Pengembangan Analisis CVP sebagai Alat Pengambilan Keputusan Penting di Perusahaan Dagang, Jasa dan Manufaktur

Ternyata, Pengembangan Analisis CVP bisa Digunakan sebagai Alat Untuk Pengambilan Keputusan Penting di Perusahaan Dagang, Jasa dan Manufaktur

Pengembangan analisis Cost Volume Profit atau CVP adalah sebagai alat untuk pengambilan keputusan penting di perusahaan dagang, jasa dan manufaktur.

Ada 4 analisis yang digunakan, yaitu :

#1. Analisis ROI (Return On Investment)

Untuk memahami pengertian ROI berkaitan dengan penggunaan analisis CVP maka perlu diketahui rumus ROI, yaitu :

ROI :
= (Profit/Total Revenus) X (Total Revenue/Investment)
= Profit Margin X Investment Turn Over

Hal-hal lain yang harus diperhatikan adalah :

  • Profit dalam buku financial atau pembelanjaan, menggunakan Net Profit Margin (EBIT) atau Laba sebelum PAJAK. Sedangkan dalam pembahasan ini menggunakan Operating Margin (Laba Kotor/Gross Profit)
  • Investment = Total Aset, dan Total Revenu = Total Sales (Harga Jual unit X kuantitas)

Berikut ini contoh cara menghitung roi investasi :

Data pendapatan : harga jual per unit Rp 10. Biaya variabel per unit Rp. 6. Biaya tetap total Rp 31.000, dengan volume (kuantitas) 10.000 unit.

Data investasi : Aktiva lancar Rp 20.000 dan aktiva tetap Rp 30.000

ROI :
=(9.000/100.000) x (100.000/50.000) = 18%

Misalnya,  perusahaan ingin memperoleh Profit Margin 10%. Assets Turn Over (ATO) tetap 2X.

Pembahasan studi kasus ini harus memperhatikan hubungan ROI yang telah dijelaskan di atas. Profit Margin 10%, dan Assets Turn Over 2X, maka ROI harus = 2 X 10% = 20%.

Modifikasi rumus :

BEP :
Penjualan Minimal = Biaya Tetap / Rasio MK – Profit Margin
= 31.000 / (40%-10%) = Rp. 103.333,33

 

 Assets Turn Over 2X, maka investasi :
2 = 103.333,33 / Investasi
Investasi = 103.333,33/2 = 51.666,67

 

#2. Struktur Pendapatan Perusahaan Terhadap Penerimaan Tetap (Fixed Revenue)

Pengertiannya adalah perusahaan yang di samping menerima pendapatan tertentu tergantung volume, tetapi menerima pula penghasilan tetap yang tidak tergantung volume.

 

#3. Struktur Pendapatan Dipengaruhi Kapasitas

Untuk mempermudah pemahaman kita, langsung saja pada contoh berikut ini :

Sebuah perusahaan mengoperasikan pesawat yang berkapasitas 100 orang atau tempat duduk. Pesawat melayani penerbangan Jakarta – Palembang yang ditempuh kurang lebih satu jam. Frekuensi penerbangan 3 kali dalam satu hari.

Informasi lainnya berkaitan dengan operasi pesawat adalah :

Kapasitas terisi 80%, harga tiket sekali jalan (one-way) Rp. 600.000 atau pulang pergi Rp 1.200.000. Biaya variabel per jam pesawat adalah Rp 10.400.000. Biaya tetap Rp 4.800.000.000.

BEP dalam frekuensi penerbangan dan dalam hari :
= Biaya Tetap/(Harga Tiket X Tempat terisi – Biaya Variabel)
= 4.800.000.000/(600.000 X 80 – 10.400.000)
= 4.800.000.000/ 37.600.000 = 128 penerbangan

Atau 128/2 = 64 kali pulang pergi
Atau 64/3 X Sehari = 21 hari penerbangan

 

#4. Analisis Pemilihan Mesin dan Hubungannya dengan Kapasitas Penggunaan

Bagian ini khusus membahas suatu keputusan pemilihan jenis mesin. Misalnya mesin A atau mesin modern yang mempunyai sifat biaya tetap lebih tinggi dan biaya variabel per satuannya relatif rendah.

Sebaliknya mesin B atau mesin tradisional, biaya tetapnya relatif rendah, tapi biaya variabel per unitnya lebih tinggi dibanding mesin modern.

Contoh studi kasus :

Manajer produksi PT Berkah merencanakan memproduksi 1 jenis produk dengan jual Rp 1.000 per unit. Produksi tersebut dapat menggunakan mesin A dan Mesin B. Kedua mesin memiliki kapasitas sama yaitu 5.000 unit per tahun dan umur ekonomisnya sama.

