Sudahkah Menerapkan Konsep Dasar Akuntansi dalam Bisnis Anda?

Prinsip dan konsep dasar akuntansi digunakan dengan tujuan agar Laporan Keuangan yang buat perusahaan sesuai dengan tujuannya.

Selain itu untuk mendukung tingkat akurasi informasi keuangan perlu juga digunakan asumsi, metode dan prosedur yang berlaku.

Tanpa memperhatikan itu, maka laporan keuangan hanya akan menjadi seonggok kertas yang tak ada nilainya.

Lalu apa saja konsep dasar akuntansi itu?

Mari dibahas…

 

01. Konsep Dasar Menurut Para Ahli

Konsep Dasar Menurut Para Ahli

Konsep dasar adalah abstraksi atau konseptualisasi  karakteristik lingkungan tempat atau wilayah diterapkannya pelaporan keuangan.

Berikut ini saya sajikan konsep dasar menurut para ahli dari berbagai sumber otoritas yang isinya berbeda-beda:

 

01: Paul Grady

Paul Grady melakukan studi untuk menginventarisasi praktik akuntansi di Amerika untuk mengidentifikasi berbagai faktor:

  • lingkungan,
  • kebiasaan,
  • konsep,
  • prinsip,
  • praktik,
  • metode, dan
  • teknik yang membentuk prinsip akuntansi berterima umum.

Grady mengidentifikasi sepuluh konsep dasar yang dianggap melandasi praktik bisnis dan akuntansi di sana.

Grady mendeskripsikan konsep dasar sebagai konsep yang mendasari kualitas kebermanfaatan.

Dan keterandalan informasi akuntansi atau sebagai keterbatasan (limitations) yang melekat pada laporan keuangan.

Sepuluh konsep dasar tersebut adalah:

  1. Struktur masyarakat dan pemerintah yang mengakui hak milik pribadi.
  2. Entitas bisnis spesifik (specific business entities)
  3. Usaha berlanjut (going concern)
  4. Penyimbolan secara mneter dalam seperangkat akun.
  5. Konsistensi antara periode untuk entitas yang sama.
  6. Keanekaragaman perlakuan akuntansi di antara entitas independen.
  7. Konservatisme
  8. Keterandalan data melalui pengendalian internal.
  9. Materialitas
  10. Ketepatan waktu dalam pelaporan keuangan memerlukan taksiran.

 

02: Accounting Principles Board

Accounting Principles Board (APB) menyebut konsep sebagai ciri-ciri dasar.

APB mengidentifikasi 13 konsep dasar yang merupakan karakteristik lingkungan diterapkannya akuntansi, yaitu:

  1. Entitas akuntansi (accounting entity)
  2. Usaha berlanjut
  3. Pengukuran sumber ekonomi dan kewajiban
  4. Periode-periode waktu
  5. Pengukuran dalam unti uang
  6. Akrual
  7. Harga pertukaran
  8. Angka pendekatan (approximation)
  9. Pertimbangan (judgment)
  10. Informasi keuangan umum
  11. Statemen keuangan berkaitan secara mendasar
  12. Substansi daripada bentuk
  13. Materialitas

 

03: Wol, Tearney, dan Dodd

Wolk dan Tearney mendaftar 4 konsep yang dianggap sebagai postulat dan beberapa konsep lain sebagai prinsip berorientasi masukkan (input-oriented principles) yaitu:

  • Recognition
  • Matching
  • Conservation
  • Disclosure
  • Materiality
  • Objectivity

Dan prinsip berorientasi keluaran (output-oriented principles) yaitu:

  • Comparability
  • Consistency
  • Uniformity

Empat konsept yang dkategorikan sebagai postulat adalah:

  1. Usaha berlanjut
  2. Periode waktu
  3. Entitas akuntansi
  4. Unit moneter (moneteary unit)

 

04: Anthony, dan Merchant

Anthony, dan Merchant mendaftar 11 konsep dasar yang dijadikan basis dalam membahas isi, bentuk, susunan, dan arti penting statemen keuangan.

  • Konsep dasar 1 sampai 5 dikategorikan sebagai dasar Laporan Posisi Keuangan (neraca)
  • Konsep dasar 6 sampai 11 dikategorikan sebagai dasar Laporan Laba Rugi.

Dan berikut 11 konsep dasar menurut Anthony, dan Merchant:

  1. Pengukuran dengan unit uang (money measurement)
  2. Entitas (entity)
  3. Usaha berlanjut
  4. Biaya
  5. Aspek ganda
  6. Periode akuntansi (accounting period)
  7. Konservatisme
  8. Realisasi
  9. Penandingan (matching)
  10. Konsistensi (consistency)
  11. Materialitas (materality)

 

05: Paton dan Littleton

Seperangkat konsep dasar yang dikemukakan Paton dan Littleton adalah konsep-konsep dasar yang dikenalkan sebelum sumber-sumber yang disebut sebelumnya.

