Perbedaan Full Costing dan Variable Costing Beserta Contoh Kasus

Full costing dan variable costing adalah metode penentuan harga pokok produksi.

Perbedaan metode full costing dan variable costing adalah terletak pada perlakuan terhadap biaya produksi yang berperilaku tetap.

Adanya perbedaan perlakuan terhadap biaya produksi tetap ini akan mempunyai akibat pada 2 hal, yaitu:

  • Perhitungan biaya pokok produksi, dan
  • Penyajian laporan laba rugi.

Apa saja manfaat, keunggulan dan keterbatasan full costing dan variable costing?

Selengkapnya mari ikuti pembahasan besera contoh kasusnya berikut ini…

 

01: Perbedaan Full Costing dan Variable Costing dalam Penentuan Harga Pokok Produksi

penentuan harga pokok produksi

A: Unsur-unsur Harga Pokok Produk dalam Metode Full Costing

Full costing atau sering disebut absorption atau conventional costing adalah metode penentuan harga pokok produksi, yang membebankan seluruh biaya produksi yang biaya variabel maupun biaya tetap kepada produk.

Harga pokok produksi menurut metode full costing terdiri dari:

  • Biaya bahan baku = Rp xxx
  • Biaya tenaga kerja langsung = Rp xxx
  • Biaya overhead pabrik tetap = Rp xxx
  • Biaya overhead pabrik variabel = Rp xxx

Harga pokok produksi =  (a) + (b) + (c) + (d)

 

Dalam metode full costing, biaya overhead pabrik, baik yang berperilaku tetap maupun variabel.

Dibebankan pada produk yang diproduksi atas dasar tarif yang ditentukan di muka pada kapasitas normal atau atas dasar biaya overhead pabrik sesungguhnya.

Oleh karena itu, biaya overhead pabrik tetap akan melekat pada harga pokok persediaan produk dalam proses dan persediaan produk jadi yang belum laku dijual.

Dan baru dianggap sebagai biaya (unsur harga pokok penjualan/HPP) bila produk jadi tersebut telah terjual.

Karena biaya overhead adalah dibebankan keapda produk atas dasar tarif yang ditentukan di muka pada kapasitas normal.

Maka jika dalam suatu periode biaya overhead pabrik sesungguhnya berbeda dengan yang dibebankan tersebut, akan terjadi pembebanan overhead lebih atau pembebanan overhead pabrik kurang.

Jika semua produk yang diolah dalam periode tersebut belum laku dijual.

Maka pembebanan biaya overhead pabrik lebih atau kurang tersebut digunakan untuk mengurangi atau menambah harga pokok produk yang masih dalam persediaan tersebut.

Baik yang masih berupa persediaan produk dalam proses maupun produk jadi.

Namun jika dalam satu periode akuntansi tidak terjadi pembebanan overhead lebih atau kurang.

Maka biaya overhead pabrik tetap tidak mempunyai pengaruh terhadap perhitungan laba rugi sebelum produknya laku dijual.

 

B: Unsur-unsur Harga Pokok Produk dalam Metode Variable Costing

Variabel costing adalah metode penentuan harga pokok produksi yang hanya membebankan biaya-biaya variabel ke dalam harga pokok produk.

Harga pokok produk menurut metode variabel costing terdiri dari:

  • Biaya bahan baku = Rp xxx
  • Biaya tenaga kerja variabel = Rp xxx
  • Biaya overhead pabrik variabel = Rp xxx

Harga pokok produk = (a) + (b) + (c)

 

Metode variabel costing disebut juga dengan nama direct costing.

Istilah direct costing sebenarnya sama sekali tidak berhubungan dengan istilah direct cost (biaya langsung).

Pengertian langsung dan tidak langsungnya suatu biaya tergantung pada erat tidaknya hubungan biaya dengan obyek penentuan biaya.

Misalnya, produk proses, departemen, dan pusat biaya yang lain.

Dalam hubungannya dengan produk, biaya langsung (direct cost) adalah biaya yang sudah diidentifikasikan atau diperhitungkan secara langsung pada produk.

