Metode Transfer Pricing Berdasarkan Harga Pokok

Metode transfer pricing berdasarkan harga pokok merupakan salah satu pendekatan dari 3 metode transfer pricing yang digunakan untuk mentukan harga transfer, dan merupakan kelanjutan dari artikel tentang Kenapa Diperlukan Harga Transfer atau Transfer Pricing?.

Beberapa perusahaan melakukan transfer antar divisi atau bagian atas dasar harga pokok yang terakumulasi dari barang yang ditransfer dengan demikian mengabaikan unsur laba divisi penjualan.

Harga transfer yang dihitung menurut cara ini dapat didasarkan pada biaya variabel yang terlibat atau biaya tetap dapat dipertimbangkan.

Pengertian biaya tetap dan variabel, anda bisa mempelajarinya di : Begini Cara Mudah Menghitung Biaya Tetap dan Biaya Variabel

Sehingga harga transfer yang didasarkan pada biaya keseluruhan (biaya yang terserap) akan ter-akumulasi sampai pada saat transfer.

Meskipun penerapan pendekatan harga pokok dalam penentuan transfer pricing relatif sederhana, pendekatan tersebut tetap mempunyai beberapa kekurangan.

Dan satu hal penting yang perlu dilakukan adalah dengan selalu membuat buku transfer pricing  atau transfer pricing documentation (TP Doc).

Untuk contoh dokumen transfer pricing, saya yakin anda sudah familiar atau bisa dicari sendiri dari sumber-sumber yang melimpah di internet.

Dengan menggunakan fungsi akuntansi biaya dan biaya standar akuntansi manajemen untuk menjelaskan 2 cara sederhana untuk menentukan harga transfer atau transfer pricing dengan harga pokok adalah sebagai berikut :

Baca juga : Inilah 10 Cara Praktis dan Akurat untuk Menghitung HPP

Misalkan suatu perusahaan multi departemen mempunyai satu departemen produksi yang memproduksi RELAY elektris, di mana relay elektris tersebut digunakan secara luas sebagai komponen suku cadang oleh berbagai kontraktor proyek.

Untuk memproduksi relay ini memerlukan biaya variabel Rp. 12 dan dijual dengan Rp. 20. Untuk menyelesaikan satu relay diperlukan satu jam biaya tenaga kerja langsung dan divisi mempunyai kapasitas 50.000 relay per tahun.

Perusahaan juga mempunyai departemen MOTOR. Bagian motor ini membuat motor baru yang memerlukan relay elektris, tetapi relay elektris ini berbeda dengan relay elektris yang saat ini diproduksi oleh departemen relay.

Agar dapat memperoleh relay yang dibutuhkan, departemen motor mempunyai dua alternatif.

  • Relay baru dapat dibeli dari seorang supplier luar dengan harga Rp. 15 per relay, dengan dasar pesanan 50.000 relay per tahun.
  • Relay baru dapat diproduksi oleh departemen relay milik perusahaan. Pembuatan relay baru oleh departemen relay ini akan memaksa departemen relay menghentikan bisnisnya yang sedang berjalan saat ini.Oleh karena itu, pembuatan relay baru akan memerlukan seluruh kapasitas divisi relay. Satu jam biaya tenaga kerja langsung akan diperlukan untuk membuat masing-masing relay (waktu yang diperlukan sama dengan waktu yang diperlukan oleh relay lama).Biaya overhead variabel akan berjumlah Rp. 10 per relay.Di samping relay, setiap motor akan memerlukan masukan biaya variabel lain sebesar Rp. 25,-. Motor akan dijual dengan harga Rp. 60,- per motor.

 

Pertanyaannya :

Apakah departemen relay harus menghentikan bisnis relay-nya yang sedang berjalan saat ini dan mulai memproduksi relay baru untuk departemen motor, atau apakah divisi relay harus  melanjutkan bisnis relay-nya yang sedang berjalan saat ini dan mengijinkan departemen motor untuk membeli relay baru dari supplier luar?

 

Pemecahan masalah :

Pertama : Membeli relay dari supplier luar.

Kita beranggapan bahwa divisi motor memutuskan relay baru dari supplier luar dengan harga Rp. 15 per relay, sehingga departemen relay yang diinginkan selanjutnya dapat memproduksi dan menjual relay lama.

Untuk menunjukan akibat keputusan tersebut terhadap masing-masing divisi dan terhadap perusahaan sebagai satu kesatuan yang utuh, maka kita lihat perhitungan biaya produksi dan contribution margin berikut ini :

# Pengaruh Penentuan harga transfer antar departemen menurut harga pokok :

Departemen MOTOR membeli relay dari pemasok luar dengan harga Rp. 15,- per relay. Departemen relay melanjutkan untuk memproduksi dan menjual relay lama.

# Jumlah pesanan 50.000 per tahun

Membeli Produk dari Supplier Luar
Tabel 1. Membeli Produk dari Supplier Luar

 

Perhatkan dari tabel di atas. Bahwa masing-masing departemen akan mempunyai contribution margin positif, dan bahwa perusahaan sebagai satu kesatuan utuh akan mempunyai margin kontribusi Rp. 1.400.000 selama satu tahun bila alternatif ini disetujui.