Berikut adalah konsep-konsep dasar yang dikemukan oleh Paton dan Littleton:
  1. Entitas bisnis atau kesatuan usaha (the business entity)
  2. Kontinuitas kegiatan/usaha (continuity of activity)
  3. Penghargaan sepakatan (measured consideration)
  4. Biaya melekat (costs attach)
  5. Upaya dan capaian hasil
  6. Bukti terverifikasi dan objektif
  7. Asumsi (assumption)

Dari beberapa daftar di atas menunjukkan bahwa terdapat perbedaan tentang apa yang dimasukkan sebagai konsep dasar.

Perbedaan dapat terjadi karena perbedaan persepsi berbagai sumber tentang faktor lingkungan.

Atau karena perbedaan pendefinisian makna atau status suatu konsep sebagai konsep dasar.

Sebagai contoh, Grady menganggap bahwa hak milik pribadi adalah suatu konsep dasar, sedangkan ahli lain menganggap hak milik pribadi adalah faktor lingkungan.

Paton dan Littleton tidak memasukkan materialitas sebagai konsep dasar.

Karena mereka menganggap bahwa materialitas lebih merupakan kriteria pemilihan informasi dan karenanya kurang validitasnya sebagai konsep dasar.

Demikian juga, konsep taksiran sering tidak dimasukkan dalam konsep dasar.

Karena konsep taksiran lebih merupakan keterbatasan informasi keuangan daripada sebagai konsep itu sendiri.

Suatu konsep dasar acapkali adalah turunan atau konsekuensi logis dari konsep dasar yang lain.

Sehingga terjadi perbedaan tentang banyaknya konsep yang masuk dalam seperangkat konsep dasar.

 

02. Konsep Dasar Akuntansi

konsep dasar akuntansi

Dari banyaknya konsep dasar yang disampaikan oleh para ahli, berikut ini saya sajikan 17 konsep dasar yang digunakan sebagai pedoman dalam menyusun Laporan Keuangan, yaitu:

 

A: Konsep Dasar #1. Prinsip Biaya Historis (Historical Cost Principle)

Prinsip ini menghendaki digunakannya harga perolehan dalam mencatat aktiva, utang, modal dan biaya.

Yang dimaksud dengan harga perolehan adalah harga pertukaran yang disetujui oleh kedua belah pihak yang tersangkut dalam transaksi.

Harga perolehan ini harus terjadi dalam transaksi di antara dua belah pihak yang bebas (arm’s length transaction).

Harga perolehan ini dapat terjadi pada seluruh transaksi dengan pihak ekstern, baik yang menyangkut aktiva, orang, modal atau transaksi lainnya.

Karena biaya historis itu didasarkan pada harga pertukaran antara pihak-pihak yang bebas, terdapat kesulitan untuk menentukan besarnya harga perolehan jika syarat-syarat tersebut tidak terpenuhi.

Misalnya dalam  hak aktiva yang diterima sebagai hadiah .

Di sini tidak ada harga pertukaran yang terjadi dan juga kemungkinan yang memberi hadiah adalah pihak yang erat hubungannya dengan perusahaan.

Contoh di atas menunjukkan salah satu kesulitan, yang lain adalah seperti dalam hal pembelian barang lebih dari satu macam dengan satu harga, pertukaran aktiva dengan aktiva atau dengan saham.

Walaupun terdapat kesulitan-kesulitan seperti contoh di atas, sampai saat ini:

“Prinsip biaya historis masih tetap berlaku karena data biaya historis ini dianggap yang paling obyektif dan dapat diperiksa kebenarannya.”

Objectivity dan verifiability ini menjadi dasar utama untuk penggunaan prinsip biaya historis.

Dalam prinsip ini, bila harga perolehan sudah ditentukan maka tidak akan diadakan perubahan-perubahan karena adanya perubahan nilai rupiah.

Dengan kata lain prinsip biaya historis ini erat prinsip biaya historis ini erat sekali kaitannya dengan asumsi bahwa unit moneter yang digunakan (rupiah) nilainya stabil.

Kenyataannya, niai rupiah selalu mengalami perubahan setiap periode.

Kenyataan inilah yang sering menimbulkan kritik terhadap penggunaan prinsip biaya historis.

Sehingga ada pengusulan untuk menggunakan prinsip lain yang memperhitungkan adanya perubahan nilai mata uang seperti price level adjustment dan current cost (value) accounting.

 

B: Konsep Dasar #2. Prinsip Pengakuan Pendapatan (Revenue Recognition Principle)

Pendapatan adalah aliran masuk harta-harta (aktiva) yang timbul dari penyerahan barang atau jasa yang dilakukan oleh suatu unit usaha selama suatu periode tertentu.

Dasar yang digunakan untuk mengukur besarnya pendapatan adalah jumlah kas atau ekuivalennya yang diterima dari transaksi penjualan dengan pihak yang bebas.

