Inilah 5 Konsep Dasar Akuntansi

konsep dasar akuntansi

Ada 5 konsep dasar yang digunakan sebagai pedoman dalam menyusun prinsip akuntansi. Kelima dasar tersebut adalah :

Konsep dasar #1. Prinsip Biaya Historis (Historical Cost Principle)

Prinsip ini menghendaki digunakannya harga perolehan dalam mencatat aktiva, utang, modal dan biaya.

Yang dimaksud dengan harga perolehan adalah harga pertukaran yang disetujui oleh kedua belah pihak yang tersangkut dalam transaksi.

Harga perolehan ini harus terjadi dalam transaksi di antara dua belah pihak yang bebas (arm’s length transaction).

Harga perolehan ini dapat terjadi pada seluruh transaksi dengan pihak ekstern, baik yang menyangkut aktiva, orang, modal atau transaksi lainnya.

Karena biaya historis itu didasarkan pada harga pertukaran antara pihak-pihak yang bebas, terdapat kesulitan untuk menentukan besarnya harga perolehan jika syarat-syarat tersebut tidak terpenuhi.

Misalnya dalam  hak aktiva yang diterima sebagai hadiah .

Di sini tidak ada harga pertukaran yang terjadi dan juga kemungkinan yang memberi hadiah adalah pihak yang erat hubungannya dengan perusahaan.

Contoh di atas menunjukkan salah satu kesulitan, yang lain adalah seperti dalam hal pembelian barang lebih dari satu macam dengan satu harga, pertukaran aktiva dengan aktiva atau dengan saham.

Walaupun terdapat kesulitan-kesulitan seperti contoh di atas, sampai saat ini prinsip biaya historis masih tetap berlaku karena data biaya historis ini dianggap yang paling obyektif dan dapat diperiksa kebenarannya.

Objectivity dan verifiability ini menjadi dasar utama untuk penggunaan prinsip biaya historis.

Dalam prinsip ini, bila harga perolehan sudah ditentukan maka tidak akan diadakan perubahan-perubahan karena adanya perubahan nilai rupiah.

Dengan kata lain prinsip biaya historis ini erat prinsip biaya historis ini erat sekali kaitannya dengan asumsi bahwa unit moneter yang digunakan (rupiah) nilainya stabil.

Kenyataannya, niai rupiah selalu mengalami perubahan setiap periode.

Kenyataan inilah yang sering menimbulkan kritik terhadap penggunaan prinsip biaya historis.

Sehingga ada pengusulan untuk menggunakan prinsip lain yang memperhitungkan adanya perubahan nilai mata uang seperti price level adjustment dan current cost (value) accounting.

Konsep dasar #2. Prinsip Pengakuan Pendapatan (Revenue Recognition Principle)

Pendapatan adalah aliran masuk harta-harta (aktiva) yang timbul dari penyerahan barang atau jasa yang dilakukan oleh suatu unit usaha selama suatu periode tertentu.

Dasar yang digunakan untuk mengukur besarnya pendapatan adalah jumlah kas atau ekuivalennya yang diterima dari transaksi penjualan dengan pihak yang bebas.

Pembahasan kas secara detail ada di artikel : Metode Pengelolaan Kas Kecil.

Istilah pendapatan dalam prinsip ini merupakan istilah yang luas, di mana di dalam pendapatan termasuk juga pendapatan bunga, sewa, laba penjualan aktiva.

Batasan umum yang biasanya digunakan adalah semua perubahan dalam jumlah bersih aktiva selain yang berasal dari pemilik perusahaan.

Biasanya pendapatan diakui pada saat terjadinya penjualan barang atau jasa, yaitu pada saat ada kepastian mengenai besarnya pendapatan yang diukur dengan aktiva yang diterima.

Tapi ketentuan umum ini tidak selalu dapat diterapkan sehingga timbul beberapa ketentuan lain mengenai saat untuk mengakui pendapatan.

Pengecualian-pengecualian itu adalah pengakuan pendapatan pada saat produksi selesai, selama masa produksi dan pada saat kas diterima.

Pengakuan-pengakuan pada saat produksi selesai dapat digunakan dalam penambangan logam mulia seperti emas dan perak.

