Begini Cara Menilai Tingkat Risiko Investasi Obligasi

Begini Cara Menilai Tingkat Risiko Investasi Obligasi

Setiap investasi pasti mengandung risiko. Termasuk investasi obligasi dan investasi saham. Mulai dari risiko rendah sampai tinggi.

Upaya kita adalah mempelajari jenis-jenis risiko tersebut, kemudian mengelolanya sehingga akan memberikan keuntungan bagi kita. Dan kalaupun risiko tersebut tak bisa dihindari, maka dampaknya kecil.

Ada 2 risiko umum dalam investasi obligasi yaitu : 1) risiko tingkat bunga (interest rate risk) atau risiko harga tingkat bunga (interest rate price risk), 2) risiko tingkat reinvestasi (reinvestment rate risk)

Mari kita bedah satu per satu….

 

Risiko Tingkat Bunga

Risiko tingkat bunga adalah risiko terjadinya penurunan harga obligasi yang diakibatkan oleh kenaikan tingkat bunga.

Tingkat suku bunga akan terus berfluktuasi dari waktu ke waktu, dan kenaikan tingkat bunga akan mengarah pada penurunan NILAI OBLIGASI beredar.

Sebagai ilustrasi, kita akan melihat obligasi milik sebuah perusahaan yang diasumsikan memiliki kupon tahunan 10%. Dan asumsikan anda telah membeli salah satu obligasi ini pada nilai nominalnya Rp 1000.000Tak berapa lama setelah anda membeli, tingkat bunga yang berlaku naik dari 10% menjadi 15%.

Kenaikan tingkat bunga dari 10% menjadi 15% secara tiba-tiba merupakan suatu peristiwa yang tidak biasa, dan hal ini akan terjadi hanya jika TERUNGKAP sesuatu yang buruk pada perusahaan atau perekonomian.

Baca juga : Terungkap! 3 Faktor Penyebab Risiko Gagal Bayar Obligasi

Yang lebih sering terjadi adalah kenaikan tingkat bunga yang lebih kecil, namun cukup signifikan yang merugikan pemegang obligasi.

Seperti yang dapat kita lihat pada grafik di bawah ini,  kenaikan tingkat bunga ini akan menyebabkan harga obligasi turun dari Rp. 1.000.000 menjadi Rp. 707.630 sehingga anda akan menanggung kerugian sebesar Rp 292.370 atas obligasi tersebut.

Grafik : Hubungan antara bunga, nilai dan jangka waktu obligasi
Tabel : Hubungan Tingkat Bunga, Nilai, dan Jangka Waktu Obligasi

Anda akan mengalami kerugian akuntansi dan pajak jika hanya menjual obligasi tersebut. Bila anda menahannya sampai jatuh tempo, anda tidak akan mengalami kerugian tersebut.

Bahkan meskipun anda tidak menjualnya, anda masih akan menanggung kerugian ekonomis yang nyata dilihat dari sisi biaya peluang, karena anda kehilangan peluang untuk berinvestasi pada tingkat 15% dan terikat obligasi 10% di pasar dengan tingkat bunga 15%.

Di lihat dari kacamata perekonomian, kerugian di atas kertas akan sama buruknya dengan kerugian akuntansi yang direalisasikan.

Tingkat bunga dapat dan memang naik, kenaikan tingkat bunga dapat menimbulkan kerugian nilai bagi pemegang obligasi.

Jadi orang atau perusahaan yang berinvestasi pada obligasi akan berhadapan dengan risiko akibat meningkatkannya tingkat bunga.

Risiko tingkat bunga akan lebih tinggi pada obligasi dengan jatuh tempo yang lebih panjang dibandingkan dengan obligasi yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat.

Hal ini terjadi karena makin panjang waktu jatuh tempo, makin lama obligasi tersebut akan dilunasi dan makin lama pula pemegang obligasi yang memiliki kupon lebih tinggi.

Pada kenyataannya, baik waktu jatuh tempo maupun tingkat kupon suatu obligasi mempengaruhi risiko tingkat bunga.

Kupon yang rendah berarti sebagian besar pengembalian obligasi akan berasal dari pelunasan pokok pinjaman.

Sementara itu pada obligasi dengan kupon yang tinggi dengan waktu jatuh tempo sama , ARUS KAS akan lebih banyak masuk selama tahun-tahun awal akibat pembayaran kupon yang relatif besar.

Baca juga : 4 Faktor Penting yang Mempengaruhi Saldo Kas Perusahaan yang Mungkin Tak Anda Ketahui

Suatu pengukuran yang disebut durasi, yang menghitung rata-rata jumlah tahun PV arus kas obligasi telah dikembangkan untuk menggabungkan waktu jatuh tempo dan kupon.

Kupon obligasi nol, yang tidak memiliki pembayaran bunga dan seluruh pembayarannya dilakukan saat jatuh tempo, memilii durasi yang sama dengan waktu jatuh temponya.

Semua kupon obligasi memiliki durasi yang lebih singkat daripada waktu jatuh tempo, maka makin tinggi tingkat kupon, makin tinggi tingkat durasinya.

Obligasi dengan durasi yang lebih panjang akan menghadapi risiko tingkat bunga yang LEBIH TINGGI.

 

Contoh ilustrasi :

Misalnya anda membeli obligasi 15 tahun yang memberikan imbal hasil 10%. Sekarang misalnya tingkat bunga obligasi lain dengan risiko yang sama naik menjadi 15%, anda akan terikat dengan bunga sebesar 10% selama 15 tahun ke depan.

