Inilah 7 Hutang Jangka Pendek yang Perlu Mendapatkan Perhatian Khusus Agar Usaha Anda Tidak Limbung

Inilah 7 Utang Jangka Pendek yang Perlu Mendapatkan Perhatian Khusus Agar Usaha Anda Tidak Limbung

Hutang jangka pendek adalah kewajiban yang pelunasannya akan dilakukan dengan menggunakan sumber-sumber aktiva lancar atau dengan menimbulkan utang jangka pendek yang baru.

Utang dilunasi dengan utang baru atau istilah gaulnya ‘gali lubang tutup lubang’.

Istilah utang sangat populer. Dari negara hingga individu, pernah atau sedang menjadi menjadi pelaku setianya 🙂

Apa sebenarnya pengertian hutang (atau sebagian orang mengatakan utang)?

Secara akuntansi yang dimaksud dengan utang adalah :

pengorbanan manfaat ekonomi di masa yang akan datang yang mungkin terjadi akibat kewajiban suatu institusi pada masa kini untuk memindahkan aktiva atau menyediakan jasa pada institusi lain di masa yang akan datang sebagai akibat transaksi atau kejadian di masa lalu

Bila didasarkan pada waktu, utang dibagi menjadi 2 yaitu : utang jangka pendek dan utang jangka panjang.

Agar pembahasan tentang utang ini lebih terstruktur, lengkap dan aplikatif maka akan dibagi dalam beberapa artikel.

Untuk artikel bagian pertama ini akan dibahas tentang utang jangka pendek.

Definisi utang jangka pendek adalah seperti di paragraf pertama artikel ini.

Ada 7 jenis utang jangka pendek yaitu :

#1. Utang Dagang dan Utang Wesel

Utang ini timbul dari pembelian barang atau jasa dan dari pinjaman jangka pendek.

Untuk menentukan jumlah utang jangka pendek perlu diperhitungkan utang atas barang-barang yang telah dibeli namun masih dalam perjalanan.

Pencatatan hutang atas pembelian barang yang masih dalam perjalanan harus mempertimbangkan syarat pengirimannya.

Pembahasan tentang manajemen pembelian barang secara lengkap bisa dibaca pada artikel : Sistem Akuntansi Pembelian Kredit Perushaan Air Mineral

Hutang wesel ada yang dijamin dan tidak.

Di mana di dalamnya termasuk wesel-wesel yang dikeluarkan untuk pembelian barang-barang atau jasa, pinjaman bank jangka pendek pegawai atau pemegang saham dan untuk pembelian mesin-mesin dan peralatan.

Baca juga : Pengertian Piutang Wesel

#2. Utang Jangka Panjang yang Jatuh Tempo dalam Periode itu

Utang obligasi dan utang-utang jangka panjang lainnya yang akan dilunasi kurang dari satu tahun dilaporkan sebagai utang jangka pendek.

Jika yang jatuh tempo sebagian maka bagian yang jatuh tempo dalam tahun itu dilaporkan sebagai utang jangka pendek, sedangkan yang belum jatuh tempo tetap dilaporkan sebagai utang jangka panjang.

Bila utang jangka panjang yang jatuh tempo dalam periode itu akan dilunasi dengan dana-dana pelunasan atau uang hasil penjualan obligasi baru atau akan ditukar dengan saham, maka utang jangka panjang tersebut tetap dilaporkan sebagai utang panjang.

Walaupun pelunasannya masih dalam waktu satu tahun tapi karena tidak dilunasi dengan sumber aktiva lancar dan menimbulkan utang jangka pendek yang baru maka dikelompokkan dalam utang jangka pendek.

#3. Utang Dividen

Dividen yang dibagikan dalam bentuk uang atau aktiva (jika belum dibayar) dicatat dengan men-debit rekening Laba Tidak Dibagi dan meng-kredit Utang Dividen.

pencatatan jurnal hutang dividen

Utang dividen ini akan segera dilunasi maka dimasukkan dalam utang jangka pendek.

Utang dividen ini timbul pada saat pengumuman pembagian dividen oleh direksi dan terutang sampai tanggal pembayarannya.

Dividen untuk saham prioritas, walupun jumlahnya sudah pasti tapi sebelum tanggal pengumuman belum merupakan utang.

Uang dividen skrip akan dikelompokan sebagai utang jangka pendek jika akan segera dilunasi.

Pembagian dividen dalam bentuk saham (dividen saham) akan dicatat dengan debit laba tidak dibagi dan kredit dividen saham yang akan dibagi.

pencatatan jurnal pembagian dividen dalam bentuk saham

Kredit yang dibuat untuk mencatat dividen saham yang akan dibagi tidak termasuk dalam kelompok utang jangka pendek tapi merupakan elemen modal.