Bila pabrik hanya memproduksi satu jenis produk, maka semua biaya produksi adalah biaya langsung dalam hubungannya dengan produk.

Oleh karena itu, tidak selalu biaya langsng dalam hubunganya dengan produk adalah biaya variabel.

Sebagai contoh, suatu pabrik produk A hanya menghasilkan satu jenis produk yang berupa produk A saja.

Upah tenaga kerja pabrik yang dibayar bulanan dan tidak tergantung dari hasil produksinya, adalah biaya langsung terhadap produk A tesebut.

Namun bukan merupakan biaya variabel, karena tidak berubah sebanding dengan perubahan volume produksi.

Oleh karena itu, sebenarnya istilah direct cost adalah tidak tepat.

Karena metode ini berhubungan dengan penentuan harga pokok produk yang hanya memperhitungkan biaya produksi yang berperilaku variabel, dan bukan biya langsung (direct cost) saja.

Istilah yang paling tepat untuk metode direct costing adalah variabel costing.

 

C: Pembebanan Biaya

Dalam metode variabel costing, biaya overhead pabri tetap diperlakukan sebagai period costs dan bukan sebagai unsur harga pokok produk.

Sehingga biaya overhead pabrik tetap dibebankan sebagai biaya dalam periode terjadinya.

Dengan demikian biaya overhead pabrik tetap di dalam metode variabel costing tidak melekat pada persediaan produk yang belum laku dijual, tapi langsung dianggap sebagai biaya dalam periode terjadinya.

Metode full costing menunda pembebanan biaya overhead pabrik tetap sebagai biaya sampai saat produk yang bersangkutan dijual.

Jadi biaya overhead pabrik yang terjadi, baik yang berperilaku tetap maupun biaya variabel, masih dianggap sebagai aset (karena melekat pada persediaan) ,sebelum persediaan tersebut terjual.

Sebaliknya, metode variabel costing tidak menyetujui penundaan pembebanan biaya overhead overhead pabrik tetap tersebut.

Atau dengan kata lain, tidak menyetujui pembebanan biaya overhead tetap kepada produk.

Menurut metode variabel costing, penundaan pembebanan suatu biaya hanya bermanfaat jika dengan penundaan tersebut diharapkan dapat dihindari terjadinya biaya yang sama dalam periode yang akan datang.

 

Perhatikan contoh berikut ini:

Pada akhir tahun 2019, perusahaan memiliki 100 kg produk dalam proses yang telah menelan biaya produksi sebagai berikut:

  • Biaya bahan baku = Rp 5.000
  • Biaya tenaga kerja variabel = Rp 25.000
  • Biaya overhead pabrik variabel = Rp 50.000
  • Biaya overhead pabrik tetap = Rp 30.000

Jumlah biaya produksi = Rp 110.000

Biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik yang telah dikonsumsikan ke dalam pengolahan 100 kg produk tersebut baru dapat menyelesaikan 45% nya.

Sedangkan bahan baku Rp 5.000 tersebut akan dapat menyelesaikan 100 kg produk tersebut menjadi produk selesai.

Biaya bahan baku sebesar Rp 5.000 tersebut dibebankan sebagai harga pokok produk dalam proses dan melekat pada harga pokok persediaan yang dicantumkan dalam neraca per 31 Desember 2019.

Biaya bahan baku tersebut tidak dibebankan sebagai biaya dalam tahun 2019.

Tapi ditunda pembebanannya  dan pada tanggal 31 Desember 2019 dianggap sebagai aset (aktiva).

Dalam tahun 2019, perusahaan tidak akan mengeluarkan biaya bahan baku untuk 100 kg persediaan yang pada tanggal 31 Desember 2019 masih dalam proses tersebut.

Penundaan pembebanan biaya bahan baku tersebut memang bermanfaat.

Alasannya karena dengan penundaan biaya tersebut dapat menghindarkan dikeluarkannya biaya bahan baku untuk 100 kg produk dalam proses tersebut pada tahun 2019.