Istilah pendapatan dalam prinsip ini merupakan istilah yang luas, di mana di dalam pendapatan termasuk juga pendapatan bunga, sewa, laba penjualan aktiva.

Batasan umum yang biasanya digunakan adalah semua perubahan dalam jumlah bersih aktiva selain yang berasal dari pemilik perusahaan.

Biasanya pendapatan diakui pada saat terjadinya penjualan barang atau jasa, yaitu pada saat ada kepastian mengenai besarnya pendapatan yang diukur dengan aktiva yang diterima.

Tapi ketentuan umum ini tidak selalu dapat diterapkan sehingga timbul beberapa ketentuan lain mengenai saat untuk mengakui pendapatan.

Pengecualian-pengecualian itu adalah pengakuan pendapatan pada saat produksi selesai, selama masa produksi dan pada saat kas diterima.

Pengakuan-pengakuan pada saat produksi selesai dapat digunakan dalam penambangan logam mulia seperti emas dan perak.

Barang-barang seperti itu mempunyai pasar yang pasti dengan harga yang pasti.

Karena adanya kepastian tentang besarnya pendapatan walaupun belum terjadi penjualan, pendapatan dapat diakui pada saat produksi selesai.

Pengakuan pendapatan selama masa produksi biasanya terjadi dalam kontrak pembangunan jangka panjang.

Di sini pendapatan diakui berdasarkan persentase penyelesaian dalam pekerjaan pembangunan walaupun belum terjadi serah terima.

Dengan cara ini pendapatan dapat diakui dalam periode-periode di mana pekerjaan pembangunan dikerjakan.

Dan tidak harus menunggu sampai seluruh pekerjaan selesai dan dilakukan serah terima.

Pengakuan pendapatan pada saat penerimaan uang dapat terjadi dalam penjualan angsuran.

Dalam transaksi penjualan seperti ini, kepastian tentang penerimaan seluruh harga jual adalah kecil karena lamanya waktu angsuran.

Oleh karena kecilnya kepastian ini maka pendapatan diakui sebesar jumlah uang yang sudah diterima.

 

C: Konsep Dasar Akuntansi #3. Prinsip Mempertemukan (Matching Principle)

tujuan audit manajemen

“Prinsip mempertemukan adalah mempertemukan biaya dengan pendapatan yang timbul karena biaya tersebut”

Prinsip ini berguna untuk menentukan besarnya penghasilan bersih setiap periode.

Karena biaya tersebut harus dipertemukan dengan pendapatannya maka pembebanan biaya sangat tergantung pada saat pengakuan pendapatan.

Bila pengakuan suatu pendapatan ditunda, maka pembebanan biayanya juga akan ditunda sampai saat diakuinya pendapatan.

Penerapan prinsip ini juga menghadapi beberapa kesulitan.

Misalnya dalam hal biaya-biaya yang tidak mempunyai hubungan yang jelas dengan pendapatannya, maka sulit untuk mempertemukan biaya dengan pendapatannya.

Sebagai contoh biaya administrasi  dan umum tidak dapat dihubungkan dengan pendapatan perusahaan.

Kesulitan seperti ini diatasi dengan cara membebankan biaya-biaya tersebut ke periode terjadinya.

Biasanya biaya-biaya seperti ini disebut period costs.

Sebaliknya, biaya produksi seperti biaya bahan baku, upah langsung dan biaya produksi tidak langsung, mempunyai hubungan yang jelas dengan pendapatan, sehingga dapat dengan mudah dipertemukan.

Kesulitan yang lain seperti dalam hal biaya yang mempunyai manfaat untuk beberapa periode.

Biaya-biaya seperti ini ditunda pembebanannya karena mempunyai fungsi menimbulkan pendapatan.

Masalahnya adalah alokasi setiap periodenya.

Dasar alokasi yang digunakan dalam metode-metode penyusutan dan amortisasi hampir semuanya berdasarkan taksiran-taksiran yang tidak jelas hubungannya dengan pendapatan.

Salah satu akibat dari prinsip ini adalah digunakannya dasar waktu (accrual basis) dalam pembebanan biaya.

Dalam prakteknya digunakan jurnal-jurnal penyesuaian setiap akhir periode untuk mempertemukan biaya dengan pendapatan.

 

D: Konsep Dasar Akuntansi #4. Konsistensi (Consistency Principle)

Bentuk badan usaha

Untuk mengetahui perkembangan dan kondisi perusahaan dari satu periode ke periode berikutnya dilakukan dengan cara membandingkan laporan keuangan suatu periode dengan periode lainnya.

Sebagaimana yang sudah kita ketahui tujuan penyusunan laporan keuangan ini adalah untuk menunjukkan keadaan keuangan dan hasil kegiatan perusahaan dalam satu periode akuntansi.

