Inilah 15 Materi AKUNTANSI BIAYA untuk Membantu Pengelolaan Bisnis Anda

Akuntansi Biaya (cost accounting) adalah spesialisasi akuntansi yang digunakan untuk mengklasifikasi, menghitung, mencatat, dan melaporkan biaya-biaya proses produksi barang dan jasa.

Spesialisasi akuntansi biaya ini perlu dikuasai oleh seorang praktisi akuntansi dan pengelola bisnis.

Sebagai contoh, untuk menentukan harga sebuah produk dengan akurat dan menguntungkan, perlu memahami akuntansi biaya.

Apa saja fungsi dan manfaat akuntansi biaya dalam bisnis?

Mari ikuti pembahasan 15 materi akuntansi biaya beserta contoh penggunaannya dalam men-support aktivitas bisnis berikut ini…

 

01: Pengertian dan Fungsi Akuntansi Biaya dalam Bisnis

akuntansi biaya adalah

A: Pengertian Akuntansi Biaya (Cost Accounting)

Apa itu akuntansi biaya?

Pengertian akuntansi biaya menurut para ahli [sering kita temui dalam buku akuntansi biaya dasar], antara lain:

#1:  Ralp S Polimenni dan James A. Cashin:

Pengertina akuntansi biaya adalah proses untuk mengidentifikasi, merangkum dan menafsirkan berbagai macam informasi  yang diperlukan untuk:

  • Perencanaan dan pengendalian
  • Pengambilan keputusan manajemen
  • Perhitungan biaya atau harga pokok barang yang diproduksi.

Dari definisi tersebut, bila diperhatikan secara seksama, kita jadi paham bahwa peranan dan tujuan akuntansi biaya adalah salah satunya untuk menghitung biaya produksi seperti pada point #3.

Mengapa perhitungan biaya produksi diletakkan pada point ketiga?

Hal ini karena kebiasaan pada sebagian besar perusahaan yang aktivitas utamanya adalah menyangkut  proses perencanaan dan pengendalian serta pengambilan keputusan.

Jadi tidak pada sisi-sisi yang lebih bersifat detail mekanis, seperti menghitung biaya atau harga pokok produksi.

 

#2: Ralph Estes

Menurut Ralph Estes, pengertian akuntansi biaya adalah bidang akuntansi yang luas, terutama berkaitan dengan pengukuran, akumulasi dan pengendalian biaya-biaya, terutama biaya produk.

Dan bila dipersempit, pengertian akuntansi biaya sama dengan PRODUCT COSTING.

 

#3: Akuntansi Biaya Bastian Bustami dan Nurlela

Menurut Bastian dan Nurlela, definisi akuntansi biaya adalah spesialisasi akuntansi yang mempelajari tentang metode pencatatan, pengukuran dan pelaporan informasi tentang biaya-biaya dalam proses produksi.

 

#4: Kholmi dan Yuningsih

Menurut Kholmi dan Yuninsih, definisi Akuntansi Biaya adalah proses pelacakan, pencatatan, pengalokasian, dan pelaporan serta analisis berbagai jenis biaya dalam aktivitas produksi barang dan jasa.

 

#5: Akuntansi Biaya Charles T Horngren

Charles T Horngren menyatakan bahwa pengertian akuntansi biaya adalah bidang ilmu yang mempelajari mengenai penyediaan informasi yang dibutuhkan akuntansi keuangan dan manajemen sebuah perusahaan.

Fungsi akuntansi biaya adalah bisa mengukur dan melaporkan informasi keuangan dan non-keuangan.

Dan bisa membuat laporan tentang biaya yang dibutuhkan serta penggunaan sumber daya yang dimiliki perusahaan.

 

#6: Rayburn

Menurut Rayburn, definisi akuntansi biaya adalah metode untuk mengidentifikasi, mengukur, melaporkan, menganalisis biaya langsung dan tidak langsung pada proses produksi dan marketing.

 

B: Pengguna Akuntansi Biaya

Siapa saja yang menggunakan manfaat akuntansi biaya?

Ada dua pihak yang menggunakan manfaat akuntansi biaya, yaitu:

  1. Pihak internal, berbagai bagian pada tingkat manajemen di dalam perusahaan.
  2. Pihak eksternal, investor, kreditur dan instansi yang berwenang serta masyarakat.

 

C: Akuntansi Biaya vs Akuntansi Manajemen

Agar pembahasan lebih komprensif tentang hubungan akuntansi biaya dan akuntansi manajemen, maka saya sajikan pembahasan tentang pengertian akuntansi manajemen.

#1: Pengertian Akuntansi Manajemen

Apa yang dimaksud akuntansi manajemen?

Ada 2 pengertian akuntansi manajemen adalah:

A: Pengertian berdasarkan pihak yang menggunakan manfaat akuntansi manajemen

Dari sisi yang menggunakan manfaat akuntansi manajemen, definisi akuntansi manajemen adalah bidang akuntansi yang tujuan utamanya untuk menyajikan laporan-laporan satuan usaha atau organisasi tertentu.

Laporan-laporan tersebut untuk kepentingan pihak internal, dalam rangka melaksanakan proses manajemen yang meliputi:

  • Perencanaan
  • Pembuatan keputusan
  • Pengorganisasian
  • Pengarahan
  • Pengendalian

 

B: Pengertian akuntansi manajemen berdasarkan pada hasil pelaporan

Jika dilihat dari hasil pelaporan maka pengertian akuntansi manajemen adalah penerapan teknik-teknik dan konsep yang tepat dalam pengolahan data ekonomi historikal.

Proses tersebut dilakukan untuk membantu manajemen dalam menyusun rencana dan membuat keputusan-keputusan rasional untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Dari definisi akuntansi manajemen yang kedua ini, ada 4 hal yang perlu diperhatikan, yaitu:
Hal #1:

Diperlukan pemahaman dan kemampuan mengenai teknik-teknik atau model-model seperti konsep perilaku biaya, hubungan cost volume dan profit, atau model-model matematis yang yang relevan.

Hal #2:

Selain itu diperlukan juga pemahaman yang cukup terhadap metode akuntansi atau akuntansi keuangan dan cost accounting.

Minimal memahami metode pencatatan data akuntansi atau metode harga pokok yang dilakukan terhadap historikal keuangan perusahaan.

Hal #3:

Proyeksi-proyeksi yang dilakukan berkaitan erat dengan teori statistik.

Hal #4:

Keputusan-keputusan yang diambil harus rasional yang berkaitan dengan pencapaian tujuan suatu organisasi.

Organisasi yang sama dapat saja hasilnya berbeda, pencatatan yang berbeda dan tujuan yang berbeda.

Sedangkan pengertian akuntansi manajemen menurut para ahli, seperti Ronald  M. Copeland dan Paul E. Dascher:

“Pengertian akuntansi manajemen adalah bagian dari akuntansi yang berhubungan dengan idntifikasi, pengukuran dan komunikasi informasi akuntansi kepada internal manajemen yang bertujuan untuk perencanaan, proses informasi, pengendalian operasi dan pengambilan keputusan”

 

C: Hubungan Akuntansi Biaya dan Akuntansi Manajemen

Perhatikan gambar ilustrasi berikut:

perbedaan akuntansi biaya dengan akuntansi manajemen
Gambar: Hubungan Akuntansi Biaya dan Akuntansi Manajemen

Ilustrasi di atas menggambarkan hubungan antara akuntansi biaya dengan akuntansi manajemen, dan dapat dijelaskan sebagai berikut:

A : Ruang lingkup akuntansi biaya

Dalam ruang lingkup ini mencakup semua informasi akuntansi biaya untuk kepentingan pihak eksternal.

B : Informasi akuntansi biaya untuk kepentingan pihak internal

Dalam hal ini informasi akuntansi biaya untuk berbagai peringkat manajemen.

C : Ruang lingkup akuntansi manajemen

Mencakup informasi akuntansi manajemen yang tidak dapat dipenuhi oeh informasi akuntansi biaya.

 

02: Analisis Diferensial Biaya Relevan dan Keputusan Manajemen Perusahaan

akuntansi manajemen biaya relevan untuk pengambilan keputusan

A: Pengertian Biaya Relevan

Apa yang dimaksud biaya relevan?

Pengertian biaya relevan adalah semua biaya yang akan terjadi di masa datang, kecuali Unavoidable Cost yang meliputi sunk cost dan biaya yang tidak berbeda.

Biaya relevan adalah salah satu jenis biaya dalam Akuntansi Biaya.

Data-data biaya relevan adalah unsur penting dalam proses pengambilan keputusan dengan penggunaan sumber daya yang terbatas.

Misalnya: sumber informasi terbatas.

Biasanya data yang dianggap relevan disebut biaya yang dapat dihindari (avoidable cost) atau biaya yang dapat dihindarkan.

Jenis biaya ini harus dipertimbangkan oleh setiap pengambil keputusan dalam memilih berbagai alternatif yang dihadapi, karena hanya biaya dan pendapatan yang masih akan terjadi.

Sehingga biaya dan pendapatan pada masa mendatang akan memberikan hasil berbeda, tetapi relevan dalam pengambilan keputusan.

Contoh biaya relevan adalah:
  • Biaya bahan baku,
  • biaya tenaga kerja dan
  • biaya overhead variabel.

Sedangkan contoh akuntansi biaya – penerimaan relevan adalah pendapatan dari penjualan.

Dengan kata lain definisi biaya yang sesuai/relevan adalah biaya yang memiliki karakteristik:

  • Biaya atau penghasilan yang benar-benar akan terjadi atau diperoleh di masa mendatang, bukan biaya masa depan yang tidak relevan.
  • Biaya atau penghasilan harus benar-benar akan memberikan hasil berbeda jika memilih alternatif.

Untuk mengidentifikasi biaya dan pendapatan dari berbagai alternatif, ada 4 langkah yang perlu dilakukan:

  1. Mengumpulkan seluruh biaya yang berkaitan dengan masing-masing alternatif yang dihadapi.
  2. Menghapuskan/meniadakan/mengeliminir sunk cost 
  3. Tidak memperhitungkan atau mengeliminir biaya yang tidak berbeda antar berbagai alternatif.
  4. Menetapkan keputusan pada data yang telah di-eliminir saja.

So, mengapa perlu fokus pada biaya relevan?

Perhatikan contoh akuntansi biaya dalam analisis biaya relevan berikut ini…

 

B: Perhitungan Biaya Relevan

Untuk membahas alasan mengapa fokus pada biaya relevan, perhatikan contoh akuntansi biaya dengan data-data dan perhitungan total biaya berikut ini :

Misalnya, PT Manajemen Keuangan Network memiliki data-data keuangan seperti di bawah ini:

#Semua nilai rupiah dalam Ribuan (000)

perhitungan biaya relevan
Contoh data-data Biaya Relevan

Dari data-data yang tersaji di atas, kita akan menggunakan 4 langkah untuk mengidentifikasi pendapatan dan analisis biaya dari berbagai alternatif.

Dan urutannya adalah sebagai berikut:
  • Langkah #1: mengumpulkan semua data biaya seperti pada tabel di atas.
  • Langkah #2: mengeliminasi atau meniadakan biaya masa lalu atau sunk cost.
  • Langkah #3: meniadakan biaya-biaya, seperti :
    • akumulasi penyusutan,
    • nilai buku peralatan lama
    • masa pemakaian atau sisa umur ekonomis.
  • Langkah #4 : sisa data dari data-data yang telah ditiadakan, yaitu :
    • biaya penyusutan mesin baru,
    • harga jual mesin lama, laba rugi penggantian mesin lama,
    • biaya operasional.

Dari langkah-langkah tersebut, selanjutnya  kita menetapkan waktu operasi, misalnya 3 tahun.

Kemudian kita hitung total biaya yang dikeluarkan, seperti berikut ini:

perhitungan total biaya
Contoh perhitungan total biaya

Mengapa menggunakan waktu 3 tahun?

