Ada 10 kesalahan umum yang terjadi saat menyusun Laporan Keuangan. Kesalahan pencatatan itu timbul karena disengaja atau tidak. Kesalahan-kesalahan itu HARUS diperbaiki agar data yang dihasilkan dan akan dijadikan sebagai dasar pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan penting dan strategis tidak KELIRU.
Apa saja 10 kesalahan itu, dan bagaimana cara memperbaikinya? Mri ikuti dan baca sampai tamat ulasan lengkap beserta contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari berikut ini.
1. Kesalahan Pencatatan Persediaan Barang Dagang
Ada sebuah pepatah yang menyebutkan “Tidak ada manusia yang sempurna”, “Manusia adalah tempatnya kesalahan”
Walapun kalimat tersebut bukan menjadi pembenaran atas kesalahan yang dilakukan, namun kita perlu waspada, termasuk dalam menyusun Laporan Keuangan, antara lain kesalahan dalam mencatat persediaan barang. Perhatikan contoh berikut:
Persediaan barang PT Manajemen Keuangan Network tanggal 31 Desember 2024 terlalu kecil senilai Rp 20.000.000.
Bila kesalahan pencatatan ini diketahui sebelum tutup buku tahun 2019, maka kekeliruan ini perlu diperbaiki. Jurnal koreksi persediaan barang dagang untuk memperbaiki kesalahan pencatatan seperti ini adalah sebagai berikut:

Bila kesalahan ini baru diketahui setelah tutup buku 2025, maka tidak perlu dibuat jurnal koreksi. Mengapa seperti itu? Karena pencatatan persediaan yang terlalu kecil pada 31 Desember 2024 sudah diperbaiki dengan kesalahan persediaan barang dagang di awal tahun 2025 yang pencatatannya terlalu besar.
Paham ya? Okay dilanjut…
2. Kesalahan Pencatatan Pembelian dan Persediaan Barang Dagang
Kesalahan kedua yang seringkali terjadi ketika membuat Laporan Keuangan adalah ketika mencatat pembelian persediaan barang dagangan. Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh berikut:
PT MCC baru mencatat persediaan barang dagang senilai Rp 15.000.000 tahun 2025. Padahal barang dagang tersebut dibeli pada tahun 2024.
Bila kesalahan pencatatan ini diketahui sebelum tutup buku tahun 2025, maka perusahaan perlu membuat jurnal koreksi persediaan untuk memperbaiki kesalahan ini sebagai berikut:

Namun, jika kesalahan pencatatan ini baru ketahui setelah tutup buku periode 2025, maka perusahaan tidak perlu membuat jurnal koreksi.
Mengapa seperti itu?
Karena kesalahan pencatatan persediaan barang dagang 31 Desember 2024, sudah diperbaiki secara otomatis dengan kesalahan pencatatan persediaan barang dagang awal tahun 2025.
3. Kesalahan Mencatat Penjualan Barang
Misalnya penjualan barang seharga Rp. 3.500.000 pada akhir Desember 2024 baru dicatat pada tahun 2025. Karena barangnya sudah dikirim pada akhir tahun 2024 maka tidak termasuk dalam persediaan akhir tahun 2024. Akibat dari kesalahan ini maka neraca dan laporan laba rugi nampak sebagai berikut :
Laporan Laba Rugi:
Tahun 2024:
Penjualan terlalu kecil. Laba bersih terlalu kecil
Tahun 2025 :
Penjualan terlalu besar. Laba bersih terlalu besar
Neraca:
Tahun 2024 :
Aktiva terlalu kecil karena piutang tidak dicatat. Laba tidak dibagi terlalu keci.
Tahun 2025:
Neraca benar, karena kesalahan 2018 dibenarkan oleh kesalahan 2025.
Bila kesalahan ini diketahui sesudah penutupan buku tahun 2024 maka jurnal koreksinya sebagai beriku :