Agar tujuan tersebut dapat dicapai haruslah dipilih metode-metode dan prosedur-prosedur akuntansi yang paling sesuai dengan dengan kebutuhan dan tujuan perusahaan.

Dan agar laporan keuangan dapat  dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, maka metode dan prosedur-prosedur yang digunakan dalam proses akuntansi harus diterapkan secara KONSISTEN dari tahun ke tahun

Sehingga bila ada perbedaan antara suatu pos dalam dua periode dapat segera dapat diketahui bahwa perbedaan itu bukan selisih akibat penggunaan metode yang berbeda.

Konsistensi tidak dimaksudkan sebagai larangan penggantian metode, jadi masih dimungkinkan untuk mengadakan perubahan metode yang dipakai.

Tapi jika ada penggantian metode maka akibat (selisih) yang cukup berarti (material) terhadap laba perusahaan harus dijelaskan dalam laporan keuangan.

Hal itu tergantung dari sifat dan perlakuan terhadap perubahan metode atau prinsip tersebut.

 

E: Konsep Dasar Akuntansi #5. Prinsip Lengkap (Full Disclousure Principle)

Prinsip Lengkap (Full Disclousure) adalah menyajikan informasi yang lengkap dalam laporan keuangan

Karena informasi yang disajikan itu merupakan ringkasan dari transaksi-transaksi dalam satu periode dan juga saldo-saldo dari rekening-rekening tertentu.

Maka tidaklah mungkin untuk memasukkan semua informasi yang ada ke dalam laporan keuangan.

Keterangan tambahan atas informasi dalam laporan keuangan dibuat dalam bentuk:

#1. Catatan kaki (footnotes)

Keterangan tambahan dengan menggunakan catatan kaki (footnotes) biasanya karena tidak diinginkan untuk mengganggu laporan keuangan yang dibuat.

Catatan kaki ini digunakan untuk menunjukkan hal-hal sebagai berikut :

  • Prinsip akuntansi yang digunakan.
  • Perubahan-perubahan, seperti perubahan dalam prinsip akuntansi, taksiran-taksiran, kesatuan usaha dan juga kalau ada koreksi-koreksi kesalahan. Catatan kaki ini juga menunjukkan perlakuan terhadap perubahan-perubahan tersebut, apakah dengan cara kumulatif dan retroactif.
  • Adanya kemungkinan timbulnya rugi atau laba bersyarat.
  • Informasi tentang modal perusahaan, seperti jumlah lembar saham.
  • Kontrak-kontrak pembelian.

 

#2.Menuliskan dengan tanda kurung di bawah elemen yang bersangkutan atau dengan memakai rekening-rekening tertentu

Keterangan tambahan yang ditunjukkan dalam laporan keuangan dengan cara catatan dalam kurung biasanya dibuat bila keterangan tersebut tidak terlalu panjang.

Penggunaan rekening sebagai informasi tambahan memerlukan proses pencatatan seperti transaksi-transaksi lainnya.

Cara ini biasanya digunakan untuk menunjukkan metode-metode atau prinsip yang digunakan, misalnya penentuan harga pokok persediaan menggunakan metode LIFO.

Metode ini bisa ditunjukkan sebagai keterangan dalam kurung.

Penggunaan rekening sebagai alat untuk menunjukkan adanya informasi tambahan digunakan untuk menunjukkan utang bersyarat seperti wesel yang didiskontokan.

 

#3. Mencantumkan dalam lampiran-lampiran.

Keterangan tambahan yang dibuat sebagai lampiran laporan keuangan biasanya digunakan untuk menunjukkan perhitungan-perhitungan detail yang mendukung suatu jumlah tertentu

atau menunjukkan informasi-informasi keuangan berdasar pada indeks harga (price level adjustment).

Keterangan-keterangan dari pimpinan perusahaan mengenai usaha perusahaan dapat juga dibuat dalam bentuk lampiran.

Demikian 5 konsep dasar akuntansi, dan selanjutnya kita  akan membahas 12 konsep dasar akuntansi.

Let’s dive right in

 

F: Konsep dasar akuntansi #6: Kesatuan Usaha

makalah konsep dasar akuntansi

Konsep ini menyatakan bahwa perusahaan dianggap sebagai suatu kesatuan atau badan usaha ekonomi yang berdiri sendiri, bertindak atas namanya sendiri.

Dan kedudukannya terpisah dari pemilik atau pihak lain yang menanamkan dana dalam perusahaan.

Dan kesatuan ekonomi tersebut menjadi pusat perhatian atau sudut pandang ekuntansi.

Berdiri sendiri dan bertindak atas namanya sendiri berarti suatu kesatuan atau badan usaha diperlakukan sebagao orang (person).

Dengan demikian, konsep ini mempersonifikasikasi badan usaha, sehingga badan usaha dapat melakukan perbuatan hukum.

