Cara Menganalisis Potensi Laba Usaha dan Hasil Investasi

Analisis cost volume profit CVP adalah alat perencanaan manajerial untuk membantu pengambilan keputusan strategis.

Misalnya untuk menghitung laba usaha sebelum memutuskan terjun mengambil sebuah peluang bisnis.

Manajemen perusahaan harus melakukan analisis laba usaha dan investasi yang akan dilakukan.

Apalagi jika peluang usaha itu akan dijadikan sebagai bisnis utama. apakah akan dijalankan dengan online atau offline.

Segalanya perlu dianalisis secara baik, benar dan tepat.

Bagaimana cara melakukan analisis CVP?

Ikuti pembahasan lengkap beserta latihan kasusnya berikut ini….

 

01: Analisis Cost Volume Profit (CVP)

pengertian cost volume profit menurut para ahli

A: Pengertian CVP (Cost Volume Profit)

Analisis CVP adalah analisis yang digunakan untuk mengetahui hubungan antara harga, volume, dan biaya untuk menghasilkan produk dan jasa yang akan dijual.

Analisis interaksi antara biaya produksi, harga produk, dan jumlah produk yang dihasilkan dengan laba akan menjadi pertimbangan manajemen perusahaan dalam mengambil keputusan.

Jadi analisis cost volume profit alat perencanaan manajerial.

Pengembangan analisis Cost Volume Profit (CVP) sebagai alat untuk membantu proses pengambilan keputusan dapat diterapkan di perusahaan dagang, jasa dan manufaktur.

 

B: Jenis Analisis yang Digunakan

Beberapa rumus analisis yang digunakan dalam analisis cost volume profit, antara lain:

#1. Analisis ROI (Return On Investment)

Untuk memahami pengertian ROI berkaitan dengan penggunaan analisis CVP maka perlu diketahui rumus Return Of Investment sebagai berikut:

ROI = (Profit/Total Revenus) X (Total Revenue/Investment)

ROI = Profit Margin X Investment Turn Over

 

Hal-hal lain yang harus diperhatikan adalah:

#1: Profit

Profit dalam buku financial atau pembelanjaan, menggunakan Net Profit Margin (EBIT) atau Laba sebelum pajak.

Sedangkan dalam pembahasan ini menggunakan Operating Margin (Laba Kotor/Gross Profit)

 

#2: Investment dan Total Revenue

Investment = Total Aset,

Total Revenu = Total Sales (Harga Jual unit X kuantitas)

Perhatikan analisis CVP dan latihan kasus berikut ini:

  • Data pendapatan : harga jual per unit Rp 10.
  • Biaya variabel per unit Rp. 6.
  • Biaya tetap total Rp 31.000,
  • Volume (kuantitas) 10.000 unit.
  • Data investasi : Aktiva lancar Rp 20.000
  • Aktiva tetap Rp 30.000

 

Perhitungan dan analisis:

#1: Return Of Investment (ROI)

= (9.000 : 100.000) x (100.000 : 50.000)
= 18%

Misalnya:

Perusahaan ingin memperoleh Profit Margin 10%.

Assets Turn Over (ATO) tetap 2X.

Pembahasan studi kasus ini harus memperhatikan hubungan ROI yang telah dijelaskan di atas.

Dengan Profit Margin 10%, dan Assets Turn Over 2X, maka Return Of Investment harus:

= 2 X 10%
= 20%.

 

Modifikasi rumus :

#1:  Break Event Point (BEP):

Penjualan Minimal = Biaya Tetap / Rasio MK – Profit Margin
= 31.000 : (40%-10%)
= Rp. 103.333,33

 

#2: Assets Turn Over 2X, maka investasi :

2 = 103.333,33 : Investasi
Investasi = 103.333,33:  2 = 51.666,67

 

#2. Struktur Pendapatan Perusahaan Terhadap Penerimaan Tetap (Fixed Revenue)

departementalisasi biaya overhead pabrik

Pengertian fixed revenue adalah perusahaan yang di samping menerima pendapatan tertentu tergantung volume, tetapi menerima pula penghasilan tetap yang tidak tergantung volume.

Dengan menghitung laba usaha dengan berbagai komposisi, pada akhirnya akan menemukan peluang terbaik.

