Pengertian biaya peluang (opportunity cost) adalah keuntungan yang hilang karena ditolaknya alternatif tindakan yang kadarnya di bawah tindakan yang terbaik.
Jika suatu keputusan untuk melaksanakan salah satu alternatif sudah ditentukan, maka manfaat alternatif-alternatif lainnya akan terlepas dari tangan. Manfaat yang lepas karena diputuskan untuk memilih yang lain disebut biaya kesempatan atau opportunity cost dari pilihan yang telah dibuat itu.
Fungsi Biaya Peluang (opportunity cost)

Sebelum menentukan sebuah keputusan, maka perlu dilakukan perhitungan biaya peluang.
Tujuannya untuk memperoleh alternatif tindakan yang terbaik dari berbagai alternatif.
Tentu sebelumnya telah mengumpulkan dan melakukan evaluasi terhadap berbagai alternatif.
Di mana dalam evaluasi juga melakukan berbagai perbandingan antara alternatif satu dengan yang lain, sampai akhinyar diputuskan untuk menentukan satu alternatif yang terbaik.
Biaya peluang sebenarnya tidak terjadi.
Biaya ini benar-benar merupakan biaya pengambil keputusan, biaya ini tidak pernah tercatat dalam akuntansi.
Namun demikian biaya ini adalah relevan untuk tujuan pengambilan keputusan dan harus dipertimbangkan dalam mengevaluasi sebagai alternatif tindakan yang direncanakan anggaran perusahaan nya.
Nilai sesungguhnya dari biaya kesempatan itu seringkali sulit ditentukan, karena adanya faktor-faktor lain yang ikut berperan.
Misalnya, suatu keputusan manajemen untuk menekan biaya pemilikan inventory dengan jalan mempunyai persediaan sedikit mungkin, bisa mengakibatkan kekosongan persediaan.
Sehingga penjualan yang tidak dapat direalisir karena kekosongan persediaan adalah biaya kesempatan dari keputusan manajemen.
Untuk itulah diperlukan suatu metode persediaan yang tepat yang dapat menekan biaya pemilikan (carrying cost) dan sekaligus menekan kemungkinan kekosongan persediaan sampai batas minimum.
Cara Menghitung Biaya Peluang

Agar dapat dengan mudah memahami tentang menghitung biaya peluang, biaya oportunitas atau biaya opportunity, yuk ikuti pembahasan 2 contoh soal biaya peluang berikut ini:
Perhatikan contoh pertama ini:
Pak Budi adalah pemilik toko pakaian muslim di pasar besar metropolis.
Sementara itu, belum lama ini, Pak Budi ditawari jabatan sebagai manajer cabang di salah satu supermarket terkenal dengan penghasilan sebesar Rp. 50 juta setahun.
Pak Budi ‘galau’ untuk mengambil keputusan yang paling tepat.
Pak Budi juga punya keyakinan bahwa ia dapat menjual tokonya sebesar Rp. 115 juta.
Pak Budi mulai mengamati dan menghitung kedua alternatif yang dihadapinya. Tujuannya tentu agar keputusan yang akan diambil merupakan keputusan yang terbaik.
Sebagai informasi perhitungan laba rugi perusahaan Pak Budi untuk tahun lalu adalah sebagai berikut :
Hasil penjualan = Rp. 225 juta
HPP = Rp. 135 juta
Laba Kotor Rp. 90 Juta
Biaya Operasional :
- Sewa Gedung = Rp. 7,2 juta
- Upah Karyawan = Rp. 17 juta
- Biaya Adm dan Umum = Rp. 3,64 juta
- Perlengkapan = Rp. 56 Juta
- Biaya Iklan = Rp. 1,45 Juta
- Asuransi = Rp. 82 juta
- Biaya lain-lain = Rp. 1,78 juta
Jumlah biaya operasional = Rp. 29,57 juta
Laba Bersih = Rp. 60,43 juta

