8 Kesalahan Pencatatan Akuntansi dan Cara Memperbaikinya dengan Jurnal Koreksi




8 Kesalahan Pencatatan Akuntansi dan Cara Memperbaikinya dengan Jurnal Koreksi

8 Kesalahan Pencatatan Akuntansi dan Cara Memperbaikinya dengan Jurnal Koreksi

 

Kesalahan pencatatan akuntansi akan mengakibatkan laporan keuangan tidak akurat.

Sehingga kesalahan-kesalahan tersebut harus diperbaik agar catatan akuntansi sesuai dengan kondisi yang sesungguhnya.

Untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan itu caranya dengan membuat JURNAL KOREKSI.

Baca juga : 3 Perubahan Metode Akuntansi yang Mempengaruhi Tujuan Laporan Keuangan

Berikut ini ada 8 contoh kesalahan dan cara membuatkan jurnal koreksi untuk membetulkan 8 kesalahan-kesalahan itu :

#1. Kesalahan Mencatat Penjualan Barang

Misalnya penjualan barang seharga Rp. 3.500.000 pada akhir Desember 2015 baru dicatat pada tahun 2016.

Karena barangnya sudah dikirim pada akhir tahun 2015 maka tidak termasuk dalam persediaan akhir tahun 2015.

Akibat dari kesalahan ini maka neraca dan laporan laba rugi nampak sebagai berikut :

Laporan Laba Rugi :

Tahun 2015 :

Penjualan terlalu kecil. Laba bersih terlalu kecil

Tahun 2016 :

Penjualan terlalu besar. Laba bersih terlalu besar

Neraca :

Tahun 2015 :

Aktiva terlalu kecil karena piutang tidak dicatat. Laba tidak dibagi terlalu keci.

Tahun 2016:

Neraca benar, karena kesalahan 2015 dibenarkan oleh kesalahan 2016.

Bila kesalahan ini diketahui sesudah penutupan buku tahun 2015 maka jurnal koreksinya sebagai berikut :

Penjualan            Rp. 3.500.000
      Laba Tidak Dibagi             Rp. 3.500.000

 

#2. Kesalahan Mencatat Biaya Dibayar Dimuka

Misalnya pada tanggal 1 Januari 2015 perusahaan membuat perjanjian asuransi kebakaran untuk jangka waktu 5 tahun dengan premi sebesar Rp. 500.000 yang dibayar dimuka.

Pembayaran premi di-debitkan ke rekening Biaya Asuransi dalam tahun 2015, pada akhir tahun 2015 dibuat penyesuaian yang mencatat Asuransi Dibayar di Muka sebesar saldo per 31 Desember 2016.

Bila pada akhir tahun 2015 tidak dibuat penyesuaian untuk premi asuransi maka kesalahan ini akan membawa akibat sebagai berikut :

Laporan Laba Rugi :

Tahun 2015 :

Biaya terlalu besar karena tidak ada penyesuaian untuk asuransi dibayar di muka. Laba bersih terlalu kecil.

Tahun 2016 :

Biaya sudah benar. Laba bersih sudah benar.

Neraca:

Tahun 2015 :

Aktiva terlalu kecil karena tidak ada asuransi dibayar di muka. Laba tidak dibagi terlalu kecil.

Tahun 2016 :

Aktiva benar. Laba tidak dibagi terlalu kecil akibat kesalahan tahun 2015.

Bila kesalahan ini diketahui sebelum tutup buku tahun 2016, maka kesalahan ini perlu dibetulkan dengan jurnal sebagai berikut :

Asuransi Dibayar di Muka              Rp. 300.000
Biaya Asuransi                               Rp. 100.000
           Koreksi Laba Tahun Lalu                Rp. 400.000

Jika pada akhir tahun 2016 tidak dibuat jurnal untuk mencatat biaya dibayar di muka dan kesalahan ini baru diketahui sesudah penutupan buku tahun 2016, maka jurnal koreksinya sebagai berikut :

Asuransi dibayar di muka               Rp. 300.000
          Koreksi Laba tahun lalu                  Rp. 300.000

 

#3. Kesalahan Mencatat Utang Biaya

Misalnya bunga yang masih akan dibayar pada akhir tahun 2015 sebesar Rp. 100.000 tidak dicatat.

Akibat kesalahan ini terhadap neraca dan laporan laba rugi nampak seperti berikut :

Laporan Laba Rugi:

Tahun 2015 :

Biaya terlalu kecil karena bunga tidak dicatat. Laba bersih terlalu besar.

