu ke-0. Maka tanda untuk C, bisa positif (kas masuk) maupun negatif (kas keluar).

Sedangkan tingkat bunga yang digunakan adalah R, yaitu tingkat suku bunga bebas risiko.

Misalkan Ri  = 9%, dengan demikian maka NPV yang diharapkan adalah:

= -11.000 + 12.656
= +1.656

Apakah proyek tersebut menguntungkan?

Sulit untuk menjawabnya karena kita menghitung NPV yang diharapkan dengan menggunakan Ri.

Untuk melengkapi informasi, kita perlu menghitung deviasi standar NPV proyek tersebut.

Kembali ke hasil perhitungan di atas, apa arti hasil perhitungan tersebut?

Hasil tersebut menunjukkan bahwa proyek tersebut diharapkan memberikan NPV sebesar +Rp 1.656 (tetapi dihitung dengan Ri ) dengan mempunyai kemungkinan untuk menyimpang dari expected NPV tersebut.

***

Bila distribusi arus kas diperkirakan normal, dan kita berani mengasumsikan bahwa distribusi tersebut merupakan distribusi yang kontinu, maka kita bisa menggunakan bantuan Tabel Luas Area di bawah kurva normal sebagai berikut:

Tabel Luas Area
Tabel Luas Area

Tabel tersebut menunjukkan bahwa ada probabilitas sebesar Rp 15,77% untuk nilai yang lebih besar atau lebih kecil satu deviasi standar dari nilai yang diharapkan.

Dengan kata lain, hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa meskipun E(NPV) = +Rp 1.656, tapi ada probabilitas proyek tersebut akan menghasilkan NPV < 0.

Probabilitasnya adalah 15,77%.

***

Karena dalam penghitungan NPV digunakan tingkat bunga bebas risiko, maka hasil tersebut bisa ditafsirkan bahwa ada probabilitas sebesar 15,77%.

Proyek tersebut akan memberikan keuntungan lebih kecil dari menginvestasikan pada kesempatan yang bebas risiko.

Apakah dengan demikian proyek ini menguntungkan?

Di sinilah masalahnya. Metode ini tidak memberikan jawaban yang jelas, tapi tetap akan menggunakan judgement.

Maksudnya, bila probabilitas 15% ini dinilai cukup rendah, maka investor akan mengatakan proyek tersebut menarik.

Sebaliknya apabila dinilai terlalu tinggi, investor akan mengatakan bahwa proyek tersebut tidak menguntungkan.

Mengapa kita tidak bisa memutuskan untuk menerima proyek tersebut sedangkan proyek tersebut mempunyai E(NPV) = +Rp 1.656?

Jawabnya adalah karena perhitungan E(NPV) tersebut dilakukan dengan tingkat bunga bebas risiko.

 

Metode #4. Mengukur Risiko Investasi untuk Arus Kas yang Tidak Independen

jurnal risiko investasi

Seringkali arus kas pada suatu waktu berkorelasi dengan arus kas pada waktu berikutnya.

Dalam keadaan semacam itu kita perlu memperhatikan koefisien korelasi antar waktu dari arus kas.

Perhatikan contoh berikut ini:

variabel risiko investasi
Tabel: probabilitas arus kas beserta nilainya (dalam jutaan)

Misalkan suatu proyek berusia ekonomis dua tahun, memerlukan investasi sebesar Rp 40 juta.

Taksiran kas masuk setiap tahun beserta probabilitasnya disajikan pada tabel di atas.

Probabilitas kondisional P(2/1) berarti bahwa ada probabilitas sebesar 0,4 pada tahun ke-2 untuk memperoleh arus kas negatif Rp 60, bila pada tahun pertama arus kasnya negatif Rp 20.

Dengan demikian maka joint probability untuk arus kas seri 1 adalah:

= (0,30 X 0,40)
= 0,12

Demikian seterusnya sampai dengan seri ke-9

Misalkan tingkat keuntungan bebas risiko adalah 4%.

***

Untuk menghitung expected NPV kita perlu menghitung NPV dari arus kas seri 1 sampai dengan seri 9.

