Perilaku Biaya: Pengertian, Penggolongan, Sifat, dan Cara Perhitungan

Pengetahuan tentang bagaimana perilaku biaya di bawah berbagai macam pengaruh adalah hal penting dalam:

  • pengambilan keputusan,
  • estimasi biaya di masa datang, dan
  • evaluasi terhadap pelaksanaan tindakan.

Dan dalam kesempatan ini, kita akan membahas tentang berbagai macam sifat dan cara penetapan pola perilaku biaya dengan perubahan volume kegiatan.

Langsung saja mari ikuti pembahasan lengkap berikut ini…

 

01: Pengertian Perilaku Biaya

perilaku biaya adalah

Sebenarnya apa yang dimaksud perilaku biaya?

Perilaku biaya adalah hubungan antara total biaya dengan perubahan volume aktivitas.

Berdasar perilaku biaya dengan perubahan volume kegiatan, biaya dapat dibagi menjadi tiga golongan yaitu;

  • Biaya Tetap
  • Biaya Variabel
  • Biaya Semi-variabel
Untuk keperluan perencanaan dan pengendalian, biaya tetap dibagi lagi menjadi dua, yaitu:
  1. Committed Fixed Costs
  2. Discretionary Fixed Costs
Biaya Variabel juga dibagi menjadi dua, yaitu:
  1. Engineered Variable Costs
  2. Discretionary Variable Costs

Mari dibahas satu-per-satu…

 

A: Biaya Tetap (Fixed Cost)

#1: Pengertian Biaya Tetap

Apa pengertian biaya tetap?

Biaya Tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tetap dalam kisar perubahan volume aktivitas tertentu.

Biaya tetap per satuan berubah dengan adanya perubahan volume aktivitas.

Biaya kapasitas atau Biaya tetap adalah biaya untuk mempertahankan kemampuan beroperasi perusahaan pada tingkat kapasitas tertentu.

Besar biaya tetap adalah dipengaruhi oleh:

Sebagai contoh biaya tetap dalam pengendalian keputusan pembelian generator listrik untuk keperluan pabrik.

Manajemen perusahaan akan memperhitungkan permintaan pasar dalam jangka panjang terhadap produk yang dihasilkan pabrik tersebut.

Selanjutnya permintaan pasar tersebut akan menentukan kapasitas generator listrik yang akan digunakan dalam menyediakan kebutuhan listrik untuk pabrik tersebut.

Manajemen perusahaan tidak akan membeli generator yang berkekuatan 5 megawatt, jika dalam jangka panjang, pabrik akan memerlukan listrik melebihi jumlah tersebut.

Pemilihan generator yang akan dibeli tersebut juga dipengaruhi oleh faktor teknologi.

Keputusan mengenai kapasitas generator dan teknologi yang akan dipilih ini, akan mempunyai akibat terhadap besarnya biaya tetap.

Strategi manajemen perusahaan dalam mengoperasikan generator tadi juga akan mempunyai pengaruh terhadap besarnya biaya tetap.

Misalnya apakah generator tersebut akan dijalankan dalam dua shift atau tiga shift.

Seringkali besarnya biaya tetap adalah hasil keputusan pengurangan biaya variabel dengan konsekuensi naiknya biaya tetap.

Sebagai contoh, sebuah bank memutuskan untuk membeli komputer untuk melayani nasabahnya guna menurunkan biaya karyawannya.

Pada umumnya, jika biaya tetap mempunyai proporsi tinggi bila dibandingkan dengan biaya variabel.

Maka kemampuan manajemen dalam menghadapi perubahan-perubahan kondisi ekonomi jangka pendek akan berkurang.

Seringkali keengganan manajemen untuk mengeluarkan biaya tetap adalah mencerminkan ketidakberanian manajemen perusahaan dalam mengambil risiko.

Dan kadang-kadang hal ini menyebabkan perusahaan tidak dapat menikmati laba.

Sebagai contoh, manajemen perusahaan memutuskan pembatalan pemasaran produk baru karena usaha ini memerlukan biaya tetap yang besar untuk riset, iklan, equipment dan modal kerja.