Begitu juga biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik variabel.

Biaya overhead pabrik tetap adalah biaya yang dalam jangka pendek tidak berubah dalam hubungannya dengan perubahan volume produksi.

Biaya tetap ini adalah fungsi waktu dan bukan merupakan fungsi produksi.

Ada atau tidak ada proses, biaya ini tetap terjadi.

Jadi, penundaan pembebanan biaya overhead pabrik tetap tersebut dan memperlakukan biaya tersebut sebagai aktiva tidak bermanfaat.

Jika dalam periode yang akan datang biaya overhead pabrik tetap tersebut akan tetap terjadi.

Sebagai contoh biaya tetap:

Jika biaya depresiasi mesin yang dihitung dengan metode garis lurus diperhitungkan ke dalam harga pokok produk.

Maka sebelum produk tersebut laku dijual, biaya depresiasi mesin melekat sebagai harga pokok persediaan.

Padahal dalam bulan berikutnya tetap akan diperhitungkan biaya depresiasi.

Sehingga menurut metode variabel costing, penundaan pembebanan biaya depresiasi ini (biaya tetap) tidak mempunyai manfaat.

Karena tidak dapat menghindari pengeluaran biaya yang sama dalam periode yang akan datang.

 

D: Period Cost Metode Full Costing dan Variable Costing

Dalam metode variabel costing, biaya overhead pabrik diperlakukan sebagai period cost, yaitu biaya yang dibebankan di dalam periode terjadinya.

Pengertian period cost dalam metode full costing dan variable costing adalah berbeda.

Mari ikuti penjelasan perbedaannya berikut ini..

 

#1: Period Cost dalam Metode Full Costing

Full costing mengadakan pemisahaan antara biaya produksi dengan period cost.

Biaya produksi adalah biaya yang dapat diidentifikasikan dengan produk yang dihasilkan.

Sedangkan period cost adalah biaya-biaya yang tidak ada hubungannya dengan produksi dan dibebankan sebagai biaya dalam periode terjadinya.

Biaya yang termasuk dalam period cost menurut metode full costing adalah:

  • biaya pemasaran, misalnya melalui Google Ads.
  • biaya administrasi & umum, baik biaya tetap maupun biaya variabel.

 

#2: Period Cost dalam Metode Variabel Costing

Pengertian period cost dalam metode variabel costing berbeda dengan metode full costing.

Menurut metode variabel costing, period cost adalah biaya untuk mempertahankan tingkat kapasitas tertentu untuk memproduksi dan menjual produk.

Dalam metode biaya variabel, jenis-jenis period cost meliputi seluruh biaya tetap atau seluruh biaya kapasitas (capacity cost).

Dengan demikian period cost menurut pengertian variabel costing adalah biaya yang dalam jangka pendek tidak berubah dalam hubungannya dengan perubahan volume aktivitas, yang meliputi:

  • biaya overhead pabrik tetap
  • biaya pemasaran tetap
  • biaya administrasi dan umum tetap.

 

02: Perbedaan Full Costing dan Variable Costing dalam Penyajian Laporan Laba Rugi

contoh kasus variabel costing dan full costing

Ditinjau dari penyajian Laporan Laba Rugi, perbedaan metode variabel costing dengan full costing adalah pada klasifikasi pos-pos yang disajikan dalam laporan laba rugi tersebut.

 

A: Laporan Laba Rugi Metode Full Costing

Laporan laba rugi yang disusun dengan metode full costing menitikberatkan pada penyajian unsur-unsur biaya menurut hubungan biaya dengan fungsi-fungsi pokok yang ada dalam perusahaan.