Dan ekonomi, misalnya membuat kontrak atau memiliki aset atas nama badan tersebut dan bukan atas nama pemilik.

Jadi, hubungan antara kesatuan usaha dan pemilik dipandang sebagai hubungan bisnis, hak dan kewajiban atau utang piutang.

Pemisahan kedudukan kesatuan usaha dan pemilik berarti fungsi manajemen terpisah dengan fungsi investasi.

Kesatuan usaha menjadi sudut pandang akuntansi berarti akuntansi berkepentingan dengan pelaporan keuangan kesatuan usaha, bukan pemilik.

Dengan kata lain, kesatuan usaha menjadi kesatuan pelapor (reporting entity) yang bertanggungjawab kepada pemilik.

Kesatusan usaha adalahpusat pertanggungjawaban. Laporan keuangan media pertanggungjawaban.

Konsep ini didukung legitimasi dari segi administrasi yang baik.

Secara administratif , pemisahaan antara pemilikan dan manajemen adalah praktik sehar yang sangat penting.

Dari segi yuridis, konsep ini sangat didukung legitimasinya dengan diakuinya bentuk badan usaha perseroan (PT) secara hukum.

Dan melalui ilustrasi gambar berikut ini disajikan konsep kesatuan usaha sacara diagramatik

 

konsep kesatuan
Penjelasan Diagramatik Tentang Kesatuan Usaha

 

Dengan pengertian ini, bila konsep kesatuan usaha dianut, maka konsep ini mempunyai beberapa implikasi sebagai berikut:

#1: Batas kesatuan

Walaupun secara yuridis kesatuan usaha didukung keberadaannya, batas kesatuan usaha dari sisi akuntansi bukanlah kesatuan yuridis atau hukum, melainkan kesatuan ekonomi.

Artinya, akuntansi memperlakukan badan usaha sebagai satu kesatuan ekonomi daripada kesatuan yuridis.

Batas kesatuan ekonomi adalah kendali oleh satu manajemen.

Oleh karena itu untuk menentukan kesatuan usaha sebagai pusat pertanggungjawaban keuangan, pertimbangan akuntansi adalah:

Apakah secara ekonomi satu kegiatan usaha atau lebih dapat dianggap berdiri sendiri sebagai satu kesatuan.

Oleh karena itu, standar akuntansi menentukan agar laporan keuangan konsolidasian disusun untuk perusahaan induk yang mempunyai beberapa perusahaan anak yang ada dibawah kendalinya.

 

#2: Ekuitas

Karena hubungan antara kesatuan usaha terpisah dengan pemilik.

Dan hubungan tersebut dianggap sebagai hubungan bisnis, konsep kesatuan usaha mempunyai implikasi terhadap pengertian akuitas.

Dari sudut pandang kesatuan usaha, secara konseptual ekuitas atau modal merupakan utang atau kewajiban perusahaan kepada pemilik.

Hal ini berlawanan dengan pengertian secara struktural  bahwa ekuitas adalah hak residual pemilik terhadap aset bersih.

 

#3: Pendapatan

Konsep kesatuan usaha dapat menjelaskan mengapa pendapatan diartikan sebagai kenaikan atau aliran masuk aset.

Dengan konsep kesatuan usaha, semua sumber ekonomi yang dimiliki atau dikuasai oleh perusahaan merupakan aset perusahaan bukan aset pemilik.

Dengan demikian pendapatan menambah ekuitas atau utang kesatuan usaha kepada pemilik.

 

#4: Biaya

Sejalan dengan pengertian pendapatan sebagai kenaikan aset, dapat dikatakan bahwa biaya mengurangi ekuitas.

Pendapatan dan biaya mempengaruhi ekuitas adalah akibat dianutnya konsep kesatuan usaha.

 

#5: Sistem berpasangan

Sistem berpasangan merupakan konsekuensi logis atau turunan dari konsep kesatuan usaha.

Hubungan bisnis antara manajemen dan pemilik mengakibatkan manajemen harus selalu mempertanggungjawabkan aset yang dikelola.

Ini berarti pengaruh transaksi terhadap hubungan bisnis dan posisi keuangan harus selalu ditunjukan.

Dan untuk melaksanakan hal ini dengan mudah dan nyaman, digunakanlah sistem berpasangan.

 

#6: Persamaan akuntansi dalam format Laporan Keuangan

Konsep kesatuan usaha memisahkan manajemen dengan penyedia dana (investor dan kreditor) dan manajemen harus bertanggungjawab kepada mereka.

Pertanggungjawaban menuntuk agar aset yang dipercayakan kepada manajemen selalu ditunjukkan sumber dan asalnya.

Pelaporan keuangan harus menunjukkan hubungan ini.

Hubungan fungsional inilah yang disebut persamaan akuntansi.

Persamaan akuntansi adalah cara mempresentasikan sistem berpasangan.