 

#2: Jenis Biaya Tetap

Untuk keperluan perencanaan dan pengendalian,  jenis/ macam macam biaya tetap dibedakan menjadi 2 adalah:

1: Committed Fixed Costs

Committed fixed cost adalah sebagian besar berupa biaya tetap yang timbul dari pemilikan pabrik, peralatan, dan organisasi pokok.

Perilaku committed fixed costs ini dapat diketahui dengan jelas melalui pengamatan terhadap perhitungan biaya berdasarkan aktivitas.

Biaya-biaya yang tetap dikeluarkan jika seandainya perusahaan tidak melakukan aktivitas sama sekali dan akan kembali ke aktivitas normal.

Misalnya, selama pemogokan karyawan atau kekurangan bahan yang memaksa perusahaan menutup sama sekali ativitas pabriknya.

Dalam hal ini Committed fixed costs berupa semua biaya yang tetap dikeluarkan, yang tidak dapat dikurangi guna mempertahankan kemampuan perusahaan dalam memenuhi tujuan-tujuan jangka panjangnya.

Sebagai contoh biaya tetap – committed fixed costs adalah biaya depresiasi , pajak bumi dan bangunan, sewa, asuransi, dan gaji karyawan utama.

Pengaruh keputusan dari bulan ke bulan dan dari tahun ke tahun terhadap Committed fixed costs  ini adalah kecil.

Biaya ini terutama dipengaruhi oleh ramalan/ estimasi penjualan jangka panjang.

Dalam perencanaan, fokus manajemen perusahaan terpusat pada pengaruh fixed cost ini terhadap perilaku biaya aktivitas tahun-tahun yang akan datang.

Jika seorang manajer akan memutuskan apakah ia akan membangun gedung dengan luas 5.000 m2 dan 15.000 m2.

Maka ia harus menentukan kombinasi yang optimal dalam pengeluaran sekarang dengan biaya operasi di masa yang akan datang.

Manajer tersebut dapat membangun gedung toko dengan kapasitas yang berlebihan, yang memerlukan pengeluaran sekarang yang besar.

Dengan harapan dapat menghemat biaya operasi dalam jangka panjang.

Karena biaya konstruksi per meter persegi mungkin akan jauh lebih tinggi di masa yang akan datang.

Setelah bangunan pokok ini dibuat, sedikit sekali pengaruh kebijakan manajemen perusahaan terhadap besarnya Committed fixed costs.

Oleh karena itu, ditinjau dari segi pengawasan biaya, manajemen perusahaan pada umumnya berusaha meningkatkan penggunaan fasilitas di masa sekarang, karena hal ini akan menaikan laba bersih.

Keputusan-keputusan yang berhubungan dengan pengeluaran modal pada umumnya terlihat dalam anggaran tahunan yang disebut anggaran pengeluaran modal (capital budget).

Pembuatan anggaran ini didasarkan pada ramalan penjualan jangka panjang.

 

2: Discretionary Fixed Costs

Pengertian Discretionary fixed cost/ biaya diskresioner adalah:

  • Biaya yang timbul dari keputusan penyediaan anggaran secara berkala (biasanya tahunan) yang secara langsung mencerminkan kebijakan manajemen puncak mengenai jumlah maksimum biaya yang di-ijinkan untuk dikeluarkan.
  • Biaya yang tidak dapat menggambarkan hubungan yang optimum antara masukkan dengan keluaran, yang diukur dengan volume penjualan, jasa, atau produk.

Discretionary fixed cost sering disebut juga dengan istilah managed atau programmed cost.

Discretionary fixed cost/ pengeluaran diskresioner adalah tidak mempunyai hubungan tertentu dengan volume aktivitas.

Contoh Discretionary fixed cost adalah biaya riset dan pengembangan, biaya iklan, biaya promosi penjualan, biaya program latihan karyawan, biaya konsultan.

Berbeda dengan committed fixed costs yang sulit untuk dikurangi dalam jangka pendek, Discretionary fixed cost ini dapat ditentukan sama sekali pengeluarannya atau kebijakan manajemen.

Keputusan mengenai besarnya Discretionary fixed cost ini dibuat pada awal tahun anggaran.

Setelah tujuan ditetapkan dan cara untuk mencapainya telah dipilih, maka biaya maksimum yang akan dikeluarkan ditetapkan dan disediakan di dalam anggaran.

