Cara Sederhana dan Mudah Membuat Neraca Saldo dari Buku Besar

Membuat neraca saldo dari buku besar adalah salah satu proses dalam menyusun Laporan Keuangan.

Sedikit berkreasi dengan memodifikasi proses penyusunan laporan keuangan dapat membantu memudahkan dan mempercepat penyelesaian pekerjaan.

Alih-alih hanya menggunakan metode yang sudah berjalan turun-temurun untuk membuat laporan keuangan,terus berusaha mencari cara yang lebih baik juga.

Dan sekarang kita akan sedikit berkreasi membuat neraca saldo dari buku besar.

Langsung saja, kita bahas satu per satu ya…

 

01: Buku Besar

Pengertian buku besar sudah sering dibahas dalam blog ini, namun tak ada salahnya untuk me-review lagi bahwa buku besar adalah kumpulan akun-akun yang berisi informasi saldo atau nilai transaksi pada periode tertentu.

Saldo setiap akun dalam buku besar diperoleh dari buku jurnal umum dan jurnal khusus.

Saya ambil contoh sederhana beberapa akun dari transaksi toko bangunan dan pemasok alat-alat konstruksi berikut:

Dalam membukukan transaksinya, perusahaan dagang ini menggunakan metode penyisihan untuk piutang tak tertagih.

1: Februari 01:

Menjual barang secara kredit kepada PT Kalibening sebesar Rp 8.000.000. Harga pokok penjualan sebesar Rp 4.5000.000

2: Maret 15:

Menerima wesel tagih 60 hari, bunga 12% per tahun sebesar Rp 8.000.000 dari PT Kalibening atas penjualan secara kredit.

3: April 9:

Menghapus piutang dari PT Gunungsari sebesar Rp 2.500.000 yang dianggap tak tertagih

4: April 21:

Meminjamkan uang kepada Pak Jono sebesar Rp 7.500.000 dan menerima wesel tagih 90 hari bunga 14% per tahun.

5: Mei 14:

Menerima pendapatan bunga jatuh tempo dari PT Kalibening dan menerima perpanjangan wesel tagih 90 hari, bunga 14% per tahun (catat kedua debit dan kredit ke akun wesel tagih)

6: Juni 13:

Mencatat kembali piutang, PT Gunungsari yang telah dihapus pada tanggal 9 April, dan menerima kas atas pembayaran piutang tersebut sebesar Rp 2.500.000

7: Juli 20:

Pak Jono tidak dapat menepati untuk membayar wesel tagih.

8: Agustus 12:

Menerima pembayaran wesel tagih tanggal 14 Mei yang telah jatuh tempo dari PT Kalibening

9: Agustus 19:

Menerima jumlah terutang dari wesel tagih yang tidak ditepati, ditambah bunga keterlambatan 30 hari pada tingkat 15% per tahun.

Dihitung berdasarkan nilai jatuh tempo wesel tagih.

10: Desember 16:

Menerima wesel tagih 60 hari, 12% per tahun sebesar Rp 12.000.000 dari PT Sikumpul atas pembelian secara kredit.

11: Desember 31:

Di-estimasi bahwa 2% dari penjualan kredit per 31 Desember sebesar Rp 375.000.000, dianggap tak tertagih.

Selanjutnya  perusahaan dagang tersebut mencatat transaksi-transaksi ke jurnal umum dan jurnal khusus berikut:

 

Pencatatan Jurnal Transaksi #1:

 

Pencatatan Jurnal Transaksi #2:

 

Pencatatan Jurnal Transaksi #3:

Keterangan:

Pendapatan bunga:
Rp 7.762.500 X 15% X (30/360) = Rp 97.030

Membuat ayat jurnal penyesuaian untuk mencatat akruan bunga per 31 Desenber dari wesel tagih PT Sikumpul:

Keterangan:

Estimasi Piutang Tak Tertagih:
= Rp 375.000.000 X 2% = Rp 7.500.000

Akruan bunga:
= Rp 12.000.000 X 12% X (15/360) = Rp 60.000

Setelah kita mencatat semua transaksi ke jurnal umum, langkah selanjutnya adalah memindahkan catatan-catatan tersebut ke buku besar sesuai dengan jenis akun.

Sampai di sini paham kan?

Yuk dilanjut…

Untuk memindahkan dan mengelompokkan serta menghitung jumlah saldo transaksi sesuai dengan jenisnya.

Maka untuk memudahkan pekerjaan ini saya buat 10 akun berikut ini:

  1. Kas
  2. Piutang usaha
  3. Wesel Tagih
  4. Persediaan
  5. Penyisihan Piutang Tak Tertagih
  6. Penjualan
  7. Harga Pokok Penjualan (HPP)
  8. Pendapatan bunga
  9. Beban Piutang Tak Tertagih
  10. Piutang Bunga

Nantinya, setiap transaksi dipindahkan sesuai dengan 10 jenis akun tersebut.