Analisis Pak Budi harus dikurangi dengan biaya peluang yang tercakup dalam kesempatan yang akan diambilnya,yaitu :
- Gaji yang tidak jadi diterimanya
- Bunga deposito yang bisa diterimanya, bila tokonya dijual dan hasilnya disimpan pada bank.
Perhitungannya adalah sebagai berikut :
Laba bersih dengan membuka toko adalah Rp. 60,43 juta, kemudian dikurangi dengan : gaji yang tidak diterima dan bunga deposito, misalnya 17% per tahun.
Jadi total biaya peluang (opportunity cost) adalah:
50 juta + ( 17% x 115 juta ) = Rp. 69,55 juta
Kerugian karena tidak menerima tawaran kerja adalah :
Rp. 60,43 juta – Rp 69,55 juta = Rp. (9,12 Juta)
Dari hasil perhitungan di atas Pak Budi bisa melihat, bila ia tidak memperhatikan biaya peluang tentunya ia akan menarik kesimpulan yang salah dan akan berpendapat bahwa lebih menguntungkan jika tetap menjalankan usaha sendiri.
Analisis ini sifatnya kuantitatif atau berdasarkan angka-angka, oleh karena itu Pak Budi sebaiknya juga melakukan analisis terhadap faktor-faktor kualitatif.
Contohnya, seperti kerugian kebebasan sebagai pengusaha, dan rugi karena tidak menerima tambahan penghasilan sebesar Rp. 9,12 juta.
Yang pasti semua keputusan ada konsekuensinya, dan itu harus dipertimbangkan dengan perhitungan yang cermat, agar tidak menyesal di kemudian hari 🙂
Perhatikan contoh kedua, soal perhitungan biaya oportunitas:
Pak Jono seorang akuntan publik yang kantornya ramai. Melalui pelayanan yang sepenuh hati dan full support ‘seumur hidup’. Klien-klien semakin banyak.
Sehingga walaupun ia telah menaikkan tarifnya sejak beberapa tahun terakhir ini, namun tetap saja ia kewalahan menangani klien-klien yang akan konsultasi.
Pak Jono bekerja rata-rata 6 jam setiap hari dan 6 hari dalam seminggu, setahunnya selam 48 minggu.
Biaya konsultasi yang ia terima rata-rata per jam Rp. 50.000,- . Untuk biaya variabelnya terlalu kecil sehingga tidak ia perhitungkan.
Permasalahannya adalah :
- Berapa biaya oportunitas atau biaya peluang untuk satu tahun, karena dua minggu sekali, setiap hari Sabtu ia tidak bekerja.
- Misalnya Pak Jono sudah memutuskan dengan pasti untuk mengikuti jadwalnya yang baru. Ia gemar main futsal. Bila ia main futsal pada hari Sabtu di mana ia tidak menerima konsultasi klien. Berapa biaya peluang-nya?

Begini pembahasan jawaban soalnya:
Soal #1 :
Sebagaimana kita ketahui bahwa setahun 48 minggu, jika 2 minggu sekali tidak bekerja berarti 24 minggu x 1 hari (jam) x pendapatan per jam.
Jadi biaya peluang, biaya kesempatan, biaya oportunitas, atau opportunity cost adalah =
= 24 x 1 (hari) x 6 jam x Rp. 50.000 = Rp. 7.200.000,-
Atau pendapatannya akan hilang (berkurang) sebesar biaya peluang ini.
Soal #2 :
Biaya peluang atau opportunity cost main futsal adalah :
= 48 x 6 jam per hari x Rp. 50.000 = Rp. 14.400.000
Dari 2 contoh soal biaya peluang tersebut, dapat dijadikan pelajaran bahwa untuk membuat suatu keputusan,
kita memerlukan data yang dapat diukur, dianalisis dengan tepat dan kemungkinan untuk dilaksanakan.
Beberapa langkah yang bisa dilakukan adalah :
- Menentukan permasalahan yang sedang terjadi.
- Mengenali dengan seksama berbagai kemungkinan atau alternatif-alternatif yang ada.
- Menetapkan data dan biaya yang relevan dengan keputusan yang akan diambil.
- Mengevaluasi data, dengan metode yang berkaitan pada berbagai alternatif atau evaluasi yang seharusnya dibuat.
- Mempertimbangkan faktor-faktor kualitatif.
- Keputusan dan alasan diambilnya keputusan tersebut.
Penutup
A: Kesimpulan
Pengertian biaya opportunity adalah biaya yang terjadi ketika kita tidak melakukan itu dan menjalankan hasil keputusan yang lain., misalnya kita memilih untuk membuka toko gen z atau gen xyz. Jika kita membuka toko gen z, maka tidak membuka toko gen xyz, dan sebaliknya.
B: Tips dan Saran Terbaik
Ada yang mengatakan bahwa “jika kita bisa membuat keputusan yang lebih baik, maka kita akan lebih banyak memmperoleh duit” benarkah seperti itu. Jika Anda ragu, coba aja dulu, jalanin aja dulu. Nanti kamu akan jadi tahu dan memproleh pelajaran berharga dari apa yang telah dijalanin.
Tak terkecuali berkaitan dengan penerapan opportunity cost dalam bisnis, itu pun kudu sampeyan coba sebelum berkomentar, dan pelajaran atau hikmah pun akan kamu dapatkan. Ambil yang terbaik, lalu laksanakan dengan senang hati dan tulus. Bagaimana, ada yang perlu dibahas lagi?
Demikian pembahasan tentang pengertian biaya peluang dan cara menghitung biaya oportunitas (opportunity cost).Semoga bermanfaat.