Sebaga contoh, setelah tujuan riset dan pengembangan untuk tahun anggaran 2020 ditetapkan.

Misalnya untuk meneliti kemungkinan pemasaran produk baru.

Maka manajemen perusahaan kemudian menetapkan jumlah Rp 10.000.000 sebagai jumlah maksimum pengeluaran biaya riset dan pengembangan untuk mencapai tujuan tersebut.

Biaya tetap tersebut merupakan Discretionary fixed costs.

Seperti halnya dengan committed fixed cost, jika dikehendaki laba bersih yang maksimum, manajemen perusahaan harus membuat rencana dengan seksama besarnya Discretionary fixed costs ini.

Caranya dengan menentukan sumber-sumber yang akan dibeli dan dimanfaatkan dalam tahun anggaran.

Perencanaan terhadap Discretionary fixed cost ini jauh lebih penting bila dibandingkan dengan pengawasan rutin terhadap biaya ini.

Perhatikan gambar berikut ini:

biaya diskresioner adalah
Grafik Discretionary fixed cost

 

Discretionary fixed costs tidak dapat dihubungkan dengan keluarannya, karena tidak adanya hubungan antara masukkan dengan keluaran.

Atau adanya perbedaan waktu keluaran yang diperoleh dengan biaya yang dikorbankan untuk memperoleh keluaran.

Sebagai contoh biaya tetap jenis ini:

Biaya pelatihan karyawan sulit diukur keluarannya secara kuantatif, sehingga sulit untuk menentukan jumlah yang optimum besarnya biaya pelatihan karyawan.

Biaya iklan dan promosi yang dikeluarkan dalam tahun anggaran tertentu, seringkali membuahkan hasil dalam tahun anggaran yang lain, bahkan seringkali tidak dapat ditentukan hasilnya.

 

B: Biaya Variabel (Variable Cost)

Variable Cost

#1: Pengertian Biaya Variabel

Apa yang dimaksud biaya variabel?

Pengertian Biaya Variabel adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding dengan perubahan volume aktivitas.

Biaya variabel per unit konstan (tetap) dengan adanya perubahan volume aktivitas.

Contoh biaya variabel adalah Biaya bahan baku yang berubah sebanding dengan perubahan volume produksi.

Ada jenis biaya variabel yang perilakunya bertingkat (step like behavior) yang mempunyai perilaku sebagai step-variable costs.

Biaya ini naik atau turun tidak pada saat yang sama dengan perubahan volume aktivitas.

Setiap perubahan volume aktivitas tidak secara langsung diikuti dengan perubahan biaya.

Perhatikan grafik berikut yang memperlihatkan perbedaan antara biaya variabel yang berubah sebanding dengan perubahan volume aktivitas dan step-variable cost.

biaya variabel
Grafik Jenis Biaya Variabel

 

#2: Jenis Biaya Variabel

Seperti pada biaya tetap, untuk keperluan perencanaan dan pengendalian biaya, manajemen perusahaan membedakan biaya variabel menjadi 2, yaitu:

1: Engineered Variable Costs

Apa yang dimaksud engineered varyable cost?

Pengertian engineered variable cost adalah biaya yang memiliki hubungan fisik tertentu dengan ukuran aktivitas tertentu.

Hampir semua biaya variabel adalah engineered cost.

Engineered variable cost adalah biaya yang antara masukan dan keluarannya mempunyai hubungan erat dan nyata.

Jika masukkan (biaya) berubah maka keluaran akan berubah sebanding dengan perubahan masukan tersebut.

Sebaliknya, jika keluaran berubah maka masukkan (biaya) akan berubah sebanding dengan perubahan keluaran tersebut.

Contoh engineered variable cost bahan baku.

 

2: Discretionary Variable Costs

Kadang-kadang orang menganggap bahwa engineered variable cost sama dengan biaya variabel.

Telah disebutkan di atas bahwa hampir semua biaya variabel merupakan engineered cost.

Ttapi ada beberapa biaya variabel yang pantas untuk dikelompokkan ke dalam discretionary variable costs.

Hal ini disebabkan karena discretionary variable costs tersebut bersifat variabel.

Yakni biaya yang berubah sebanding dengan perubahan volume aktivitas karena manajemen memutuskan kebijakan demikian.

