2 Cara Penilaian Surat Berharga




2 cara peniliaian surat berharga

2 cara peniliaian surat berharga

 

Kelebihan uang kas di perusahaan tidak akan menimbulkan pendapatan

Pernyataan itu menegaskan bahwa walaupun perusahaan mempunyai banyak uang kas yang berlimpah, namun bila tidak menghasilkan nilai tambah akan menjadi sia-sia.

Jenis uang seperti itu, biasa disebut sebagai “dana nganggur”.

Oleh karena itu agar ‘uang atau dana ngganggur’ itu bermanfaat maka sebaiknya di-investasikan selama masa tidak terpakainya dana tersebut.

Karena jangka waktu tidak terpakainya dana tersebut relatif pendek, maka sebisa mungkin investasinya juga dalam jangka pendek.

Sehingga ketika perusahaan membutuhkan, dana tersebut akan dengan cepat bisa dicairkan.

Investasi jangka pendek itu bisa dalam bentuk deposito, sertifikat bank atau surat-surat berharga yaitu saham dan obligasi.

Bila ingin mengetahui pengertian obligasi, saya sarankan untuk membaca Inilah Pengertian Obligasi dan Cara Menentukan Harganya.

Dan investasi jenis ini, dimasukkan dalam kelompok aktiva lancar.

Mengenai penilaian surat-surat berharga ada sebuah prinsip akuntansi yang menyebutkan :

Surat berharga yang segera dapat dijual dinyatakan dalam neraca sebesar harga perolehannya atau harga terendah antara harga perolehan dan harga pasarnya.

Dari prinsip akuntansi tersebut, kita bisa tahu bahwa penilaian surat berharga dalam neraca dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara, yaitu :

  1. Harga Perolehan (Cost)
  2. Mengambil harga yang lebih rendah antara harga perolehan atau harga pasar.

Yuk kita bahas per point-nya….

 

Harga Perolehan

Cara ini digunakan bila perubahan harga surat-surat berharga hanya sementara saja dan jumlahya tidak terlalu besar.

Sehingga dalam neraca surat-surat berharga dicatat sebesar harga perolehannya.

Melalui cara ini, tidak ada pengakuan terhadap kerugian yang berasal dari turunnya harga surat-surat berharga sebelum surat-surat berharga tersebut dijual.

Namun bila ternyata ada penurunan harga, maka neraca bisa diberi penjelasan baik berbentuk keterangan atau pun footnote.

 

Mengambil Harga yang Lebih Rendah antara Harga Perolehan atau Harga Pasar

Seringkali harga surat-surat berharga berfluktuasi. Harga pasar bisa lebih tinggi daripada harga perolehannya dan sebaliknya.

Lalu, mana harga yang dicantumkan di aktiva lancar?

Bila harga pasar surat-surat berharga yang dimiliki lebih rendah dari harga perolehannya dengan jumlah selisih yang cukup lebar dan penurunan tersebut memang nyata serta tidak bersifat sementara, maka surat berharga yang dicantumkan dalam kelompok aktiva lancar di neraca tidak boleh melebihi harga pasarnya.

Berarti perusahaan rugi dong? Iya, selisih itu akan diakui sebagai kerugian yang belum terjadi.

Jumlah kerugian yang diakui adalah sebesar selisih dari harga perolehan dengan harga pasarnya pada tanggal neraca.

Pencatatan kerugian yang diakui dilakukan adalah sebagai berikut :

Rugi Penurunan Nilai Surat Berharga                          xx
           Cadangan Penurunan Nilai Surat Berharga             xx

Rugi penurunan nilai surat berharga termasuk kelompok rugi di luar usaha dalam laporan laba rugi.

Sedangkan cadangan penurunan nilai surat berharga akan dicantumkan dalam NERACA mengurangi rekening Surat Berharga.

Bila terjadi penjualan surat berharga yang sudah diturunkan nilainya maka laba rugi penjualan dihitung dengan membandingkan harga jual dengan harga perolehan yang baru (sesudah dikurangi cadangan penurunan nilai surat berharga).