Dengan demikian laporan laba rugi metode full costing tampak seperti berikut ini:

PT Bening Fahima
Laporan Laba Rugi (Metode Full Costing)
Bulan Januari, Februari, Maret 2020

manfaat full costing
Laporan Laba Rugi Full Costing

Laporan laba rugi tersebut di atas menyajikan biaya-biaya menurut hubungan biaya dengan fungsi pokok dalam perusahaan manufaktur, yaitu:

  • fungsi produksi
  • fungsi pemasaran
  • fungsi administrasi dan umum

 

B: Laporan Laba Rugi Metode Variable Costing

Laporan Laba Rugi metode variabel costing lebih menitikberatkan pada penyajian biaya sesuai dengan perilaku biaya dalam hubungannya dengan perubahan volume aktivitas (classification by cost behavior).

Sehingga laporan laba rugi metode variabel costing adalah sebagai berikut:

PT Bening Fahima
Laporan Laba Rugi (Metode Variabel Costing)
Bulan Januari, Februari, Maret 2020

variable costing adalah
Laporan Laba Rugi Variabel Costing

Dalam laporan laba rugi variabel costing tersebut di atas biaya yang disajikan dalam satu kelompok tersendiri yang harus ditutup dari laba kontribusi yang diperoleh perusahaan sebelum timbul laba bersih.

Dengan menyajikan semua biaya tetap dalam satu kelompok tersendiri dalam laporan laba rugi ini, manajemen perusahaan dapat memusatkan perhatian pada perilaku biaya tetap ini.

Dan melakukan pengawasan terhadap biaya tersebut, baik dalam perencanaan jangka pendek maupun jangka panjang.

Untuk memperjelas uraian perbedaan metode variabel costing dan full costing berikut ini disajikan contoh perhitungan laba rugi dan penyajian Laporan Laba Rugi menurut masing-masing metode tersebut.

 

C: Perhitungan Laba Rugi Menurut Metode Variable Costing

Berikut ini disajikan contoh perhitungan laba rugi menurut metode full costing dan metode variabel costing untuk jangka waktu tiga bulan berturut-turut.

Perhatikan contoh kasus variabel costing dan full costing:

PT KAS Surabaya memproduksi satu jenis produk. Data produksi dan biaya bulan Januari, Februari, dan Maret 2020 disajikan berikut ini:

Biaya produksi
Tabel: Data Produksi dan Biaya

 

Biaya overhead pabrik dibebankan pada produk atas dasar unit produk yang dihasilkan .

Tarif biaya overhead pabrik dihitung atas dasar kapasitas produksi normal per bulan sebanyak 200 kg dengan taksiran biaya overhead pabrik variabel sebesar Rp 800.

Dan biaya overhead pabrik tetap sebesar Rp 1.600 sebulan. Tarif standar biaya overhead pabrik tersebut berasal dari perhitungan berikut ini:

Tarif biaya overhead pabrik:
= Rp 800 : 200
= Rp 4 per kg

Tarif biaya overhead pabrik tetap:
= Rp 1.600 : 200
= Rp 8  per kg .

 

Biaya produksi per unit menurut metode full costing dan variable costing dihitung sebagai berikut:

#1: Full Costing:

  • Biaya bahan baku = Rp 20
  • Biaya tenaga kerja Rp = 10
  • Biaya overhead variabel = Rp 4
  • Biaya overhead pabrik tetap = Rp 8

Biaya produksi per unit = Rp 42

 

#2: Variabel Costing:

  • Biaya bahan baku = Rp 20
  • Biaya tenaga kerja Rp = 10
  • Biaya overhead variabel = Rp 4
  • Biaya overhead pabrik tetap = 0

Biaya produksi per unit = Rp 34

Atas dasar data produksi dan biaya PT KAS Surabaya dan harga pokok per unit produk di atas.

Maka perbandingan cara penentuan harga pokok produk dan perhitungan laba rugi menurut full costing dan variable costing  disajikan seperti di atas (point #A dan #B).

 

 

D: Penjelasan Perbedaan Perhitungan Laba Rugi Metode Full Costing dan Variable Costing

Untuk memahami lebih mendalam metode variabel costing, berikut ini dijelaskan berbagai unsur perbedaan perhitungan laba rugi dua metode tersebut.

