Agar tidak kesulitan menghitung dan menyajikan PPh Badan di Laporan Laba Rugi, Simak Tips Berikut

PPh Badan atau Pajak Badan adalah pajak penghasilan yang dikenakan bagi perusahaan sebagai entitas usaha menurut Undang-undang Perpajakan di Indonesia.

Kebanyakan perusahaan diharuskan membayar perkiraan pajak penghasilan perusahaan dalam dua belas angsuran sepanjang tahun.

Lalu bagaimana melaporkan PPh Badan di Laporan Laba Rugi? Dan bagaimana cara membuat ayat jurnal untuk pajak penghasilan perusahaan, termasuk pajak penghasilan perusahaan yang ditangguhkan?

Yuk ikuti terus pembahasannya ya….

 

Pembayaran Pajak Penghasilan Perusahaan / PPh Badan

Agar lebih mudah dan langsung mengenai sasaran, berikuat saya sajikan contoh tentang pembayaran pajak penghasilan perusahaan atau PPh badan.

Diasumsikan bahwa sebuah perusahaan dengan periode akuntansi tahun kalender memperkirakan beban PPh Badan untuk tahun berjalan adalah Rp 84.000.000.

Ayat jurnal untuk mencatat perkiraan pembayaran PPh badan bulan pertama adalah Rp 7.000.000 (1/12 dari Rp 84.000.000) adalah sebagai berikut:

pembayaran PPh badan

Pada akhir tahun, perusahaan akan menghitung penghasilan kena pajak aktual dan pajak terkait.

Pelaporan pejak penghasilan sebuah perusahaan dan catatan pendukungnya dapat dikenakan audit oleh badan perpajakan yang berwenang yang dapat memberi tambahan beban pajak.

Oleh karena kemungkinan ini, kewajiban untuk pajak penghasilan kadang kala disebutkan di neraca sebagai provisi pajak penghasilan.

Jika terdapat tambahan pajak, kewajiban tambahan ini dicatat. Jika total perkiraan pembayaran pajak lebih besar dari kewajiban pajak berdasarkan penghasilan kena pajak aktual.

Maka kelebihan pembayaran harus di-DEBIT ke akun PIUTANG dan dikreditkan ke Beban Pajak Penghasilan.

Istilah lain yang biasa digunakan untuk pajak penghasilan perusahaan di Laporan Laba Rugi dan catatan pengungkapan adalah Penyisihan Pajak Penghasilan.

Pajak penghasilan biasanya diungkapkan sebagai pengurang di bagian bawah laporan laba rugi dalam menentukan laba bersih, seperti ditunjukkan berikut ini dalam kutipan dari laporan laba rugi berikut ini:

PPh badan di laporan laba rugi

 

Penyajian PPh Badan di Laporan Laba Rugi

perhitungan pajak penghasilan

Penghasilan kena pajak (taxable income) sebuah perusahaan ditentukan berdasarkan undang-undang pajak dan dilaporkan ke badan perpajakan yang berwenang dalam pelaporan pajak perusahaan.

Penghasilan kena pajak kadangkal berbeda dari laba sebelum pajak yang dilaporakn di laporan laba rugi menurut prinsip akuntansi berterima umum (PABU).

Akibatnya, pajak penghasilan berdasarkan penghasilan kena pajak akan berbeda dari pajak penghasilan berdasarkan laba sebelum pajak.

Perbedaan tersebut mungkin dapat dialokasikan di antara periode laporan keuangan yang berbeda, tergantung pada karakteristik akun-akun yang menyebabkan perbedaan.

Beberapa perbedaan antara penghasilan kena pajak dan laba sebelum pajak penghasilan perusahaan terjadi karena terdapat pos-pos yang diakui dalam satu periode untuk keperluan pajak dan dalam periode lainnya untuk keperluan laporan laba rugi.

Perbedaan semacam ini, disebut perbedaan sementara (temporary differences), dan akan hilang dalam tahun-tahun yang akan datang.