Jika hanya mempertimbangkan jangka waktu satu tahun, maka kemungkinan alternatifnya akan berbeda, yang memerlukan penilaian subyektif manajer, seperti terlihat pada tabel di bawah ini:

Perbandingan biaya tahun pertama:

Contoh analisis biaya produksi
Contoh analisis biaya produksi

 

C: Analisis Hasil Perhitungan Biaya Relevan

Dari contoh akuntansi biaya tentang perhitungan dan analisis biaya produksi di atas, kita menjadi tahu manfaat biaya relevan.

Dengan menggunakan dua metode yang berbeda menunjukkan hasil bahwa menggunakan peralatan baru lebih menguntungkan daripada peralatan lama.

  • Contoh perhitungan pertama hanya menggunakan biaya yang sesuai sebagai bahan pertimbangan.
  • Contoh perhitungan kedua menggunakan semua biaya, baik relevan maupun tidak untuk bahan pertimbangan,

Atau dengan menelusuri secara keseluruhan dari alternatif yang ada, ternyata, kedua alternatif tersebut dapat dipertimbangkan.

Tapi alasan mengapa mem-FOKUS-kan pada biaya relevan, paling tidak mempunyai 2 alasan, yaitu :
Alasan #1.

Informasi yang tersedia TERBATAS.

Terbatasnya informasi tersebut, misalnya informasi yang berkaitan dengan persiapan laporan laba rugi, maka pengambil keputusan harus mengetahui bagaimana mengakui biaya yang sesuai atau tidak.

Alasan #2.

Penggunaan biaya sesuai bersama-sama dengan biaya tidak relevan dapat mengacaukan bahkan membingungkan.

Dan menjauhkan perhatian bagi pengambil keputusan dari persoalan yang keadaannya benar-benar kritis.

Dan adakalanya sebagian data yang tidak relevan tersebut digunakan tidak semestinya, yang pada gilirannya akan menghasilkan keputusan yang tidak benar.

Biaya relevan yang dikombinasikan dengan pendekatan contribution margin (marjin kontribusi) dari Laporan Laba Rugi akan menghasilkan alat analisis untuk pengambilan keputusan yang baik.

Misalnya pada analisis multi divisi (transfer pricing) dan joint cost.

 

03: Cara Menghitung Biaya Produksi Per Unit Waktu Dan Bahan

akuntansi biaya produksi

Cara menghitung biaya produksi per unit waktu dan bahan (time and material pricing) kebanyakan digunakan oleh perusahan-perusahaan jasa seperti:

  • industri radio dan televisi,
  • percetakan,
  • bengkel mobil dan motor, dan
  • perusahaan profesional seperti kantor pengacara, konsultan dan akuntan.

Bila biaya produksi per unit waktu dan bahan sudah bisa diketahui nilainya, maka akan mudah untuk menentukan harga jual dari produk jasa tersebut.

 

A:. Cara Menghitung Biaya Produksi per Unit dan Contohnya

Untuk menghitung biaya produksi atau harga pokok produksi (HPP) per unit barang atau jasa, ada 2 komponen pokok yang perlu diperhitungkan yaitu:

#1: Komponen waktu

Waktu (time) yang dimaksudkan di sini adalah bisa jam kerja pegawai atau mesin produksi.

Perhatikan 3 hal yang termasuk dalam komponen waktu per jam tenaga kerja langsung, yaitu:

  • Upah langsung, termasuk tunjangan-tunjangan dan bonus.
  • Biaya-biaya yang berhubungan dengan pekerjaan tidak langsung, seperti gaji pengawas, penyusutan, asuransi, bahan-bahan tidak langsung dan sebanding dengan jam.
  • Laba yang diinginkan per waktu tertentu, misalnya per jam.

 

#2: Komponen Bahan

Ada 2 cara menghitung biaya bahan baku yang termasuk dalam komponen bahan per jam, yaitu :

  • Persentase laba dari harga faktur bahan.
  • Persentase dari bahan tidak langsung atau yang dibebankan.

Contoh biaya produksi ini adalah gaji manajer, bahan, pengawas, asuransi, handling, atau biaya yang berhubungan dengan pengelolaan bahan.

Dari 2 komponen tersebut, maka bisa dilakukan perhitungan biaya produksi per unit waktu, misalnya per jam sebagai berikut:

perhitungan biaya per unit
Contoh: perhitungan biaya per unit

 

B: Contoh Perhitungan Biaya Produksi

Perhatikan contoh perhitungan biaya produksi per unit waktu dan bahan beriktu ini:

PT Sukses Penuh Keberkahan mengelola bisnis jasa peralatan armada truk.

Marjin laba perusahaan turun terus menerus selama beberapa tahun terakhir.

Pengelola perusahaan telah melakukan analisis sederhana bahwa tarif waktu dan bahan yang digunakan untuk menentukan harga jual sudah tidak sesuai dengan perkembangan jaman.

Perusahaan menentukan target laba Rp. 2,5 per jam kerja pelayanan reparasi dan menentukan target laba 10% dari faktur bahan yang digunakan.

Perusahaan mempertimbangkan untuk mempertahankan persediaan dalam jumlah besar agar dapat memberi pelayanan reparasi ke pelanggan dengan cepat.

Biaya yang berhubungan dengan pekerjaan reparasi dan dengan persediaan bahan periode sebelumnya adalah sebagai berikut:

unsur unsur biaya produksi
Tabel biaya produksi tahun lalu

Perusahaan mempekerjakan 10 tukang ahli reparasi yang bekerja 40 jam per minggu dan 50 minggu dalam satu tahun.

Dalam periode sebelumnya perusahaan meminta imbalan kerja pelayan reparasi sebesar Rp. 16,50 per jam.

Dan menambahkan ongkos beban bahan 35% dari bahan yang digunakan setiap kali reparasi dilakukan.

Pertanyaannya adalah berapa besar biaya yang seharusnya dibebankan per jam kerja pelayanan dan  biaya bahan yang harus digunakan?

Berapa besar biaya yang seharusnya dibebankan ke suatu pekerjaan 2,5 jam dan bahan Rp 70?

Perhatikan cara penyelesaian contoh soal akuntansi biaya –  perhitungan biaya produksi berikut ini:

#1. Biaya Langsung per Jam Kerja :

=Tukang ahli reparasi + Tunjangan (Pensiun & Asuransi) : Jam Kerja

= Rp 180.000 + ((15% x Rp 180.000)+(5% x Rp 180.000)) : (10 x 40 x 50)
= Rp. 216.000 : 20.000 jam
= Rp. 10,80 per jam

#2. Biaya Reparasi per Jam Kerja

= (Total biaya reparasi – biaya langsung) : Jam Kerja

= (Rp. 320.000 – Rp. 216.000) : 20.000
= Rp. 104.000 : 20.000
= Rp. 5,2 per jam

#3. Laba per jam yang ditentukan:

= Rp. 2,5 per jam

#4. Biaya Bahan :

= Laba dari bahan = 10% (target)= Persentase bahan lainnya :

= (Total biaya bahan – Harga Pokok Bahan) : Harga Pokok Bahan
= (Rp. 273.000 – Rp. 210.000) :  Rp. 210.000
= 30 %

Jadi persentase total biaya bahan adalah = 10% + 30% = 40%

Dari perhitungan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa biaya pelayanan per jam adalah sebagai berikut:

cara menghitung biaya bahan baku
Contoh perhitungan biaya per unit

Bila suatu pekerjaan memerlukan pelayanan selama 2,5 jam dengan bahan yang digunakan sebanyak Rp. 70, maka total biayanya adalah:

= (waktu pelayanan x biaya produksi per unit waktu)+(Biaya bahan+(bahan yang digunakan x % total biaya bahan))
= (2,5 jam x Rp. 18,50) + (Rp. 70 + (Rp. 70 x 40%))
= Rp. 46,25 + Rp. 98 = Rp. 144,25

 

04: Cara Menghitung Biaya Tetap Dan Biaya Variabel

akuntansi biaya tetap

Biaya tetap dan biaya variabel adalah dua komponen biaya yang akan berpengaruh terhadap Laba Rugi perusahaan.

Oleh karena itu perlu dilakukan perhitungan dan analisa yang akurat terhadap biaya ini, sehingga tujuan dari perusahaan atau organisasi bisnis akan bisa dicapai.

 

A: Pengertian Biaya Tetap (fixed cost)

Apa yang dimaksud dengan biaya tetap dan contohnya?

Pengertian biaya tetap adalah biaya yang berhubungan dengan kapasitas atau volume.

Biaya tetap memiliki dua karakteristik, yaitu :

  • Pertama, biaya tidak berubah atau tidak dipengaruhi oleh periode atau aktivitas terentu.
  • Kedua, biaya per unitnya berbanding terbalik dengan perubahan volume.

Bila volumenya rendah maka fixed cost atau biaya tetap tinggi, sebaliknya pada volume yang tinggi biaya tetap per unitnya rendah.

Contoh biaya tetap: biaya penyusutan aset tetap (fixed asset).

 

B: Cara Menghitung Biaya Tetap (Fixed Cost)

Perhatikan contoh cara menghitung biaya tetap berikut:

Kapasitas angkut sebuah mobil penumpang per harinya adalah 50 orang penumpang.

Biaya penyusutan per bulan atau per tahun adalah biaya tetapnya.

Bagaimana cara menghitung biaya penyusutan?

Begini cara menghitungnya…

Jumlah penumpang satu bulan adalah:

= 50 x 30 = 1.500 orang.

Bila ingin menambah jumlah penumpang lebih dari 1.500 orang per bulan maka harus menambah jumlah mobil.

Penambahan mobil baru akan mengakibatkan peningkatan pengeluaran biaya tetap.

Inilah yang disebut relevant range, atau jarak relevan atau kapasitas dengan biaya tetap (fixed cost) pada mobil pertama dengan kapasitas 1.500 penumpang.

Misalnya harga sebuah mobil Rp. 200 juta, dengan taksiran pemakaian 10 tahun dan nilai sisa atau residu sebesar Rp 20 juta.

Maka besarnya biaya penyusutan per tahun adalah :

= (Harga beli mobil – Nilai sisa ) / Taksiran Pemakaian

= (Rp. 200.000.000 – Rp. 20.000.000) / 10 tahun = Rp. 18.000.000

Biaya tetap (penyusutan) per tahun adalah Rp 18.000.000 atau Rp 1.500.000 per bulan.

Dan jarak relevan per tahun
= 0 – 18.000 penumpang,

Atau per bulannya adalah:
= 0 – 1.500 penumpang

Dengan jarak relevan tersebut maka biaya per unit per penumpang dapat dihitung sebagai berikut:

perhtungan biaya tetap
Tabel perhtungan biaya tetap
Keterangan:

Dari tabel di atas kita jadi tahu bahwa biaya tetap per unit berbanding terbalik dengan volume.

Pada kapasitas penumpang 1.500 orang, biaya tetap per unitnya sebesar Rp. 1.000. Kemudian pada kapasitas penumpang 1.000 orang, biaya tetap per unit menjadi Rp. 1.500 atau naik Rp. 500.

Demikian juga saat kapasitas penumpang 500 orang, biaya tetap per unit naik menjadi RP. 3.000.

Bila digambarkan dengan sebuah kurva adalah seperti berikut ini :

Biaya Relevan dan Total biaya tetap

Perhatikan juga grafik berikut ini:
kurva biaya tetap per unit
Kurva: biaya tetap per unit

Perhatikan grafik yang menunjukkan biaya tetap per unit.

Grafik tersebut menunjukkan bahwa biaya tetap per unit berbentuk cembung, tapi bentuk sebenarnya adalah linier yang berbanding/proporsional terbalik dengan biaya tetap atau dengan volume.

 

C: Pengertian Biaya Variabel (Variable Cost)

Apa yang dimaksud biaya variabel dan contohnya?

Pengertian biaya variabel adalah biaya yang memiliki dua karakteristik, yaitu:

  • Total biaya variabel akan berubah secara proporsional dengan perubahan volume atau kapasitas, semakin besar kapasitas yang digunakan maka semakin besar pula total biaya variabel dan sebaliknya.
  • Karakteristik kedua adalah biaya per unitnya tetap atau konstan.