Tahun 2016 :

Biaya terlalu besar karena bunga tahun 2015 dicatat tahun 2016. Laba bersih terlalu kecil.

Neraca:

Tahun 2015 :

Utang terlalu kecil karena utang bunga tidak dicatat. Laba tidak dibagi terlalu besar.

Tahun 2016 :

Neraca sudah benar karena kesalahan tahun 2015 dibenarkan oleh kesalahan tahun 2016.

Bila kesalahan ini diketahui sebelum tutup buku tahun 2016, maka harus dibuatkan pembetulan.

Jurnal koreksi yang dibuat untuk memperbaiki kesalahan ini adalah sebagai berikut :

Koreksi Laba Tahun Lalu                Rp. 100.000
         Biaya Bunga                                      Rp. 100.000

Jika kesalahan ini baru diketahui sesudah tutup buku tahun 2016 maka tidak perlu dibuatkan jurnal koreksi.

Karena kesalahan mencatat biaya bunga yang terlalu kecil dalam tahun 2016 sudah dibetulkan oleh kesalahan biaya bunga tahun 2016 yang terlalu besar.

 

#4. Kesalahan Mencatat Piutang Pendapatan

Misalnya pendapatan bunga yang masih akan diterima pada akhir tahun 2015 sebesar Rp. 250.000,- tidak dicatat pada akhir tahun 2015.

Pendapatan bunga baru dicatat pada tahun 2016 yaitu pada saat diterimanya.

Akibat kesalahan ini terhadap neraca dan laporan laba rugi nampak sebagai berikut :

Laporan Laba Rugi:

Tahun 2015 :

Penghasilan terlalu kecil. Laba bersih terlalu kecil.

Tahun 2016 :

Pengasilan terlalu besar. Laba bersih terlalu besar.

Neraca :

Tahun 2015 :

Aktiva terlalu kecil karena piutang pendapatan bunga tidak dicatat. Laba tidak dibagi terlalu kecil.

Tahun 2016 :

Neraca sudah benar karena kesalahan tahun 2015 sudah dibetulkan oleh kesalahan tahun 2016.

Bila kesalahan ini diketahui sebelum tutup buku 2016 maka perlu dibuatkan jurnal koreksi sebagai berikut :

Pendapatan bunga                          Rp. 250.000
             Koreksi Laba Tahun Lalu                Rp. 250.000

Jika kesalahan ini diketahui sesudah tutup buku tahun 2016 maka tidak diperlukan jurnal koreksi.

Karena kesalahan mencatat pendapatan bunga tahun 2015 yang terlalu kecil sudah dibetulkan oleh kesalahan mencatat bunga tahun 2016 yang terlalu besar.

 

#5. Kesalahan Mencatat Pendapatan Diterima di Muka

Misalnya pada tahun 2015 diterima uang muka sewa sebesar Rp. 4.500.000 dan ada tahun 2016 diterima Rp. 5.000.000.

Penerimaan sewa ini dikreditkan ke rekening Pendapatan Sewa.

Pada akhir tiap tahun 2015 dan 2016 tidak dibuat penyesuaian untuk mencatat Pendapatan diterima di muka sebesar Rp. 3.000.000 dan Rp. 3.500.000.

Akibat kesalahan ini terhadap Neraca dan Laporan Laba Rugi  nampak sebagai berikut :

Laporan Laba Rugi :

Tahun 2015 :

Penghasilan terlalu besar karena pendapatan sewa terlalu besar. Laba bersih terlalu besar.

Tahun 2016 :

Penghasilan terlalu kecil karena pendapatan sewa terlalu kecil.

Neraca:

Tahun 2015 :

Utang terlalu kecil karena pendapatan diterima di muka tidak dicatat. Laba tidak dibagi terlalu besar.

Tahun 2016 :

Neraca sudah benar karena kesalahan tahun 2015 sudah dibenarkan oleh kesalahan tahun 2016.

Akibat tidak dicatatnya pendapatan diterima di muka pada akhir tahun 2016 adalah sebagai berikut :

Laporan Laba Rugi :

Penghasilan terlalu tinggi. Laba bersih terlalu tinggi.

Neraca:

Utang terlalu kecil karena pendapatan diterima di muka tidak dicatat. Laba tidak dibagi terlalu tinggi.

Jika kesalahan ini diketahui sesudah penutupan buku tahun 2016 maka tidak perlu dibuatkan koreksi karena kesalahan tahun 2015 sudah dibetulkan oleh kesalahan tahun 2016.