Dengan kata lain, discretionary variable cost adalah biaya yang masukan dan keluarannya memiliki hubungan erat namun tidak nyata (bersifat artifisial).

Jika keluaran berubah, maka masukkan akan berubah sebanding dengan perubahan keluaran tersebut.

Namun, jika masukkan berubah, keluaran belum tentu berubah dengan adanya perubahan masukkan tersebut.

Sebagai contoh adalah biaya iklan yang ditetapkan oleh manajemen perusahaan puncak sebesar 2% dari hasil penjualan akan berubah sebanding dengan perubahan volume penjualan.

Karena biaya ini berperilaku variabel atas kebijakan manajemen perusahaan (tidak berperilaku variabel secara nyata).

Maka jika biaya iklan dinaikkan belum tentu akan mengakibatkan kenaikan volume penjualan.

 

C: Biaya Semi Variabel

Apa yang dimaksud biaya semi variabel?

Pengertian biaya semi variabel adalah biaya yang memiliki unsur tetap dan variabel di dalamnya.

Unsur biaya tetap adalah jumlah biaya minimum untuk menyediakan jasa.

Sedangkan unsur biaya variabel adalah bagian dari biaya semi variabel dapat dilihat pada gambar berikut ini:

biaya semi variabel
Grafik penjelasan biaya semi variabel

 

02: Penentuan Pola Perilaku Biaya

perilaku biaya dalam akuntansi manajemen

Ada tiga faktor yang harus diperhitungkan dalam menetapkan pola perilaku suatu biaya.

Faktor #1: Harus dipilih biaya yang akan diselidiki pola perilakunya.

Biaya ini merupakan variabel tidak bebas (dependent variable) dan biasanya dinyatakan dengan simbol y.

 

Faktor #2: Harus dipilih variabel bebas (independent variable)

Yaitu sesuatu yang menyebabkan biaya tersebut berfluktuasi.

Dengan demikian variabel tidak bebas seperti biaya reparasi dan pemeliharaan dapat dinyatakan dalam suatu fungsi dari variabel bebas, seperti jam mesin.

Secara matematis, fungsi tersebut dinyatakan y = f(x).

 

Faktor #3: Harus dipilih kisaran aktivitas yang relevan (relevant range of activity)

Hubungan antara variabel bebas dan tidak bebas yang dinyatakan dalam fungsi biaya tersebut berlaku.

Fungsi tersebut dapat berupa fungsi linear atau non linear.

Para akuntan dan manajer biasanya menggunakan rumus biaya variabel fungsi linear:

y = a + bx

di dalam menggambarkan pola perilaku biaya: y adalah nilai variabel tidak bebas untuk setiap nilai variabel x tertentu.

Konstan a merupakan intercept, yaitu nilai variabel y bila x sama dengan nol.

b adalah slope, yaitu jumlah kenaikan nilai y untuk setiap kenaikan satu satuan x.

Nilai a dan b tersebut adalah koefesien.

Jika suatu biaya adalah proportionately variable cost, a akan sebesar nol.

Asumsi yang mendasari penggambaran hubungan linear antara total biaya dengan variabel bebas adalah sebagai berikut:

  1. Hubungan teknologi antara masukan dan keluaran harus linear.
    Sebagai contoh, setiap satuan produk selesai harus memerlukan jumlah bahan baku yang sama.
  2. Masukan yang dibeli harus sama dengan masukan yang digunakan. Sebagai contoh, setiap karyawan dimanfaatkan secara penuh.
  3. Harga pokok masukkan yang dibeli harus mempunyai fungsi linear dengan kuantitas yang dibeli.
    Sebagai contoh, harga bahan baku per satuan harus sama untuk jumlah pembelian berapapun.

 

Variabel bebas berikut ini dapat dipilih sebagai koefesien dalam fungsi linear tersebut:
  • Satuan produk yang dihasilkan
  • Berat bahan baku
  • Volume penjualan dalam rupiah
  • Jam tenaga kerja langsung
  • Upah tenaga kerja langsung
  • Jam mesin
  • Jarak yang ditempuh.

Dalam praktik biasanya hanya dipilih satu variabel bebas yang mempunyai pengaruh terbesar terhadap total biaya yang dikeluarkan.