Beberapa contoh pos-pos yang menyebabkan perbedaan sementara adalah sebegai berikut:

1. Pendapatan atau laba yang dikenakan pajak setelah dilaporkan di laporan laba rugi

Contoh: dalam beberapa kasus, perusahaan yang melakukan penjualan dengan program angsuran mengakui pendapatan untuk keperluan pelaporan keuangan saat penjualan terjadi.

Tetapi pendapatan untuk keperluan pajak diakui setelah kas diterima.

2. Beban atau rugi yang dikurangkan dalam menentukan penghasilan kena pajak (PKP) setelah dilaporkan di laporan laba rugi.

Contoh, beban garansi produk yang diperkirakan dan dilaporkan dalam tahun terjadinya penjualan untuk keperluan pelaporan keuangan, dikurangkan untuk pelaporan pajak saat kas dikeluarkan untuk membayar beban garansi.

3. Pendapatan atau laba yang dikenakan pajak sebelum dilaporkan di laporan laba rugi.

Contoh, kas yang diterima di muka untuk langganan majalah dimasukkan dalam penghasilan kena pajak saat diterima, tapi dimasukkan di laporan laba rugi hanya saat dihasilkan pada periode mendatang.

4. Beban atau rugi yang dikurangkan dalam menentukan penghasilak kena pajak (PKP) sebelum dilaporkan di laporan laba rugi.

Contoh, metode penyusutan saldo menurun ganda digunakan untuk keperluan pajak, dan metode garis lurus digunakan untuk keperluan pelaporan keuangan.

 

Oleh karena perbedaan sementara akan hilang dalam tahun-tahun yang akan datang, perbedaan tersebut tidak akan mengubah atau mengurangi jumlah total penghasilan kena pajak selama masa operasi perusahaan.

Perhatikan gambar ilustrasi berikut:

penyajian PPh badan di Laporan Laba Rugi

Ilustrasi di atas memperlihatkan tentang sifat membalik dari perbedaan sementara di mana perusahaan menggunakan metode penyusutan saldo menurun ganda untuk keperluan pajak  dan metode garis lurus untuk pelaporan keuangan.

Tentang metode penyusutan, selengkapnya dapat dipelajari di: Inilah Cara Meningkatkan Akurasi Nilai Penyusutan melalui Metode Penyusutan Aktiva Tetap yang Tepat

Ilustrasi di atas mengasumsikan metode penyusutan saldo menurun ganda mengakui lebih banyak penyusutan pada tahun-tahun awal dan lebih sedikir penyusutan pada tahun-tahun berikutnya.

Total beban penyusutan adalah sama untuk kedua metode selama masa kegunaan aset.

Seperti yang diilustrasikan di gambar di atas, perbedaan sementara hanya mempengaruhi waktu saat pendapatan dan beban diakui untuk keperluan pajak.

Akibatnya jumlah total pajak yang dibayarkan tidak berubah. Hanya waktu dari pembayaran pajak yang terpengaruh.

Seperti yang ditunjukkan dalam ilustrasi di atas, kebanyakan manajer menggunakan teknik perencanaan pajak agar perbedaan sementara dapat menunda atau menangguhkan pembayaran pajak hingga tahun-tahun yang akan datang.

Sebagai hasilnya jumlah kewajiban pajak yang akan jatuh tempo dalam waktu satu tahun dan kewajiban yang ditangguhkan harus dicatat pada akhir setiap tahun.

Perhatikan contoh berikut:

Diasumsikan pada akhir tahun pertama masa operasi, sebuah perusahaan melaporkan laba sebelum pajak penghasilan sebesar Rp 300.000.000 di laporan laba rugi.

Jika kita asumsikan tarif pajak penghasilan yang dikenakan adalah sebesar 30%, beban pajak penghasilan yang dilaporkan di laporan laba rugi adalah:

= Rp 300.000.000 X 30% = Rp 90.000.000

Akan tetapi untuk mengurangi jumlah utang pajak penghasilan perusahaan saat ini, perusahaan menggunakan perencanaan pajak untuk mengurangi penghasilan kena pajak (PKP) menjadi Rp 100.000.000.