Arus kas seri 1 dihitung sebagai berikut:

= -40 – [20 : (1,04)] – [60 : (1,04)2]
= -114,70

Arus kas seri ke-2 adalah:

= -40 – [20 : (1,04)] – [20 : (1,04)2]
= -77,72

Demikian seterusnya.

***

Hasil perhitungan tersebut kita sajikan pada tabel berikut ini:
cara menghitung risiko sistematis
Tabel: cara menghitung risiko sistematis

Dengan demikian proyek tersebut diharapkan memberikan NPV yang dihitung dengan tingkat bunga bebas risiko sebesar Rp 21,53

Dan  mempunyai deviasi standar  sebesar Rp 79,96 dihitung dengan menggunakan rumus:

penggunaan rumus deviasi standar dalam investasi

Apakah proyek ini cukup aman?

Sekali lagi diperlukan judgement untuk memutuskan.

Karena proyek tersebut nampaknya tidak mempunyai distribusi normal.

Apa itu distribusi normal?

Pengertian distribusi normal adalah bahwa peluang untuk memperoleh nilai lebih kecil ataupun lebih besar dari rata-rata adalah sama.

Dan proyek ini nampaknya tidak mempunyai karakteristik tersebut.

***

Maka kita bisa memodifikasi informasi pada tabel di atas menjadi seperti berikut:

risiko bisnis
Tabel perhitungan NPV dan Probabilitas

Tabel di atas menjelaskan bahwa ada probabilitas sebesar 30% proyek tersebut akan menghasilkan NPV negatif.

Dengan kata lain ada 70% peluang untuk memperoleh NPV +Rp 16,95 atau lebih besar.

 

03: Metode Simulasi Monte Carlo (Monte Carlo Simulation)

makalah metode simulasi monte carlo

Kesulitan menggunakan cara-cara yang sudah dijelaskan di atas adalah menaksir conditional probability.

Lebih-lebih jika proyek tersebut mempunyai usia ekonomis yang cukup panjang. Kita akan sampai pada situasi jumlah seri NPV menjadi sangat banyak.

Sebenarnya masalahnya bukanlah sangat banyaknya seri NPV yang akan muncul, tetapi penaksiran probabilitas kondisional yang sangat banyak.

Metode yang mencoba menyederhanakan penaksiran probabilitas tersebut adalah dengan menggunakan metode simulasi Monte Carlo.

Simulasi bisa dan perlu dilakukan banyak kali sehingga diperlukan bantuan komputer, tetapi kelebihan metode simulasi Monte Carlo adalah penaksiran probabilitas tidak akan serumit persoalan di atas.

Untuk itu marilah kita perhatikan pemodelan dan contoh metode simulasi Monte Carlo berikut ini.

***

Misalkan tim analisis proyek yang mempunyai usia ekonomis 3 tahun sampai pada kesimpulan sebagai berikut:

1: Taksiran unit yang terjual setiap tahun adalah sebagai berikut:

taksira penjualan per tahun
taksira penjualan per tahun

2: Taksiran harga jual per unit setiap tahun adalah sebagai berikut:

taksiran harga jual per unit
Taksiran harga jual per unit

3: Biaya variabel per unit untuk setiap tahun adalah sebagai berikut:

contoh kasus risiko bisnis
taksiran biaya variabel

4: Biaya tetap yang bersifat tunai per tahun adalah sebagai berikut:

contoh resiko usaha dan cara mengatasinya
Taksiran biaya tetap

5: Beban penyusutan per tahun sebesar Rp 50 juta

6: Tarif pajak penghasilan 35%

7: Tingkat keuntungan bebas risiko 10%

8: Investasi pada awal tahun sebesar Rp 500 juta

9: Terminal cash flow pada tahun ke-3 sebesar Rp 350 juta

***

Bagaimana melakukan simulasi Monte Carlo?

Dalam ilustrasi di atas dipergunakan empat variabel yang tidak pasti sifatnya, yaitu:
  1. Unit yang terjual
  2. Harga jual
  3. Biaya variabel per unit
  4. Biaya tetap per unit

Karena itu simulasi dengan metode Monte Carlo bisa dilakukan misalnya dengan cara sebagai berikut:

Kita taruh empat tumpuk kartu di atas meja, yang masing-masing tumpuk terdiri dari 10 kartu dan kita beri nomor 1 s/d 10.