 

#3. Struktur Pendapatan Dipengaruhi Kapasitas

Untuk memudahkan pemahaman kita, langsung saja pada contoh berikut ini :

Sebuah perusahaan mengoperasikan pesawat yang berkapasitas 100 orang atau tempat duduk.

Pesawat melayani penerbangan Jakarta – Palembang yang ditempuh kurang lebih satu jam.

Frekuensi penerbangan 3 kali dalam satu hari.

Informasi lainnya berkaitan dengan operasi pesawat adalah :

  • Kapasitas terisi 80%,
  • Harga tiket sekali jalan (one-way) Rp. 600.000 atau pulang pergi Rp 1.200.000.
  • Biaya variabel per jam pesawat adalah Rp 10.400.000.
  • Biaya tetap Rp 4.800.000.000.

 

Perhitungan dan analisis:

#1: Break Event Point (BEP)

BEP dalam frekuensi penerbangan dan dalam hari adalah sebagai berikut :

= Biaya Tetap/(Harga Tiket X Tempat terisi – Biaya Variabel)
=  4.800.000.000 : (600.000 X 80 – 10.400.000)
=  4.800.000.000 : 37.600.000
=  128 penerbangan

Atau

=128 : 2
= 64 kali pulang pergi

Atau

= 64 : 3 X Sehari
= 21 hari penerbangan

 

#4. Analisis Pemilihan Mesin dan Hubungannya dengan Kapasitas Penggunaan

Bagian ini khusus membahas suatu keputusan pemilihan jenis mesin.

Misalnya mesin A atau mesin modern yang mempunyai sifat biaya tetap lebih tinggi dan biaya variabel per satuannya relatif rendah.

Sebaliknya mesin B atau mesin tradisional, biaya tetapnya relatif rendah,.

Tapi biaya variabel per unitnya lebih tinggi dibanding mesin modern.

 

Perhatikan contoh latihan kasus berikut ini:

Manajer produksi PT Berkah merencanakan memproduksi 1 jenis produk dengan jual Rp 1.000 per unit.

Produksi tersebut dapat menggunakan mesin A dan Mesin B.

Kedua mesin memiliki kapasitas sama yaitu 5.000 unit per tahun dan umur ekonomisnya sama.

Perbandingan biaya operasinya adalah sebagai berikut :

  • Mesin A, biaya tetap Rp 600.000 dan biaya variabel Rp 600 unit
  • Mesin B, biaya tetap Rp. 1.800.000 dan biaya variabel Rp 200 per unit

 

Analisis dan Perhitungan :

Pertimbangan yang paling penting adalah berapa perusahaan dapat menjual produknya?

Langkah-langkah yang diperlukan :

  1. Menghitung BEP masing-masing mesin
  2. Membuat satu gambar BEP untuk kedua mesin
  3. Menghitung indifferent point atau pada saat biaya kedua mesin sama besar.

Kesimpulan :

#1. Kuantitas Break Event Point (BEP) :

Mesin A = 1.500 unit

Mesin B = 2.250 unit

 

#2. Break Event Point (BEP) dan Indifferent point kedua mesin

analisis break event point (BEP)
Gambar : BEP dan Indifferent Point

 

#3. Indifferent point atau total biaya

Indifferent point atau total biaya mesin A dan mesin B tidak berbeda dihitung sebagai berikut :

Total A = Total B
1.000 – 600 (Q) + 600.000 = 1.000 – 200 (Q) + 1.800.000
400 Q + 600.000 = 800 Q + 1.800.000
400 Q = 1.200.000
Q = 3.000 unit (Indifferent point)

 

Kesimpulan dan keterangan grafik di atas adalah :

  1. BEP mesin A = 1.500 unit dan Mesin B = 2.250 unit
  2. Pada 3.000 unit, penggunaan mesin A atau B tidak berbeda biayanya dan juga keuntungannya.
  3. Jika volume produksi perusahaan tepat 3.000 unit, baik menggunakan mesin A atau mesin B tidak ada bedanya.
  4. Jika volume produksi perusahaan di bawah 3.000 unit, penggunaan mesin A lebih menguntungkan.
  5. Sebaliknya jika perusahaan mampu menjual di atas 3.000 unit, mesin B lebih menguntungkan.

 

03: Target Laba Sebelum dan Sesudah Pajak

jurnal penerimaan kas

Untuk menganalisis target laba usaha sebelum dan setelah pajak, kita masih menggunakan rumus Break Event Point (BEP).