Perhatikan contoh biaya variabel:

Biaya pemakaian bensin dan oli pada kendaraan yang dihitung dan tergantung pada jarak yang ditempuh, tapi harga per liter bensin dan oli tetap atau konstan, tidak terpengaruh jarak tempuh.

 

D: Cara Menghitung Biaya Variabel (Variable Cost)

Bagaimana cara menghitung biaya variabel?

Perhatikan contoh cara menghitung biaya varibel berikut ini:

Harga Pertalite Rp 8.000 per liter (contoh saja). Satu liter pertalite bisa menempuh jarak 20 km.

Bagaimana perhitungan biaya variabel per unit?

Dari contoh soal akuntansi biaya variabel di atas, berarti biaya pertalite per 1 km adalah:

= Rp 8.000/20 = Rp 400,-

Mari kita lihat tabel perhitungan biaya variabel berikut ini :

tabel perhitungan biaya variabel
Tabel perhitungan biaya variabel
Keterangan :

Total biaya variabel dalam hal ini total biaya dari pemakaian pertalite, besar kecilnya  tergantung pada volume aktivitas, dalam hal ini jarak tempuh.

Semakin tinggi volume aktivitas maka total biaya variabel juga semakin naik, dan sebaliknya. Tapi biaya variabel per unitnya tetap.

Dalam contoh di atas, berapapun jarak yang ditempuh harga pertalitenya Rp. 400.

Bila digambarkan dengan sebuah kurva adalah seperti di bawah ini :

kurva total biaya variabel
Kurva total biaya variabel

Sedangkan biaya variabel per unit adalah sebagai berikut:

kurva biaya variabel per unit
Kurva biaya variabel per unit

 

E: Pengaruh Biaya Tetap dan Biaya Variabel terhadap Harga Pokok Produk (HPP)

Pengaruh Biaya Tetap dan Biaya variabel bagi biaya per unit

Bagaimana pengaruh Biaya tetap dan Biaya variabel per unit terhadap harga pokok produk?

Angka hasil penjualan dan biaya per unit dapat dijelaskan ke dalam grafik laba per satuan produk.

Tujuan akuntansi biaya ini adalah untuk menunjukkan dengan lebih jelas kepada manajemen perusahaan tentang pengaruh dari unit biaya tetap dan unit biaya variabel terhadap harga pokok produk.

 

F: Contoh dan analisis perhitungan biaya tetap dan biaya variabel

Perhatikan grafik di bawah ini:

Pengaruh Biaya Variabel dan Biaya Tetap terhadap HPP
gambar: Laba satuan dan laba unit
Keterangan:

Grafik di atas merupakan penyelesaian dari contoh soal akuntansi biaya dalam menghitung biaya tetap dan biaya variabel serta cara menghitung biaya produksi per unit-nya.

Bagaimana prosesnya?

Berikut ini langkah-langkah perhitungannya:

Perhatikan contoh perhitungan biaya variabel berikut ini:
  • Volume sebesar 3.000,
  • biaya tetap (penyusutan) per bulan Rp 187.500
  • biaya pengemudi Rp 12.500
  • harga jual per unit/per penumpang Rp 160
  • Biaya variabel per penumpang: perjalanan yang ditempuh 300 km, baru ditempuh 25 km dengan biaya bahan bakar (bensin) Rp 500 per liter.
Biaya tetap per bulan adalah:

= Biaya penyusutan per bulan + biaya pengemudi
= Rp 187.500 + Rp 12.500 = Rp 200.000

Biaya pada kapasitas 3.000 adalah:

= (300/25 X 500) X 30 hari : 3.000)
= 180.000 : 3.000 = Rp 60 per penumpang

Pada titik A,B,C,D dan F adalah biaya tetap per unit + Biaya variabel per unit, berdasarkan volume, dengan perhitungan sebagai berikut:

Titik A:

= (200.000/600) + Rp 60 = Rp 393,3

Rugi per unit = (Biaya Tetap per unit + Biaya Variabel per unit) – Harga jual

= Rp 393.3 – Rp 160 = Rp 233,33

Titik B:

= (200.000/1.200) + Rp 60 = Rp 226,67

Rugi per unit = (Biaya Tetap per unit + Biaya Variabel per unit) – Harga jual

= Rp 226,67 – Rp 160 = Rp 66,67

Titik C:

= (200.000/1.978) + Rp 60 = Rp 161,11

Rugi per unit = (Biaya Tetap per unit + Biaya Variabel per unit) – Harga jual

= Rp 161,11 – Rp 160 = Rp 1,11

Titik D:

Titik Impas (BEP) = Rp 160

Laba/Rugi per unit = (Biaya Tetap per unit + Biaya Variabel per unit) – Harga jual

= Rp 160 – Rp 160 = Rp 0

Titik impas (BEP) dalam jumlah penumpang:

= 200.000/(Rp 160 – Rp 60) = 2.000 orang

Dengan cara perhitungan yang sama seperti di atas, maka:

Titik E:

= Rp 143, 33 dan titik F = Rp 126,67.

 

05: Cara Menentukan Harga Jual Berdasarkan Perilaku Biaya

Cara Menentukan Harga Jual

Salah satu cara untuk menentukan harga jual produk adalah berdasarkan pada  perilaku biaya.

Harga jual merupakan hal penting bagi penjual. Jualan anda untung atau rugi tergantung pada harga jual produk.

Omset jualan anda juga tergantung pada harga jual produk anda.

Oleh karena itu, penentuan harga jual menjadi hal penting yang perlu mendapatkan perhatian sebelum aktivitas jualan dan promosi dilakukan.

 

A: Cara menentukan harga jual produk

Cara menentukan harga jual produk dan penanganan masalah harga jual yang digunakan oleh perusahaan atau usaha perorangan memiliki banyak cara.

Dalam perusahaan perorangan dan perusahaan kecil, penentuan harga ditetapkan  oleh manajemen teras, bukan oleh bagian pemasaran, bagian penjualan atau bagian produksi.

Sementara itu, pada perusahaan-perusahaan besar, penetapan harga biasanya ditangani oleh para manajer divisi produksi.

 

#1: Cara menentukan harga jual produk menurut para ahli

Menurut Jerome Mc Carthy, pada dasarnya, penetapan harga yang diinginkan, mengandung tujuan-tujuan tertentu, misalnya contoh yang digambarkan di bawah ini:

cara menentukan harga jual reseller
Cara menentukan harga jual produk

Meskipun pada titik tertentu, ada perusahaan yang tidak mempunyai keleluasaan untuk menentukan harga produknya.

Misalnya dalam divisi penjualan yang dibatasi oleh kuota harga.

Dan dalam pembahasan kali ini, perhatian kita hanya pada pendekatan penentuan harga berdasarkan pada perilaku biaya.

Langkah awal adalah dengan menentukan harga cost plus (cost plus pricing).

Tujuan akuntansi biaya ini adalah untuk mengurangi ketidakpastian dan dapat memberikan keterangan dari beberapa hal lainnya.

Misalnya, jika perusahaan dihadapkan dengan pesanan atau order di bawah harga yang telah ditetapkan, dengan menghubungkan biaya, agar keputusan-keputusan dapat lebih mudah diambil.

Apa itu cost plus pricing?

Pengertian cost plus pricing adalah biaya tertentu ditambah dengan kenaikan (mark up) yang ditentukan.

Dan pengertian biaya adalah harga pokok dalam akuntansi manajemen maupun akuntansi biaya.

Metode pelaporan cost dan laba rugi secara garis besar dibagi dalam dua cara, yaitu :

#1. Absorption atau Full Cost

Dalam metode ini, biaya pokok produksi terdiri dari harga pokok produksi baku langsung :

  • Biaya bahan baku langsung (Direct Method)
  • Biaya tenaga kerja langsung (Direct Labour)
  • Biaya tak langsung pabrik (factory overhead cost) : tetap dan variabel

 

#2. Variable Costing atau Direct Costing  = Contribution approach = pendekatan kontribusi

Akuntansi biaya overhead pabrik dalam metode variable costing Harga pokok terdiri dari :

Total biaya variabel = Biaya produksi variabel, mencakup :
  • Biaya bahan baku langsung
  • Biaya tenaga kerja langsung
  • Biaya tak langsung variabel
  • Biaya penjualan dan administrasi variabel

Atau bila disajikan dalam sebuah gambar adalah sebagai berikut :

komponen penentuan harga jual produk

Perhatikan contoh soal akuntansi biaya manufaktur untuk menentukan harga jual:

PT Berkah Jaya perlu menentukan target harga jual salah satu produknya.

Data biaya sehubungan dengan produk ini adalah sebagai berikut :

  • Bahan baku langsung, nilai per unit = Rp. 8.000
  • Tenaga kerja langsung, nilai per unit = Rp. 12.000
  • Biaya overhead pabrik – variabel, nilai per unit = Rp. 3.000
  • Biaya overhead pabrik – tetap, nilai per unit = Rp. 7.000 dan total = Rp. 350.000
  • Biaya penjualan dan administrasi variabel, nilai per unit = Rp. 2.000
  • Biaya penjualan dan administrasi tetap, nilai per unit = Rp. 3.000, dan total = Rp. 200.000

Atau bila ditampilkan dalam satu tabel adalah sebagai berikut:

cara menentukan harga jual
cara menentukan harga jual

Biaya-biaya di atas didasarkan pada volume yang ditetapkan sebesar 50.000 satuan yang diproduksi dan dijual setiap periode.

Perusahaan menggunakan penentuan harga cost plus (cost plus pricing).

Dan perusahaan mempunyai kebijakan menambahkan mark up 50% dari harga pokok produksi (HPP) untuk mendapatkan target harga jual atau menambahkan mark up 80% dari biaya variabel.

#akuntansi biaya metode full costing :

Bahan baku                     = Rp   8. 000
Tenaga kerja                    = Rp 12.000
Overhead variabel           = Rp   3.000
Overhead Tetap               = Rp   7.000
Total Biaya Produksi        = Rp 30.000

50% Mark up                    = Rp 15.000
Harga jual target              = Rp 45.000

contoh soal penentuan harga jual

#akuntansi biaya variable costing:

Bahan baku                       = Rp   8. 000
Tenaga kerja                      = Rp 12.000
Overhead variabel             = Rp   3.000
Biaya penjualan dan
Adm. Variabel                   = Rp   2.000
Total Biaya Produksi         = Rp 25.000

80% Mark up                     = Rp 20.00
Harga jual target               = Rp 45.000

cara menghitung harga jual makanan ringan

Dua contoh di atas memberikan suatu target harga jual yang tidak berbeda, begitu pula dalam keuntungan dan seluruh hasil penjualan, jika produk yang ada terjual.

Sebagaimana digambarkan dalam contoh di atas, maka akuntansi biaya full costing dan variable costing akan berbeda dalam beberapa hal, antara lain:

  • Produksi sama dengan unit yang dijual. Kedua metode di atas akan menghasilkan laba rugi yang sama.
  • Jika persediaan akhir lebih besar dari persediaan awal maka laba bersih full costing LEBIH BESAR daripada variable costing
  • Jika persediaan akhir lebih kecil daripada persediaan awal maka laba bersih menurut variable costing lebih besar daripada metode full costing.
  • Jika persediaan awal dan persediaan akhir sama, maka laba rugi kedua metode akan sama pula.

 

06: Format Laporan Hasil Perhitungan Biaya Produksi Per Unit

laporan biaya produksi

Komponen, unsur dan jenis biaya produksi  dalam proses produksi banyak, antara lain:

  • biaya bahan baku,
  • biaya produksi langsung,
  • biaya overhead,
  • biaya variabel.

Oleh karena itu cara menghitung biaya produksi harus dilakukan secara benar dan akurat.

Dan yang tak kalah pentingnya adalah format untuk menyajikan hasil perhitungan biaya dari siklus pembuatan produk tersebut.

Fungsi Laporan adalah untuk menghimpun dan mengikhtisarkan semua informasi yang telah dikumpulkan.

Bila cara dan format pelaporannya salah, maka implementasinya juga salah.