Jika variabel bebas ini telah dipilih dan fungsi yang akan digunakan untuk menggambarkan pola perilaku biaya adalah linear, langkah selanjutnya adalah menentukan koefesien b (slope) dan a (intercept).

 

A: Metode Penaksiran Fungsi Linear

cara menghitung biaya

Ada dua pendekatan dalam memperkenalkan fungsi biaya, yaitu:

  1. Pendekatan historis (historical approach)
  2. Pendekatan analitis (analytical approach)

Dalam pendekatan historis, fungsi biaya ditentukan dengan cara menganalisis perilaku biaya di masa yang lalu dalam hubungannya dengan perubahan volume aktivitas dalam masa yang sama.

Sedangkan dalam pendekatan analitis diadakan kerjasama antara orang-orang teknik dan staf penyusun anggaran.

Tujuannya untuk mengadakan penyelidikan terhadap tiap-tiap fungsi (aktivitas atau pekerjaan) untuk menentukan:

  • Pentingnya fungsi tersebut
  • Metode pelaksanaan pekerjaan yang paling efisien
  • Jumlah biaya yang bersangkutan dengan pelaksanaan pekerjaan tersebut pada berbagai tingkat aktivitas.
Ada 3 metode untuk memperkirakan fungsi biaya dengan pendekatan historis, yaitu:
  1. Metode titik tertinggi dan terendah
  2. Metode biaya berjaga
  3. Metode kuadrat terkecil

Untuk lebih jelasnya, yukss dibahas masing-masing metode tersebut…

 

1: Metode Titik Tertinggi dan Terendah (High and Low Point Method)

Untuk memperkirakan fungsi biaya, dalam metode ini suatu biaya pada tingkat aktivitas yang paling tinggi dibandingkan dengan biaya tersebut pada tingkat aktivitas terendah di masa yang lalu.

Selisih biaya yang dihitung adalah unsur biaya variabel dalam biaya tersebut.

Perhatikan contoh soal perilaku biaya berikut ini:

Data aktivitas dan biaya reparasi dan pemeliharaan PT Xidev Jaya tahun 2020 disajikan dalam tabel berikut ini:

contoh soal perilaku biaya
Gambar: Data Aktivitas dan Biaya Reparasi tahun 2020 (dalam ribuan)

 

Dari data tersebut dapat diketahui bahwa aktivitas dalam bulan April 2020 adalah tingkat kegaiatan terendah.

Sedangkan aktivitas dalam bulan Agustus 2020 adalah tingkat aktivitas tertinggi.

Jumlah jam mesin dan biaya reparasi dan pemeliharaan mesin dua tingkat aktivitas tersebut dibandingkan dan dihitung selisihnya disajikan berikut ini:

#1: Jumlah jam mesin

Tertinggi = 8.000
Terendah = 4.000
Selisih = 4.000

#2: Biaya reparasi dan pemeliharaan

Tertinggi = Rp 1.000.000
Terendah = Rp 600.000
Selisih = Rp 400.000

Unsur biaya variabel dalam biaya reparasi dan pemeliharaan dihitung sebagai berikut:

Biaya variabel:
= Rp 400.000 : 4.000
= Rp 100 per jam mesin

Sedangkan perhitungan unsur biaya tetap dalam biaya reparasi dan pemeliharaan mesin adalah sebagai berikut:

#1: Titik Aktivitas Tertinggi

Biaya reparasi dan pemeliharaan mesin yang terjadi = Rp 1.000.000
Biaya reparasi dan pemeliharaan mesin:
= Rp 100 x 8.000
= Rp 800.000
Biaya reparasi dan pemeliharaan tetap:
= Rp Rp 1.000.000 – Rp 800.000
= Rp 200.000

 

#2: Titik Aktivitas Terendah

Biaya reparasi dan pemeliharaan mesin yang terjadi = Rp 600.000
Biaya reparasi dan pemeliharaan mesin:
= Rp 100 x 4.000
= Rp 400.000
Biaya reparasi dan pemeliharaan tetap:
= Rp Rp 600.000 – Rp 400.000
= Rp 200.000

Jadi biaya reparasi dan pemeliharaan mesin terdiri dari:
  • Biaya variabel Rp 100 per jam mesin
  • Biaya tetap Rp 200.000 per bulan.