Cara penilaian ini dapat diterapkan untuk surat-surat berharga dengan 2 (dua) cara, yaitu :

  1. Diterapkan untuk jumlah keseluruhan surat-surat berharga.
  2. Diterapkan untuk masing-masing elemen surat berharga.

Berikut ini contoh penerapan dari kedua cara terebut:

Data-data investasi surat berharga milik PT Mugo Berkah pada tanggal 31 Desember 2015 adalah sebagai berikut :

contoh soal-cara penilaaian surat berharga

Bila diterapkan dengan cara pertama yaitu untuk jumlah keseluruhan surat-surat berharga, maka yang lebih rendah dan dicantumkan di neraca adalah harga pasar sebesar Rp. 2.507.000.

Besarnya kerugian yang akan diakui adalah sebesar :

Rp. 2.535.000 – Rp. 2.507.000 = Rp. 28.000

Bila diterapkan dengan cara kedua yaitu untuk masing-masing elemen surat berharga, jumlah yang lebih rendah dan nampak di neraca adalah :

Rp. 505.000 + Rp. 1.020.000 + Rp 975.000 = Rp. 2.500.000.

Sehingga kerugian yang diakui adalah :

Rp. 2.535.000 – Rp. 2.500.000 = Rp. 35.000

Misalnya digunakan cara pertama, yaitu diterapkan untuk sejumlah keseluruhan surat-surat berharga maka pengakuan kerugian sebesar Rp. 28.000 dan dicatat dengan  jurnal pada tanggal 31 Desember 2015 sebagai berikut :

Rugi Penurunan Nilai Surat Berharga   Rp. 28.000
Cadangan Penurunan Nilai Surat Berharga  Rp. 28.000

Cadangan penurunan nilai surat berharga ini akan dihapuskan bila surat-surat berharga tersebut dijual.

Misalnya pada tanggal 31 Desember 2016 harga perolehan seluruh saham yang dimiliki sebesar Rp. 2.050.000 dan harga pasarnya Rp. 2.000.000.

Maka setelah dilakukan perbandingan antara harga perolehan dan harga pasar surat berharga yang dimiliki diketahui besar penurunan nilainya sebesar Rp. 50.000.

Penurunan nilai sebesar Rp.50.000, sedangkan saldo rekening Cadangan Penurunan Nilai hanya sebesar Rp. 28.000, maka dibuat penyesuaian dengan jurnal sebagai berikut :

Rugi Penurunan Nilai Surat Berharga        Rp. 22.000
    Cadangan Penurunan Nilai Surat Berharga  Rp. 22.000

Jumlah penurunan nilai ini dibandingkan dengan saldo rekening Cadangan Penurunan Nilai Surat Berharga, dan rekening ini disesuaikan dengan penurunan nilai tanggal 31 Desember 2016.

Bila saldo rekening Cadangan Penurunan Nilai lebih besar dari penurunan nilai sesungguhnya, maka rekening Cadangan Penurunan Nilai di debit dan kreditnya adalah rekening Laba Berkurangnya Rekening Cadangan Penurunan Nilai Surat Berharga.

Cara seperti ini dapat menghilangkan kesulitan penentuan besarnya penurunan nilai untuk setiap surat berharga, bila perhitungannya diterapkan untuk keseluruhan jumlah surat berharga.

Bila surat berharga sudah diturunkan nilainya sampai pada jumlah harga pasarnya maka penyesuaian-penyesuaian berikutnya hanya dibuat selama perubahan-perubahan harga tersebut masih di bawah harga pokoknya.

Bila harganya naik sampai di atas harga pokoknya, maka penyesuaian yang dibuat maksimum akan berhenti sesudah rekening cadangan penurunan nilai menunjukkan saldo 0 (nol).

***

7 Komentar

  1. Wow wow wow….. Baru kali ini aku baca blog mengenai akuntansi. Berasa kembali lagi ke bangku kuliah. Kebetulan background aku juga akuntansi dan pekerjaan sekarang juga masih sesekali bergandengan dengan PSAK.

  2. Pengin juga sih investasi gitu, cuma belum ada dananya. Pengaturan keuangan juga sekarang masih kacau. Suka nggak komit, dipake2 akhirnya habis nggak jelas. Surat berharga ini sama dengan saham ya mas?

Komentar ditutup.