Dengan demikian pajak penghasilan aktual yang jatuh tempo tahun ini hanya:

= Rp 100.000.000 X 30% = Rp 30.000.000

Selisih Rp 60.000.000 (Rp 90.000.000 – Rp 30.000.000) antara dua jumlah pajak disebabkan oleh perbedaan sementara dalam mengakui pendapatan.

Jumlah tersebut ditangguhkan hingga tahun-tahun mendatang.

Contoh ini diringkas sebagai berikut:

pelaporan PPh badan di laporan laba rugi

Untuk mencocokan beban-beban tahun berjalan (termasuk PPh badan) dengan pendapatan tahun berjalan di laporan laba rugi, pajak penghasilan dialokasikan di antara periode-periode dengan menggunakan ayat jurnal sebagai berikut:

beban PPh badan di laporan laba rugi

Beban pajak penghasilan yang dilaporkan di laporan laba rugi adalah total pajak sebesar Rp 90.000.000, yang diharapkan akan dibayar dari laba tahun ini.

Dalam tahun-tahun mendatang, Rp 60.000.000 dalam Utang Pajak Penghasilan Tangguhan akan dipindahkan ke Utang Pajak Penghasilan saat perbedaan sementara membalik dan pajak menjadi jatuh tempo.

Perhatikan contoh berikut ini, jika pajak yang ditangguhkan sebesar Rp 48.000.000 menjadi jatuh tempo pada tahun kedua, ayat jurnal berikut ini akan dibuat pada tahun kedua.

pajak ditangguhkan

 

Melaporkan dan Menganalisis Pajak Penghasilan Perusahaan (PPh Badan)

pajak penghasilan perusahaan

Saldo utang pajak penghasilan yang ditangguhkan pada akhir tahun dilaporkan sebagai kewajiban.

Dalam beberapa kasus, aset pajak yang ditangguhkan dapat muncul sebagai manfaat pajak yang akan diterima di masa mendatang.

Aset pajak yang ditangguhkan semacam itu dilaporkan baik sebagai aset lancar maupun aset jangka panjang, tergantung pada kapan manfaat diharapkan dapat terealisasi.

Jumlah yang jatuh tempo dalam waktu satu tahun digolongkan sebagai kewajiban lancar.

Sisanya digolongkan sebagai kewajiban jangka panjang atau dilaporkan pada bagian kredit yang ditangguhkan mengikuti bagian kewajiban jangka panjang

Perbedaan antara penghasilan kena pajak (PKP) dengan laba sebelum pajak yang dilaporkan di laporan laba rugi juga dapat terjadi karena pendapatan tertentu dikeluarkan dari pajak.

Dan beban tertentu tidak menjadi pengurang dalam menentuka penghasilan kena pajak (PKP).

Perbedaan semacam itu yang tidak akan hilang seiring berjalannya waktu kadangkal disebut perbedaan permanen (temporary differnces).

Contohnya adalah biaya berlangganan majalah tidak termasuk dalam pengurangan pajak.

Perbedaan semacam itu tidak menyebabkan masalah laporan keuangan khusus, karena jumlah pajak penghasilan perusahaan yang dihitung berdasarkan undang-undang pajak adalah sama dengan jumlah yang dilaporkan di laporan laba rugi.

Sebagai penutup artikel ini, berikut saya sajikan contoh membuat ayat jurnal untuk pajak tahun berjalan.

Sebuah perusahaan memiliki laba sebelum pajak sebesar Rp 200.000.000. Tarif pajak sebesar Rp 30%, dan penghasilan kena pajak (PKP) sebesar Rp 130.000.000.

Jumlah penghasilan yang ditangguhkan:

penghasilan ditangguhkan

Sedangkan pencatatan dalam ayat jurnalnya adalah sebagai berikut:

ayat jurnal pph badan

Demikian pembahasan mengenai tips cara menghitung PPh Badan dan cara melaporkannya di laporan laba rugi.

Semoga bermanfaat. Terima kasih

***

sop akuntansi keuangan powerful