Jika fungsi biaya reparasi dan pemeliharaan tersebut dinyatakan secara matematis, maka akan terbentuk fungsi linear sebagai berikut:

Y = 200.000 + 100X

Simbol y adalah biaya reparasi dan pemeliharaan, dan x adalah volume aktivitas yang dinyatakan dalam jam mesin.

Dengan persamaan linear tersebut dapat dilakukan estimasi biaya reparasi dan pemeliharaan untuk masa yang akan datang.

Misalnya di tahun anggaran 2020 perusahaan merencanakan kenaikan aktivitas produksi yang diperkirakan akan menaikkan volume aktivitas reparasi dan pemeliharaan menjadi 90.000 jam mesin.

Maka biaya reparasi dan pemeliharaan dapat diperkirakan dengan menggunakan persamaan linear tersebut sebagai berikut:

y = 200.000 + 100 (90.000)
y = 9.200.000

Pemisahan biaya semivariabel dengan menggunakan metode titik tertinggi dan terendah ini sangat kasar.

Karena dari 12 pasangan data aktivitas dan biaya pada tabel di atas, hanya diperhitungkan 2 pasangan data, yaitu pada aktivitas tertinggi dan terendah saja.

Sehingga tidak cukup mencerminkan perilaku biaya semivariabel yang diamati perilakunya.

 

2: Metode Biaya Berjaga (Standby Cost Method)

Metode ini mencoba menghitung  berapa biaya yang harus tetap dikeluarkan andaikata perusahaan ditutup untuk sementara, jadi produknya sama dengan nol.

Biaya ini disebut biaya berjaga, dan biaya berjaga ini adalah bagian yang tetap.

Perbedaan antarabiaya yang dikeluarkan selama produksi berjalan dengan berjaga adalah biaya variabel.

Untuk menggambarkan penerapan metode ini misalnya digunakan data aktivitas dan biaya reparasi dan pemeliharaan dalam tabel di atas.

Misalnya pada tingkat reparasi dan pemeliharaan 8.000 jam mesin per bulan biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 1.000.000.

Sedangkan menurut perhitungan, bila perusahaan tidak berproduksi, biaya reparasi dan pemeliharaan yang tetap harus dikeluarkan sebesar Rp 400.000 per bulan.

  • Biaya yang dikeluarkan pada tingkat 8.000 jam mesin = Rp 1.000.000
  • Biaya tetap (biaya berjaga) = Rp 400.000
  • Selisih = Rp 600.000
Biaya variabel per jam:

= Rp 600.000 : 8.000
= Rp 75 per jam mesin

Dengan demikian fungsi biaya reparasi dan pemeliharaan tersebut dapat dinyatakan secara matematis sebagai berikut:

Y = 400.000 + 75X

Simbol y adalah biaya reparasi dan pemeliharaan, dan x adalah volume aktivitas reparasi dan pemeliharaan dalam satuan jam mesin.

Perhatikan contoh soal perilaku biaya berikut ini:

Misalnya di dalam tahun anggaran 2020 perusahaan merencanakan kenaikan aktivitas produksi yang diperkirakan akan menaikkan volume aktivitas reparasi dan pemeliharaan menjadi 90.000 jam mesin.

Maka biaya reparasi dan pemeliharaan dapat diperkirakan dengan menggunakan persamaan linear tersebut sebagai berikut:

Y = 400.000 + 75 (90.000)
= 7.150.000

 

3: Metode Kuadrat Terkecil (Least Square Method)

Metode ini menganggap bahwa hubungan antara biaya dengan volume aktivitas berbentuk hubungan garis lurus dengan persamaan garis regresi  y = a + bx.

Di mana y merupakan variabel tidak bebas  (dependent variable) yaitu variabel yang perubahannya ditentukan oleh perubahan pada variabel x yang merupakan variabel bebas (independent variable).

Variabel y menunjukkan biaya, sedangkan variabel x menunjukkan volume aktivitas.

Penaksiran biaya dengan menggunakan persamaan regresi tersebut menghasilkan taksiran rata-rata biaya.

Biaya yang sesungguhnya terjadi pada tingkat aktivitas kemungkinan lebih tinggi atau lebih rendah dari angka rata-rata tersebut.

Penaksiran biaya tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan taksiran angka interval, yang diperkirakan biaya sesungguhnya berada di dalamnya.