Oleh karena itu, setelah kita menghitung biaya dalam siklus pembuatan produk, selanjutnya adalah menyajikannya yang benar.

A: Bentuk Laporan Menurut Jenis Biaya Produksi

Ada 3 bentuk laporan yang umum digunakan, yaitu :

  • Bentuk#1: Biaya total, biaya serta penghasilan yang relevan maupun yang tidak relevan disajikan untuk setiap alternatif tindakan.
  • Bentuk#2.: Diferensial. biaya dan penghasilan relevan saja yang disajian dalam laporan.
  • Bentuk#3: Biaya kesempatan, biaya dan penghasilan yang relevan ditambah biaya kesempatan (opportunity cost) disajikan untuk satu alternatif tindakan.

Untuk memperjelas pembahasan ketiga bentuk laporan tersebut, yuk kita lihat contoh soal akuntansi biaya manufaktur untuk menghitung biaya produksi berikut ini:

PT Berkah Semakin Jaya, sebuah perusahaan pengolahan minuman kaleng sari apel Malang hanya mampu untuk menjual 50.000 dus

Padahal kapasitas dan produksi yang ada sebanyak 100.000 dus.

Biaya per 1 unit dus adalah sebagai berikut :

Bahan baku langsung                    = Rp. 20.000
Tenaga kerja langsung                  = Rp. 15.000
Biaya Overhead (BOP) variabel     = Rp, 25.000
Biaya overhead (BOP) Tetap          = Rp. 30.000
Biaya Produksi per unit                 = Rp. 90.000

Permintaan konsumen begitu rendah, sehingga dari 50.000 unit tersebut hanya terjual 10.000 unit dengan harga biasa Rp 125.000,  dan 10.000 buah saja dengan penurunan harga yang sangat drastis yaitu Rp. 80.000 per unit.

Dengan kemungkinan untuk 30.000 unit itu terjual di masa mendatang, tetapi perusahaan tidak bermaksud untuk menyimpannya sebagai persediaan.

PT Berkah  Semakin Jaya sedang mempertimbangkan alternatif tindakan sebagai berikut:

  • Memodifikasi model dus dan menjual dus lama dengan harga sebesar Rp. 20.000 dengan biaya bahan Rp. 5.000/unit.
  • Mengganti model dus tersebut dengan harga jual Rp. 40.000 per buah dengan biaya produksi Rp. 6.000, biaya bahan Rp. 7.000, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead variabel Rp. 9.000

Bagaimana cara menghitung biaya produksi dan menyajikan laporannya?

Begini cara menghitungnya…

#1. Bentuk Biaya Total

Disajikan  pada halaman berikutnya, pada laporan tersebut.

Biaya yang tidak relevan sebesar Rp. 90.000 per unit merupakan biaya yang telah terbenam (sunk cost) dan menunjukkan biaya yang telah terjadi untuk menghasilkan dus.

Jika menggunakan format biaya total dan biaya yang tidak relevan dihilangkan secara tak hati-hati dari salah satu tindakan yang diambil atau lebih, maka konsekuensinya adalah ada kemungkinan manajemen akan mengambil keputusan yang keliru.

Karena itu hendaknya harus hati-hati dan memperhatikan dengan seksama jika menggunakan format biaya total.

contoh perhitungan biaya total
Tabel: contoh format laporan bentuk biaya total

 

#2. Bentuk Biaya Diferensial

Perhatikan contoh tabel berikut:

rumus biaya variabel
Contoh format laporan bentuk biaya diferensial
Kelemahan format (bentuk) total cost :
  • Memerlukan pengertian yang mendalam (ekstra) tentang perilaku biaya terbenam (sunk cost)
  • Menyebabkan keputusan yang keliru, dengan kerugian yang cukup besar dari kedua alternatif.
  • Menyebabkan semua alternatif ditolak.

Metode diferensial memberikan kebaikan, yaitu memudahkan menerima informasi dari laporan yang disajikan dan lebih cocok dipergunakan dari biaya total.

Dari format biaya variabel atau biaya diferensial di atas dengan alternatif memodifikasi akan dapat menghemat atau mengurangi rugi sebesar pendapatan yang disajikan dari laporan.

Kerugian 30.000 dus X 90.000 = 2.700 juta
dikurangi keuntungan memodifikasi 15.000 X 30.000 = 450 juta
Kerugian menjadi = 2.700 – 450 = 2.250 juta

Alternatif penggantian model akan mengurangi kerugian sebesar :

= 18.000 X 30.000 = 540 juta

Tentunya alternatif penggantian model lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan merombak atau memodifikasi dus.

 

#3. Bentuk Biaya Peluang

Bentuk ini lebih efisien terutama jika terdapat banyak alternatif kemungkinan tindakan.

Karena biaya peluang atau opportunity cost dari suatu proyek merupakan atau menyebabkan kenaikan pendapatan yang hilang atas proyek lainnya.

Dalam format ini diasumsikan bahwa manajemen mempunyai suatu tingkat kemampuan yang sempurna dalam akuntansi manajerial.

Sehingga mereka benar-benar mampu atau memahami konsep-konsep ganda mengenai

  • Biaya relevan dan irrelevan, dan
  • Opportunity cost.

Jadi pada format ini hanya memerlukan perhitungan biaya produksi yang teliti atas pendapatan relevan dari alternatif-alternatif untuk pengambilan keputusan yang dihadapi.

Karena pendapatan satu alternatif akan menjadi opportunity cost alternatif lainnya.
cara menghitung harga pokok produksi
Tabel contoh format laporan bentuk biaya peluang
Kalau memodifikasi akan rugi sebesar:

= 3.000 per unit atau sebesar 3.000 X 30.000 dus = 9.000.000

Begitu pula sebaliknya, jika alternatif mengganti model dilaksanakan, keuntungannya sebesar 3.000 per unit atau sebesar 9 juta.

  • Pendapatan mengganti : 30.000 X 18.000 = 54 juta
  • Pendapatan memodifikasi : 30.000 X 15.000 = 45 juta
  • Selisih sebesar Rp 9 juta.

Seperti yang telah dibahas dalam bentuk atau format penyajian laporan, jika laporan dibuat dengan bentuk yang terakhir (opportunity cost).

Maka ketidakmampuan manajemen perusahaan dalam memahami biaya peluang, biaya kesempatan, opportunity cost.

Atau pendapatan yang luput akan menyebabkan kesimpulan yang keliru tentang jumlah biaya peluang ini.

Maka dilanjutkan penggunaan bentuk akuntansi biaya diferensial.

 

07: Analisis Biaya Untuk Memutuskan Proses Produksi Dihentikan Atau Dilanjutkan?

Analisis Biaya

Analisis biaya bisa digunakan sebagai pertimbangan untuk memutuskan apakah proses produksi suatu produk dihentikan atau dilanjutkan.

Keputusan yang relevan adalah jika tambahan penjualan (differential revenue) lebih besar dari biaya tambahan (differential cost), maka produk tersebut perlu diproses lebih lanjut.

Sebaliknya jika diferensial cost-nya lebih besar daripada pendapatan diferensialnya, maka produk tersebut lebih baik dijual.

 

A: Analisis Biaya Produksi

Untuk lebih memahami pengertian ini, perhatikan contoh analisis biaya produksi berikut ini:

Dalam suatu proses bersama, PT Berkah memproduksi 3 jenis produk X, Y, Z. Tiap produk bisa dijual pada titik tertentu atau diproses lebih lanjut.

Proses tambahan tidak membutuhkan fasilitas khusus dan biaya produksi untuk memproses lebih lanjut,  seluruhnya variabel dan dapat dibebankan pada setiap jenis produk yang bersangkutan.

Biaya produk bersama adalah 60.000 setahun. Nilai penjualan dan biaya yang diperlukan untuk mengevaluasi kebijakan produksi PT Berkah adalah sebagai berikut :

Analisis Biaya Produksi
contoh Analisis Biaya Produksi

Biaya bersama (joint cost) dialokasikan pada produk, menurut perbandingan volume produk yang bersangkutan secara fisik.

Biaya bersama (joint cost) dialokasikan pada produk, menurut perbandingan volume produk yang bersangkutan secara fisik.

Perhatikan contoh soal akuntansi biaya beserta jawabannya berikut:
Soal:

Untuk unit Z, biaya produksi per unit yang relevan pada keputusan dijual atau diproses lebih lanjut adalah 5, 12, 4 atau 9?

Untuk memperoleh laba maksimal PT Berkah harus melakukan proses tambahan pada produk-produk berikut ini : hanya Z, X, Y dan Z hanya Y dan Z atau X?

Pembahasan jawaban :

Biaya yang relevan untuk setiap produk adalah :

Tambahan Nilai Jual – Tambahan Biaya

Tambahan Nilai Jual per unit:

(Tambahan Nilai Jual – Nilai Realisasi Netto) : Unit Produk Bersangkutan

#Jadi pendapatan tambahan (diferensial) masing-masing produk adalah sebagai berikut:

  • Pendapatan diferensial X = (42.000 – 25.000) : 60.000 = 2,83
  • Pendapatan diferensial Y = (32.000 – 24.000) : 4.000 = 1
  • Pendapatan diferensial Z = (32.000 – 24.000) : 2.000 = 4

#Tambahan biaya :

  • Tambahan biaya X relevan = 9.000 : 6.000 = 1,5
  • Tambahan biaya X relevan = 7.000 : 4.000 = 1,75
  • Tambahan biaya X relevan = 8.000 : 2.000 = 4

Perhitungan tambahan biaya relevan adalah :

= Tambahan biaya proses lebih lanjut : Unit yang diproduksi produk ybs
#Laba diferensial masing-masing produk :

X = 2,833 – 1,50 = 1,33 laba per unit
Y = 1 – 1,75 = – 0,75 rugi per unit
Z = 4 – 4 = 0 BEP

Jika diproses lebih lanjut, ternyata hanya produk X yang memberikan keuntungan yaitu 1,333 per unit atau sebesar :

1,333 X 6.000 unit = 7.999,8

Produk Y jia diproses lebih lanjut akan rugi sebesar 0,75 per unit atau total :

0,75 X 4.000 = 3.000

Produk Z jika diproses lebih lanjut atau tidak sama saja dalam arti tidak menambah atau merugikan perusahaan PT Berkah, diferensial revenue per unit dikurangi diferensial cost = 0.

Dengan kata lain, produk Y dan Z dijual pada titik pisah saja, sedangkan produk X lebih menguntungkan jika dijual setelah diproses lebih lanjut.

Untuk menjelaskan masalah ini lebih jauh dan peranan keputusan yang telah diambil, dapat kita lihat analisis biaya selanjutnya seperti berikut ini :

#Alokasi biaya bersama dengan metode unit fisik :

X = (6.000 : 12.000) X 60.000 = 30.000
Y = (4.000 : 12.000) X 60.000 = 20.000
X = (2.000 : 12.000) X 60.000 = 10.000

#Laba rugi jika semua produk tidak diproses atau dijual pada titik pisah:

cara menghitung biaya produksi akuntansi biaya

Berdasarkan keputusan di atas, jika produk X diproses, maka perusahaan akan menambah laba sebesar 8.000.

#Laba Rugi jika produk X diproses lebih lanjut:

contoh kasus analisis biaya dan manfaat

Bandingkan jika semua produk dijual pada titik pisah dengan tabel ini, dengan melakukan proses lebih lanjut produk X.

Catatan:

Harga jual Y dan Z  harga nilai netto setelah dipisah,

X = harga proses lebih lanjut.

Begitu juga dengan perhitungan sebelumnya, jika produk Z diproses lebih lanjut, maka tidak akan menambah atau menguragi laba rugi PT Berkah.

 

08: Metode Pemisahan Biaya Campuran Menjadi Komponen Tetap Dan Variabel

Pemisahan Biaya Campuran

A: Pengertian Biaya Campuran (mixed cost)

Apa itu biaya campuran/mixed cost?

Yang dimaksud dengan biaya campuran/mixed cost adalah biaya yang mengandung elemen biaya tetap dan elemen biaya variabel.