Tumpukkan pertama mewakili unit yang terjual, tumpukan kedua mewakili harga jual, tumpukan ketiga mewakili biaya variabel, dan tumpukkan ke-empat mewakili biaya tetap.

***

Untuk masing-masing tumpuk kartu setiap nomor mewakili nilai tertentu, yang bisa kita sajikan sebagai berikut:

contoh investasi
Contoh metode simulasi Monte Carlo

 

pemodelan dan simulasi metode monte carlo
contoh soal metode simulasi monte carlo

Simulasi dilakukan sebagai berikut:

Kita ambil satu kartu dari tumpukkan kartu I, tumpukkan II, III, dan IV.

Misalkan dari simulasi pertama terambil oleh kita kartu-kartu sebagai berikut:
  • Tumpukan I Kartu nomor 05
  • Tumpukan II Kartu nomor 10
  • Tumpukan III Kartu nomor 01
  • Tumpukan IV Kartu nomor 04

Ini berarti bahwa taksiran arus kas operasional setiap tahun adalah sebagai berikut:

pengertian metode simulasi monte carlo
Tabel: Perhitungan Laba

Kas masuk operasional:

= Rp 292.500.000 + Rp 50.000.000
= Rp 342.500.000

Dengan demikian NPV dari simulasi 1 ini bisa dihitung sebesar = +614.7

Kemudian kita bisa melakukan simulasi ke-2, ke-3 dan seterusnya sampai dengan jumlah yang kita pandang cukup.

Bukan hal yang aneh jika simulasi dilakukan sampai 100 kali, karena itu perlu digunakan bantuan komputer untuk membantu mempercepat perhitungan.

Dengan demikian akan diperoleh NPV1 s/d NPV100 .

Setelah kita memperoleh sejumlah besar NPV, maka kita bisa menyusun distribusinya. Ini berarti kita menghitung rata-rata NPV (sebagai NPV yang diharapkan) dan deviasi standar NPV-NPV tersebut.

***

Dan untuk menyegarkan ingatan serta menambah wawasan pengetahuan tentang risiko investasi, simak video singkat berikut ini…

 

04: Kesimpulan

Pada pembahasan ini risiko investasi adalah diartikan sebagai ketidakpastian arus kas. Semakin tidak pasti arus kas, semakin berisiko investasi suatu proyek.

Bila ketidakpastian arus kas ini diperhatikan dalam kontek proyek, maka umumnya dijumpai adanya korelasi antara arus kas pada waktu t dan pada waktu t + 1.

Pada waktu kita mulai memperhatikan faktor ketidakpastian ini, maka kita hanya dapat mengatakan bahwa NPV yang diharapkan dari suatu proyek adalah adalah bernilai tertentu.

Perhitungan NPV yang diharapkan menggunakan tingkat keuntungan bebas risiko, karena kemungkinan penyimpangan dari expected NPV tersebut yang digunakan sebagai ukuran risiko investasi.

Semakin besar kemungkinan menyimpang dari expected NPV, semakin besar risiko investasi suatu proyek.

Ukuran penyimpangan tersebut bisa digunakan deviasi standar atau koefisien variasi.

Bila diperhatikan faktor korelasi antar arus kas, maka penaksiran variance NPV menjadi lebih rumit, lebih-lebih bila proyek tersebut mempunyai usia ekonomis yang cukup lama.

Untuk itu kemudian diperkenalkan metode simulasi Monte Carlo. Kesulitan metode-metode tersebut adalah pada penaksiran probabilitas suatu variabel akan memperoleh nilai tertentu.

Bagaimanapun akhirnya unsur judgement masuk dalam penaksiran probabilitas tersebut.

Demikian yang dapat saya bagikan tentang metode pengukuran risiko investasi yang merupakan salah satu materi penting dalam manajemen keuangan.

Semoga bermanfaat. Terima kasih.*****

manajemen keuangan dan SOP