#4. Uang Muka dan Jaminan yang Dapat Diminta Kembali

Uang muka yang berasal dari pembeli untuk barang-barang yang akan dibeli. Sebelum barang-barang diserahkan pada pembeli maka uang muka tersebut merupakan utang jangka pendek.

Jaminan yang diminta dari pelanggan juga merupakan utang. Jika jaminan itu dapat ditarik kembali sewaktu-waktu maka itu merupakan utang jangka pendek.

Tapi jika jaminan itu akan disimpan dalam perusahaan untuk jangka waktu yang lama maka termasuk dalam kelompok utang jangka panjang.

#5. Dana yang Dikumpulkan untuk Pihak Ketiga

Perusahaan terkadang akan menjadi pihak yang mengumpulkan uang dari pelanggan dan karyawan yang nantinya akan diserahkan kepada pihak lain.

Pengumpulan dana ini dapat dilakukan dengan cara pemotongan upah pegawai atau membebani pembeli dengan jumlah tertentu.

Misalnya setiap membayar gaji pegawai dipotong 15% sebagai pajak penghasilan pegawai yang nantinya akan disetorkan ke kas negara.

Pajak yang dipotong oleh perusahaan dicatat sebagai utang lancar. Misalnya gaji pegawai bulan Juli 2016 sebesar Rp. 3.000.000,- maka PPH pegawai sebesar 15% akan dicatat dengan jurnal sebagai berikut :

pencatatan pajak yang dipotong oleh perusahaan

Sedangkan untuk perusahaan-perusahaan yang dikenakan pajak pertambahan nilai (PPN) akan membebankan PPN ini kepada pembeli, yaitu dengan menambahkan PPN di harga jual.

PPN yang diterima dicatat sebagai utang sampai saat penyetorannya ke Kas Negara.

Contoh : Penjualan bulan Juni 2016 sebesar Rp. 11.000.000 termasuk PPN sebesar 10%, maka pencatatan penjualan dilakukan dengan  jurnal sebagai berikut :

pencatatan penjualan dengan PPN 10%

Perhitungan:  PPN = 10/110 x Rp. 10.000.000 = Rp. 1.000.000

Pada saat menyetorkan PPN tersebut ke Kas Negara dibuat jurnal sebagai berikut :

pencatatan jurnal saat menyetorkan PPN

#6. Utang Biaya (Biaya yang Masih Akan Dibayar)

Utang biaya merupakan utang yang timbul dari pengakuan akuntansi terhadap biaya-biaya yang sudah terjadi tapi belum dibayar.

Utang biaya yang termasuk dalam kelompok ini adalah: utang uang yang timbul dari gaji dan upah, bonus dan biaya sewa.

Utang Gaji dan Upah  

Perhitungan jumlah yang masih akan dibayar untuk gaji dan upah, bunga dan sewa dilakukan dengan dasar waktu terjadinya biaya teresebut.

Contoh :

Gaji dan upah pegawai dibayarkan tiap tanggal 2 bulan berikutnya. Bila gaji dan upah Juli 2016 Rp. 5.000.000,- maka pada tanggal 31 Juli 2016 dibuatkan jurnal penyesuaian untuk mencatat utang gaji dan upah sebagai berikut :

pencatatan jurnal utang gaji dan upah

Cara pencatatan yang sama digunakan juga untuk menghitung biaya-biaya lain yang masih akan dibayar.

Utang Bonus

Bonus yang diberian pada karyawan-karyawan tertentu kadang-kadang menimbulkan masalah tersendiri.

Bonus itu dapat dihitung dengan dasar penjualan atau laba tergantung pada kesepakatan.

Apabila bonus dihitung atas dasar laba maka perhitungannya dapat dilakukan dengan 3 cara sebagai berikut :

  • Bonus dihitung dari laba sebelum dikurangi bonus dan pajak penghasilan (PPH)
  • Bonus dihitung dari laba sesudah dikurangi pajak penghasilan sebelum dikurangi bonus.
  • Bonus dihitung dari laba sesudah dikurangi bonus dan pajak penghasilan.

#7. Pendapatan yang Diterima Di Muka

Jumlah yang diterima dari pelanggan untuk barang dan jasa yang akan diserahkan dalam periode yang akan datang dicatat sebagai pendapatan yang diterima di muka dan dicatat dalam kelompok utang jangka pendek.

Contoh dari pendapatan yang diterima di muka adalah uang muka yang diterima untuk pelanggan majalah dan surat kabar.

Jumlah penerimaan ini merupakan pendapatan yang diterima di muka sampai majalah dan surat kabarnya diserahkan pada pembeli.

Demikianlah pembahasan tentang 7 jenis piutang jangka pendek yang harus mendapat perhatian khusus agar usaha yang Anda kelola tidak limbung dan tumbang.

Moga bermanfaat.

***

 

1 Komentar

Komentar ditutup.