Barang-barang seperti itu mempunyai pasar yang pasti dengan harga yang pasti.

Karena adanya kepastian tentang besarnya pendapatan walaupun belum terjadi penjualan, pendapatan dapat diakui pada saat produksi selesai.

Pengakuan pendapatan selama masa produksi biasanya terjadi dalam kontrak pembangunan jangka panjang.

Di sini pendapatan diakui berdasarkan persentase penyelesaian dalam pekerjaan pembangunan walaupun belum terjadi serah terima.

Dengan cara ini pendapatan dapat diakui dalam periode-periode di mana pekerjaan pembangunan dikerjakan dan tidak harus menunggu sampai seluruh pekerjaan selesai dan dilakukan serah terima.

Pengakuan pendapatan pada saat penerimaan uang dapat terjadi dalam penjualan angsuran.

Dalam transaksi penjualan seperti ini, kepastian tentang penerimaan seluruh harga jual adalah kecil karena lamanya waktu angsuran.

Oleh karena kecilnya kepastian ini maka pendapatan diakui sebesar jumlah uang yang sudah diterima.

 

Konsep dasar #3. Prinsip Mempertemukan (Matching Principle)

Prinsip mempertemukan adalah mempertemukan biaya dengan pendapatan yang timbul karena biaya tersebut

Prinsip ini berguna untuk menentukan besarnya penghasilan bersih setiap periode.

Karena biaya tersebut harus dipertemukan dengan pendapatannya maka pembebanan biaya sangat tergantung pada saat pengakuan pendapatan.

Bila pengakuan suatu pendapatan ditunda, maka pembebanan biayanya juga akan ditunda sampai saat diakuinya pendapatan.

Penerapan prinsip ini juga menghadapi beberapa kesulitan.

Misalnya dalam hal biaya-biaya yang tidak mempunyai hubungan yang jelas dengan pendapatannya, maka sulit untuk mempertemukan biaya dengan pendapatannya.

Sebagai contoh biaya administrasi  dan umum tidak dapat dihubungkan dengan pendapatan perusahaan.

Kesulitan seperti ini diatasi dengan cara membebankan biaya-biaya tersebut ke periode terjadinya.

Biasanya biaya-biaya seperti ini disebut period costs.

Sebaliknya, biaya produksi seperti biaya bahan baku, upah langsung dan biaya produksi tidak langsung, mempunyai hubungan yang jelas dengan pendapatan, sehingga dapat dengan mudah dipertemukan.

Kesulitan yang lain seperti dalam hal biaya yang mempunyai manfaat untuk beberapa periode.

Biaya-biaya seperti ini ditunda pembebanannya karena mempunyai fungsi menimbulkan pendapatan.

Masalahnya adalah alokasi setiap periodenya.

Dasar alokasi yang digunakan dalam metode-metode penyusutan dan amortisasi hampir semuanya berdasarkan taksiran-taksiran yang tidak jelas hubungannya dengan pendapatan.

Ingin mengetahui metode yang paling tepat menghitung penyusutan? cari caranya di artikel : Cara Meningkatkan Nilai Penyusutan dengan Metode yang Tepat dan Akurat

Salah satu akibat dari prinsip ini adalah digunakannya dasar waktu (accrual basis) dalam pembebanan biaya.

Dalam prakteknya digunakan jurnal-jurnal penyesuaian setiap akhir periode untuk mempertemukan biaya dengan pendapatan.

 

Konsep dasar #4. Konsistensi (Consistency Principle)

Untuk mengetahui perkembangan dan kondisi perusahaan dari satu periode ke periode berikutnya dilakukan dengan cara membandingkan laporan keuangan suatu periode dengan periode lainnya.

Sebagaimana yang sudah kita ketahui tujuan penyusunan laporan keuangan ini adalah untuk menunjukkan keadaan keuangan dan hasil kegiatan perusahaan dalam satu periode akuntansi.

Agar tujuan tersebut dapat dicapai haruslah dipilih metode-metode dan prosedur-prosedur akuntansi yang paling sesuai dengan dengan kebutuhan dan tujuan perusahaan.

