Harga perolehan aset adalah semua pengeluaran yang diperlukan untuk menyiapkan aset tersebut sampai siap dipakai. Bagaimana jika beban bunga adalah salah satu unsur penyiapan aset tersebut? Masalah yang berkaitan dengan hal ini adalah perlakuan biaya bunga sebagai unsur harga fasilitas fisik (misalnya gedung atau pabrik) yang dibangun sendiri.
Bila pembangunan itu dengan dana pinjaman dan masa pembangunannya cukup lama, apakah biaya bunga selama masa pembangunan tersebut dapat dikapitalisasi? Mari dibahas step-by-step dalam artikel berikut ini…
Kapitalisasi Beban Bunga
A: Alasan Mendukung Kapitalisasi Bunga
FASB (Financial Accounting Standards Board) menyebutkan tujuan mengkapitalisasi biaya bunga adalah untuk mendapatkan angka harga perolehan yang mereflesksikan investasi total kesatuan usaha dalam aset.
Fungsi bunga adalah untuk membebankan suatu biaya yang berkaitan dengan perolehan suatu sumber ekonomi yang akan memberi manfaat di masa datang. Untuk ditandingkan dengan pendapatan yang dihasilkan oleh manfaat tersebut.
Tujuannya adalah agar terjadi penandingan yang tepat, terutama bila waktu pembangunan atau periode perolehan (acquisition period) cukup lama. Akan tetapi, kapitalisasi biaya bunga hanya dilakukan bila manfaat informasi melebihi biaya penyediaan informasi (biaya administrasi dalam mengkapitalisasi bunga).
Mengapa beban bunga perlu dikapitalisasi?
Ada 4 (empat) alasan kapitalisasi beban bunga adalah sebagai berikut:
Alasan kapitalisasi beban bunga #1:
Dengan kesiapan pemakaian atau penggunaan (readyness for intended use) sebagai batas kegiatan pengukuran harga aset, maka biaya bunga adalah unsur harga aset.
Alasan kapitalisasi beban bunga #2:
Bila kesatuan usaha tidak membangun sendiri fasilitas fisik aset bangunan. Maka harga perolehan pada umumnya termasuk bunga yang harus dibayar oleh kontraktor selama pembangunannya.
Alasan kapitalisasi beban bunga #3:
Pembebanan biaya bunga langsung pendapatan selama masa konstruksi (periode perolehan) akan mendistorsi laba. Terutama jika konstruksi di-danai dari hutang khusus untuk keperluan tersebut.
Dengan kata lain, pembebanan langsung menyimpang dari konsep penandingan yang tepat (proper matching concept).
Alasan kapitalisasi beban bunga #4:
Biaya bunga selama masa pembangunan bukan merupakan biaya pendanaan (financing cost), karena jika pembangunan di-danai dari penerbitan ekuitas baru, maka biaya pendanaan secara konseptual tetap terjadi.
Dan dipindahkan ke pemegang saham dalam bentuk dividen yang pembayarannya mungkin ditunda sampai pembangunan selesai.

B: Alasan Menolak Kapitalisasi Bunga
4 (empat) dasar penolakan kapitalisasi biaya bunga adalah:
Dasar penolakan kapitalisasi bunga #1:
Bunga adalah biaya pendanaan daripada unsur harga aset, karena perusahaan sebenarnya dapat menghindari bunga tersebut dengan memilih alternatif pendanaan dengan ekuitas.
Dasar penolakan kapitalisasi bunga #2:
Dengan konsep nilai setara tunai (cash equivalent) atau nilai sekarang aliran kas diskon (discounted future cash outflows) dalam mengukur harga suatu aset.
Harga perolehan suatu fasilitas fisik seharusnya tidak dipengaruhi oleh kebijakan pemilihan cara pendanaan pembangunannya.
Jadi, secara teoritis, biaya suatu fasilitas fisik yang dibangun sendiri oleh suatu kesatuan usaha yang mendanainya dengan ekuitas, seharusnya tidak akan berbeda dengan fasilitas yang sama yang dibangun perusahaan lain yang mendanainya dengan utang.
Dasar penolakan kapitalisasi bunga #3:
Dengan konsep kesatuan usaha, bunga lebih bermakna sebagai pembagian laba (setara dengan dividen) daripada sebagai upaya (effort) untuk memperoleh pendapatan.
Mengakui bunga sebagai biaya fasilitas fisik sama saja dengan penyangkalan konsep kesatuan usaha itu dan sama saja dengan pengakuan biaya hipotesis, karena dengan mengkapitalisasi dividen yang telah dibayarkan sebagai aset.
Dasar penolakan kapitalisasi bunga #4:
Karena biaya pendanaan yang terpisah dengan harga perolehan aset, maka, alokasi biaya bunga ke semua aset non moneter hanya akan kecil pengaruhnya terhadap laba periodik.
Karena jumlah yang dikapitalisasi dalam suatu periode akan dikompensasi dengan amortisasi bunga yang dikapitaliasasi pada periode-periode sebelumnya.
Dengan demikian, manfaat internasional tambahan tidak sepadan dengan biaya akuntansi dan administratif tambahan, sehingga tidak memenuhi kriteria manfaat biaya dalam karakterisitik kualitatif informasi.