Perbandingan biaya operasinya sebagai berikut :

  • Mesin A, biaya tetap Rp 600.000 dan biaya variabel Rp 600 unit
  • Mesin B, biaya tetap Rp. 1.800.000 dan biaya variabel Rp 200 per unit

Pembahasan :

Pertimbangan yang paling penting adalah berapa perusahaan dapat menjual produknya?

Langkah-langkah yang diperlukan :

  1. Menghitung BEP masing-masing mesin
  2. Membuat satu gambar BEP untuk kedua mesin
  3. Menghitung indifferent point atau pada saat biaya kedua mesin sama besar.

Pemecahan :

#1. Kuantitas BEP :

Mesin A = 1.500 unit
Mesin B = 2.250 unit

 

#2. BEP dan Indifferent point kedua mesin

BEP dan Indifferent Point
Gambar : BEP dan Indifferent Point

 

#3. Indifferent point atau total biaya mesin A dan mesin B tidak berbeda dihitung sebagai berikut :

Total A = Total B
1.000 – 600 (Q) + 600.000 = 1.000 – 200 (Q) + 1.800.000
400 Q + 600.000 = 800 Q + 1.800.000
400 Q = 1.200.000
Q = 3.000 unit (Indifferent point)

Kesimpulan grafik di atas adalah :

  1. BEP mesin A = 1.500 unit dan Mesin B = 2.250 unit
  2. Pada 3.000 unit, penggunaan mesin A atau B tidak berbeda biayanya dan juga keuntungannya.
  3. Jika volume produksi perusahaan tepat 3.000 unit, baik menggunakan mesin A atau mesin B tidak ada bedanya.
  4. Jika volume produksi perusahaan di bawah 3.000 unit, penggunaan mesin A lebih menguntungkan.
  5. Sebaliknya jika perusahaan mampu menjual di atas 3.000 unit, mesin B lebih menguntungkan.

 

#5. Penggunaan BEP pada Target Laba Usaha sebelum dan sesudah PAJAK

Untuk memudahkan pembahasan akan dibagi menjadi yaitu :

#1. Rumus pada target laba usaha sebelum pajak :

Penjualan:

= (Biaya Tetap + Target Laba)/(1 – (Biaya Variabel/Total penjualan)

Atau

= Biaya Tetap / (1 – (Biaya Variabel/Penjualan) – Target Laba)

Baca juga : Analisis Break Event Point untuk Single dan Mix Product

#2. Rumus pada Target Laba Usaha Setelah Pajak

Penjualan :

= (Biaya Tetap + (Target Laba/(1-Tarif Pajak)) : (1- (Biaya Variabel/Penjualan))

Catatan :
Biaya variabel dan penjualan dapat mengambil angka per unit maupun total pada keduanya.

Contoh :

Misalkan harga jual Rp 1.000 biaya variabel per unit Rp 600 biaya tetap Rp 6000. Ditetapkan target laba sebelum pajak 15%.

Pembahasan :

Penjualan = (600.000 + 15% penjualan) : (1 – 60%)
Penjualan = (600.000 + 15%Penjualan) : 40%
40% Penjualan = 600.000 + 15%Penjualan
25%Penjualan = 600.000
Penjualan = Rp 2.400.000

Atau
Rp 2.400.000 / Rp 1.000 = 2.400 unit

Baca juga : Beginilah Cara Alokasi Pajak Penghasilan di Laporan Laba Rugi Perusahaan Dagang dan Manufaktur

 

# Sama dengan contoh di atas. Target Laba Usaha 15% setelah pajak. Tarif pajak 25%.

Pembahasan :

Penjualan = 600.000 + (15% Penjualan/(1-25%)) : 40%
Penjualan = 600.000 + (15% Penjualan/75%) : 40%
Penjualan = 600.000 + 20%Penjualan : 40%
40%Penjualan = 600.000 + 20%Penjualan
40%Penjualan – 20%Penjualan = 600.000
20%Penjualan = 600.000
Penjualan = 600.000 : 20%
Penjualan = 3.000.000
Atau dalam unit = 3.000.000 / 1.000 = 3.000 unit

Dan bila dilihat dari Laporan Laba Rugi sederhana adalah sebagai berikut :

Penjualan : 3.000 X 1.000 = Rp. 3.000.000
Biaya Variabel : 3.000 X 600 = Rp. 1.800.000

Margin kontribusi :
= Penjualan – Biaya Variabel
= 3.000.000- 1.800.000 = 1.200.000

Laba sebelum pajak :
= Margin kontribusi – Biaya Tetap
= 1.200.000 – 600.000 = 600.000

Laba setelah pajak :
= Laba sebelum pajak – Pajak 25%
= 600.000 – 150.000 = 450.000

Target Laba :
= Laba setelah pajak : penjualan
= 450.000 : 3.000.000 = 15%

Demikian pembahasan tentang pengembangan analisis CVP sebagai alat untuk pengambilan keputusan penting di perusahaan dagang, jasa dan manufaktur.

Semoga bermanfaat. Terima kasih.

***