 

G: Konsep dasar akuntansi #7: keberlangsungan usaha

Konsep kontinuitas usaha atau keberlangsungan usaha menyatakan bahwa jika tidak ada tanda-tanda, gejala-gejala, atau rencana pasti di masa datang.

Bahwa kesatuan usaha tersebut akan berlangsung terus sampai waktu yang tidak terbatas.

Konsep ini akan menjadi pertimbangan pada saat penyusunan laporan keuangan.

Atau pada saat akuntansi menghadapi berbagai pilihan dalam proses perekayasaan dan penyusunan standar.

Karena kenyataan bahwa kelangsungan hidup perusahaan di masa datang pasti.

Dalam menghadapi ketidakpastian kelangsungan usaha, akuntansi menganut konsep ini.

Atas dasar penalaran bahwa harapan normal atau umum pendirian perusahaan adalah untuk berlangsung terus dan berkembang, bukan untuk mati atau dilikuidasi.

Validitas harapan normal ini juga didukung secara empiris dengan banyaknya perusahaan yang hidup cukup lama.

Perusahaan tidak didirikan untuk usaha-usaha yang sporadik.

Dan berjangka pendek dan begitu hasil yang diinginkan tercapai kemudian perusahaan dilikuidasi.

Karena likuidasi bukan merupakan harapan yang umum dalam pendirian perusahaan, harapan yang logis dan masuk akal adalah justeru kontinuitas usaha.

Semata-mata ada kemungkinan bahwa perusahaan akan bangkrut.

Atau bubar setiap saat tidak dapat dijadikan pegangan dalam perekayasaan pelaporan keuangan atau penyusunan standar.

Walaupun demikian, dalam kasus atau kondisi tertentu yang gejala atau kepastian bahwa perusahaan  akan mengalami masalah dengan kelangsungan hidupnya.

Perlakuan akuntansi khusus atas dasar likuidasi dapat diterapkan.

***

Konsep ini mempunyai implikasi terhadap:

#1: Makna laporan periodik.

Dengan konsep kontinuitas usaha, perusahaan berusaha untuk maju dan berkembang dengan jalan menciptakan laba terus menerus jangka panjang.

 

#2: Fungsi Laporan Laba Rugi

Untuk mengukur daya menghasilkan laba jangka panjang, aliran keberlangsungan sumber ekonomi masuk dan keluar kesatuan usaha perlu dibagi-bagi sesuai dengan periode waktunya.

Implikasi konsep ini terhadap standar adalah adanya ketentuan penyajian laporan komparatif.

Paling tidak untuk dua periode berturut-turut.

Karena daya menghasilkan laba jangka panjang menjadi perhatian.

Fluktuasi laba antar periode yang disebabkan oleh kondisi/kejadian istimewa, misalnya rugi atau laba luar biasa harus dilaporkan apa adanya pada periode tersebut.

Bukan langsung dilaporkan dalam perubahan ekuitas (laba ditahan).

Jadi penyusunan laporan laba rugi all-inclusivedan laba komprehensif sebenarnya dilandasi oleh konsep keberlangsungan usaha ini.

 

#3: Fungsi neraca dan penilaian elemennya.

Konsep keberlangsungan usaha sangat besar peranannya dalam mendasari penilaian komponen neraca dan interpretasi jumlah rupiah yang dimuat didalamnya.

Dengan konsep kontinuitas usaha, tujuan pelaporan neraca untuk menunjukkan sisa potensi-potensi jasa atau sumber ekonomi yang belum dikonsumsi dalam tahun yang berakhir pada tanggal neraca.

Dengan kata lain, neraca berfungsu untuk menunjukkan potensi jasa yang masih dimiliki kesatuan usaha untuk menghasilkan pendapatan dalam periode-periode berikutnya.

 

H: Konsep dasar akuntansi #8: Penghargaan Sepakatan

panorama konsep dasar

Konsep ini menyatakan bahwa jumlah rupiah/ harga agregat atau penghargaan sepakatan (measured consideration) yang terlibat dalam tiap transaksi.

Atau aktivitas pertukaran (exchange activities) merupakan bahan olah dasar akuntansi yang paling objektif.

Terutama dalam mengukur sumber ekonomi yang masuk (pendapatan) dan sumber ekonomi yang keluar (biaya).

Sebagai konsekuensi, komponen Laporan Keuangan diukur atas dasar penghargaan sepakatan tersebut.

Measured  bermakna bahwa penghargaan tersebut harus diukur dalam satuan moneter (uang) yang jumlahnya disepakati antara pihak yang bertransaksi.

Sehingga measured (sepakatan) dapat diartikan bahwa jumlah rupiah penghargaan adalah hasil pengukuran bersama bukan sepihak.

Kata yang paling obyektif menjadi kata kunci dalam konsep tersebut.