Untuk memudahkan pembahasan penggunaan BEP pada target laba usaha sebelum dan sesudah pajak, kita akan bagi menjadi beberapa bagian, antara lain sebagai berikut:

 

#1. Rumus pada target laba usaha sebelum pajak :

Penjualan:

= (Biaya Tetap + Target Laba)/(1 – (Biaya Variabel/Total penjualan)

Atau

= Biaya Tetap / (1 – (Biaya Variabel/Penjualan) – Target Laba)

 

#2. Rumus pada Target Laba Usaha Setelah Pajak

Penjualan :

= (Biaya Tetap + (Target Laba/(1-Tarif Pajak)) : (1- (Biaya Variabel/Penjualan))

Catatan :

Biaya variabel dan penjualan dapat mengambil angka per unit maupun total pada keduanya.

 

Perhatikan contoh kasus berikut ini:

Misalkan:

  • harga jual Rp 1.000
  • biaya variabel per unit Rp 600
  • biaya tetap Rp 6000.
  • Ditetapkan target laba sebelum pajak 15%.

 

Pembahasan :

#1: Penjualan:

= (600.000 + 15% penjualan) : (1 – 60%)
= (600.000 + 15% Penjualan) : 40%
= 40% Penjualan = 600.000 + 15% Penjualan
= 25%Penjualan = 600.000
= Penjualan = Rp 2.400.000

Atau

= Rp 2.400.000 : Rp 1.000
= 2.400 unit

 

Perhatikan contoh #2:

Sama dengan contoh di atas:

  • Target Laba Usaha 15% setelah pajak.
  • Tarif pajak 25%.

 

Pembahasan:

#1: Penjualan

= 600.000 + (15% Penjualan/(1-25%)) : 40%
= 600.000 + (15% Penjualan/75%) : 40%
= 600.000 + 20% Penjualan : 40%
= 40% Penjualan = 600.000 + 20% Penjualan
= 40% Penjualan – 20% Penjualan = 600.000
= 20% Penjualan = 600.000
= Penjualan = 600.000 : 20%
= Penjualan = 3.000.000

Atau dalam unit:

= 3.000.000 : 1.000
= 3.000 unit

 

Dan bila dilihat dari Laporan Laba Rugi sederhana adalah sebagai berikut :

#1: Penjualan :

= 3.000 X 1.000
= Rp. 3.000.000

 

#2: Biaya Variabel :

= 3.000 X 600
= Rp. 1.800.000

 

#3: Margin kontribusi :

= Penjualan – Biaya Variabel
= 3.000.000- 1.800.000
= 1.200.000

 

#4: Laba sebelum pajak :

= Margin kontribusi – Biaya Tetap
= 1.200.000 – 600.000
= 600.000

 

#5: Laba setelah pajak :

= Laba sebelum pajak – Pajak 25%
= 600.000 – 150.000
= 450.000

 

#6: Target Laba :

= Laba setelah pajak : penjualan
= 450.000 : 3.000.000
= 15%

 

Dan untuk menambah wawasan, tonton video singkat berikut ini:

Bagaimana, cukup menginspirasi kan?

 

02: Kesimpulan

Manajemen perusahaan memerlukan alat perencanaan manajerial untuk mengambil keputusan strategis.

Salah satu alat tersebut adalah analisis cost volume profit.

Memang tidak ada yang benar-benar sempurna di dunia ini, demikian juga dengan alat analisis ini. Masih ada kelemahan analisis cost volume profit.

Walaupun kelemahan analisis cost volume profit juga ada, namun tools ini  masih layak digunakan sebagai alat analisis.

Analisis untuk pengambilan keputusan penting dengan menghitung laba usaha.

Atau peluang bisnis atau investasi baik di usaha kecil, perusahaan dagang, jasa dan manufaktur.

Agar rencana mengambil dan menjalankan peluang usaha yang ada, maka sebaiknya lakukan analisis, bisa menggunakan cara ini.

Sehingga penyesalan karena kegagalan dalam menjalankan sebuah bisnis akan menimpa anda.

Demikian pembahasan makalah akuntansi manajemen tentang cost volume profit analysis dan pengembangan analisis CVP untuk menghitung laba usaha.

Lengkap dengan contoh analisis CVP dan latihan kasus.

Semoga bermanfaat. Terima kasih. *****

manajemen keuangan dan SOP