Dan agar laporan keuangan dapat  dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, maka metode dan prosedur-prosedur yang digunakan dalam proses akuntansi harus diterapkan secara KONSISTEN dari tahun ke tahun

Sehingga bila ada perbedaan antara suatu pos dalam dua periode dapat segera dapat diketahui bahwa perbedaan itu bukan selisih akibat penggunaan metode yang berbeda.

Konsistensi tidak dimaksudkan sebagai larangan penggantian metode, jadi masih dimungkinkan untuk mengadakan perubahan metode yang dipakai.

Tapi jika ada penggantian metode maka akibat (selisih) yang cukup berarti (material) terhadap laba perusahaan harus dijelaskan dalam laporan keuangan.

Hal itu tergantung dari sifat dan perlakuan terhadap perubahan metode atau prinsip tersebut.

 

Konsep dasar #5. Prinsip Lengkap (Full Disclousure Principle)

Prinsip Lengkap (Full Disclousure) adalah menyajikan informasi yang lengkap dalam laporan keuangan

Karena informasi yang disajikan itu merupakan ringkasan dari transaksi-transaksi dalam satu periode dan juga saldo-saldo dari rekening-rekening tertentu, tidaklah mungkin untuk memasukkan semua informasi yang ada ke dalam laporan keuangan.

 

Biasanya keterangan tambahan atas informasi dalam laporan keuangan dibuat dalam bentuk:

#1. Catatan kaki (footnotes)

Keterangan tambahan dengan menggunakan catatan kaki (footnotes) biasanya karena tidak diinginkan untuk mengganggu laporan keuangan yang dibuat.

Catatan kaki ini digunakan untuk menunjukkan hal-hal sebagai berikut :

  • Prinsip akuntansi yang digunakan.
  • Perubahan-perubahan, seperti perubahan dalam prinsip akuntansi, taksiran-taksiran, kesatuan usaha dan juga kalau ada koreksi-koreksi kesalahan. Catatan kaki ini juga menunjukkan perlakuan terhadap perubahan-perubahan tersebut, apakah dengan cara kumulatif dan retroactif.
  • Adanya kemungkinan timbulnya rugi atau laba bersyarat.
  • Informasi tentang modal perusahaan, seperti jumlah lembar saham.
  • Kontrak-kontrak pembelian.

#2.Menuliskan dengan tanda kurung di bawah elemen yang bersangkutan atau dengan memakai rekening-rekening tertentu

Keterangan tambahan yang ditunjukkan dalam laporan keuangan dengan cara catatan dalam kurung biasanya dibuat bila keterangan tersebut tidak terlalu panjang.

Penggunaan rekening sebagai informasi tambahan memerlukan proses pencatatan seperti transaksi-transaksi lainnya.

Cara ini biasanya digunakan untuk menunjukkan metode-metode atau prinsip yang digunakan, misalnya penentuan harga pokok persediaan menggunakan metode LIFO.

Metode ini bisa ditunjukkan sebagai keterangan dalam kurung.

Penggunaan rekening sebagai alat untuk menunjukkan adanya informasi tambahan digunakan untuk menunjukkan utang bersyarat seperti wesel yang didiskontokan.

#3. Mencantumkan dalam lampiran-lampiran.

Keterangan tambahan yang dibuat sebagai lampiran laporan keuangan biasanya digunakan untuk menunjukkan perhitungan-perhitungan detail yang mendukung suatu jumlah tertentu atau menunjukkan informasi-informasi keuangan berdasar pada indeks harga (price level adjustment).

Keterangan-keterangan dari pimpinan perusahaan mengenai usaha perusahaan dapat juga dibuat dalam bentuk lampiran.

Demikianlah pembahasan mengenai KONSEP Dasar Akuntansi.

Semoga bermanfaat.

***

2 Komentar

  1. Aduh aku bacanya pusing. Kayaknya seribet itu ya akuntansi? Apa aku aja yang ga terbiasa ngurusin keuangan, makanya kesannya jadi ribet?

    Tapi tetap aku share ah, siapa tahu ada teman yang butuh informasi ini.

Komentar ditutup.