Biaya campuran ini sering pula disebut biaya semi variabel.

Ada 2 sifat biaya campuran, yaitu :

  • Totalnya berubah mengikuti perubahan volume, tetapi perubahannya tidak proporsional.
  • Per unitnya juga berubah, tetapi terbalik dengan perubahan volume dan tidak sebanding. Contoh : biaya telepon, pemeliharaan mesin, dan biaya listrik.

Tujuan pemisahan biaya campuran adalah untuk digunakan dalam proses perencanaan, pengendalian dan sebagai informasi pengambilan keputusan.

Walaupu tidak bisa dielakkan, namun biaya campuran ini masih bisa dipisahkan melalui 2 metode berikut ini, yaitu:

 

A: Pendekatan Analisis [Analytical Approach]

Kebanyakan dalam sistem akuntansi biaya adalah semua informasi tentang cost setiap bagian atau unit yang dikeluarkan dalam suatu periode atau kapasitas tertentu selalu dikumpulkan dan dicatat.

Seorang analis yang akrab dengan akuntansi biaya biasanya mampu menetapkan atau membuat estimasi perubahan cost dari perubahan volumen tertentu.

Dengan mempelajari historical record dapat ditunjukkan tingkat biaya yang dikeluarkan dan volume yang dicapai yang berhubungan dengan biaya tersebut.

Suatu budget yang fleksibel kemudian disusun berdasarkan analisis setiap transaksi.

Dari catatan yang ada, dapat diketahui bahwa ada biaya yang tidak berubah mengikuti volume dan adapula biaya yang berubah mengikuti perubahan volume.

Budget yang fleksibel disusun dengan berbagai tingkat volume atau kapasitas misalnya, kapasitas 25%, 50%, 75% dan pada kapasitas 100%.

 

B: Pendekatan Historis [Historical Approach]

Berdasarkan pendekatan historikal, pemisahan biaya campuran dapat dilakukan dengan 4 metode, yaitu :

  • Metode titik tertinggi-terendah (high low point method)
  • Metode biaya berjaga ( stand by cost method)
  • Metode Grafik statistik (Scatter Graph)
  • Metode Regresi Sederhana (Simple Regression)

Mari dirinci satu-per-satu…

#1: Metode titik tertinggi-terendah (high low point method)

Metode analisis biaya campuran ini menghendaki bahwa biaya yang terjadi, misalnya biaya pemeliharaan harus diamati baik pada tingkat volume tinggi maupun pada volume rendah.

Contoh soal akuntansi biaya berikut :

Biaya pemeliharaan perusahaan PT Manajemen Keuangan Network yang telah diamati dalam relevan range 5000 – 8000 jam kerja langsung adalah seperti berikut:

high low point method

Dengan mengamati perubahan data di atas, maka analisis di adakan sebagai berikut:

pendekatan historis-

Biaya Variabel :

= Perubahan biaya : Perubahan jam
= 300 : 3.000 = 0,10

Setelah ditentukan tingkat variabel Rp. 0,10 per jam kerja langsung, maka saat ini memungknkan untuk menentukan jumlah biaya tetap dengan cara berikut:

Elemen tetap = Total biaya – ( Biaya variabel / unit X volume )

Pada titik tertinggi :

Biaya Tetap = Rp. 1000 – ( Rp. 0,10 X 8.000 ) = Rp. 200

Pada titik rendah :

Biaya Tetap = Rp. 700 – ( Rp. 0,10 X 5.000 ) = Rp. 200

 

#2: Metode Stand by Cost (Biaya berjaga)

Metode ini menggunakan cara penghitungan, pada saat atau perusahaan ditutup sementara.

Dan biaya yang dikeluarkan pada saat ditutup sementara itu disebut biaya tetap(fixed cost)

Sedangkan biaya variabelnya dihitung dengan rumus:

VC unit = (Total cost rata-rata – Biaya Tetap) : Jam kerja rata-rata

Masih menggunakan contoh data perusahaan PT Berkah di atas maka:

  • Total Cost rata-rata = Jumlah Cost : n
  • Total Cost rata-rata = 5.900 : 7(bulan) = Rp. 842,86 (dibulatkan)
  • Jam kerja rata-rata = Total jam kerja : n (bulanan)

Dari data di atas :

  • Jam kerja rata-rata : 45.500 jam : 7 (bulan) = 6.500 jam
  • Biaya variabel unit = (Biaya total rata-rata – fixed Cost):Jam kerja rata-rata
  • Biaya Variabel unit = (Rp. 842,86 – 140) : 6.500 = Rp. 0,108 BV per unit

Biaya tetap Rp 140 adalah angka yang ditetapkan, dan merupakan anggapan jika perusahaan tidak beroperasi atau dihentikan sementara, maka biaya yang keluar sebesar Rp. 140.

 

#3: Metode Grafik Statistik (Scatter Graph)

Metode ini menggunakan cara :

  1. Membuat grafik statistik, sumbu vertikal sebagai Total Cost (total biaya), sedangkan sumbu horisontal, menunjukan volume (kuantitas).
  2. Biaya setiap bulan diletakkan dalam grafik.
  3. Sebuah garis ditarik yang dapat mewakili semua titik pada poin (b).
  4. Garis yang memotong sumbu tegak (Total Cost) pada volume nol dianggap sebagai biaya tetap (fix cost)
  5. Garis lurus ke kanan dari titik pada (d) yang ditarik mendatar adalah biaya tetap
  6. Biaya Variabel di hitung = (biaya total rata-rata – fix cost) : Volume rata-rata

Metode ini disebut juga Metode Penarikan Bebas atau Free Hand Method.

Oleh karena itu tergantung dari pengolah dan tentu akan terdapat garis yang berbeda antara seorang dengan seorang lainnya.

Namun sebagai pedoman pokok, garis yang ditarik setidak-tidaknya harus berada di tengah-tengah titik yang ada.

Atau dapat membagi titik sama banyak di atas dan di bawah garis yang ditarik.

 

#4: Metode Regresi Sederhana (Simple Regression)

Metode ini disebut juga metode kuadrat terkecil, yang merupakan analisis statistik daripada sekadar meletakkan secara bebas pada metode scatter graph sebelumnya.

Metode ini didasarkan atas perhitungan dengan menggunakan persamaan garis lurus yang umum, yaitu :

Y = a + bx

Dan harus diperhatikan Y adalah angka penafsiran dan termasuk pula penafsiran parameternya, yaitu :

a = biaya tetap (konstanta)
b = biaya variabel.

Dalam praktek, metode Regresi Sederhana ini akan sangat bermanfaat bagi manajemen perusahaan untuk mendapatkan satu jarak (range) tertentu untuk variabel dependen.

Sehingga dapat dibuat propabilitas di mana nilai sesungguhnya akan berada pada jarak (range) tersebut, dan hal ini dapat dilakukan.

 

09: Perilaku Biaya Dalam Pasar Persaingan Sempurna Dan Tak Sempurna

Pasar Persaingan Sempurna

Perilaku biaya tidak terlepas dari karakteristik pasar. Ada 2 jenis pasar, yaitu:

  • pasar persaingan sempurna, dan
  • pasar persaingan tidak sempurna.

 

A: Pasar Persaingan Sempurna

Apa yang dimaksud pasar persaingan sempurna?

Pasar sempurna atau dikenal juga dengan pasar persaingan sempurna adalah pasar yang memiliki cari-ciri sebagai berikut:

  • Terdapat sejumlah besar penjual dan pembeli, sehingga individu-individu tidak dapat mempengaruhi harga barang.
  • Produk-produk dari seluruh perusahaan dalam pasar adalah homogen.
  • Terdapat mobilitas faktor-faktor yang sempurna.
  • Para konsumen, para pemilik faktor-faktor di dalam pasar mempunyai pengetahuan yang sempurna mengenai harga-harga dan biaya-biaya yang sekarang dan yang akan datang.

Dari pengertian pasar persaingan sempurna seperti ciri-ciri tersebut maka HARGA adalah linier per unit dengan total cost yang NON LINIER.

Ada 2 jenis pasar persaingan sempurna, yaitu:

#1. Persaingan Sempurna dengan Total Revenue Linier dan Total Cost Non Linier

Keseimbangan dalam dfinisi ini berhubungan dengan pendekatan jangka pendek (pendekatan total), kemudian sekaligus dihubungkan dengan metode pendekatan jangka pendek marginal.

Perhatikan contoh akuntansi biaya menggunakan metode ini:

Pasar Persaingan Sempurna
Tabel: Persaingan Sempurna Total Revenue Linier dan Total Cost Non Linier
Keterangan :
  • TR = Total Revenue
  • TC = Total Cost
  • MC = Marginal Cost
  • MR = Marginal Revenue
  • TR = Q X P
  • TC = Berdasarkan persamaan yang ditetapkan
  • TR = TR – TC

Marginal revenue per unit, tidak menjadi persoalan karena sama dengan AR = MR

Marginal Revenue dihitung sebagai berikut:

Marginal Revenue dari 800 -2.000 = 1.200 : Marginal unit = Rp 12

Marginal Cost Rp 3 = Marginal Cost : Marginal unit

= 300/100 = (2.300 – 2.000)/(200-100)

AC = Total Cost : Total unit

= 2000 : 100 = Rp 20
= 2300 : 200 = Rp 11,5

Dan seterusnya….

Profit per unit:

= Total profit :Total unit
= -1200 : 100 = – Rp. 12
= -700 : 200 = – Rp. 3,50

#2. Persaingan Sempurna dengan Total Revenue Non Linier dan Total Cost Linier

 

B: Pasar Persaingan Tidak Sempurna

Apa pengertian pasar persaingan tidak sempurna?

Persaingan tidak sempurna adalah pasar yang berlaku dalam suatu atau kelompok industri bilamana masing-masing penjual menghadapi kurva average revenue.

Atau harga yang tidak horizontal dan karena itu sedikit banyak mampu mengendalikan harga.

#1: Pasar Campuran Monopoli danPersaingan.

Kebanyakan industri termasuk dalam persaingan yang tidak sempurna yaitu suatu campuran antara monopoli dan persaingan.

Di dalam persaingan tidak sempurna termasuk pengertian monopolistis, yaitu jumlah produsen banyak dengan diferensial produk.

Dalam sektor perdagangan eceran atau retail seperti makanan dan obat-obatan, yang sedikit bisa mengendalikan harga.

#2: Pasar Oligopoli

Apa itu pasar oligopoli?

Pengertian pasar Oligopoli adalah pasar di mana jumlah produsen sedikit tanpa diferensial atau sedikit diferensial produk dan sedikit mengendalikan harga.

Tanpa diferensial produk misalnya pada industri baja dan minyak bumi, dengan diferensial produk misalnya sektor industri mobil dan mesin-mesin.

#3: Pasar Monopoli

Apa itu pasar monopoli?

Pengertian pasar monopoli adalah pasar di mana satu produsen dengan produk unik tanpa substitusi.

Umumnya perusahaan jasa umum seperti telepon, gas, listrik dan air minum.

Konsep penting dalam analisis ekonomi adalah EQUILIBRIUM atau harga dan kuantitas yang memberikan selisih sebesar antara revenue sama dengan marginal cost.

Jadi dalam situasi tidak sempurna ini, HARGA PER UNIT maupun TOTAL nya tidak linier, dan total cost juga demikian.

Sebagai catatan berkaitan dengan persaingan tidak sempurna ini, perlu dipahami bahwa:

“profit maksimum dalam teori ekonomi tidak sama dengan total revenue maksimum (Laba maksimum tidak sama dengan total Revenue maksimum)”

Karena bila pada total revenue maksimum belum tentu diperoleh laba maksimum, begitu pula sebaliknya jika Cost minimum belum tentu LABA maksimum (Laba maksimum bukan cost minimum).

Namun konsep Marginal Revenue = Marginal Cost tetap sebagai konsep utama, dalam menjelaskan LABA MAKSIMUM.