Kesalahan tahun 2016 yang tidak mencatat pendapatan diterima di muka belum menjadi benar pada tahun 2017 sebelum tutup buku.

Oleh karena itu perlu dibuatkan jurnal koreksi untuk membetulkan kesalahan tahun 2016 sebagai berikut :

Koreksi laba tahun lalu                   Rp. 3.500.000
         Pendapatan Sewa                         Rp. 3.500.000

 

#6. Kesalahan dalam Kapitalisasi Biaya

Misalnya pada tanggal 04 Januari 2015 dilakukan reparasi kecil untuk mesin dengan biaya sebesar Rp. 2.750.000.

Biaya sebesar itu dicatat dengan mendebit rekening Mesin. Penyusutan mesin setiap tahunnya sebesar 10%.

Akibat kesalahan ini terhadap neraca dan laporan laba rugi nampak sebagai berikut :

Laporan Laba Rugi:

Tahun 2015:

Biaya terlalu kecil karena biaya reparasi dikapitalisasi. Selisihnya sebesar biaya reparasi dikurangi penyusutan biaya reparasi .

Laba bersih terlalu besar.

Tahun 2016:

Biaya terlalu besar karena penyusutan mesin terlalu besar.

Laba bersih terlalu kecil.

Neraca :

Tahun 2015:

Aktiva terlalu besar. Laba tidak dibagi terlalu besar.

Tahun 2016:

Aktiva terlalu besar. Laba tidak dibagi terlalu besar.

Akibat kesalahan seperti ini akan terus mempengaruhi neraca dan laporan laba rugi sampai seluruh biaya reparasi yang dikapitalisasi itu habis dibebankan.

Bila kesalahan ini diketahui pada tahun 2016 sebelum tutup buku, maka jurnal koreksi yang dibuat sebagai berikut :

Akumulasi Depresiasi  (2015 & 2016)        Rp.    550.000
Koreksi Laba Tahun Lalu                            Rp. 2.475.000
       Penyusutan Mesin                                   Rp.    275.000
       Mesin                                                       Rp. 2.750.000

Jurnal di atas dibuat dari perhitungan sebagai berikut :

Akumulasi Penyusutan tahun 2015 dan 2016 berisi depresiasi biaya reparasi sebesar :

2 x 10% x Rp. 2.750.000 = Rp. 550.000

Laba tahun 2015 terlalu besar sejumlah :

Rp. 2.750.000 – 275.000 =  Rp. 2.475.000

Penyusutan mesin tahun 2016 terlalu besar sejumlah :

10% x Rp. 2.750.000 = Rp. 275.000

Rekening mesin terlalu besar sejumlah Rp. 2.750.000

Bila kesalahan di atas baru diketahui sesudah tutup buku tahun 2016, maka jurnal koreksi yang dibuat adalah sebagai berikut :

Akumulasi Penyusutan Mesin        Rp.     550.000
Koreksi Laba Tahun Lalu                Rp, 2.200.000
          Mesin                                           Rp. 2.750.000

Jurnal di atas dibuat dari perhitungan sebagai berikut :

Akumulasi Penyusutan Mesin terlalu besar sejumlah :

2 x 10% x Rp. 2.750.000 = Rp. 550.000

Laba tahun lalu terlalu besar sejumlah :

Tahun 2015 terlalu besar =

Rp. 2.750.000 – Rp. 275.000 = Rp. 2.475.000

Tahun 2016 terlalu besar =

Rp. 10% x Rp. 2.750.000 = Rp. Rp. 275.000

Koreksi Laba Tahun Lalu = Rp. 22.000

Rekening Mesin terlalu besar Rp. 2.750.000

 

#7. Kesalahan dalam Taksiran Umur

Misalnya mesin dibeli pada tanggal 1 Januari 2015 dengan harga Rp. 20.000.000. Penyusutan mesin ditentukan sebesar 15%.

Pada akhir tahun 2016 diketahui bahwa taksiran umur mesin tersebut terlalu rendah sehingga seharusnya penyusutan per tahun adalah 10% dari harga perolehan.

Kesalahan ini adalah merupakan perubahan taksiran akuntansi, sehingga biaya depresiasi yang sudah dibebankan tidak dikoreksi.

Koreksi mulai diperlakukan untuk penyusutan tahun 2016 dan seterusnya. Dengan cara ini tidak ada jurnal koreksi yang dibuat.