4. Kesalahan Mencatat Biaya Dibayar Dimuka
Misalnya pada tanggal 1 Januari 2024 perusahaan membuat perjanjian asuransi kebakaran untuk jangka waktu 5 tahun dengan premi sebesar Rp. 500.000 yang dibayar dimuka.
Pembayaran premi di-debitkan ke rekening Biaya Asuransi dalam tahun 2024, pada akhir tahun 2024 dibuat penyesuaian yang mencatat Asuransi Dibayar di Muka sebesar saldo per 31 Desember 2025.
Bila pada akhir tahun 2024 tidak dibuat penyesuaian untuk premi asuransi maka kesalahan ini akan membawa akibat sebagai berikut :
Laporan Laba Rugi :
Tahun 2024 :
Biaya terlalu besar karena tidak ada penyesuaian untuk asuransi dibayar di muka. Laba bersih terlalu kecil.
Tahun 2025 :
Biaya sudah benar. Laba bersih sudah benar.
Neraca:
Tahun 2024 :
Aktiva terlalu kecil karena tidak ada asuransi dibayar di muka. Laba tidak dibagi terlalu kecil.
Tahun 2025 :
Aktiva benar. Laba tidak dibagi terlalu kecil akibat kesalahan tahun 2024.
Bila kesalahan ini diketahui sebelum tutup buku tahun 2019, maka kesalahan ini perlu dibetulkan dengan jurnal sebagai berikut :
Asuransi Dibayar di Muka Rp. 300.000
Biaya Asuransi Rp. 100.000
Koreksi Laba Tahun Lalu Rp. 400.000
Jika pada akhir tahun 2025 tidak dibuat jurnal untuk mencatat biaya dibayar di muka dan kesalahan ini baru diketahui sesudah penutupan buku tahun 2019, maka jurnal koreksinya sebagai berikut :
Asuransi dibayar di muka Rp. 300.000
Koreksi Laba tahun lalu Rp. 300.000
5. Kesalahan Mencatat Utang Biaya
Misalnya bunga yang masih akan dibayar pada akhir tahun 2024 sebesar Rp. 100.000 tidak dicatat. Akibat kesalahan ini terhadap neraca dan laporan laba rugi nampak seperti berikut :
Laporan Laba Rugi:
Tahun 2024 :
Biaya terlalu kecil karena bunga tidak dicatat. Laba bersih terlalu besar.
Tahun 2025 :
Biaya terlalu besar karena bunga tahun 2018 dicatat tahun 2019. Laba bersih terlalu kecil.
Neraca:
Tahun 2024 :
Utang terlalu kecil karena utang bunga tidak dicatat. Laba tidak dibagi terlalu besar.
Tahun 2025 :
Neraca sudah benar karena kesalahan tahun 2024 dibenarkan oleh kesalahan tahun 2025. Bila kesalahan ini diketahui sebelum tutup buku tahun 2025, maka harus dibuatkan pembetulan.
Jurnal koreksi yang dibuat untuk memperbaiki kesalahan ini adalah sebagai berikut :
Koreksi Laba Tahun Lalu Rp. 100.000
Biaya Bunga Rp. 100.000
Jika kesalahan ini baru diketahui sesudah tutup buku tahun 2025, maka tidak perlu dibuatkan jurnal koreksi, karena kesalahan mencatat biaya bunga yang terlalu kecil dalam tahun 2025 sudah dibetulkan oleh kesalahan biaya bunga tahun 2019 yang terlalu besar.

6. Kesalahan Mencatat Piutang Pendapatan
Misalnya pendapatan bunga yang masih akan diterima pada akhir tahun 2024 sebesar Rp. 250.000,- tidak dicatat pada akhir tahun 2024. Pendapatan bunga baru dicatat pada tahun 2025 yaitu pada saat diterimanya. Akibat kesalahan ini terhadap neraca dan laporan laba rugi nampak sebagai berikut :
Laporan Laba Rugi:
Tahun 2024 :
Penghasilan terlalu kecil. Laba bersih terlalu kecil.
Tahun 2025 :
Pengasilan terlalu besar. Laba bersih terlalu besar.
Neraca :
Tahun 2024 :
Aktiva terlalu kecil karena piutang pendapatan bunga tidak dicatat. Laba tidak dibagi terlalu kecil.
Tahun 2025:
Neraca sudah benar karena kesalahan tahun 2024 sudah dibetulkan oleh kesalahan tahun 2025.
Bila kesalahan ini diketahui sebelum tutup buku 2025 maka perlu dibuatkan jurnal koreksi sebagai berikut :
Pendapatan bunga Rp. 250.000
Koreksi Laba Tahun Lalu Rp. 250.000
Jika kesalahan ini diketahui sesudah tutup buku tahun 2025 maka tidak diperlukan jurnal koreksi, karena kesalahan mencatat pendapatan bunga tahun 2024 yang terlalu kecil sudah dibetulkan oleh kesalahan mencatat bunga tahun 2025 yang terlalu besar.
Wuihhh mantap nih sharingnya… bertambah lagi ilmu baru