 

10: Metode Klasifikasi Biaya dalam Akuntansi Biaya

pengertian akuntansi biaya fungsi dan klasifikasinya

Klasifikasi biaya (cost classification) atau penggolongan biaya perlu dilakukan sesuai dengan tujuan akuntansi biaya untuk menentukan metode yang tepat dalam mengumpulkan dan mengalokasikan biaya.

Hal tersebut perlu dilakukan karena akan menentukan laba rugi sebuah bisnis.

Dan pada akhirnya menentukan kelangsungan bisnis yang Anda kelola.

Maka siapa pun Anda, baik sebagai pemilik bisnis atau sebagai manajemen perusahaan, kepedulian anda terhadap siklus biaya dan klasifikasi biaya/penggolongan biaya perlu diperhatikan.

Ada 8 hal penting yang perlu diperhatikan dalam metode klasifikasi biaya [penggolongan biaya] yaitu:

#1: Fungsi

Klasifikasi biaya/penggolongan biaya dalam akuntansi manajemen berdasarkan fungsi manajemen ada 4 jenis biaya, yaitu:

  • Biaya Produksi, yakni biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan suatu barang. Contoh biaya produksi : biaya mesin per jam.
  • Biaya Pemasaran, yakni biaya yang dikeluarkan untuk menjual suatu barang atau jasa, yang termasuk biaya pemasaran, misalnya biaya iklan. Mengenai pengertian biaya iklan dan contoh-contohnya bisa diperoleh di buku-buku marketing yang dijual bebas di pasaran.
  • Biaya Operasional, adalah pengeluaran untuk menjalankan kebijaksanaan-kebijaksanaan.
  • Biaya Keuangan, adalah bagian pengeluaran yang dikaitkan dengan upaya pencarian dana. Misalnya upaya-upaya perusahaan untuk mendapatkan investor.

 

#2.  Unsur-unsur

Klasifikasi biaya/penggolongan biaya berdasarkan perilaku biaya ada 3 unsur, yaitu :

Unsur #1: Bahan langsung

Bahan langsung adalah biaya bahan baku yang merupakan bagian yang integral dari produk jadi.

Sehingga perlu diketahui bagaimana cara menghitung biaya bahan baku yang akurat.

Misalnya biaya bahan baku raw material untuk membuat produk yang akan dijual.

Unsur #2: Upah langsung

Upah langsung adalah ialah biaya tenaga kerja langsung untuk keperluan komponen produk jadi. Misalnya gaji pegawai di bagian produksi.

Unsur #3: Biaya biaya administrasi dan umum pabrik

Biaya biaya administrasi dan umum pabrik adalah biaya segala bahan, upah tidak langsung serta biaya produksi yang tidak alangsung dapat dibebankan pada satuan, pekerjaan atau produk tertentu.

Misalnya biaya gaji pegawai kantor administrasi.

 

#3. Produk

Berdasarkan produk, ada 2 jenis biaya, yaitu :

Jenis biaya #1: Biaya Langsung

Biaya langsung adalah biaya yang dibebankan pada produk tanpa memerlukan alokasi lebih lanjut.

Jenis biaya #2: Biaya Tidak Langsung

Biaya tidak langsung adalah biaya yang dibebankan pada produk dengan memerlukan alokas lebih lanjut.

 

#4: Departemen

Klasifikasi biaya/penggolongan biaya menurut departemen dibagi menjadi 2, yaitu :

Penggolongan biaya #1: Biaya Bagian Produksi

Penggolongan biaya Bagian Produksi adalah satu unit kegiatan yang dilaksanakan atas suatu komponen atau suatu produk yang biayanya dialokasikan lebih lanjut.

Penggolongan biaya #2: Biaya pelayanan atau jasa

Penggolongan biaya bagian pelayanan atau jasa adalah suatu unit yang tidak langsung terlibat dalam kegiatan produksi dan biaya pada akhirnya dibebankan pada satuan produksi.

 

#5: Saat dibebankan pada Pendapatan

Berdasarkan waktu pembebanan pada pendapatan, klasifikasi biaya/penggolongan biaya dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu:

Penggolongan biaya #1: Biaya produk

Biaya produk adalah biaya-biaya yang dimasukkan pada waktu penghitungan biaya produksi.

Biaya produk termasuk dalam persediaan dan dalam harga pokok penjualan (HPP) apabila produk dijual.

Penggolongan biaya #2: Biaya periode

Biaya periode adalah biaya yang berkaitan dengan perjalanan waktu dan bukan dengan jumlah produk.

Biaya ini ditunjukkan pada biaya perhitungan laba rugi di setiap akhir periode karena tidak ada lagi manfaat yang diterima di masa mendatang.

Dan ini merupakan definisi dari expense, serta yang membedakannya dengan biaya.

Di mana pengeluaran ini telah digunakan untuk menghasilkan produk.

 

#6. Kaitannya dengan Volume

Klasifikasi biaya/penggolongan biaya berdasarkan volume produksi ada 2 jenis biaya yaitu :

Penggolongan biaya #1: Biaya Variabel,

Biaya variabel adalah biaya yang jumlahnya berubah secara proporsional dengan perubahan kegiatan bersangkutan.

Biaya satuan tidak berubah dan tidak dipengaruhi oleh volume.

Penggolongan biaya #2: Biaya Tetap

Biaya tetap adalah pengertian biaya tetap adalah biaya yang tidak berubah jumlahnya sekalipun volume berubah.

Harga satuannya akan turun bila volumenya meningkat.

 

#7. Periode yang dicakup

Menurut periode yang dicakup, klasifikasi biaya/penggolongan biaya dibedakan menjadi 2 yaitu :

Penggolongan biaya  #1: Modal

Modal adalah biaya yang diharapkan akan memberikan manfaat di masa mendatang dan diklasifikan sebagai aktiva.

Penggolongan biaya #2: Pendapatan

Pendapatan adalah biaya yang diharapkan akan memberikan manfaat pada waktu terjadi pengeluaran dan biasanya dianggap expense.

 

#8. Tingkat rata-rata

Pembagian jenis biaya berdasarkan pada tingkat rata-rata ada 2 yaitu :

Penggolongan biaya #1: Total Biaya

Total biaya atau biaya total adalah biaya kumulatif menurut kategori yang telah ditentukan.

Penggolongan biaya #2: Biaya Satuan

Biaya Satuan, yakni keseluruhan jumlah biaya dibagi dengan unit atau volume.

 

11: Cara Menghitung Biaya Peluang (Opportunity Cost)

Cara Menghitung Biaya Peluang

A: Pengertian Biaya Peluang (opportunity cost)

Apa yang dimaksud biaya peluang (opportunity cost)?

Pengertian biaya peluang (opportunity cost) adalah keuntungan yang hilang karena ditolaknya alternatif tindakan yang kadarnya di bawah tindakan yang terbaik.

Jika suatu keputusan untuk melaksanakan salah satu alternatif sudah ditentukan, maka manfaat alternatif-alternatif lainnya akan terlepas dari tangan.

Manfaat yang lepas karena diputuskan untuk memilih yang lain disebut biaya kesempatan atau opportunity cost dari pilihan yang telah dibuat itu.

 

B: Fungsi Akuntansi Biaya Peluang (opportunity cost)

Apa manfaat dan fungsi biaya peluang (opportunity cost)?

Fungsi akuntansi biaya peluang adalah untuk memperoleh alternatif tindakan yang terbaik dari berbagai alternatif

Sebelum menentukan sebuah keputusan, maka perlu dilakukan perhitungan biaya peluang.

Tentu sebelumnya telah mengumpulkan dan melakukan evaluasi terhadap berbagai alternatif.

Di mana dalam evaluasi juga melakukan berbagai perbandingan antara alternatif satu dengan yang lain, sampai akhinyar diputuskan untuk menentukan satu alternatif yang terbaik.

Biaya peluang sebenarnya tidak terjadi.

Biaya ini benar-benar merupakan biaya pengambil keputusan, biaya ini tidak pernah tercatat dalam akuntansi.

Namun demikian biaya ini adalah relevan untuk tujuan pengambilan keputusan dan harus dipertimbangkan dalam mengevaluasi sebagai alternatif tindakan yang direncanakan.

Nilai sesungguhnya dari biaya kesempatan itu seringkali sulit ditentukan, karena adanya faktor-faktor lain yang ikut berperan.

Misalnya, suatu keputusan manajemen untuk menekan biaya pemilikan inventory dengan jalan mempunyai persediaan sedikit mungkin, bisa mengakibatkan kekosongan persediaan.

Sehingga penjualan yang tidak dapat direalisir karena kekosongan persediaan adalah biaya kesempatan dari keputusan manajemen.

Untuk itulah diperlukan suatu metode persediaan yang tepat yang dapat menekan biaya pemilikan (carrying cost)

Dan sekaligus menekan kemungkinan kekosongan persediaan sampai batas minimum.

 

C: Cara Menghitung Biaya Peluang

Untuk membantu memudahkan memahami perhitungan biaya peluang/biaya oportunitas /opportunity cost, saya sajikan 2 contoh soal akuntansi biaya peluang berikut ini:

Contoh #1:

Pak Budi adalah pemilik toko pakaian muslim di pasar besar metropolis.

Sementara itu, belum lama ini, Pak Budi ditawari jabatan sebagai manajer cabang di salah satu supermarket terkenal dengan penghasilan sebesar Rp. 50 juta setahun.

Pak Budi ‘galau’ untuk mengambil keputusan yang paling tepat.

Pak Budi juga punya keyakinan bahwa ia dapat menjual tokonya sebesar Rp. 115 juta.

Pak Budi mulai mengamati dan menghitung kedua alternatif yang dihadapinya. Tujuannya tentu agar keputusan yang akan diambil merupakan keputusan yang terbaik.

Sebagai informasi perhitungan laba rugi perusahaan Pak Budi untuk tahun lalu adalah sebagai berikut :

#1: Pendapatan:
  • Hasil penjualan          = Rp. 225 juta
  • HPP                            = Rp. 135 juta
  • Laba Kotor                 = Rp.    90 Juta
#2: Biaya Operasional:
  • Sewa Gedung                    = Rp.   7,2 juta
  • Upah Karyawan                 = Rp. 17 juta
  • Biaya Adm dan Umum      = Rp. 3,64 juta
  • Perlengkapan                    = Rp. 56 Juta
  • Biaya Iklan [Google Ads]   = Rp. 1,45 Juta
  • Asuransi                             = Rp. 82 juta
  • Biaya lain-lain                    = Rp. 1,78 juta
  • Jumlah biaya operasional  = Rp.   29,57 juta
#3: Laba Bersih:                          = Rp. 60,43 juta

Analisis Pak Budi harus dikurangi dengan biaya peluang yang tercakup dalam kesempatan yang akan diambilnya,yaitu :

  • Gaji yang tidak jadi diterimanya
  • Bunga deposito yang bisa diterimanya, bila tokonya dijual dan hasilnya disimpan pada bank.

Perhitungannya adalah sebagai berikut :

  • Laba bersih dengan membuka toko adalah Rp. 60,43 juta,
  • kemudian dikurangi dengan : gaji yang tidak diterima dan bunga deposito, misalnya 17% per tahun.
Jadi total biaya peluang (opportunity cost) adalah:

= 50 juta + ( 17% x 115 juta ) = Rp. 69,55 juta

Kerugian karena tidak menerima tawaran kerja  adalah :

Rp. 60,43 juta – Rp 69,55 juta = Rp. (9,12 Juta)

Dari hasil perhitungan di atas Pak Budi mendapatkan bahan pertimbangan untuk memutuskan urusannya:

“bila ia tidak memperhatikan biaya peluang tentunya ia akan menarik kesimpulan yang salah dan akan berpendapat bahwa lebih menguntungkan jika tetap menjalankan usaha sendiri”

Analisis ini sifatnya kuantitatif atau berdasarkan angka-angka, oleh karena itu Pak Budi sebaiknya juga melakukan analisis terhadap faktor-faktor kualitatif.

Contohnya, seperti:

  • kerugian kebebasan sebagai pengusaha, dan
  • rugi karena tidak menerima tambahan penghasilan sebesar Rp. 9,12 juta.