Dengan mendasarkan pada data-data contoh di atas:

  • Data produksi dan biaya PT KAS Surabaya
  • Data perhitungan laba menurut metode variabel costing dan full costing.

 

Perbedaan #1:

Perbedaan pokok antara metode full costing dan variable costing adalah terletak pada perlakuan terhadap biaya overhead pabrik tetap.

Jika misalnya:

a = Volume penjualan dalam satuan kuantitas
b = Volume produksi dalam satuan kuatitas
c = Biaya overhead pabrik tetap per periode.

Jumlah biaya overhead pabrik tetap per satuan yang dibebankan pada produk adalah sebesar = c/b.

Dalam metode full costing, biaya overhead pabrik tetap yang dibebankan kepada produk per periode adalah sebesar hasil kali biaya overhead pabrik tetap per satuan produk (c/b).

Dengan produk yang dijual dalam periode tersebut (a).

Metode variable costing membebankan seluruh biaya overhead pabrik tetap (c) ke ke dalam periode terjadinya dan dipertemukan dengan pendapatan (revenue).

Yang diperoleh dalam periode tersebut.

Dengan demikian selisih laba rugi yang dihitung menurut metode full costing dan variable costing dihitung dengan rumus sebagai berikut:

  • Beban biaya overhead pabrik tetap menurut full costing: (c/b). a
  • Beban biaya overhead pabrik tetap dengan variabel costing : c
  • Selisih laba rugi menurut full costing dan variable costing: c/b (a-b).

 

Dari rumus tersebut, maka dapat dijelaskan sebagai berikut:

Penjelasan A:

Jika volume penjualan sama dengan volume produksi  (a=b) maka c/b (a-b) hasilnya sama dengan 0.

Dengan demikian laba atau rugi yang dihitung dengan full costing sama dengan laba atau rugi yang dihitung dengan metode variable costing.

Laporan laba rugi full costing bulan Maret 2020 menghasilkan laba sebesar Rp 5.645, yang sama jumlahnya dengan laba yang dilaporkan oleh metode variable costing.

Biaya overhead pabrik tetap yang dibebankan pada persediaan awal, dan persediaan akhir dalam metode full costing mempunyai pengaruh terhadap perhitungan laba rugi bulan Maret sebagai berikut:

  • Biaya overhead pabrik tetap yang melekat pada persediaan awal:
    = 15 x Rp 8 = Rp 120
  • Biaya overhead pabrik tetap yang melekat pada persediaan akhir:
    = 15 x Rp 8 = Rp 120
  • Selisih laba bersih dengan metode full costing dan variable costing adalah 0.

Jadi, jika persediaan akhir sama dengan persediaan awal maka laba bersih menurut metode full costing akan sama dengan laba bersih menurut metode variabel costing.

Karena sebagian period costs (biaya overhead pabrik tetap) yang melekat pada persediaan awal yang dibebankan sebagai biaya dalam periode sekarang.

Sama dengan sebagian period costs yang ditunda pembebanannya dalam periode sekarang.

 

Penjelasan B:

Jika volume penjualan lebih besar dari volume produksi (a>b), maka rumus c/b (a-b) hasilnya positif.

Dan hal ini berarti metode full costing membebankan biaya overhead pabrik yang lebih besar jika dibandingkan dengan yang dibebankan dengan metode variabel costing.

Dan hal tersebut mengakibatkan laba dengan metode full costing lebih rendah bila dibandingkan dengan laba variabel costing.

Dengan demikian jika volume penjualan lebih besar dari volume produksi.

Metode full costing akan menghasilkan perhitungan laba bersih lebih rendah, jika dibandingkan dengan jika dihitung dengan metode variabel costing.

Pada bulan Februari 2020 metode full costing menghasilkan laba sebesar Rp 6.770.

Yang lebih rendah Rp 200 dbandingkan laba yang dihasilkan oleh metode variabel costing (Rp 6970).

Hal ini disebabkan karena adanya biaya overhead pabrik tetap yang oleh metode full costing, diperhitungkan ke dalam persediaan awal dan persediaan akhir bulan Februari.