 

Kedua : Membeli Relay dari Departemen Relay

Departemen MOTOR memberi relay baru dari divisi relay dengan harga transfer interen Rp. 10,- per relay (harga pokok variabel divisi relay untuk pembuatan relay baru). Hal ini menuntut divisi relay menghentikan bisnisnya keluar yang berjalan saat ini.

Membeli Produk dari Divisi Internal
Tabel 2. Membeli Produk dari Divisi Internal

 

Dari tabel kedua di atas, di mana divisi motor membeli relay baru dari departemen relay dengan harga transfer Rp. 10,- per relay (harga variabel per satuan divisi relay).

Permintaan dari divisi MOTOR ini akan memaksa divisi relay menghentikan bisnisnya dan keluar sementara dari bisnis yang sedang berjalan saat ini.

Sekilas hal ini akan tampak seperti sebuah KEPUTUSAN yang baik, oeh karena itu biaya variabel divisi relay hanya akan sebesar Rp. 10,- untuk setiap pembelian relay baru dibandingkan dengan Rp. 12,- untuk relay lama, dan divisi motor kalau tidak seperti ini harus membeli dari supplier luar dengan harga Rp. 15,-

Tetapi bila kita melihat data dari tabel kedua di atas, pilihan kedua ini ternyata akan mengurangi contribution margin perusahaan sebagai satu kesatuan sebesar Rp. 150.000,-  per tahun.

Di sinilah letak salah satu kelemahan pendekatan harga pokok dalam penentuan harga transfer. Harga transfer berdasarkan harga pokok dapat menjurus pada keputusan yang disfungsional dalam perusahaan.

Tapi pendekatan ini tidak membentuk sendiri mekanisme pemberitahuan kepada manajer mengenai kapan transfer seharusnya atau tidak seharusnya tidak dilakukan divisi relay seharusnya meneruskan penjualan relay lama ke kontraktor, dan divisi motor seharusnya membeli relay baru dari supplier luar.

Walaupun hal ini sudah jelas bila melihat perhitungan dar tabel pertama dan kedua di atas, tetapi masalah tersebut dapat kabur bila berkaitan dengan divisi multi produk jadi, sebagai akibat penggunaan harga pokok sebagai harga transfer.

Laba perusahaan sebagai satu kesatuan utuh dapat terpengaruh dengan hal yang sifatnya bertentangan dan manajer mungkin tidak pernah mengetahui hal ini.

Dari tabel pertama dan kedua di atas, kita juga jadi mengetahui mengenai kelemahan dari metode atau cara penentuan transfer pricing berdasarkan harga pokok adalah bagian yang menunjukan LABA hanya bagian yang melakukan penjualan akhir ke pihak luar.

Sedangkan divisi lain, seperti departemen relay, seperti yang ditunjukkan dalam kedua tabel di atas tidak akan menunjukkan laba atas aktivitasnya.

Dengan demikian evaluasi melalui pendekatan rumus ROI atau melalui pendekatan hasil sisa tidak akan dimungkinkan.

Pengertian ROI dan contohnya bisa anda pelajari di artikel : Inilah Kinerja Keuangan 2 Perusahaan Indonesia di FORBES The Global 2000

Kelemahan lain dari metode ini adalah ketidakmampuannya dalam merangsang pengendalian biaya.

Pengalaman membuktikan bahwa pemborosan dan ketidakefisienan hampir selalu berkembang, kecuali biaya tunduk pada beberapa bentuk tekanan yang bersaing di saat transfer.

Untuk menghindari kelemahan tersebut maka harga pokok tersebut harus berupa HARGA POKOK STANDAR daripada harga pokok yang sesungguhnya. Hal ini akan menghindari pelimpahan ketidakefisienan dari satu departemen ke departemen lainnya.

Selain cara tersebut, maka untuk menghindari kelemahan-kelemahan metode penentuan transfer pricing dengan harga pokok adalah dengan menggunakan rumus umum untuk menghitung harga transfer.

Rumus tersebut adalah sebagai berikut :

Harga Transfer = Harga Pokok Variabel per satuan + Hilangnya margin kontribusi per satuan atas penjualan keluar.

Dengan menggunakan rumus ini, maka harga transfer yang tepat untuk divisi relay untuk dibebankan pada relay baru akan menjadi :

Harga Transfer :

= Rp 10 + Rp. 8 = Rp. 18 per satuan

Dengan melihat harga transfer ini akan menjadi jelas bagi manajemen bahwa transfer tidak seharusnya dilakukan antara divisi relay dan divisi motor.

Oleh karena itu divisi motor dapat membeli relay dari supplier luar hanya dengan harga Rp. 15,- per satuan. Jadi harga transfer membimbing pengelola perusahaan untuk mengambil keputusan yang TEPAT dan pengaruh yang sifatnya bertentangan dengan Laba dapat dihindari.

Demikianlah pembahasan mengenai metode transfer pricing berdasarkan harga pokok.

Semoga bermanfaat.

Terima kasih

***