Yang pasti semua keputusan ada konsekuensinya, dan itu harus dipertimbangkan dengan perhitungan yang cermat, agar tidak menyesal di kemudian hari 🙂

 

Contoh #2: Soal perhitungan biaya oportunitas:

Pak Jono seorang akuntan publik yang kantornya ramai.

Melalui pelayanan yang sepenuh hati dan full support ‘seumur hidup’. Klien-klien semakin banyak.

Sehingga walaupun ia telah menaikkan tarifnya sejak beberapa tahun terakhir ini, namun tetap saja ia kewalahan menangani klien-klien yang akan konsultasi.

Pak Jono bekerja rata-rata 6 jam setiap hari dan 6 hari dalam seminggu, setahunnya selam 48 minggu.

Biaya konsultasi yang ia terima rata-rata per jam Rp. 50.000,- . Untuk biaya variabelnya terlalu kecil sehingga tidak ia perhitungkan.

Permasalahannya adalah :

Berapa biaya oportunitas atau biaya peluang untuk satu tahun, karena dua minggu sekali, setiap hari Sabtu ia tidak bekerja.

Misalnya Pak Jono sudah memutuskan dengan pasti untuk mengikuti jadwalnya yang baru.

Ia gemar main futsal. Bila ia main futsal pada hari Sabtu di mana ia tidak menerima konsultasi klien.

Berapa biaya peluang-nya?

Begini pembahasan jawaban soalnya:

Soal #1:

Sebagaimana kita ketahui bahwa setahun 48 minggu, jika 2 minggu sekali tidak bekerja berarti 24 minggu x 1 hari (jam) x pendapatan per jam.

Jadi biaya peluang, biaya kesempatan, biaya oportunitas, atau opportunity cost adalah  =

= 24 x 1 (hari) x 6 jam x Rp. 50.000 = Rp. 7.200.000,-

Atau pendapatannya akan hilang (berkurang) sebesar biaya peluang ini.

Soal #2:

Biaya peluang atau opportunity cost main futsal adalah :

= 48 x 6 jam per hari x Rp. 50.000 = Rp. 14.400.000

Dari 2 contoh soal akuntansi biaya peluang tersebut, dapat dijadikan pelajaran bahwa untuk membuat suatu keputusan kita memerlukan data yang dapat diukur, dianalisis dengan tepat dan kemungkinan untuk dilaksanakan.

Dan beberapa langkah yang bisa dilakukan adalah :
  • Menentukan permasalahan yang sedang terjadi.
  • Mengenali dengan seksama berbagai kemungkinan atau alternatif-alternatif yang ada.
  • Menetapkan data dan biaya yang relevan dengan keputusan yang akan diambil.
  • Mengevaluasi data, dengan metode yang berkaitan pada berbagai alternatif atau evaluasi yang seharusnya dibuat.
  • Mempertimbangkan faktor-faktor kualitatif.
  • Keputusan dan alasan diambilnya keputusan tersebut.

 

12: Akuntansi Biaya Metode ABC [Activity Based Costing] Untuk Pengelolaan Biaya

akuntansi biaya metode abc

A: Pengertian Akuntansi Biaya Metode ABC (Activity Based Costing)

Akuntansi biaya Activity Based Costing adalah prosedur untuk menghitung objek biaya produk, jasa dan pelanggan.

Atau suatu pendekatan atau cara menghitung biaya produksi per unit yang membebankan biaya ke produk atau jasa berdasarkan konsumsi sumber daya yang disebabkan karena aktivitas.

Tujuan akuntansi biaya metode ABC [activity based costing] atau biaya berdasarkan aktivitas adalah untuk meningkatkan akurasi analisis biaya dengan memperbaiki cara penelusuran biaya ke objek biaya.

Objek biaya atau cost object merupakan sesuatu atau aktivitas di mana biaya diakumulasikan.

Konsep biaya ini tidak hanya meliputi produk, jasa, dan departemen, tapi juga kelompok produk, jasa, departemen, pelanggan, dan supplier.

Sistem ABC cocok digunakan untuk perusahaan yang memiliki sistem operasi yang bersifat kompleks dengan berbagai jenis produk dan proses manufaktur yang banyak.

Ada 2 tahap yang dilakukan dalam akuntansi biaya metode ABC adalah:
  • Membebankan biaya sumber daya ke aktivitas yang dibentuk oleh perusahaan.
  • Biaya aktivitas dibebankan ke produk, pelanggan, dan jasa yang berguna untuk menciptakan permintaan aktivitas.

 

 B: Merancang Akuntansi Biaya Metode ABC (Activity Based Costing)

Jadi ada tiga tahap dalam perancangan sistem Activity Based Costing, yaitu:

  • Identifikasi biaya sumber daya dan aktivitas
  • Membebankan biaya sumber daya ke aktivitas
  • Membebankan biaya aktivitas ke objek biaya

Pembebanan biaya merupakan proses pembebanan biaya ke dalam cost pool atau dari cost pool ke cost object.

Biaya terjadi jika sumber daya digunakan untuk tujuan tertentu. Kadangkala biaya dikumpulkan dalam satu kelompok tertentu yang disebut cost pool.

Pengelompokan biaya atau cost pool bisa berdasarkan pada jenis biaya, sumber biaya atau penanggung jawab.

Cost pool yang didasarkan pada jenis biaya, contohnya adalah biaya tenaga kerja langsung atau biaya bahan.

Bila didasarkan pada sumber, adalah jenis-jenis biaya yang berasal dari  berbagai departeman, bagian atau divisi.

Sedangkan contoh yang didasarkan pada penanggungjawab adalah biaya-biaya yang berasal dari manajer marketing, manajer produksi dan lainnya.

Sedangkan sumber daya merupakan unsur ekonomis yang dibebankan atau digunakan dalam pelaksanaan aktivitas.

Misalnya biaya gaji karyawan dan biaya bahan baku.

Elemen biaya merupakan jumlah yang dibayarkan untuk sumber daya yang digunakan oleh aktivitas dan terkandung dalam cost pool.

Ukuran kuantitas sumber daya yang digunakan atau dikonsumsi oleh aktivitas dikenal dengan istilah resources driver.

Ukuran frekuensi dan intensitas permintaan suatu aktivitas terhadap objek biaya disebut activity driver.

Sedangkan untuk menghitung biaya sumber dari setiap unit aktivitas digunakan cost driver.

 

 C: Manfaat Akuntansi Biaya Metode ABC (Activity Based Costing)

Ada tiga manfaat dari sistem Activity Based Costing (ABC), yaitu :

Manfaat Akuntansi Biaya Metode ABC #1:

Menyajikan biaya produk lebih akurat dan informatif yang mengarahkan pengukuran profitabilitas produk lebih akurat terhadap keputusan stratejik, tentang harga jual, lini produk, pasar, dan pengeluaran modal.

Manfaat Akuntansi Biaya Metode ABC #2:

Pengukuran yang lebih akurat tentang biaya yang dipicu oleh aktivitas sehingga membantu manajemen meningkatkan nilai produk (product value) dan nilai proses (process value).

Manfaat Akuntansi Biaya Metode ABC #3:

Memudahkan untuk memberikan informasi tentang biaya relevan yang digunakan sebagai pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan.

 

D: Perhitungan Biaya Produk dalam Akuntansi Biaya Metode ABC (Activity Based Costing)

Sistem biaya berdasarkan aktivitas, pertama menelusuri biaya aktivitas dan selanjutnya ke PRODUK. Oleh karena itu sistem ini juga merupakan PROSES DUA TAHAP.

Proses tahap #1:

Menelusuri biaya overhead ke aktivitas, bukan ke unit perusahaan, seperti departemen atau unit produksi.

Proses tahap #2:

Tahap kedua meliputi pembebanan biaya ke produk.

Kedua proses tersebut bila digambarkan dalam diagram adalah sebagai berikut:

Perhitungan biaya produk
Proses Akuntansi Biaya Metode ABC
Keterangan :
Tahap I :

Pada tahap I ini akan memberikan lima hasil, yaitu :

  • Identifikasi aktivitas
  • Biaya-biaya yang dibebankan ke aktivitas
  • Aktivitas yang berkaitan dikelompokkan untuk membentuk kumpulan aktivitas.
  • Biaya aktivitas yang dikelompokkan dijumlahkan untuk mendefinisikan kelompok.
  • Biaya overhead dari kelompok biaya yang dihitung.
Tahap II :

Menghasilkan rumusan atau formula pembebanan overhead pabrik dari setiap kelompok biaya untuk setiap produk, yaitu sebagai berikut :

Overhead dibebankan untuk suatu produk:

= Biaya kelompok x Unit penggerak yang dikonsumsi  produk.

 

E: Kelemahan Akuntansi Biaya Metode ABC [Activity Based Costing]

Suatu sistem, metode atau cara selalu ada sisi kelebihan dan kekurangannya.

Demikian juga dengan sistem/metode Activity Based Costing (ABC) ini, juga memiliki kelemahan antara lain:

#1: Alokasi, beberapa biaya dialokasikan pada hal yang kurang tepat.

Hal ini karena sulitnya dalam menentukan aktivitas biaya tersebut. Contohnya biaya pembersihan pabrik dan pengelolaan proses produksi.

#2: Mengabaikan biaya tertentu dari analisis biaya.

Contohnya biaya iklan, riset dan pengembangan.

Untuk menghindari kelemahan ini, misalnya tentang biaya iklan harus benar-benar dipahami pengertian biaya iklan.

Sehingga tidak ada pengabaian saat melakukan analisis biaya.

#3: Pengeluaran dan waktu yang dikonsumsi

Hal tersebut di samping memerlukan biaya yang mahal juga memerlukan waktu yang cukup lama.

 

13: Perbedaan dan Hubungan Biaya dan Beban

Perbedaan Biaya dan Beban

A: Pengertian Biaya Menurut Para Ahli

Apa yang dimaksud dengan beban dalam akuntansi?

Menurut disiplin akuntansi manajemen pengertian biaya atau COST adalah biaya-biaya yang dianggap akan memberikan manfaat (service potentials) di waktu yang akan datang dan karena itu dicantumkan dalam NERACA.

Pengertian biaya atau Cost menurut AAA (American Accounting Association) adalah pengeluaran yang diukur dalam moneter yang telah dikeluarkan atau potensial akan dikeluarkan untuk memperoleh dan mencapai tujuan tertentu.

Contoh biaya atau cost adalah biaya-biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan suatu produk tertentu, atau yang kita kenal sebagai biaya produksi yang dimasukkan dalam persediaan.

Perhatikan komponen-komponen penyusun dari NERACA sederhana berikut ini:
perbedaan biaya dan beban menurut psak
Contoh Laporan Keuangan – Neraca

Dari contoh Neraca perusahaan jasa di atas, perhatikan komponen yang dilingkari warna merah, yaitu persediaan.

Kaitannya dengan cost atau biaya adalah biaya-biaya yang digunakan untuk menghasilkan sebuah produk atau biaya produksi dimasukkan dalam PERSEDIAAN dan dicantumkan dalam NERACA.

 

B: Pengertian Beban Menurut Para Ahli

Pengertian Beban [expense] menurut Zaki Baridwan dalam Intermediate Accounting adalah aliran keluar atau pemakaian lain aktiva selama suatu periode yang berasal dari penyerahan barang, jasa.

Atau dari pelaksanaan aktivitas lain yang merupakan aktivitas utama dari sebuah organisasi bisnis (perusahaan)

Sedangkan menurut AAA (American Accounting Association) pengertian BEBAN atau EXPENSE adalah pengeluaran yang telah digunakan untuk menghasilkan prestasi.

Atau dengan kata lain, biaya yang diharapkan akan memberikan manfaat pada waktu terjadi pengeluaran.

Karena pengeluaran itu tidak dapat memberi manfaat lagi di waktu yang akan datang, maka pelaporannya ada di Laporan LABA RUGI (Income Statement)

Perhatikan contoh Laporan Laba Rugi berikut ini :

pengertian beban penjualan

Perhatikan elemen-elemen yang ada dalam kotak warna merah dari contoh Laporan Laba Rugi perusahaan jasa di atas.