Perbedaan jumlah biaya overhead pabrik tetap yang dibebankan pada persediaan awal dan persediaan akhir dalam metode full costing mempunyai pengaruh terhadap perhitungan laba rugi bulan Februari sebagai berikut:

  • Biaya overhead pabrik tetap yang melekat pada persediaan awal:
    = 40 x Rp 8 = Rp 320
  • Biaya overhead pabrik tetap yang melekat pada persediaan akhir:
    = 15 x Rp 8 = Rp 120
  • Selisih laba bersih dengan metode full costing dan metode variabel costing adalah Rp 200

Jadi, jika persediaan akhir lebih kecil dari persediaan awal, maka laba bersih menurut metode full costing akan lebih kecil dibanding dengan laba bersih menurut metode variabel costing.

Karena sebagian period costs yang melekat pada persediaan awal yang dibebankan sebagai biaya dalam periode sekarang lebih besar.

Bila dibandingkan dengan sebagian period costs yang melekat pada persediaan akhir yang ditunda pembebanannya dakam periode sekarang.

 

Penjelasan C:

Jika volume penjualan lebih kecil dari volume produksi (a<b), maka rumus c/b (a-b) hasilnya negatif.

Hal ini berarti metode full costing membebankan biaya overhead pabrik tetap lebih kecil dibandingkan dengan yang dibebankan dengan metode variabel costing.

Hal inilah yang mengakibatkan laba full costing lebih tinggi dibanding dengan laba variabel costing.

Dengan demikian jika volume penjualan lebih besar dari volume produksi.

Maka metode full costing akan menghasilkan perhitungan laba lebih tinggi jika dibandingkan dengan jika dihitung dengan metode variabel costing.

Perhatikan tabel perhitungan laba di atas.

Dalam bulan Januari  2020 dengan metode full costing menghasilkan laba Rp 7.050.

Lebih besar Rp 80 dibandingkan dengan laba variabel costing, yakni sebesar Rp 6.970.

Hal ini disebabkan karena full costing menunda pembebanan biaya overhead pabrik tetap dengan cara memperhitungkan biaya tersebut ke dalam persediaan akhir.

Full costing membebankan biaya overhead pabrik tetap sebagai biaya bila produknya telah terjual.

Sedangkan metode variabel costing membebankan biaya tersebut sebagai biaya dalam periode terjadinya.

Oleh karena itu, perbedaan pokok antara full costing dan variable costing adalah terletak pada saat pengakuan biaya overhead pabrik tetap sebagai biaya.

Perbedaan jumlah biaya overhead pabrik tetap yang dibebankan sebagai biaya bulan Januari dalam masing-masing metode tersebut adalah sebagai berikut:

  • Biaya overhead pabrik tetap yang melekat pada persediaan awal (mengurangi laba bersih):
    • = 30 x Rp 8 = Rp 240
  • Biaya overhead pabrik tetap yang melekat pada persediaan akhir (menambah laba bersih):
    • = 40 x Rp 8 = Rp 320
  • Selisih (lebih tinggi) laba versih metode full costing dan metode variabel costing adalah:
    • = Rp 320 – Rp 240
      = Rp 80

Oleh karena full costing menunda pembebanan biaya overhead pabrik tetap sebagai biaya dalam bulan Januari 2020.

Maka akibatnya adalah laba bersih bulan Januari 2020 menurut full costing lebih tinggi Rp 80 (Rp 7.050 – Rp 6.970)

Jadi jika persediaan akhir lebih besar dari persediaan awal, maka laba bersih menurut metode full costing akan lebih besar dibandingkan dengan laba bersih menurut metode variabel costing.

Karena sebagian period costs yang melekat pada persediaan awal yang dibebankan sebagai biaya dalam periode sekarang lebih lebih kecil.

Bila dibandingkan dengan sebagian period costs yang melekat pada persediaan akhir yang ditunda pembebanannya dalam periode sekarang.