Dengan cara menggunakan angka standard error of estimate.

Standard error of estimate ini dapat digunakan untuk menaksir interval biaya reparasi dan pemeliharaan yang diharapkan akan terjadi biaya yang sesungguhnya.

Atas dasar taksiran aktivitas 90.000 jam mesin dalam tahun anggaran 2020 dan tingkat kepercayaan (degree of confidence) sebesar 95%.

Maka dari hasil perhitungan menunjukkan kepada manajemen perusahaan bahwa diperkirakan biaya reparasi dan pemeliharaan akan berada dalam interval 10.358.375 dan 10.500.165.

 

03: Ukuran Volume Aktivitas Perilaku Biaya

Ukuran Volume Aktivitas

Pada contoh-contoh soal perilaku biaya di atas menggunakan jam mesin sebagai ukuran volume aktivitas/ aktivitas.

Dan dalam memilih ukuran volume aktivitas ada dua pertanyaan pokok yang harus dijawab, yaitu:

  1. Apakah ukuran yang akan digunakan didasarkan atas masukkan (input) atau keluaran (output)
  2. Apakah ukuran tersebut dinyatakan dalam satuan uang atau satuan fisik.

 

A: Ukuran Masukkan dan Keluaran dalam Perilaku Biaya

Ukuran masukkan berhubungan dengan sumber-sumber yang digunakan di dalam suatu pusat biaya (cost center).

Contohnya adalah di dalam pusat biaya produksi adalah ukuran volume aktivitas dapat dinyatakan dengan:

Ukuran keluaran berhubungan dengan barang dan jasa yang mengalir keluar dari suatu pusat biaya (cost center).

 

B: Ukuran Dalam Satuan Uang dan Fisik dalam Perilaku Biaya

Satuan ukuran volume aktivitas yang dinyatakan dalam satuan fisik seperti jam tenaga kerja langsung.

Kadang-kadang lebih baik bila dibandingkan dengan satuan rupiah, seperti biaya tenaga kerja langsung.

Karena ukuran yang pertama tidak dipengaruhi oleh perubahan harga atau tarif.

Kenaikan tarif upah akan menyebabkan naiknya biaya tenaga kerja langsung, meskipun sebenarnya tidak ada kenaikan volume aktivitas.

Oleh karena itu, di dalam situasi seperti ini, ukuran yang dinyatakan dalam satuan harga tenaga kerja langsung akan dapat menyesatkan.

 

04: Kesimpulan

Makalah perilaku biaya (cost behavior) adalah salah satu materi akuntansi biaya yang penting dalam proses pengambilan keputusan oleh manajemen perusahaan.

Dalam jangka pendek tidak semua biaya berubah jika volume aktivitas mengalami perubahan.

Oleh karena itu, untuk perencanaan laba jangka pendek, informasi perilaku biaya sangat bermanfaat bagi manajemen perusahaan.

Dengan memahami karakteristik berbagai tipe biaya tetap (committed dan discretionary fixed cost).

Dan karakteristik berbagai tipe biaya variabel (engineered dan discretionary variable cost) manajemen perusahaan akan dalam posisi yang baik dalam pengelolaan biaya (cost management).

Dua pendekatan tersedia untuk menentukan pola perilaku biaya, yaitu pendekatan analisis dan pendekatan historis.

Pendekatan analisis menentukan perilaku biaya dengan cara melakukan penyelidikan teknis terhadap  hubungan antara volume aktivitas dengan biaya.

Pendekatan historis menentukan pola perilaku biaya berdasarkan sejarah hubungan perubahan volume aktivitas dengan biaya di masa yang telah lalu.

Pendekatan historis yang menggunakan metode kuadrat terkecil, yang menganggap hubungan garis lurus antara volume aktivitas dengan biaya adalah pendekatan dan metode yang banyak dipakai oleh perusahaan dalam menentukan pola perilaku biaya.

Dan perlu diketahui juga bahwa biaya tidak hanya berubah dalam hubungannya dengan volume aktivitas, namun masih ada faktor lain.

Misalnya harga yang berpengaruh terhadap perilaku biaya.

Demikian yang dapat saya bagikan, semoga bermanfaat. Terima kasih.

***

manajemen keuangan dan SOP