***

Konsep penghargaan kesepakatan ini dilandasi pemikiran bahwa fungsi akuntansi adalah menyediakan informasi yang berpaut dengan kegiatan perusahaan.

Yang sebagian besar terdiri atas transaksi pertukaran dengan perusahaan lain.

Objek yang terlibat dalam tiap transaksi atau kegiatan adalah fenomena atau realitas perusahaan.

Akuntansi berfungsi untuk menyimbolkan secara tepat bermacam-macam aktivitas atau transaksi perusahaan tersebut.

Secara kuantitatif dan bermakna sehingga informasi dapat disampaikan dengan baik dan efektif.

Penghargaan sepakatan adalah dasar kuantifikasi berbagai jenis obyek menjadi objek-objek homogenus yang paling obyektif untuk menyajikan hubungan antar  objek yang bermakna.

Penghargaan sepakatan tersebut akan dicatat dan diolah lebih lanjut dalam sistem akuntansi perusahaan.

Untuk dijadikan data kuantitatif dasar dalam penyusunan berbagai laporan manajerial dan Laporan Keuangan.

 

I: Konsep dasar akuntansi #9: Cost Melekat

Konsep ini menyatakan bahwa cost melekat pada obyek yang direpresentasikan sehingga cost bersifat mudah bergerak dan dapat dipecah-pecah.

Atau digabungkan kembali mengikuti obyek yang dilekatinya.

Berbagai cost mempunyai daya saling mengikat antara yang satu dengan lainnya mengikuti ikatan obyek-obyek yang disimbolkannya.

Bila berbagai komponen digabung menjadi suatu obyek atau barang baru.

Gabungan cost yang baru semata-mata adalah penggabungan berbagai cost pada tiap komponen tanpa memperhatikan nilai ekonomi baru yang melekat pada barang baru.

Dasar pikiran konsep ini adalah tujuan pengelompokan, pemecahan, dan penggabungan cost adalah untuk mengikuti aliran upaya dalam menyediakan produk dan jasa.

Produk biasanya mempunyai manfaat atau utilitas baru yang lebih besar daripada manfaat masing-masing komponen secara terpisah.

Dalam mengikuti aliran tersebut, berdasar jenis cost dikelompokkan kembali untuk menentukan cost yang melekat pada produk akhir.

Nilai tambahan baru yang dikandung produk tidak dicatat.

***

Cost melekat dilandasi oleh konsep cost yang disebut cost terkandung yaitu cost yang benar-benar terkandung dalam suatu obyek atau produk sebagai pasangan cost penggantian.

Cost penggantian adalah cost seandainya obyek tersebut tidak ada dan harus diadakan sehingga maknanya sama dengan cost kesempatan (opportunity cost).

Jadi, untuk barang sebagai hasil akhir aktivitas produksi, cost terkandaung adalah cost komponen yang melekat pada barang tersebut.

Sedangkan cost penggantian adalah price-aggregate yang tidak jadi diperoleh jika barang tersebut tidak ada.

Atau nilai keluaran/ harga jual yang harus dikorbankan kalau perusahaan tidak memproduksi barang tersebut (nilai masukan).

Jadi, cost melekat adalah konsep dasar untuk mendukung bahwa bahan olah akuntansi adalah biaya aktual yang sesungguhnya telah terjadi.

 

J: Konsep dasar akuntansi #10: Upaya dan Hasil

Konsep ini menyatakan bahwa biaya adalah upaya dalam rangka memperoleh hasil berupa pendapatan.

Dengan kata lain, tidak ada hasil (pendapatan) tanpa upaya (biaya).

Seperti pepatah Jawa “jer basuki mawa bea”, maksudnya adalah orang harus melakukan upaya untuk dapat memperoleh hasil yang diinginkan.

Secara konseptual pendapatan timbul karena biaya, bukan sebaliknya pendapatan menanggung biaya.

Artinya, begitu kesatuan usaha melakukan aktivitas produktif yang direpresentasikan dengan terhimpunya cost, maka pendapatan dikatakan telah terbentuk, walaupun dalam terealisasi.

Secara teknis, perusahaan sebagai kesatuan usaha harus menghasilkan atau menyedian barang dan jasa untuk menciptakan pendapatan.

 

K: Konsep dasar akuntansi #11: Bukti Terverifikasi dan Obyektif

Bukti Terverifikasi

Konsep ini menyatakan bahwa informasi keuangan akan mempunyai tingkat kebermanfaatan dan keterandalan yang cukup tinggi.

Bila terjadinya data keuangan didukung oleh bukti-bukti yang obyektif dan dapat diuji kebenarannya (keabsahannya/ keautentikannya).

Obyektivitas bukti harus dievaluasi atas dasar kondisi yang melingkupi penciptaan, pengukuran, dan penangkapan atau pengakuan data akuntansi.

Jadi, akuntansi tidak mendasarkan diri pada obyektivitas mutlak, melainkan pada obyektivitas relatif.