 

Perbedaan #2:

Menurut metode full costing dalam Januari 2020 terjadi pembebanan kurang biaya overhead pabrik sebesar Rp 100 yang dihitung sebagai berikut:

  • Biaya overhead pabrik sesungguhnya:
    variabel = Rp 800
    tetap = Rp 1.700
    Jumlah = Rp 2.500
  • Biaya overhead pabrik yang dibebankan pada produk:
    variabel = 200 x Rp 4 = Rp 800
    tetap = 200 x Rp 8 = Rp 1.600
    Jumlah = Rp 2.400
  • Pembebanan kurang biaya overhead pabrik:
    = Rp 2.500 – Rp 2.400
    = Rp 100

 

Dalam bulan Februari 2020 terjadi pembebanan kurang biaya overhead pabrik sebesar Rp 380 yang dihitung sebagai berikut:

  • Biaya overhead pabrik sesungguhnya:
    variabel = Rp 660
    tetap = Rp 1.700
    Jumlah = Rp 2.360
  • Biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada produk:
    variabel = 165 x Rp 4 = Rp 660
    tetap = 165 x Rp 8 = Rp 1.320
    Jumlah = Rp 1.980
  • Pembebanan kurang biaya overhead pabrik:
    = Rp 2.360 – Rp 1.980 = Rp 380

 

Dalam bulan Maret 2020 terjadi pembebanan kurang biaya overhead pabrik sebesar Rp 380 yang dihitung sebagai berikut:

  • Biaya overhead pabrik sesungguhnya:
    variabel = Rp 660
    tetap = Rp 1.700
    Jumlah = Rp 2.360
  • Biaya overhead pabrik yang dibebankan pada produk:
    variabel = Rp 660
    tetap = Rp 1.320
    Jumlah = Rp 1.980
  • Pembebanan kurang biaya overhead pabrik:
    = Rp 2.360 – Rp 1.980 = Rp 380

 

Perbedaan #3:

Bila volume penjualan konstan dan volume produksi berubah, maka laporan laba rugi variabel costing menunjukkan laba atau rugi yang konstan.

Karena laba atau rugi tidak dipengaruhi oleh perubahan persediaan.

Sedangkan laporan laba rugi full costing akan menunjukkan laba atau rugi yang berubah, karena dipengaruhi oleh perubahan persediaan.

Pada tabel perhitungan laba di atas, pada bulan Januari dan Februari 2020, laba variabel costing menunjukkan laba yang konstan, yaitu sebesar Rp 6.970.

Di lain pihak, laporan laba rugi metode full costing bulan Januari dan Februari 2020 menyajikan laba yang berubah.

Yaitu Rp 7.050 pada bulan Januari 2020, dan Rp 6.770 pada bulan Februari 2020.

Meskipun tidak terjadi perubahan volume penjualan dan biaya per unit.

 

Perbedaan #4:

Bila volume produksi konstan, kedua metode tersebut akan menunjukkan laba yang berubah sesuai dengan penjualannya.

Yaitu bila volume penjualan naik, maka laba akan naik dan sebaliknya, bila volume penjualan turun, maka laba akan turun..

Tapi perubahan laba dalam dua metode tersebut tidak sama.

Karena di dalam metode full costing, perubahannya dipengaruhi oleh perubahan persediaan.

Perhatikan kembali tabel perhitungan laba di atas.

Dari tabel tersebut, kita bisa membaca bahwa produksi bulan Februari dan Maret 2020 tidak mengalami perubahan, yaitu 165 unit per bulan.

Karena pada bulan Maret 2020 terjadi penurunan volume penjualan.

Maka baik metode full costing maupun metode variable costing menyajikan laba yang menurun dalam dua bulan tersebut.

Namun penurunan laba tersebut tidak sama antara kedua metode tersebut.

Demikian yang dapat saya sampaikan mengenai materi akuntansi biaya yang membahas tuntas perbedaan metode full costing dan variable costing.

Semoga bermanfaaat. Terima kasih.

***

manajemen keuangan dan SOP