Dan setelah dipindahkan dan dihitung, maka diperoleh hasil seperti berikut ini:

Nah, dari buku besar di atas, kita dapat mengetahui, jumlah saldo tiap akun di sisi debit dan kredit.

Misalnya, akun kas. Jumlah total di sisi kredit adalah Rp 18.799.530 dan di sisi kredit Rp 7.500.000.

Sehingga saldo akhir akun Kas adalah sebesar Rp 11.299.530. Jumlah inilah yang kemudian dipindahkan ke neraca saldo.

 

02: Cara Membuat Neraca Saldo

Masih ingat apa itu neraca saldo kan?

Neraca saldo adalah laporan yang dibuat sebagai bukti kesamaan jumlah total sisi debit dan sisi kredit pada akhir periode akuntansi.

Ada sebagian penulis yang menyebut dengan istilah neraca percobaan, walaupun sebutan itu sebenarnya kurang tepat.

Kenapa?

Karena neraca saldo tidak hanya menyajikan saldo akun-akun neraca saja, tapi juga melaporkan saldo akun-akun laporan laba rugi.

Sudah jelas juga kan apa tujuan dan fungsi neraca saldo itu?

Iya benar, tujuan dan fungsi neraca saldo adalah untuk memeriksa apakah proses pemindahan (posting) dari buku jurnal ke buku besar sudah dilakukan dengan benar.

Cara untuk meyakinkan kebenaran itu adalah dengan memeriksa kesamaan jumlah sisi debit dan sisi kredit.

Jika jumlah kedua sisi itu sudah sama, maka sudah benar.

 

A: Format Neraca Saldo

Bagaimana format neraca saldo?

Ada 2 bagian dalam format neraca saldo, yaitu:
  • Bagian header, terdiri dari:
    • Nama perusahaan
    • Judul Laporan
    • Periode pelaporan
  • Bagian Isi Utama, terdiri dai:
    • Daftar akun yang digunakan untuk menyusun laporan
    • Saldo sisi Debit
    • Saldo sisi Kredit

Neraca saldo disajikan dengan menuliskan nama perusahaan di posisi paling atas, dalam contoh ini misalnya Toko Bangunan dan Konstruksi.

Diikuti dengan judul laporan, yaitu Neraca Saldo, serta tanggal penyajian, misalnya 31 Desember 2019.

Kemudian disajikan daftar akun-akun yang diposting dari buku besar beserta saldonya.

Format neraca saldo lengkap, secara sederhanya ditunjukkan dalam gambar berikut:

Keterangan: Format Neraca Saldo

 

B: Bentuk Neraca Saldo

Bentuk neraca saldo yang biasa digunakan adalah bentuk melajur ke bawah dengan bagian samping kanan berisi daftar saldo debit dan kredit.

Dengan menggunakan contoh akun yang digunakan dalam buku besar di atas, maka dapat digsmbarkan bentuk neraca saldo adalah sebagai berikut:

Bentuk neraca saldo

 

C: Cara Membuat Neraca Saldo dari Buku Besar.

Untuk membuat neraca saldo dari buku besar sebenarnya sangat mudah, kita tinggal memindahkan daftar akun dan saldo di buku besar ke dalam neraca saldo.

Dan hasilnya adalah seperti berikut ini:

Contoh neraca saldo.

Perhatikan baris terakhir pada neraca saldo di atas, jumlah sisi debit dan sisi kredit sama, yaitu sebesar Rp 35.359.530.

Kesamaan saldo ini sangat bermanfaat, karena kesalahan sering memengaruhi kesamaan jumlah debit dan kredit.

Jika jumlah sisi debit dan sisi kredit tidak sama, maka ada indikasi kesalahan yang telah terjadi saat melakukan posting jurnal ke buku besar.

 

03: Kesimpulan

Dengan terus berkreasi, kita akan “memiliki keistimewaan” tersendiri dalam menyusun Laporan Keuangan.

Memiliki cara yang semakin memudahkan pekerjaan kita dan orang lain dalam membuat laporan keuangan dan semua hal yang berkaitan dengannya.

Demikian yang bisa saya bagikan tentang tips sederhana membuat neraca saldo., dengan contoh transaksi dari toko bangunan dan alat konstruksi.

Semoga bermanfaat. Terima kasih.*****

Profesional lulusan ekonomi yang menekuni ERP (SAP), Accounting Software, Business Analyst dan berbagi pengalaman pekerjaan Finance & Accounting.