Item-item itulah contoh beban yang dicantumkan dalam laporan laba rugi, yaitu:
  • beban gaji,
  • beban sewa,
  • beban lain-lain dan
  • beban perlengkapan.

Jadi sudah jelas ya mana yang termasuk cost/biaya atau expense/beban

 

14:  Marginal Cost untuk Pengambilan Keputusan Khusus

A: Pengertian Biaya Marginal (marginal cost)

Pengertian Marginal cost adalah biaya yang harus dipertimbangkan bila suatu keputusan harus diambil mengenai kenaikan atau penurunan dari jumlah satuan produksi di atas suatu tingkat produksi tertentu.

Dari definisi biaya marjinal tersebut dapat dirumuskan bahwa ada 3 hal penting berkaitan dengan proses pengambilan keputusan, yaitu :

  • Selama produksi tambahan dan biaya marginalnya tidak mempengaruhi satuan-satuan yang ada dan harga-harga, maka produksi itu diperlukan karena mendatangkan laba, hanya jika harga jualnya melebihi biaya marginal.
  • Biaya tetap akan mengalami perubahan, selama produksi tambahan masih dalam batas kapasitas yang ada.
  • Tambahan biaya tetap dari biaya tetap pada kapasitas semula menjadi biaya marginal pada keputusan berikut.

 

B: Fungsi Akuntansi Biaya – Konsep Biaya Marginal (Marginal Cost)

Contoh manfaat dan fungsi akuntansi biaya – marginal cost adalah ketika menghadapi  masalah-masalah khusus dalam menentukan keputusan seperti berikut ini :

  • Penutupan suatu departemen,
  • Divisi atau bagian,
  • Penutupan suatu unit produksi,
  • Memproduksi sendiri atau membeli suku cadang atau bahan baku tidak langsung,
  • Perluasan pabrik atau unit usaha, dan
  • Menerima atau menolak suatu tawaran khusus.

 

C: Contoh Penggunaan Marginal Cost

Perhatikan contoh soal akuntansi biaya marginal dan perhitungan rumus biaya marginal berikut:

PT Manajemen Keuangan Network menerima suatu tawaran atau pesanan KHUSUS.

Perusahaan memproduksi satu jenis produk AX.

Dengan beroperasi pada kapasitas yang ada, perusahaan dapat memproduksi 50.000 unit per tahun.

Biaya-biaya yang dikeluarkan pada tingkat produksi dan penjualan adalah sebagai berikut :

Akuntansi Biaya Marginal
Tabel: Data Biaya produksi

Harga jual AX = Rp. 30 per unit.

Permasalahannya :

Pembeli menghendaki melakukan sekali pembelian dalam jumlah 10.000 unit AX.

Pembeli akan membayar imbalan tetap sebesar Rp. 0,40 per unit

Di samping itu pembeli akan mengganti Perusahaan atas seluruh biaya produksi per satuan tersebut.

Tidak akan ada biaya penjualan variabel sehubungan dengan pesanan  ini.

Karena adanya penurunan pertumbuhan ekonomi global, penjualan AX merosot menjadi hanya 40.000 unit per tahun.

Bila PT Manajemen Keuangan Network menyetujui pesanan tersebut, berapa kenaikan dan penurunan LABA  bila hanya 40.000 unit satuan produk yang dilakukan dan dijual?

Perusahaan akan tetap menanggung beban yang tidak termasuk biaya relevan yang besarnya sama saja bila menerima tawaran tersebut atau menolak tawaran tersebut.

Contoh yang tidak termasuk biaya relevan adalah biaya overhead tetap dan biaya penjualan tetap.

Sedangkan contoh biaya relevan adalah biaya overhead pabrik variabel dan biaya bahan baku.

Dalam contoh soal akuntansi – biaya marginal ini, ada pendapatan relevan (diferensial) berupa imbalan tetap sebesar Rp. 0.40 ditambah dengan biaya per unit, kecuali biaya penjualan variabel Rp. 2.

Jadi yang dibayar pemesan adalah :
  • Imbalan = Rp. 0,40
  • Bahan baku = Rp. 6
  • Tenaga kerja = Rp. 8
  • Overhead varibel = Rp. 1
  • Penerimaan relevan per unit = Rp. 15,40
Sedangkan biaya relevan adalah :
  • Bahan baku = Rp. 6
  • Tenaga kerja = Rp. 8
  • Overhead variabel = Rp. 1
  • Jadi biaya relevan adalah sebesar Rp. 15

Pendapatan marjinal atau marginal revenue adalah:
= 10.000 x Rp. 15,40 = Rp 154.000

Biaya marginal adalah:
= 10.000 x Rp. 15 = Rp 150.000

Laba marginal:
= 10.000 x Rp. 0,40 = Rp 4.000

Maka pendapatan perusahaan secara keseluruhan dengan membandingkan hubungan antara biaya marjinal dan biaya variabel adalah sebagai berikut :

contoh marginal cost
Tabel: Contoh marginal cost

Dari contoh soal biaya marginal di atas dapat diketahui dengan jelas bahwa penggunaan marginal cost dan marginal revenue sangat membantu proses pengambilan keputusan.

“Dengan menggunakan metode perhitungan marginal cost diperoleh data bahwa dengan menerima pesanan dari pembeli, laba perusahaan bertambah sebesar marginal revenue.”

 

15: Cara Memutuskan Membuat Sendiri Atau Beli Bahan Baku Produksi

risiko investasi

Untuk memutuskan membuat sendiri atau membeli bahan baku, bahan pembantu atau suku cadang dari perusahaan lain, perusahaan harus mempertimbangkan:

  • kapasitas atau ruangan,
  • peralatan, dan
  • tenaga kerja yang dimiliki.

Dan ujung pada laba rugi perusahaan. Maka harus diperhatikan dan dianalisa secara cermat.

Lakukan perhitungan dan analisis biaya secara sederhana, tidak usah yang ‘ndekik-ndekik’, namun juga tidak main TEBAK-TEBAKAN, yang hasilnya seringkali meleset 🙂

 

A: Biaya Bahan Baku Produksi

Unsur biaya yang diperhitungkan adalah:

  • biaya bahan baku langsung,
  • biaya tenaga kerja langsung,
  • biaya overhead pabrik variabel,
  • biaya overhead pabrik tetap (avoidable cost dan unavoidable cost).

Agar keputusan untuk membuat sendiri atau membeli dapat dievaluasi dengan baik, ada 3 hal berkaitan dengan biaya relevan yang perlu dipertimbangkan, yaitu :

  • Jika membeli dari pihak luar selain harga beli, maka biaya transportasi atau biaya-biaya yang timbul untuk menyampaikan produk yang dibeli ke perusahaan.
  • Jika membuat sendiri, maka biaya yang timbul hanya biaya variabel untuk produk tersebut saja.
  • Biaya tetap yang telah terjadi tidak akan berubah, kecuali melebihi kapasitas perusahaan berarti berada di luar relevan range biasa, penambahan alat baru atau investasi tetap adalah relevan dalam kasus ini.

 

B: Contoh Analisis Akuntansi Biaya

Perhatikan contoh berikut ini tentang cara menghitung biaya bahan baku dan biaya produksi untuk memutuskan membeli atau buat sendiri :

PT Berkah Milenial memproduksi suku cadang mobil.

PT Berkah Milenial sering mengontrakkan pekerjaan kepada pihak lain, tergantung apakah fasilitas perusahaan seluruhnya dipakai atau tidak.

Saat ini PT Berkah Milenial sedang mempersiapkan keputusan akhir mengenai penggunaan fasilitas pabriknya untuk tahun depan.

Biaya untuk membuat suku cadang K123, suatu komponen utama untuk sistem kontrol emisi adalah sebagai berikut:

contoh Analisis Akuntansi Biaya
Tabel: Analisis Akuntansi Biaya

Ada pabrik lain yang menawarkan untuk menjual suku cadang yang sama kepada PT Berkah seharga Rp 22 per unit.

Biaya overhead pabrik tetap terdiri dari:
  • biaya penyusutan,
  • pajak,
  • asuransi dan
  • gaji pengawas.

Semua biaya tetap overhead pabrik akan tetap terjadi.

Namun jika PT Berkah Milenial membeli komponen tersebut, ada biaya sebesar Rp 120.000 yang dapat dihindari (avoidable) yaitu biaya yang berhubungan dengan tenaga pengawasan dan pengamanan.

Problemnya :

Asumsikan bahwa kapasitas sekarang digunakan untuk membuat suku cadang ini akan menganggur, jika suku cadang dibeli dari pihak luar.

Apakah suku cadang akan dibeli atau dibuat sendiri?

Pembahasan:

Seperti pada langkah-langkah analisis yang telah dikemukakan sebelumnya, mengeliminir biaya yang tidak relevan, yaitu biaya tetap yang harus terjadi baik membeli ataupun tidak.

Terdapat biaya avoidable sebesar Rp 120.000, artinya biaya ini tidak akan ada jika PT Berkah tidak melakukan produksi sendiri.

Berbeda artinya dengan unavoidable, di mana perusahaan produksi atau tidak akan tetap dan harus terjadi.

Jadi biaya tetap yang tidak relevan:

= Rp 300.000 (biaya tetap total) – Rp 120.000 (avoidabel cost)
= Rp 180.000

Pengertian biaya relevan adalah semua biaya variabel ditambah dengan avoidable cost tersebut.

Sehingga bila PT Berkah Milenial tidak memproduksi sendiri, maka biaya tetap sebesar Rp 180.000, sama saja harus dibayar atau keluar jika perusahaan membeli suku cadang dari pihak luar.

Perhatikan tabel biaya diferensial atau biaya relevan berikut ini:

menghitung biaya relevan
Tabel: menghitung biaya relevan
Keterangan :

Biaya Overhead Tetap Avoidable = 120.000 : 60.000 = 2

Dari tabel di atas terlihat bahwa dengan membuat sendiri, biaya per unitnya lebih rendah sebesar  Rp 1, yakni selisih antara Rp 22 – Rp 21.

Atau dengan kata lain PT Berkah Milenial akan lebih menguntungkan dengan membuat sendiri sebesar Rp 60.000, dengan perhitungan sebagai berikut:

= Rp 1.320.000 – Rp 1.260.000 = Rp 60.000 atau
= Rp 1 X 60.000 = Rp 60.000

Dengan menggunakan format total cost akan menunjukkan hasil/alternatif yang sama seperti bentuk diferensial di atas.

Perhatikan tabel perhitungan biaya berikut ini:

Pendekatan Total Cost ( 60.000 unit ) :

perhitungan total cost
Tabel: Perhitungan total cost
Keterangan :

Biaya Overhead Pabrik – Tetap:

= Avoidable Cost – Unavoidable Cost
= 120.000 – 180.000 = Rp 300

Jadi bila PT Berkah Milenial membuat sendiri suku cadang tersebut, maka biaya yang dikeluarkan adalah sebesar Rp 1.440.000

Sedangkan bila PT Berkah Milenial membeli suku cadang tersebut, maka total biaya yang akan dikeluarkan sebesar Rp. 1.500.000.

Oleh karena itu PT Berkah Milenial memutuskan untuk membuat sendiri suku cadang atau bahan pembantu.

So, untuk memutuskan membuat sendiri atau membeli suku cadang, bahan pembantu dan bahan baku produksi, tidak dengan TEBAK-TEBAKAN yang hasilnya bisa tepat namun seringkali meleset 🙂

Bagaimana di perusahaan tempat Anda berkarya?

 

Kesimpulan

Demikian yang dapat saya sampaikan mengenai 15 materi akuntansi biaya LENGKAP untuk men-support USAHA dan BISNIS Anda.

Pembahasan mulai dari pengertian, konsep, tujuan, fungsi, manfaat, klasifikasi/penggolongan, prosedur perhitungan, dan contoh-contoh riil aktivitas perusahaan sehari-hari.

Semoga bermanfaat.

Terima kasih

manajemen keuangan dan SOP