Jurnal untuk mencatat penyusutan tahunan sejak tahun 2016 adalah sebagai berikut :

Penyusutan Mesin            Rp. 200.000
      Akumulasi Penyusutan Mesin        Rp. 200.000

 

#8. Kesalahan dalam Perhitungan Kerugian Piutang

Misalnya perusahaan mengakui kerugian piutang pada saat piutang tidak ditagih (metode Penghapusan Langsung).

Pada tahun 2015 dan 2016 kerugian piutang yang sudah diakui sebagai berikut :

kerugian piutang yang timbul
Selain kerugian piutang yang sudah diakui tahun 2015 dan 2016 di atas, diperkirakan masih ada lagi piutang yang akan tidak dapat ditagih sebesar :

Piutang tahun 2015          Rp. 24.000
Piutang tahun 2016          Rp. 28.000

Akibat kesalahan mengetahui kerugian piutang tahun 2015 akan berakibat terhadap neraca dan laporan laba rugi tahun 2015 dan 2016 sebagai berikut :

Laporan Laba Rugi :

Tahun 2015 :

Biaya terlalu kecil karena kerugian piutang terlalu kecil. Laba bersih terlalu besar.

Tahun 2016 :

Biaya terlalu besar karena kerugian piutang tahun lalu dibebankan sekarang. Laba bersih terlalu kecil.

Neraca :

Tahun 2015:

Aktiva terlalu besar karena tidak ada cadangan kerugian piutang. Laba tidak dibagi terlalu besar.

Tahun 2016:

Aktiva terlalu besar karena tidak ada cadangan kerugian piutang.

Laba tidak dibagi terlalu besar karena laba bersih tahun lalu terlalu besar hanya sebagian yang diimbangi laba tahun sekarang yang terlalu kecil.

Perlu diperhatikan bahwa kesalahan dalam kerugian piutang belum tentu akan benar dengan sendirinya pada tahun-tahun yang akan datang.

Oleh karena itu perlu dilakukan analisa untuk menentukan jurnal koreksi.

Kesalahan pengakuan kerugian piutang dalam tahun 2016 berakibat terhadap neraca dan laporan laba rugi seperti berikut :

Laporan Laba Rugi :

Tahun 2016:

Biaya terlalu kecil karena kerugian piutang terlalu kecil. Laba bersih terlalu besar.

Neraca:

Tahun 2016:

Aktiva terlalu besar karena tidak ada cadangan kerugian piutang. Laba tidak dibagi terlalu besar.

Bila perubahan metode kerugian piutang dilakukan dalam tahun 2017 maka jurnal koreksinya sebagai berikut :

Koreksi Laba Tahun Lalu                Rp. 52.000
       Cadangan Kerugian Piutang          Rp. 52.000

perhitungan kerugian piutang

Bila perubahan metode ini dibuat pada tahun 2016 maka jurnal koreksinya adalah sebagai berikut :

Koreksi  Laba Tahun Lalu               Rp. 54.000
         Cadangan Kerugian Piutang          Rp. 54.000

Sesudah saldo cadangan kerugian piutang dikredit sebesar  Rp. 54.000 .

Maka pada akhir tahun 2016 akan dikredit dengan jumlah  Rp, 28.000 dan di-debit dengan jumlah piutang yang dihapus sebesar Rp. 30.000.

Sehingga saldonya menjadi Rp. 52.000 pada awal tahun 2017.

Koreksi yang dilakukan terhadap pos-pos yang salah, apakah perlu MENYUSUN KEMBALI Laporan Keuangan?

Penyusunan kembali laporan keuangan diperlukan bila akan dilakukan analisa perbandingan laporan keuangan dari beberapa periode yang berurutan.

Untuk memudahkan penyusunan laporan keuangan yang disudah diperbaiki, biasanya disusun neraca lajur dengan kolom-kolom sebagai berikut :

  • Neraca atau Laporan Laba Rugi sebelum koreksi.
  • Jurnal koreksi.
  • Neraca atau Laporan Laba Rugi setelah dikoreksi.

Masing-masing kolom di atas dibagi lagi menjadi 2 kolom yaitu debit dan kredit.

Melalui neraca lajur ini dapat disusun Neraca dan Laporan Laba Rugi dengan lebih mudah.

Mengenai Neraca Lajur dan contoh kasus-nya ada di artikel : Siklus Akuntansi dari A sampai Z

Bagaimana menurut Anda?

***

 

1 Komentar

Komentar ditutup.