Yaitu obyektivitas yang paling tinggi pada waktu transaksi terjadi dengan mempertimbangkan keadaan dan tersediannya informasi pada waktu tersebut.

 

L: Konsep dasar akuntansi #12: Asumsi

Akuntansi memerlukan asumsi-asumsi sebagai landasan penalaran.

Konsep dasar dalam banyak hal merupakan asumsi atau paling tidak dilandasi oleh asumsi-asumsi yang validitasnya sulit diuji secara obyektif.

Tetapi bermanfaat untuk basis pemilihan konsep atau prinsip.

Validitas konsep dasar hanya dapat dievaluasi atas dasar intuisi, harapan normal, atau realitas empiris.

 

M: Konsep dasar akuntansi #13: Substansi daripada Bentuk

Konsep ini menyatakan bahwa dalam menetapkan suatu konsep di tingkat perekayasaan.

Atau dalam menetapkan standar ditingkat penyusun standar akuntansi akan menekankan makna atau substansi ekonomi suatu obyek atau kejadian daripada makna yuridisnya.

Meskipun makna yuridis mungkin menghendaki perlakuan akuntansi yang berbeda.

 

N: Konsep dasar akuntansi #14: Pengakuan Hak Milik Pribadi

Konsep ini menyatakan bahwa pengakuan hak milik pribadi harus dilindungi secara yuridis.

Tanpa konsep ini, kesatuan usaha tidak dapat memliki sumber ekonomi atau aset.

Pemilikan merupakan salah satu cara untuk memperoleh penguasaan.

 

O: Konsep dasar akuntansi #15: Keanekaragaman Akuntansi Antar Entitas

Konsep ini menyatakan bahwa perbedaan perlakuan akuntansi antar kesatuan usaha merupakan suatu hal yang tidak dapat dihindari.

Karena perbedaan kondisi yang melingkupi dan karakteristik kesatuan usaha individual.

Keunikan kesatuan usaha justeru menghendaki perlakuan akuntansi yang berbeda agar informasi keuangan lebih menggambarkan keadaan unit usaha yang sebenarnya.

Tentu saja, akuntansi juga menghendaki agar laporan keuangan dapat diperbandingkan antar perusahaan dalam batas-batas yang layak.

 

P: Konsep dasar akuntansi #16: Konservatisme/ Konsep Kehati-hatian

Konservatisme adalah sikap atau aliran dalam menghadapi ketidakpastian untuk mengambil tindakan atau keputusan atas dasar kemunculan (outcome) yang terjelek dari ketidakpastian tersebut.

Sikap konservatif juga mengandung makna sikap berhati-hati dalam menghadapi risiko dengan cara bersedia mengorbankan sesuatu untuk mengurangi risiko.

Jika akuntansi menganut konsep dasar konservatisme, dalam menyikapi ketidakpastian.

Akuntansi (penyusun standar) akan menentukan pilihan perlakuan.

Atau prinsip akuntansi yang didasarkan pada kemunculan keadaan, harapan, kejadian, atau hasil yang dianggap kurang menguntungkan.

Implikasi dari konsep ini terhadap pelaporan keuangan adalah akuntansi akan segera biaya atau rugi yang kemungkinan besar akan terjadi.

Tetapi tidak mengantisipasi pendapatan yang akan datang, walaupun kemungkinan terjadinya besar.

 

Q: Konsep dasar akuntansi #17: Pengendalian Internal Menjamin Keterandalan Data

Konsep ini menyatakan bahwa sistem pengendalian internal yang memadai merupakan sarana untuk mendapatkan keterandalan informasi yang tinggi.

Oleh karena itu pengendalian internal juga merupakan salah stu bentuk yang mendukung keterandalan angka-angka akuntansi.

 

03: Kesimpulan

Konsep dasar secara implisit melekat pada tiap penalaran dalam akuntansi.

Konsep dasar merupakan abstraksi atau konseptualisasi karkateristik lingkungan akuntansi.

Konsep dasar bersifat asumsi yang yang validitasnya tidak selalau dapat diuji, tapi bermanfaat sebagai basis penalaran.

Berbagai sumber menyajikan daftar konsep dasar yang berbeda-beda karena perbedaan persepsi terhadap arti penting suatu konsep untuk disebut sebagai konsep dasar.

Demikianlah pembahasan singkat mengenai KONSEP Dasar Akuntansi.

Semoga bermanfaat.

***

manajemen keuangan dan SOP

2 pemikiran pada “Sudahkah Menerapkan Konsep Dasar Akuntansi dalam Bisnis Anda?”

  1. Aduh aku bacanya pusing. Kayaknya seribet itu ya akuntansi? Apa aku aja yang ga terbiasa ngurusin keuangan, makanya kesannya jadi ribet?

    Tapi tetap aku share ah, siapa tahu ada teman yang butuh informasi ini.

Komentar ditutup.