Tsunami Palu: Bagaimana Cara Melaporkan Kerugian di Laporan Laba Rugi?

Laporan Laba Rugi akibat Gempa Tsunami
Foto: AFP

Gempa bermagnitudo 7,4 mengguncang wilayah Donggala, Sulawasi Tengah pada Jum’at, 28 September 2018.

Kemudian diikuti tsunami dengan ketinggian mencapai 5 (lima) meter menghantam beberapa daerah di Palu.

Korban meninggal dan kerusakaan infrastruktur pun tak terhindarkan, tentu termasuk aset-aset yang dimiliki perusahaan-perusahaan yang beroperasi di sana.

Seperti yang dialami oleh anggota Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mencatat kerugian sebesar Rp 450 miliar.

Lalu bagaimana cara melaporan kerugian akibat gempa Donggala dan tsunami Palu di laporan Laba Rugi Perusahaan/instansi/organisasi?

Yuk kita bahas cara membuat laporan laba rugi untuk kejadian luar biasa seperti gempa dan tsunami Palu tesebut.

Apa saja yang dianggap sebagai pos tidak biasa dapat dibaca di artikel 6 Pos Luar Biasa di Laporan Laba Rugi, Cara Pencatatan dan Pelaporannya

 

Contoh Pelaporan Kerugian Gempa dan Tsunami di Laporan Laba Rugi

museum tsunami Aceh

Untuk memberikan gambaran tentang bagaimana pelaporan kerugian akibat gempa dan tsunami, kami berikan contoh laporan keuangan dari PT PLN tahun 2004.

Pada tahun 2004 terjadi tsunami yang menerjang wilayah Aceh dan sekitarnya.

Tsunami yang dipicu oleh tabrakan vertikal dua lempeng benua di 85 km dari pesisir barat pulau Sumatera mengakibatkan tsunami dengan ketinggian 30 meter dan menyebabkan hampir seperempat juta orang meninggal di 14 negara.

Kerusakan sarana dan prasarana publik, perusahaan, dan aset pribadi pun luar biasa.

PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) adalah salah satu perusahaan yang mengalami kerugian luar biasa akibat tsunami Aceh dan Sumatera Utara.

Besarnya kerugian yang diderita PT PLN dapat dilihat dari Laporan Laba Rugi tahun 2004 sebagai berikut:

PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO)
PT PLN AND ITS SUBSIDIARIES
CONSOLIDATED STATEMENT OF INCOME
FOR THE YEARS ENDED DECEMBER 31, 2004

Laporan Keuangan PLN 2004 bagian 1

Laporan Keuangan PLN bagian 2

Perhatikan Laporan Laba Rugi PT PLN di atas. Total pendapatan PT PLN periode 2004 adalah sebesar Rp 62.273.061.847.812 yang berasal dari:

  • Penjualan listrik = Rp 58.232.002.384.555
  • Fee sambungan pelanggan = Rp 387.082.924.469
  • Subsidi pemerintah = Rp 3.469.919.795.843
  • Lain-lain = Rp 184.056.742.945

Total biaya operasi sebesar Rp 59.710.766.963.829, sehingga pendapatan dari operasi (Laba/Rugi operasi) adalah Rp 2.562.294.883.983. Sedangkan Laba (Rugi) sebelum pajak sebesar Rp 1.444.687.935.962.

Dari laporan laba rugi tahun 2004 tersebut kita dapat mengetahui bahwa PT PLN melaporkan kerugian luar biasa sebesar Rp 281.551.180.257 akibat kerusakan property di Aceh dan Sumatera Utara karena tsunami dan gempa.

Pos kerugian luar biasanya ini disajikan di laporan laba rugi setelah pendapatan sebelum pajak dan diperhitungkan sebagai pengurang Laba (Rugi) Bersih.

 

Format Pelaporan Kerugian Gempa dan Tsunami di Laporan Laba Rugi

pasca tsunami

Format laporan laba rugi yang digunakan untuk menyajikan pos luar biasa adalah seperti format umum yang digunakan tanpa ada pos luar biasa. Walaupun ada perbedaan terkait dengan pos luar biasa tersebut.

Pos luar biasa, seperti gempa dan tsunami merupakan salah satu dari 6 pos tidak biasa yang akan mempengaruhi laporan laba rugi.

Empat pos tidak biasa yang akan mempengaruhi laporan laba rugi periode berjalan adalah:

  • Penurunan nilai aset tetap
  • Biaya retrukturisasi
  • Operasi dalam penghentian
  • Pos luar biasa

Sedang dua pos luar biasanya lainnya mempengaruhi laporan laba rugi periode sebelumnya, yaitu:

  • Kesalahan
  • Perubahan dalam prinsip akuntansi

Ada perbedaan cara menyajikan pos-pos tidak biasa tersebut. Pos penurunan nilai aset tetap dan biaya restrukturisasi dilaporkan setelah laba bruto, atau di atas laba operasi berjalan.

Artinya, kelompok ini merupakan pengurang dari laba operasi periode berjalan.

Perhatikan formatnya berikut:

Laporan Laba Rugi - Gempa

Pos operasi dalam penghentian dan pos luar biasa dilaporkan setelah laba (rugi) sebelum pajak periode berjalan, atau di atas total laba (rugi) bersih. Jadi pos ini sebagai pengurang laba sebelum pajak.

Perhatikan formatnya berikut ini:

Laporan Laba Rugi - tsunami

Dari kedua ilustrasi di atas, walaupun ada perbedaan dalam meletakkan pos-pos tidak biasa dalam Laporan Laba Rugi, tapi kedua kelompok tersebut sama-sama sebagai pengurang laba (rugi).

Kedua format tersebut bila digabung menjadi satu dalam sebuah Laporan Laba Rugi yang lengkap adalah sebagai berikut:

Format Laporan Laba Rugi untuk Gempa Tsunami

Dari format di atas, kita dapat melihat bahwa pos luar biasa dilaporkan setelah laba (rugi) operasi, dan sebagai pengurang laba (rugi) operasi yang menghasilkan Laba (Rugi) Bersih.

Contoh riil-nya seperti yang sudah ditampilkan di atas, yaitu di Laporan Laba Rugi PT PLN tahun 2004.

Kerugian PT PLN saat gempa dan tsunami Aceh dan Sumatera Utara sebesar Rp 281,5 miliar dilaporkan setelah pendapatan sebelum pajak dan menjadi pengurang laba (rugi) bersih.

Dari penjelasan dan contoh laporan keuangan PT PLN tahun 2004 di atas,  bisa diterapkan untuk melaporkan kerugian akibat gempa Donggala dan tsunami Palu, Sulawesi Tengah?

Bagaimana? Mudah kan?

pos luar biasa-tsunami

Demikian pembahasan tentang cara melaporkan kerugian akibat gempa atau tsunami seperti yang terjadi di Palu, Sulawesi Tengah.

Dan melengkapi artikel ini, berikut kami sajikan video yang memperlihatkan bagaimana dahsyatnya gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah. Dan mudah-mudahan kita bisa mengambil pelajaran berharga dari peristiwa ini. Aamiin.

sop akuntansi keuangan powerful