Di lain pihak, jika anda membeli obligasi satu tahun, anda hanya akan mengalami pengembalian yang rendah selama satu tahun. Pada akhirn tahun anda akan menerima uang anda kembali.

Anda dapat menginvestasikannya kembali dan menerima pengembalian 15% per tahun selama 14 tahun ke depan.

Jadi, risiko tingkat bunga mencerminkan lamanya waktu anda terikat atas suatu investasi tertentu.

 

Risiko Tingkat Reinvestasi (Reinvestment Rate Risk)

Risiko tingkat reinvestasi adalah resiko terjadinya penurunan pendapatan akibat turunnya tingkat bunga. Penurunan tingkat bunga akan menyebabkan terjadinya penurunan pendapatan dan portofolio obligasi.

Apakah penurunan tingkat bunga tersebut juga akan merugikan pemegang obligasi?

“IYA”

 

Berikut ini contohnya:

Misalnya, seorang yang memiliki portifolio obligasi dan hidup dari pendapatan yang dihasilkan dari portofolio tersebut. Obligasi tersebut memiliki tingkat kupon rata-rata sebesar 10%.

Seandainya tingkat bunga turun menjadi 5%, maka akan banyak obligasi yang ditebus. Saat penebusan itu terjadi, pemegang obligasi harus mengganti 10% dengan obligasi 5%.

Baca juga : Apa Fungsi Bunga Pinjaman di Pasar Modal?

Bahkan obligasi yang tidak dapat ditebus akan jatuh tempo. Ketika hal itu terjadi, obligasi tersebut juga akan diganti dengan obligasi yang memberikan imbal hasil lebih rendah. Sehingga pemegang obligasi tersebut akan mengalami penurunan pendapatan.

Risiko tingkat reinvestasi ini akan tinggi pada obligasi yang dapat ditebus. Risiko ini juga tinggi pada obligasi jangka pendek karena makin pendek waktu jatuh tempo obligasi, makin sedikit jumlah tahun sebelum obligasi lama dengan kupon yang relatif tinggi digantikan dengan emiten baru dengan kupon rendah.

Jadi seseorang yang memiliki obligasi jangka pendek akan sangat dirugikan oleh penurunan tingkat bunga. Namun, pemegang obligasi jangka panjang yang tidak dapat ditebus akan terus menikmati tingkat bunga lama yang tinggi.

 

Perbandingan Risiko Tingkat Bunga dan Tingkat Reinvestasi

Risiko tingkat bunga berhubungan dengan nilai portofolio obligasi, sedangkan risiko tingkat reinvestasi berhubungan dengan pendapatan yang dihasilkan oleh portofolio.

Bila kita memiliki obligasi jangka panjang, maka akan menghadapi risiko tingkat bunga yang signifikan karena nilai portofolio akan turun jika tingkat bunga meningkat.

Tapi kita tidak akan banyak menghadapi risiko tingkat reinvestasi karena pendapatan akan tetap stabil. Di lain pihak, jika obligasi jangka pendek, maka tidak akan banyak menghadapi risiko harga tingkat bunga, tapi akan menghadapi risiko tingkat reinvestasi yang signifikan.

Bagaimana cara meminimalkan risiko tingkat bunga dan reinvestasi?

Cara untuk meminimalkan risiko tingkat bunga dan risiko tingkat reinvestasi adalah membeli obligasi pemerintah kupon nol dengan waktu jatuh tempo yang sama dengan cakrawal investasi investor.

Asumsikan cakrawala investasi adalah 10 tahun. Jika, kita membeli obligasi dengan kupon nol 10 tahun, maka akan menerima jaminan pembayaran dalam 10 tahun yang sama dengan nilai obligasi sehingga tidak akan menghadapi risiko harga tingkat bunga.

Terlebih lagi karena tidak ada kupon yang akan diinvestasikan kembali, maka tidak ada risiko tingkat reinvestasi. Fitur ini menjelaskan penyebab investor yang memiliki sasaran spesifik seringkali berinvestasi dalam kupon obligasi nol.

Baca juga : Jenis-jenis Obligasi yang Mungkin Belum Anda Ketahui

Ada dua hal yang perlu diwaspadai dari obligasi kupon nol. Pertama, investor obligasi dengan kupon nol harus membayar pajak setiap tahunnya untuk keuntungan nilai yang terakumulasi meskipun obligasi tersebut belum membayarkan kas sampai saat jatuh tempo.

Kedua, membeli kupon nol dengan waktu jatuh tempo yang sama dengan cakrawala investasi akan memungkinkan untuk memastikan arus kas par value.

Namun nilai kas tersebut masih tergantung pada apa yang terjadi dengan inflasi selama cakrawala investasi kita.

Sebagaimana kita ketahui bahwa premi risiko jatuh tempo biasanya positif. Selain itu premi risiko jatuh tempo yang positif memiliki arti bahwa rata-rata investor memandang obligasi dengan jangka waktu yang lebih panjang lebih berisiko dibandingkan obligasi dengan jangka waktu yang lebih pendek.

Hal ini menunjukkan bahwa risiko harga tingkat bunga sangat diperhatikan oleh sebagian besar investor. Namun demikian, setiap investor individual harus memperhatikan situasi yang dialami.

Mengakui adanya risiko-risiko inheren dalam obligasi dengan waktu jatuh tempo yang berbeda-beda dan untuk menyusun suatu portofolio yang paling mampu menghadapi risiko investor yang paling relevan.

sop akuntansi keuangan powerful